Khutbah Jum’at – Kalau Memang Tidak Mau, Selalu Ada Alasan, Kalau Keinginan Kuat, Selalu Ada Jalan

Oleh: M. Taufik N.T

Pada Tahun 630 M bertepatan tahun 9 H, ketika musim panas dengan suhu yang sampai pada titik yang sangat tinggi, Rasulullah saw. mewajbkan kaum muslimin yang tidak ada udzur syar’i untuk berangkat ke perbatasan Syam dalam rangka menghadapi pasukan Romawi (Bizantium). Perjalanan dari Medinah ke Syam, selain perjalanan yang panjang juga sangat sukar ditempuh. Perlu ada keuletan, persediaan bahan makanan dan air. Bagaimana sikap kaum Muslimin menyambut seruan ini?.

Ada tiga golongan yang sikapnya berbeda dalam menghadapi seruan ini.

Golongan pertama, mereka segera berbondong-bondong menyambut seruan Rasulullah. Diantara mereka ada orang miskin yang tidak punya bekal, ada yang kaya yang mendermakan banyak kekayaannya, juga ada orang miskin yang mendermakan hartanya walaupun hanya segantang (satu sha’) kurma.

Golongan Kedua, umat Islam yang ragu-ragu antara berangkat dalam suasana yg sangat sulit, atau tetap tinggal. Sebagian mereka akhirnya berangkat juga menyusul Rasulullah saw setelah melihat semangat puluhan ribu umat Islam bergerak meninggalkan Madinah. Abu Khaithama, yang awalnya tidak mau berangkat, setelah melihat suasana itu, ia menemui istrinya sambil berkata: “Rasulullah dalam terik matahari, angin dan udara panas, sedang Abu Khaithama di tempat yang teduh, sejuk dengan makanan dan wanita cantik diam di rumah. Sediakan perbekalanku, aku akan menyusul.”

Ada juga diantara mereka yang tetap tidak ikut, namun setelah itu mereka menyesal dan bertaubat, mereka adalah Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ dan Hilal bin Umayyah.

Golongan ketiga adalah orang-orang munafiq, mereka mencari-cari alasan untuk tidak ikut memenuhi seruan Rasulullah. Mereka bahkan mengejek umat Islam yang berusaha menta’ati seruan Rasul, juga menghalang-halangi dan melemahkan semangat umat Islam agar tidak berangkat. Ada yg beralasan panas, ada yang beralasan takut terangsang kalau melihat wanita Romawi dll.

Diriwayatkan oleh Hafiz Al-Bazar dari Abu Hurairah, katanya: Rasulullah saw. telah bersabda: "Bersedekahlah kamu, sesungguhnya aku akan mengirimkan satu pasukan untuk pergi berperang (Perang Tabuk), maka datanglah Abdurrahman bin Auf menghadap Rasulullah saw. lalu berkata: "Ya, Rasulullah, saya ada mempunyai 4 ribu dinar, yang dua ribu dinar (setara emas 8,5 kg) aku sedekahkan dan dua ribu dinar lagi untuk belanja rumah tanggaku." Rasulullah saw. menjawab: "Semoga Allah memberimu berkat atas pemberianmu itu, dan memberi berkat pula terhadap yang engkau tinggalkan." Kemudian datang lagi seorang dari kaum Ansar yang mempunyai dua sha’ kurma seraya berkata: "Ya Rasulullah, saya ada mempunyai dua sha’ kurma, yang satu sha’ aku sedekahkan dan satu sha’ lagi untuk keluargaku." Menyaksikan kejadian itu orang-orang munafiq mengejek seraya katanya: "Abdurrahman bin Auf hanya mau memberikan sedekahnya karena riya’ (pamer) saja." Sedang kepada yang memberikan satu sha’ kurma, mereka mengejek dengan kata: "Allah dan Rasul tidak memerlukan yang satu sha’ ini."

Sekelompok orang-orang munafik ada yg berkata satu sama lain: “Jangan kalian berangkat perang dalam udara panas”. Maka Allah berfirman:

وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ – فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“…. dan mereka berkata: “Jangan kamu berangkat perang dalam udara panas begini.’ Katakanlah: ‘Api neraka lebih panas lagi, kalau kamu mengerti! Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang mereka kerjaka.” (QS. At Taubah: 81-82)

Al – Jadd bin Qais – salah seorang Banu Salimah membuat alasan untuk tidak ikut berangkat, ia berkata kepada Rasulullah: “Ijinkanlah saya untuk tidak dibawa ke dalam ujian (fitnah) serupa ini. Masyarakat saya sudah cukup mengenal, bahwa tak ada orang yang lebih berahi terhadap wanita seperti saya ini. Saya kuatir, bahwa kalau saya melihat wanita-wanita Banu’l-Ashfar (Bangsa Romawi), saya takkan dapat menahan diri.”

Allah menurunkan ayat: Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah". Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. (QS. At Taubah : 49).

***

Apapun perintah Allah, apalagi yang perlu pengorbanan lebih, akan senantiasa kita dapati ketiga sikap tersebut. Saat ini, saat syari’ah Islam diabaikan, saat hukum-hukum Allah SWT dianggap kriminal, kuno dan kampungan, saat umat Islam terpuruk dalam kehinaan dan kenistaan akibat mereka dijauhkan dari kehidupan alaminya, yakni kehidupan yang diatur oleh hukum-hukum Allah dalam naungan khilafah, maka perjuangan kearah ini sekarang senantiasa memanggil kita.

Selengkapnya download di sini (pdf)

Baca Juga:

Posted on 26 Mei 2011, in Dakwah, Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s