Mu’ammar Khadafi , Aborsi & Kerahiban Wanita

Ini adalah informasi lama yang dulu, meskipun sudah disampaikan, namun sepertinya tidak dipedulikan mayoritas umat Islam, sehingga dibalik jubah Islamnya banyak umat terkelabui akan sosok sebenarnya Mu’ammar Khadafi, bahkan di beberapa negara dia membangun Islamic Center, banyak yang terpukau dengan Khadafi hanya karena ia berani tegas bicara menentang Amerika dan Israel. Khadafi juga terkenal dengan "Buku Hijau"-nya (Kitabul Akhdlar/Green Book) mengijinkan berkembangnya faham atheisme di tanah Islam yang bernama Libya.

Majalah Al Wai’e edisi nomor 117 Syawal 1417/1997 yang terbit di Beirut menurunkan tulisan Ma’ali Abdul Hamid Hamoudah yang pernah berkunjung ke Libya untuk menghadiri undangan Universitas Nasser Internasional pada Lomba Ilmiah 23-31 Juli 1996 yang kiranya dapat menyingkap tabir Muamar Khadafi. Hamoudah menulis bahwa Khadafi adalah penguasa diktator yang sejak Revolusi September 1969 hingga kini justru selalu menentang Islam. Hamoudah menulis bukti-bukti pernyataannya sebagai berikut:

Pertama, Khadafi melancarkan program Ar Ruhbanah Ats Tsauriyah atau "Kerahiban Revolusioner" yakni gerakan Kerahiban Wanita Revolusioner sebagai sayap wanita dalam komite revolusi sejak tahun 1981. Para wanita yang mengikuti program ini menolak kawin dan tanggungjawab keluarga. Mereka dilatih dengan latihan militer dan diberi perlengkapan militer. Dan para wanita yang menjadi rahib revolusioner itu mewaqafkan diri mereka kepada Khadafi dengan anggapan seperti para biarawati Nasrani mewaqafkan diri kepada Yesus.

Program ini sebenarnya ditentang rakyat Libya karena memang kerahiban tidak ada dalam Islam. Di samping itu keluarga-keluarga Libya khawatir terhadap puri-putri mereka kalau-kalau terpengaruh oleh gerakan yang berlandaskan kekacauan moral dan ketidaktahuan terhadap nilai-nilai Islam tersebut. Namun sebagaimana biasanya, Khadafi mencari-cari dalih untuk membenarkan sikap dan tindakan yang nyeleneh itu. Dia mengatakan bahwa gerakan kerahiban wanita itu merupakan bentuk nyata untuk membebaskan Palestina dan Masjidil Aqsha serta tanah-tanah Arab yang diduduki Israel. Ketika para ulama di Tripoli dan Banggazi menolak program tersebut. Khadafi menggelari mereka sebagai pengkhianat revolusi dan anti pembebasan negeri-negeri Arab. Khadafi menuduh bahwa pernyataan tak ada kerahiban dalam Islam sebagai bid’ah. Khadafi –seperti dituturkan Hamoudah– dengan ketidak-tahuannya tentang agama Islam justru mengklaim dirinya sebagai seorang faqih dan dengan ngawur dia memanipulasi ayat tentang kerahiban sebagaimana firman Allah SWT:

وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا

"Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya" (QS. Al Hadid 27).

Tahun 1984 dibuat demonstrasi kaum wanita yang menuntut dilanjutkannya program kerahiban wanita revolusioner dan wajib militer bagi wanita.

Kedua, Pemerintahan Khadafi melalui keputusan Menteri Kesehatan membolehkan para dokter melakukan praktek aborsi (menggugurkan bayi dari kandungannya) secara resmi di rumah-rumah sakit umum milik pemerintah. Masyarakat pun menghubungkan keputusan berbahaya itu dengan program kerahiban wanita revolusioner dan wajib militer bagi para gadis Libya yang berpeluang besar kepada terjadinya pemerkosaan dan pelecehan seksual.

Ketiga, Khadafi menolak sunnah Nabi Muhammad saw. Dia hanya menerima Al Qur’an. Untuk menggantikan posisi As Sunnah, Khadafi menulis buku yang berjudul Kitabul Akhdlar atau "Kitab Hijau" (Green Book). Isinya terdiri dari tiga bagian atau bab yang antara lain menyebutkan bahwa semangat nasionalisme mengalahkan semangat keagamaan, dan ekonomi mesti ditata dengan ekonomi sosialis. Dalam pertemuan ilmiyah tahun 1996 yang diikuti penulis tersebut, forum yang didesain dengan sosialisasi ide-ide yang ada dalam Green Book itu diisi para pembicara yang membahas topik-topik yang bertentangan dengan Islam dan bernuansa sosialis, seperti: Zandaqah (kezindiqan) dan penggunaan agama untuk politik, demokrasi dan HAM dalam perspektif massa, gerakan historis, serta sistem ekonomi dalam perspektif sosialis kolektif. Bahkan sangat disayangkan bahwa dalam rapat pembukaan, salah satu penanggung jawab acara itu mengatakan bahwa Qadafi adalah seorang nabi. Dan salah seorang panitia pengarah mengatakan bahwa penerapan syari’at Islam itu sekedar pilihan (opsional), yakni bukan wajib.

Keempat, dalam membela sosialisme, Khadafi mengatakan kepada para kepala negara Arab: "Kalian sekarang memanen apa yang kalian tanam. Kalian telah memerangi gerakan revolusioner, Gerakan modernisasi/progressif Arab, gerakan Nashiriyah, kalian memerangi pemikiran revolusioner, pemikiran modernis". Khadafi juga mengatakan: "Kita wajib berperang demi sosialisme dan memuaskan masyarakat dengan sosialisme". Yang amat menyakitkan lagi Khadafi mengatakan: "Janganlah kalian terkecoh terhadap ucapan yang mengatakan bahwa sosialisme telah jatuh dan bahwasannya sosialisme telah gagal. Sosialisme belum tegak sehingga bagaimana dikatakan gagal. Dan sosialisme bila telah tegak tidak akan jatuh".

Kelima, Khadafi membentuk komite-komite revolusioner di setiap tempat, perusahaan, pabrik, pasar, sekolah, fakultas, tentara dimana kebanyakan anggota komite-komite itu dari badan intelijen Libya yang pekerjaannya terus-menerus memonitor masyarakat. Bahkan kepada para dosen dan mahasiswa tamu yang belajar dan mengajar di negerinya, Khadafi berpesan agar mendirikan komite revolusioner dan gerakannya di negara masing-masing.

Itulah kurang lebih gambaran tentang Khadafi dan sikapnya terhadap gerakan-gerakan Islam yang mungkin di sini dicap sebagai gerakan Islam galak, justru Khadafi memusuhi mereka dan mencap mereka dengan sesuatu yang tidak patut. Khadafi dan para pengikutnya menyebut gerakan-gerakan Islam yang ada di negerinya sebagai gerakan kaum Zindiq (atheis) yang merupakan turunan dari gerakan Zindiq yang ada pada masa Abbasiyah. Gerakan Islam menurut mereka justru memperalat agama untuk kepentingan politik. Persis seperti pandangan negara kafir imperialis terhadap Islam.

Sumber: Al Islam edisi 12, 28 Juni 2000, “Bahaya Kekufuran Dibalik Jubah Islam”

Baca Juga:

Posted on 25 Februari 2011, in Berita, Kritik Pemikiran, Politik. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. salam kenal dulu ya broooo

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s