Sunnah Nabi SAW atau Sunnah Hiraqlius & Kaisar?

Oleh: M. Taufik N.T

Aneh rasanya membaca beberapa blog dan artikel yang begitu “jeli” mengkritik konsep khilafah dengan sudut pandang, yang menurut mereka dikatakan “As Sunnah”, namun disisi lain mereka tidak melihat sedikitpun penyimpangan negara yang kata mereka sebagai penegak tauhid, pelopor dakwah sesuai sunnah, dan penghancur bid’ah. Sunnah siapa sebenarnya yang dijadikan rujukan?

***

Imam Bukhori, An Nasa’I, Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya menyatakan bahwa pada suatu hari Marwan bin Hakam berkhotbah di Masjid Madinah. Waktu itu ia menjadi Gubernur Hijaz yang ditunjuk oleh Mu’awiyah. Ia berkata:

إن الله قد أرى أمير المؤمنين في ولده يزيد رأيًا حسنًا وإن يستخلفه فقد استخلف أبو بكر وعمر، وفي لفظ: سنة أبي بكر وعمر

"Sesungguhnya Allah ta’ala telah memperlihatkan kepada Amir-u’l-Mu’minin (yakni Muawiyah) pandangan yang baik tentang Yazid, anaknya. Ia ingin menunjuk nya (Yazid bin Mu’awiyah) sebagai khalifah sebagaimana Abu Bakar dan ‘Umar telah memberikan kekuasaan, dalam lafadz lain: (sebagaimana) sunnah Abu Bakar dan Umar.

Abdurrahman bin Abu Bakar berkata:

سنة هرقل وقيصر، وإن أبا بكر والله ما جعلها في أحد من ولده ولا أحد من أهل بيته، ولاجعلها معاوية إلا رحمة وكرامة لولده

"Ini sunnah Hiraqlius dan Kaisar. Demi Allah, Abu Bakar tidak pernah menunjuk salah seorang anaknya atau salah seorang keluarganya untuk menjadi khalifah. Tidak lain Muawiyah hanya ingin memberikan kasih-sayang dan kehormatan kepada anaknya."

Marwan marah kemudian ia berkata:

ألست الذي قال لوالديه أف لكما

Bukankah engkau orang yang telah berkata kepada kedua orang tuanya “uf”?[1]

Abdurrahman bin Abu Bakar berkata:

ألست ابن اللعين الذي لعن أباك النبي صلى الله عليه وسلم؟

Bukankah engkau anak dari orang yang di cela, yakni orang yang bapaknya dicela oleh Nabi SAW?

Ucapan Ini sampai kepada Aisyah Ummu ‘l-Mukminin. Aisyah berkata:

كذب مروان، ما فيه نزلت، ولكن نزلت في فلان بن فلان، ولكن النبي -صلى الله عليه وسلم- لعن أبا مروان، ومروان في صلبه، فمروان بعض من لعنه الله ورسوله صلى الله عليه وسلم

"Marwan berdusta. Demi Allah, ayat tersebut bukan turun berkenaan dengan dia (yakni Abdurrahman bin Abu Bakar). Akan tetapi ayat ini turun berkaitan dengan fulan bin fulan, akan tetapi (benar bahwa) Nabi SAW telah melaknat ayahnya Marwan dan Marwan termasuk dari sulbinya, maka Marwan adalah bagian dari orang yang telah dilaknat oleh Allah dan Rasulnya.

(Lihat, Asy Syuyuthi (wafat 911 H), Târîkhul Khulafâ hal 154, Maktabah Syamilah)


[1] Maksudnya orang yang berkaitan dengan turunnya ayat “jangan engkau katakan kepada keduanya (orang tua) “uf”.

Baca Juga:

Posted on 2 Maret 2011, in Politik, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s