Kesalahfahaman Tentang Pengangkatan Khalifah

Sebelumnya: Kesalahfahaman Tentang Qodlo & Qodar

Setelah mengutip sejumlah rujukan yang dinisbatkan kepada Hizbut Tahrir, penulis al-Gharrah menyatakan:

هذه العبارات من جملة تحريفهم للكلم عن مواضعه فإن الحديث رواه مسلم عن ابن عمر بهذا اللفظ: «من خلع يدا من طاعة لقي الله يوم القيامة لاحجة له، ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتتة جاهلية» فهم يذكرون منه للناس الجملة الأخيرة فيكررون «من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتتة جاهلية» مع إيهامهم أن ذلك لمن لم يتكلم معهم في أمر الخليفة كما هم يتكلمون بألسنتهم.

ومعنى الحديث ليس كما يزعمون إنما المعنى أن من تمرد على الخليفة واستمر على ذلك إلى الممات تكون ميتته ميتتة جاهلية، كما يدل على ذلك حديث مسلم عن ابن عباس عن النبي e: «من كره من أميره شيئا فليصبر فإنه ليس أحد من الناس خرج من السلطان شبرا فمات عليه إلا مات ميتتة جاهلية».

فقوله: «فمات عليه» صريح في أن الذي يموت ميتتة جاهلية هو الذي يأتيه الموت وهو متمرد على السلطان..

فتبين بطلان قولهم وتمويههم وغرضهم التشويش على المسلمين حتى يتبعوهم وبايعوا زعيمهم تقي الدين النبهاني الذي ادعى الخلافة وبايعه جماعته على ذلك. وقد قسم البلاد ـ على زعمه ـ بين أولاده الثلاثة، أحدهم سماه أمير العراق، والثاني أمير بلاد الشام، والأخير أمير مصر، وسمي زوجته أم المؤمنين ـ على زعمه

Kalimat ini merupakan bagian dari pemutarbalikan kata dari konteksnya, karena hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dari Ibn ‘Umar dengan redaksi, "Siapa saja yang melepaskan diri dari ketaatan, maka di Hari Kiamat kelak dia akan menghadap Allah tanpa mempunyai alasan. Siapa saja yang mati, sementara di atas pundaknya tidak ada bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah." Mereka menyampaikan hadits tersebut kepada masyarakat, dan mengulang-ulang bagian, Siapa saja yang mati, sementara di atas pundaknya tidak ada bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah." dengan asumsi mereka, bahwa itu berlaku untuk siapa saja yang tidak membahas masalah khalifah dengan mereka, sebagaimana yang selalu diungkapkan oleh mulut mereka.

Padahal, makna hadits tersebut tidak seperti yang mereka asumsikan. Maknanya tak lain adalah siapa saja yang melawan khalifah, dan tetap seperti itu hingga mati, maka kematiannya adalah mati jahiliyah. Itu persis seperti yang ditunjukkan oleh hadits Muslim dari Ibn ‘Abbas dari Nabi saw. yang menyatakan, "Siapa saja yang tidak menyukai sesuatu pada amirnya, hendaknya bersabar. Sebab, tak ada seorang pun yang melepaskan diri dari kekuasaan, meski hanya sejengkal, kecuali dia mati dalam keadaan mati jahiliyah."

Pernyataan Nabi, "Mati dalam keadaan mati jahiliyah." Menjelaskan, bahwa orang yang mati dalam keadaan jahiliyah adalah orang yang dijemput kematian, sementara dia tetap membangkang dari penguasa.

Maka, nyata kebatilan pandangan mereka, penyelewengan dan tujuan mereka untuk membingungkan kaum Muslim hingga mereka mengikutinya dan membai’at pemimpin mereka, Taqiyuddin an-Nabhani, yang telah mengklaim jabatan khilafah dan dibai’at oleh jamaahnya. Dia bahkan telah membagi negeri (kaum Muslim) –sebagaimana klaimnya— di antara ketiga anaknya. Satu di antara mereka, dia sebut sebagai amir Irak. Kedua sebagai amir negeri Syam, dan terakhir sebagai amir Mesir. Dan –sebagaimana klaimnya– isterinya disebut dengan sebutan Ummul mukminin[1]

Penjelasan:

Dengan menyandarkan pada hadits:

مَنْ خَلَعَ يَداً مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةً لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa yang melepaskan (tangan) dirinya dari ketaatan, maka (dia) akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan barangsiapa mati sementara di atas pundaknya tidak ada bai’at, maka matinya dalam keadaan jahiliyah.

Penulis al-Gharrah dan para pengikutnya mengatakan, bahwa (yang dimaksud dengan) mati jahiliyah itu hanya berlaku untuk orang yang melawan penguasa, jika dia dijemput oleh kematian, sementara dia tetap seperti itu. Mereka yang mengatakan itu lupa atau sengaja pura-pura lupa, bahwa lafadz yang berbentuk umum (shiyagh al-‘umum) menunjukkan hukum yang bersifat umum. Pada bagian kedua hadits tersebut terdapat lafadz umum, yaitu: man yang menunjukkan lafadz umum, lalu kata bai’atun yang berbentuk nakirah munafiyah, juga termasuk lafadz umum. Jadi keumuman hadits tersebut adalah perkara yang sangat jelas.

Siapapun yang mengerti bahasa Arab dan istinbath akan mengetahui bahwa kalimat:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

"Dan barangsiapa mati sementara di atas pundaknya tidak ada bai’at, maka matinya dalam keadaan jahiliyah."

adalah berbentuk umum, yang dalam keadaan adanya khalifah, seorang Muslim harus berbaiat, dan dalam keadaan tidak adanya Khalifah seorang Muslim harus mengerjakan aktivitas yang bisa mewujudkannya. Disamping itu, mafhum dari hadits tersebut juga menyatakan demikian, yakni nas tersebut menyatakan wajibnya membaiat Khalifah yang jika tidak dilakukan, maka dia akan mati dalam keadaan jahiliyah. Ini merupakan dalil (penunjukkan) yang jelas, bahwa jika tidak ada (Khalifah), maka wajib menjalankan aktivitas untuk mewujudkannya.

Karena itu, penyesatan terhadap makna hadits tersebut dimaksudkan untuk mengacaukan kaum Muslim agar kaum Muslim tidak beranjak menjalankan aktivitas untuk mewujudkan Khalifah dan membaiatnya supaya tidak mati dalam keadaan jahiliyah.

Lebih dari itu, mereka menyelewengkan dalil-dalil yang menyatakan kewajiban mengerjakan aktivitas untuk menegakkan Khilafah. Mereka berani bekerjasama dengan para penguasa yang tidak menjalankan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah, bahkan memata-matai dan menunjukkan orang-orang yang berjuang untuk menegakkan Khilafah agar ditahan; seperti berita-berita tentang apa yang dilakukan oleh para antek dan kaki tangan mereka di Libanon, dan seperti yang dilakukan oleh orang yang ingin dipuji dan bersikap munafik terhadap para penguasa di sana, terutama di Suriah. Padahal mereka mengetahui, bahwa penguasa-penguasa tersebut tidak menjalankan hukum Islam.

Semuanya itu agar mereka dapat mengemas pemahaman agama mereka untuk kaum Muslim, serta menyambut para penguasa antek dan kaki tangan (kaum Kafir) yang menjalankan pemerintahan dengan undang-undang buatan manusia. Dengan begitu, selamanya mereka akan tetap berdiam diri dari aktivitas menegakkan Khilafah.

Mereka juga melontarkan kebohongan terhadap para aktivis yang berjuang untuk menegakkan Khilafah. Mereka menyebarkan kebohongan tentang para aktivis tersebut. Kaum kafir dan antek-anteknya memang sengaja membuat kisah-kisah idiot dan bodoh, dimana kebohongannya dengan mudah akan tersingkap di depan mata. Sebagian dari perkara-perkara yang kita dengar dan kita baca tersebut adalah:

1- Mereka mengatakan, “Salah seorang aktivis yang berjuang menegakkan Khilafah itu pada saat datangnya shalat Maghrib akan tetapi dia tidak shalat. Ketika ditanyakan kepadanya mengapa tidak shalat, ia menjawab shalat tidak diwajibkan karena tidak ada Khalifah!”

2- Mereka mengatakan, “Salah seorang aktivis yang berjuang menegakkan Khilafah itu ditanya, bahwa jamaahmu menyatakan sesungguhnya memandang wajah wanita dengan syahwat itu diharamkan, lalu mengapa dibolehkan menciumnya dengan syahwat. Ia menjawab, tidak masalah, ciumlah wanita itu sambil menutup mata!”.

3- Mereka mengatakan, “Amir jamaah yang berjuang untuk menegakkan Khilafah mengangkat dirinya menjadi Khalifah dan mewajibkan jamaahnya membaiatnya sebagai Khalifah. Kemudian ia membagi negeri Muslim kepada anak-anaknya, ada yang menjadi gubernur di Syam, ada yang menjadi gubernur di Irak dan ada juga yang menjadi gubernur di Mesir.” Lalu mereka menambahkan bahwa amir jamaah itu menamai isterinya dengan ummul mukminin!

Terkadang mereka mengatakan perkataan yang bagi orang berakal tidak mungkin melontarkan kebohongan-kebohongan seperti itu, akan tetapi kami katakan kepada Anda, bahwa pernyataan-pernyataan seperti itu bersumber dari booklet sebagian para antek-antek kaum Kafir itu. Booklet itu diterjemahkan dan diperjualbelikan, dan para penulis booklet itu bukanlah orang yang jauh dari Anda.

Mereka yang melontarkan kebohongan itu, yakni para antek-antek orang Kafir, adalah orang-orang yang berusaha menghalang-halangi dari jalan Allah. Mereka tidak ingin kaum Muslim berjuang untuk mengembalikan lagi negara Khilafah yang akan memuliakan kaum Muslim dan menghinakan orang-orang kafir. Para pembohong itu menyangka, bahwa mereka sedang mengucapkan kata-kata di negeri yang menjadi pelindung, dan tak seorang pun yang akan bisa membongkar kebohongan mereka:

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung. (Q.s. Yunus [10]: 69)

Sumber: Bantahan Terhadap Kitab Al Gharral Al Imaniyyah… kitab lengkapnya (pdf) disini

Baca Juga:


[1] ‘Abdullah al-Harari, al-Gharrah al-Imaniyyah fi Mafasid at-Tahririyyah, ed. ‘Abdul ‘Aziz Masyhuri al-Indunisi, al-Idarah al-Markaziyyah li Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyyah Indonesia, 2001, hal. 33

Posted on 14 Februari 2011, in Politik, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s