Islam Rahmat bagi Semesta Alam (Maqoshid as Syari’ah)

Oleh: M. Taufik N.T download pdfnya di :::sini:::

Allah berfirman dalam surah al-Anbiya’ ayat 107 :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutuskan engkau (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Imam Al Baidlowi (w. 685 H) dalam tafsirnya menjelaskan[1] bahwa diutusnya nabi Muhammad saw sebagai rahmat (kasih sayang Allah) bagi semesta alam adalah karena risalah yang dibawa Rasulullah merupakan sebab kebahagiaan mereka, sekaligus sebab kemaslahatan kehidupan mereka, dunia dan akhirat[2]. Adapun orang kafir juga memperoleh rahmat, yakni secara tidak langsung mereka mengikuti sebagian ajaran-ajaran agama Islam, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan hidup di dunia[3].

Tulisan ini menjelaskan secara ringkas bagaimana risalah Islam bisa menjadi rahmat bagi semesta alam.

A. Menjaga Kelestarian Masyarakat Islam[4]

1) Pemeliharaan Keturunan

Islam telah menurunkan hukum-hukum berikut sanksi-sanksi (‘uqûbât) yang berfungsi sebagai pencegah, dalam rangka memelihara keturunan manusia dan nasabnya. Misalnya, Islam telah mengharamkan zina, dan mengharuskan dijatuhkannya sanksi bagi pelakunya. [QS. An Nûr : 2]

2) Pemeliharaan Akal

Islam telah mensyari’atkan hukum-hukum yang melarang pengkonsumsian segala sesuatu yang dapat mempengaruhi akal manusia. Misalnya, segala sesuatu yang dapat memabukkan dan melemahkan ingatan. Pada saat yang sama Islam menganjurkan untuk menuntut ilmu, merenung (tadabbur), dan berijtihad sebagai usaha untuk mengembangkan kemampuan akal pada diri manusia. [QS. Al Ma’idah : 90]

3) Pemeliharaan Kehormatan

Islam telah mengatur masalah hadd al- qadzaf (menuduh berzina), yakni bagi siapa saja yang menuduh orang telah berbuat berzina tanpa membawa bukti maka kepadanya akan dijatuhkan hukum jilid (cambuk). Islam juga mendorong manusia untuk menolong orang-orang yang dianiaya, memuliakan tamu, mengharamkan tajassus (mata-mata), ghîbah (membicarakan aib orang lain), dan menganjurkan pembebasan budak.[QS. An Nûr : 4, Al Hujurât:11 -12,…]

4) Pemeliharaan jiwa manusia

Islam telah menetapkan sanksi atas pembunuhan, yakni siapa saja yang membunuh seseorang tanpa alasan yang benar. Hikmah dari yang demikian itu adalah menjaga kelestarian hidup manusia. Firman Allah Ta’ala:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي اْلأَلْبَابِ

Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqarah: 179).

5) Pemeliharaan Harta

Islam telah mensyari’atkan sanksi atas kasus pencurian, yakni potong tangan bagi pencuri. Ini merupakan sanksi yang sangat keras untuk mencegah segala godaan untuk melakukan pelanggaran terhadap harta orang lain. Islam juga melarang pengelolaan harta oleh orang-orang yang bodoh (idiot). Hal ini dilakukan agar ia tidak mengeluarkan hartanya pada jalan yang tidak disyari’atkan. Islam juga mengharamkan isrâf, yakni mengeluarkan harta pada jalan yang diharamkan.[QS. Al Ma’idah:38, Al Furqan:67, …]

6) Pemeliharaan Agama

Syari’at Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk ke dalam Islam. Firman Allah Ta’ala:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan dalam agama… (QS. Al Baqarah: 256)

Akan tetapi seorang muslim yang murtad dari Islam, maka ia akan diajak berdiskusi dan diminta untuk bertaubat selama 3 hari[5]. Bila ia masih tetap dalam kemurtadannya maka berlaku hukuman mati. Sabda Rasulullah saw:

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ

Barang siapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia. (HR. Bukhory)

7) Pemeliharaan Keamanan

Islam telah menetapkan beberapa hukum untuk menghentikan siapa saja yang berpikir untuk mengganggu keamanan berbagai wilayah di dalam negara. Dalam hal ini Islam telah menetapkan peraturan tentang hadd qaththaa’ al-thuruq (hukuman bagi pembegal) yang berupa sanksi yang berfungsi sebagai tindakan pencegahan (preventif). Misalnya mengasingkan si pembegal, memotong tangan dan kakinya secara bersilangan, membunuhnya atau menyalibnya.[QS. Al Maidah:33]

8) Pemeliharaan Negara

Negara (daulah) dalam pandangan Islam merupakan penanggung jawab bagi penerapan hukum syara’ terhadap rakyatnya sekaligus bertanggung jawab untuk mengemban dakwah Islam ke luar negeri. Negara merupakan representasi dari umat Islam, sekaligus sebagai institusi yang diakui (legitimated) bagi mereka. Penentangan terhadap daulah berarti penentangan terhadap agama Allah dan umat Islam. Oleh karena itu, Allah telah menetapkan beberapa hukum yang berguna untuk memelihara negara dan kesatuannya. Misalnya adalah hadd ahl al-baghyi (hukuman bagi ahli bughat), yakni mereka yang merampas kekuasan khalifah (kepala negara) dengan menggunakan kekuatan senjata. Hukuman bagi mereka, khalifah menyatakan perang kepada mereka hingga mau menyerahkan diri mereka dan kembali tunduk ke dalam kekuasaannya. [QS. al-Hujurât : 9]

فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يَنَازِعُهُ فَاضْرِبُوْا عُنُقَ اْلآخَرَ

…maka apabila datang orang lain untuk mengkudeta khalifah maka pukullah lehernya. (HR. Muslim).

Imam An Nawawi (w. 676 H) menjelaskan bahwa untuk menjaga kesatuan negara, kelompok pemberontak harus diminta kembali ta’at, walaupun untuk itu kalau perlu dilakukan peperangan. (Syarh Shahih Muslim, 12/234)

B. Syariah Islam adalah Hukum untuk Semua Manusia

Islam adalah risalah yang diturunkan Allah SWT untuk seluruh umat manusia, tidak hanya untuk umat Islam saja. Anggapan bahwa penerapan syariah Islam hanya dapat dilakukan pada masyarakat yang seluruhnya muslim adalah tidak tepat. Syariah Islam jelas bisa dan pasti bisa diterapkan sekalipun dalam masyarakat heterogen, karena syariah Islam memang diturunkan untuk mengatur seluruh umat manusia.[QS. Saba:28, Al Baqarah : 185]

Dalam masyarakat Islam yang di dalamnya diterapkan syariah Islam, warga non-muslim tetap mendapatkan kebebasan dalam memilih agama yang akan dipeluknya karena memang Allah SWT tidak memaksa setiap orang untuk masuk Islam, sekaligus kebebasan untuk mengikuti ketentuan agama masing-masing sepanjang menyangkut masalah-masalah aqidah dan ibadah. Sementara menyangkut muamalah, seperti; politik, ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan, tanpa kecuali, seluruh anggota masyarakat, baik muslim maupun non muslim, semuanya harus tunduk pada syariah Islam.

Ketika Islam menetapkan sebuah sistem ekonomi yang berlandaskan pada prinsip syariah, maka sistem itu adalah untuk seluruh masyarakat tanpa memandang muslim ataupun non muslim. Ketentuan larangan riba dan judi serta penggunaan mata uang dinar dan dirham misalnya, akan membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara nyata dan stabil karena bertumpu pada kegiatan ekonomi riil serta ditopang oleh mata uang yang juga benar-benar kuat dan tidak mudah mendapat tekanan inflasi serta depresiasi. Atau ketentuan Islam bahwa komoditas milik umum seperti minyak, hutan, gas alam, emas dan barang mineral lain adalah milik umum dan karenanya harus dikelola hanya oleh negara dan hasilnya diberikan kepada seluruh rakyat, baik secara langsung dalam bentuk barang yang murah atau tidak langsung melalui berbagi pelayanan yang diperlukan oleh rakyat seperti pendidikan dan kesehatan. Kebaikan dari sistem ekonomi seperti ini akan dirasakan oleh semua anggota masyarakat baik muslim maupun non muslim.

Begitu juga ketika Islam menetapkan sebuah sistem pendidikan bermutu yang tegak berlandaskan pada paradigma Islam dimana pendidikan diorientasikan pada pembentukan kepribadian, penguasaan tsaqofah dan penguasaan sains teknologi, yang diselenggarakan tanpa biaya atau berbiaya murah, dapat dinikmati baik oleh warga muslim maupun non-muslim.

Bukan hanya manusia, rahmat ini juga mencakup hewan, dimana Islam melarang membebani hewan dengan pekerjaan diluar kemampuannya, melarang membunuh binatang untuk main-main, dan menyuruh memudahkan dalam penyembelihan. Pendzoliman kepada hewan juga diancam dengan siksaan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Ibnu ‘Umar r.a:

دَخَلَتْ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَا وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

Ada seorang wanita masuk neraka disebabkan mengikat seekor kucing. Dia tidak memberinya makan dan tidak melepaskannya agar dapat memakan serangga tanah (HR. Bukhory)

Begitu juga rahmat kepada tumbuh-tumbuhan yang dilarang dicabut, ditebang dan dibakar sesuka hati tanpa aturan walau pun dalam peperangan.

C. Masalah Tumbuh Krn Menolak Islam sebagai Rahmat

Kegagalan dalam menjadikan diri nabi Muhammad s.a.w sebagai teladan dalam setiap hal menyebabkan banyak problem yang terjadi disekeliling kita. Indonesia negeri yang kaya raya alamnya, ternyata 70 juta rakyatnya hidup dalam kemiskinan, 4 juta anak Indonesia kurang gizi[6], tiap dua hari, satu warga Jakarta bunuh diri[7], sementara kekayaan alamnya terus menerus diserahkan kepada asing dengan mengatasnamakan investasi. Begitu juga dalam masalah hukum, 148 kepala daerah sekarang ini jadi tersangka korupsi, diantaranya adalah 17 Gubernur[8]. Belum lagi kalau bicara keamanan, angka pembunuhan semakin tinggi, pencurian motor meningkat menjadi 8.649 kasus di Jakarta[9]. Ini juga terjadi di negara kampiun demokrasi, di New York, angka pembunuhan dan perkosaan tahun 2010 meningkat tajam menjadi masing-masing 425 kasus dan 1.075 kasus. [10]

Sungguh, saat ini umat memerlukan pemimpin yang jujur dan amanah serta membela kepentingan rakyat, namun lebih dari itu umat sangat memerlukan pemimpin yang menjadikan risalah Beliau SAW sebagai pedoman kebijakan. Masalah negeri ini bukan hanya masalah orang, namun masalah sistem aturan yang sudah jauh dari risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Allahu A’lam

(Disampaikan di Masjid Mujahidin, 19 Maret 2011). Download PDFnya

[1] وَما أَرْسَلْناكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ لأن ما بعثت به سبب لإسعادهم وموجب لصلاح معاشهم ومعادهم، وقيل كونه رحمة للكفار أمنهم به من الخسف والمسخ وعذاب الاستئصال.

[2] Lihat juga surat An Nahl : 89

[3] Tafsir Depag RI

[4] Dikutip dari kitab Dirâsât Fil Fikril Islamy, Muhammad Husain Abdullah, Dâr al Bayâriq

[5] التحفة 3 / 530، والبدائع 7 / 134، والمبسوط 10 / 98، وابن عابدين 4 / 225

[6] mediaumat.com, 27 Januari 2011

[7] detikNews.com, Selasa, 15/02/2011

[8] mediaumat.com, 27 Januari 2011

[9] http://www.detiknews.com/read/2010/12/29/092348 /1534780/10/polisi-harus-kerjasama-dengan-masyarakat-untuk-tekan-angka-pembunuhan

[10] http://international.okezone.com/read/2010/10/27/18 /387028/angka-pembunuhan-di-new-york-meningkat-tajam

Posted on 20 Maret 2011, in Makalah, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s