Pandangan Ormas Muhammadiyah & NU Tentang Khabar Ahad dalam Masalah Aqidah

Oleh : M. Taufik N. T

Sungguh aneh mendengar ada sebuah ceramah (penceramah dari luar Kalimantan) di sebuah masjid (Muhammadiyah) di Banjarmasin yang mensesat-sesatkan suatu organisasi karena tidak menggunakan khabar ahad dalam masalah aqidah. Padahal, masjid tempat beliau ceramah,  organisasinya (Muhammadiyah), termasuk yang tidak menggunakan khabar Ahad dalam masalah aqidah *). Lebih dari itu, justru pendapat mayoritas ‘ulama adalah tidak menggunakan khabar ahad dalam masalah aqidah. (baca: Khabar Ahad dalam Pandangan Ulama Ushul)

Berikut ana copy paste Pokok-pokok Manhaj Tarjih Muhammadiyah, point d, lihat nomor 5:

(Sumber: situs Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Madiun, pada artikel: http://pd-muhammadiyah-kotamadiun.blogspot.com/2008/10/metode-pengambilan-sumber-dan-rujukan.html) *)

d. Pokok-pokok Manhaj Tarjih

Untuk keperluan di atas, Majlis Tarjih telah merumuskan dan menetapkan pokok-pokok manhaj dalam mengambil keputusan. Pokok-pokok Manhaj tersebut selanjutnya menjadi pijakan metdologis dan etis bagi ulama Muhammadiyah dalam mengembangan pemahaman, pemikiran dan pengamalan Dinul Islam. Azhar Basyir menjelaskan secara ringkas pokok-pokok Manhaj tersebut adalah sebagai berikut:

1). Dalam beristidlal, dasar utamanya adalah Al-Quran dan al-Sunnah al-Shahihah (al-Maqbullah). Ijtihad dan istinbat atas dasar ‘illah terhadap hal-hal yang tidai terdapat di dalam nas, dapat dilakukan, sepanjang tidak menyangkut bidang ta’abbudi, dan memang hal yang dihajatkan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Ijtihad, termasuk qiyas dapat digunakan sebagai cara menetapkan hukum sesuatu yang tidak ada nasnya secara langsung.

2). Ijtihad dilaksanakan secara jama’I, dengan jalan musyawarah untuk mendapatkan kesepakatan diatas kebenaran. Pendapat pribadi tidak dipandang kuat.

3). Tidak terikat dan mengikat diri kepada suatu madzhab, tetapi aqwal al-madzahib dapat menjadi pertimbangan dalam penetapan hukum, sepanjang sesuai dengan jiwa ajaran Al-Quran dan al-Sunnah atau dasar-dasar lain yang kuat.

4). Berprinsip terbuka, toleran dan tidak memandang pendapat Majelis Tajih yang paling benar. Menerima koreksi dari siapa pun, selama diberikan dalil-dalil yang kuat. Majelis dimungkinkan untuk mengubah pendapat yang pernah diputuskan.

5). Dalam masalah aqidah, hanya menggunakan dalil-dalil yang mutawatir.

6). Tidak menolak ijma’ sahabat sebagai dasar sesuatu keputusan.

7). Tentang dalil-dalil yang nampak mengandung ta’arudl, digunakan cara: al-jam’u wa al-tawfiq, dan kalau tidak dapat dilakukan tarjih.

8). Menggunakan asas "sadd al-dzara’I", untuk menghindari terjadinya fitnah dan mafsadah.

9). Menta’lil dapat dilakukan untuk memahami kandungan dalil-dalil Al-Quran dan al-Sunnah, sepanjang sesuai dengan tujuan syari’ah. Adapun qaidah "al-Hukmu yadurru maa al-illati wujuddan wa adaman" dalam hal tertentu dapat berlaku. …

Adapun Nahdlotul ‘Ulama (NU), sudah jelas bahwa dalam khittahnya NU menganut madzhab Syafi’i dan mengakui madzhab Maliki, Hanafi dan Hanbali. Sehingga perkara ini seharusnya jelas bagi NU bahwa memang ada ikhtilaf dikalangan ‘Ulama, dan mayoritas ‘Ulama, menurut Imam Nawawi (madzhab Syafi’i), tidak menjadikan khabar ahad sebagai hujjah dalam masalah aqidah, namun mewajibkan ‘amal.

*) Merupakan Rumusan Majlis Tarjih Muhammadiyah 1929,  dan tidak diubah oleh manhaj hasil Munas Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam tahun 2000 M di Jakarta, untuk hasil munas selanjutnya, penulis belum punya data, ada info diusulkan dibahas untuk diubah dengan alasan rumusan tersebut mempunyai arti bahwa Persyarikatan Muhammadiyah menolak beratus-ratus hadits shohih yang tercantum dalam Kutub Sittah.  Padahal point: “Dalam masalah aqidah, hanya menggunakan dalil-dalil yang mutawatir”, kemudian disimpulkan  “mempunyai arti bahwa Persyarikatan Muhammadiyah menolak beratus-ratus hadits shohih yang tercantum dalam Kutub Sittah” adalah penarikan kesimpulan  yang tidak tepat, dan ana rasa ‘Ulama Muhammadiyah tahun 1929 yang merumuskan hal tersebut mengerti betul masalah ini, dan tidak memahaminya dengan “menolak beratus-ratus hadits shohih yang tercantum dalam Kutub Sittah” . (lihat: Khabar Ahad dalam Pandangan Ulama Ushul)

Baca Juga:

  •  

  • Posted on 23 Februari 2011, in Aqidah, Ikhtilaf. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s