Zakat dan Distribusi Kekayaan

Oleh: Rokhmat S. Labib

Bahwa zakat merupakan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan, tak seorang muslim pun membantahnya. Sebab, dalil-dalil yang menjelaskan wajibnya zakat amat jelas. Di dalam al-Quran dan al-Sunnah, kewajiban membayar zakat sering disebut beriringan dengan kewajiban menegakkan shalat. Hanya saja, dibandingkan dengan shalat, praktek pelaksanaan zakat dalam kehidupan kaum muslimin masih jauh tertinggal. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Di antaranya adalah akibat minimnya pemahaman mereka mengenai kewajiban zakat. Sebagai gambaran, masih ada di antara mereka yang menganggap bahwa kewajiban zakat hanya sekadar zakat fitrah yang dikeluarkan setiap tahun menjelang hari raya idul fitri.

Menghilangkan Sifat Bakhil

Salah satu tabiat yang oleh dimiliki manusia adalah cinta terhadap harta kekayaan. Wajar saja, manusia memang bukan malaikat. Manusia memiliki beragam kebutuhan yang harus dipenuhi. Dan hampir semua kebutuhan itu dalam pemenuhannya memerlukan biaya. Karenanya, tatkala manusia menginginkan kelangsungan hidupnya, keberadaan harta menjadi penting.

Namun demikian, Allah SWT mengingatkan agar kecintaan terhadap harta itu tidak membuat kita menjadi manusia yang bakhil atau kikir. Allah SWT berfirman:

ولا يحسبن الذين يبخلون بما آتاهم الله من فضله هو خيرا لهم يل هو شرّ لهم سيطوقون ما بخلوا به يوم القيامة

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik baginya. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat (QS Ali Imron: 180

Asy-Syaukani di dalam tafsirnya, Fath al-Qadir, menyatakan bahwa secara bahasa kata bakhil berarti mencegah diri untuk melaksanakan sesuatu yang diwajibkan. Sedangkan pada sesuatu yang tidak diwajibkan, maka tidak disebut sebagai bakhil.

Islam telah menetapkan adanya kewajiban membayar zakat bagi kaum muslimin. Islam juga telah menjelaskan harta apa saja yang harus dikeluarkan zakatnya. Karena sebagai kewajiban, maka siapa pun yang enggan atau menolak membayar zakat, termasuk dalam golongan orang-orang bakhil.

Ayat di atas juga mengingatkan bahwa jangan sekali-kali kita menganggap bahwa sikap bakhil itu akan bermafaat dan berakibat kebaikan. Memang, dalam kalkulasi materi, membayar zakat dapat dianggap sebagai pengeluaran itu dianggap sia-sia. Dan menolak membayar zakat dapat dianggap sebagai pilihan terbaik. Sebab, dalam prinsip ekonomi (kapitalis) setiap pengeluaran harta harus mendatangkan harta yang lebih besar. Namun yang perlu diingat, kehidupan dunia bukan terminal akhir kehidupan manusia. Setelah kehidupan dunia berakhir, akan ada kehidupan akhirat.

Di dalam kehidupan akhirat inilah manusia akan mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang dikerjakan sewaktu di dunia. Ayat di atas, memberitakan bahwa orang-orang yang enggan membayar zakat akan mendapatkan azab. Dus, keengganan membayar zakat bukan sesuatu mendatangkan manfaat, namun justru mendatangkan kecelakaan dan penderitaan berkepanjangan.

Cukup banyak ayat al-Quran maupun hadits-hadits Nabi saw yang berisi ancaman bagi orang-orang yang enggan membayar zakat. Dipandang dari berbagai sudut, zakat memang menempati posisi amat strategis. Oleh karenanya, zakat –sebagaimana kewajiban lainnya– apabila ditinggalkan tidak hanya mengakibatkan dosa bagi pelakunya, namun juga akan menghantarkan kerusakan dan malapetaka bagi kehidupan.

Mekanisme Pengaturan Harta

Tidak dapat dipungkiri, keberadaan harta benda amat penting bagi kehidupan manusia. Harta digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, bahkan untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Tidak mengherankan, jika di dalam al-Quran dan al-Sunnah, harta (al-amwal) dan jiwa (al-anfus) sering disebut secara beriringan.

Persoalan pengaturan harta mendapat perhatian yang sangat besar oleh Islam. Perhatian itu nampak dalam hukum-hukum Islam yang secara komprehensif, detail, dan rinci mengatur persoalan pengaturan harta, baik dari aspek (1) kepemilikan beserta tata caranya; (2) pembelanjaan dan pengembangannya; maupun (3) mekanisme pendistribusiannya di tengah-tengah masyarakat. Berbagai hukum-hukum yang mengatur pengelolaan harta tersebut wajib ditaati oleh setiap kaum muslimin.

Berkaitan dengan harta ini, menarik sekali kita simak firman Allah SWT:

يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم

Hai orang-orang yang beriman, janganlahkamu saling memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka di antara kamu (QS al-Nisa’: 29).

Berdasarkan ayat di atas, prinsip penting dalam pengaturan harta dalam Islam adalah adanya larangan memakan harta di antara sesama manusia dengan cara yang batil. Yang dimaksud batil di sini adalah semua cara yang tidak dibenarkan oleh syariat Islam. Yang diperbolehkan ayat ini adalah perniagaan yang dilakukan secara suka rela antara pihak-pihak yang bertransaksi.

Prinsip tersebut amat relevan dengan tabiat manusia. Sebagaimana telah dinyatakan, manusia memiliki beragam kebutuhan yang hampir semua pemenuhan kebutuhan itu memerlukan harta. Sementara, dalam banyak keadaan, untuk memperoleh harta diperlukan usaha, perjuangan, dan pengorbanan yang terkadang tidak ringan. Maka mencuri, memeras, merampas, atau merampok harta orang lain adalah kedzaliman besar yang tidak boleh dibiarkan.

Pada umumnya, manusia hanya mau memberikan hartanya kepada orang lain manakala ia mendapatkan ganti yang sepadan. Ganti tersebut bisa berupa barang maupun jasa. Ini berarti, secara alamiah, untuk mendapatkan jenis harta yang diinginkan, seseorang harus bekerja terlebih dahulu.

Seorang petani, misalnya, untuk dapat memiliki berbagai jenis harta yang tidak dapat ia produksi, seperti pakaian, rumah, mobil, dan semua kebutuhan lainnya, harus menggarap sawah-ladangnya agar bisa panen dan hasilnya dapat dijual untuk kemudian ditukar dengan barang-barang lain yang dibutuhkan tersebut. Demikian juga seorang nelayan, sopir, guru, dan sebagainya.

Berdasarkan fakta ini, pertukaran harta –yang yang lazim dikelan perdagangan– antar manusia menjadi sebuah keniscayaan. Dalam hal ini, Islam juga memberikan mekanisme yang mengaturnya. Islam, misalnya, mengharuskan adanya kerelaan masing-masing pihak yang bertransaksi. Tidak boleh ada pihak yang dipaksa memilih suatu opsi tertentu oleh pihak lain. Jika konsisten dengan ketentuan ini, maka akan tercipta ‘pasar’ yang benar-benar bersih. Yakni sebuah ‘pasar’ yang di dalamnya terdapat penawaran dan permintaan yang dilakukan secara sukarela dan masing-masing pihak yang bertransaksi diberi keleluasaan untuk memilih. Dalam bahasa al-Quran disebut dengan istilah ‘an taradhin.

Kerelaan tersebut tidak bersifat semu belaka. Berbagai perilaku yang merupakanbentuk-bentuk distorsi pasar, seperti larangan adanya tasy’ir (pematokan harga), tadlis (penipuan pada barang yang diperjualbelikan) maupun al-ghaban al-fahisy (harga yang tidak sewajarnya), penimbunan, riba, perjudian, dan semacamnya.

Dengan terciptanya pasar yang benar-benar bersih itu, ditambah dengan diterapkannya sistem ekonomi yang benar-benar adil, akan memungkinkan terjadinya distrubsi kekayaan yang baik sekaligus dapat mewujudkan kehidupan yang tenteram dan damai. Akan tetapi pada kenyataannya tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memasuki mekanisme pasar dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini karena adanya faktor-faktor alamiah, seperti adanya orang-orang yang menderita cacat fisik atau mental, tinggal di daerah yang kurang subur, dan semacamnya.

Menghadapi kenyataan semacam ini, hanya mengharapkan teralirnya kekayaan orang-orang yang tdak dapat masuk dan bersaing dalam lapangan ekonomi, jelas akan sia-sia. Oleh karena, diperlukan adanya mekanisme lain yang tidak melalui mekanisme pasar tersebut. Dan Islam, sebagai din al-haq, ternyata mensyariatkan mekanisme distribusi jenis ini. Kewajiban zakat adalah salah satu di antaranya. Zakat merupakan kewajiban yang dibebankan kepada orang-orang kaya untuk diberikan kepada orang-orang faqir-miskin (dan beberapa kelompok lain yang ditentukan oleh Islam). Dalam kaca mata distribusi, zakat –termasuk pula infaq, shadaqah, dan hibah– merupakan cara jitu untuk memaksa teralirnya kekayaan yang tidak tersentuh oleh mekanisme pasar.

Kenyataan inilah yang justru diabaikan oleh sistem ekonomi Kapitalisme yang saat ini diberlakukan. Setiap orang dianggap memiliki kemampuan sama untuk bersaing dalam mekanisme pasar. Akibatnya, ada orang-orang tertentu yang tersingkir dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Jurang antara kemiskinan dan kekyaan pun makin menganga. Sementara mekanisme yang ada semata-mata hanya mengandalkan mekanisme pasar. Jika ini terjadi, maka orang-orang miskin akan terus menderita dan kehilangan harapan untuk dapat mengubah nasib hidupnya.

Pada akhirnya, kita juga patut berpikir, jika untuk bisa melangsungkan kehidupan kita memerlukan harta, bukankah hal yang sama juga terjadi pada orang lain? Bukankah orang-orang miskin, para gelandangan, dan penyandang cacat yang tak mampu bekerja juga membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Maka di pundak orang-orang yang dilebihkan hartanya oleh Allah-lah diletakkan tanggung jawab untuk menafkahi mereka. Dan menjadi tugas negaralah untuk mewujudkannya. Negara harus memaksa orang-orang yang diwajibkan mau membayarkan zakatnya. Namun, sampai kapan kita harus menunggu negara melakukan tugasnya? Wallah a’lam bi al-shawab.

Baca Juga:

  • Buku: Keniscayaan Runtuhnya Kapitalisme
  • Tidak Masuk Surga Pemungut Pajak/Cukai
  • Pajak (Dharîbah) dalam Timbangan Syari’ah
  • Politik Pertanian Perspektif Islam
  • Iklan

    Posted on 21 November 2010, in Ekonomi, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s