Khutbah Jum’at – Istighfar & Taubat : Amalan Penolak Bencana

Oleh : M. Taufik N.T                         Download versi pdf (ukuran folio) di sini


الحمدُ للهِ العزيزِ الغفارِ، العليِّ الجبَّارِ، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وَعَدَ التَّائِبِينَ بِالسَّعَادَةِ بِالْجَنَّةِ وَالسَّلامَةِ مِن النار، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوثُ لإِنْقَاذِ البَشَرِيَّةِ مِن الشَّقاء في الدنيا وفي دار القَرار.

اللهم صل وسلم وبارك وأَنْعِمْ على على سيدنا محمدٍ سيدِ المستغفِرين بالأسْحَار، وعلى آله وأصحابه الأخْيار وعلى التابعين لهم بإحسان ما بَقِيَ الليل والنهار. أَمَّا بَعْدُ؛ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ – أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ – يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Marilah selalu bertaqwa kepada Allah SWT kapan, dimanapun dan bagaimanapun kondisi kita, karena sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Dalam kitab Bustânul Khatîb[1] diceritakan bahwa suatu ketika al Hasan Al Bashri (wafat 110 H) didatangi seseorang yang mengeluhkan paceklik dan kekeringan, maka beliau menasehati: "Mohonlah ampun kepada Allah " kemudian datang orang lain mengadukan kemiskinannya kepada beliau, beliau menasehati: "Mohonlah ampun kepada Allah " lalu datang lagi orang lain mengadukan masalah sedikitnya anak, maka beliau menasehati: "Mohonlah ampun kepada Allah"

Salah satu muridnya bertanya karena merasa heran dengan satu jawaban untuk tiga pertanyaan yang berbeda, maka al Hasan al Bashri berkata: tidakkah engkau membaca firman Allah:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا – يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا – وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

"Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebu-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai, " (QS. Nuh : 10-12).

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab r.a, selama sembilan bulan terjadi bencana kekeringan (‘amu ramâdah[2]) yang mengakibatkan bencana kelaparan , yakni tahun 17 H s/d awal 18 H. Menghadapi bencana ini Beliau berkata kepada rakyatnya:

أيها الناس اتقوا الله في أنفسكم، وفيما غاب عن الناس من أمركم، فقد ابتليت بكم وابتليتم بي، فما أدري السخطى عليَّ دونكم، أوعليكم دوني، أوقد عمتني وعمتكم، فهَلُمُّوا فندع الله يصلح قلوبنا، وأن يرحمنا، وأن يرفع عنا المحل

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dalam diri kalian, dan dalam urusan kalian yang tidak kelihatan manusia, karena sesungguhnya aku diuji dengan kalian dan kalian diuji denganku, aku tidak tahu apakah kemurkaan itu kepada diriku bukan kalian, atau kemurkaan itu kepada kalian bukan diriku, atau kemurkaan itu berlaku umum kepadaku dan kepada kalian, maka marilah kita berdo’a kepada Allah agar Dia memperbaiki hati-hati kita, dan merahmati kita, dan agar Dia mengangkat bencana ini dari kita[3]

Apa yang disampaikan ‘Umar ini diterapkan dalam langkah-langkah nyata, dan satu tahun berikutnya, mereka hidup dalam kondisi sejahtera, bahkan ‘Umar memberikan santunan kepada setiap bayi, tahun pertama mendapat 100 dirham (clip_image002 Rp 3jt) dan tahun ke -2 mendapat 200 dirham, mampu menggaji guru 15 dinar (63,75 gr emas) per bulan, bahkan pada tahun 20 H mulai mencetak mata uang dirham sendiri.

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Sampai saat ini Indonesia senantiasa dilanda musibah, mulai banjir, tsunami, hingga Merapi. Ratusan korban jiwa melayang dan ribuan yang mengungsi. Belum lagi bencana kemanusiaan, 26 juta penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa[4], 50 ribu orang Indonesia bunuh diri antara tahun 2005 – 2007, belum termasuk 40 orang tiap hari yg mati akibat overdosis narkoba[5].

Menghadapi bencana seperti ini, kita, apalagi penguasa, seharusnya memohon ampunan Allah SWT, mengajak rakyat untuk memeriksa diri: dosa apa gerangan yang mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan?

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Penyebab segala bencana yang dihadapi oleh manusia, baik pada level individu maupun negara adalah akibat kemaksiyatan; baik yang dilakukan oleh pemimpin yang menerapkan aturan penjajah seraya mencampakkan syari’ah, maupun oleh rakyat jelata.

Sungguh, menyembelih kerbau sebagai tumbal seperti yg dilakukan warga Hargobinangun Senin lalu[6] tidak akan dapat menolak bencana sedikitpun, bahkan kegiatan itu justru merupakan bencana besar. Begitu juga mengharap bantuan Amerika dan negeri yang nyata-nyata memusuhi umat Islam, justru akan semakin membuat negeri ini terperosok kedalam bencana kemanusiaan yg tidak terperikan. Mematuhi arahan penjajah untuk menggunakan hukum sekuler kapitalis juga merupakan sumber musibah besar yang telah terbukti membuat negeri ini semakin terjajah, dengan aturan yang culas kekayaan alam negeri ini dirampas, 1800 perda dihapus hanya untuk memuluskan penjajahan dengan kedok investasi, sementara utang Indonesia sampai Oktober 2010 meningkat menjadi Rp 1.664,43 trilyun.

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Karena itu tidak ada jalan untuk menolak bencana ini kecuali dengan beristighfar dan bertobat dengan sungguh-sungguh, mencampakkan berbagai kemaksiatan mereka kepada Allah SWT, lalu bersegera menerapkan syariah-Nya secara totalitas dalam semua aspek kehidupan. Jika tidak maka bencana demi bencana akan senantiasa melanda negeri ini, baik bencana alam, maupun bencana yg lebih besar, yakni meluasnya kemungkaran dan kemaksiyatan. Rasulullah bersabda:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

… Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan memilih-milih apa yang diturunkan Allah (yang suka dilaksanakan, yang tidak suka ditinggalkan), kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka." (HR. Ibnu Majah no. 4009 dengan sanad Hasan[7]).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْاَنِ الْعَظِيم، وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاَيَاتِ وَ الذِّكْرِ الحَْكِيْم اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيمَْ – لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوهُ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُ الرَّحِيمِ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. أَللّهُمَّ اَعِزِّ اْلاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَصْلِحْ وُلاةَ المُسْلِمِيْنَ وَألِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَ حُ الإسْلامِ وَالمُسْلِمِيْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Baca Juga:


[1] بستان الخطيب hal 161, موسوعة الخطب والدروس bab آثار الاستغفار

[2] kerusakan, kebinasaan: الرَمادَة : الهلاك, Al Hafidz Ibnu Katsir (w. 774 H) menjelaskan kenapa disebut ‘âmu ramâdah (tahun kehancuran) yakni krn: (1) tanah sampai kehitam-hitaman krn tidak turun hujan, sampai warnanya hampir seperti abu (româd) (2) atau krn angin menghamburkan tanah seperti abu (3) atau krn warna kulit manusia menjadi seperti abu (krn kepanasan) atau krn sebab ketiganya terjadi.

[3] Thabaqat Ibnu Sa’ad, riwayat dari Sulaiman bin Yasar

[4] Laporan WHO, tahun 2006

[5] http://www.polkam.go.id/polkam/berita.asp?nwid=108 , 16 Maret 2007

[6] http://m.okezone.com/read/2010/11/08/340/391134

[7] Dalam silsilah ash shahihah 1/216 dikatakan hasan, dalam shahih at targhib wat tarhib 2/157 dikatakan shahih lighairihi

About these ads

Posted on 11 November 2010, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Mohon ijin untuk download file khotabah, untuk saya gunakan hari ini… terimakasih

  2. Ass. mohon kirimkan khutbah terbarunya ke email saya, karena penting untuk menambah khasanah keilmuan saya. Jazaakallah khairan katsirn

  3. Afwan ust, izin ana gunakan Materi Antum Untuk khutbah hari ini. Jazakumullah khair

  4. ustadz, mohon dikirimkan juga file2 khutbah yg antum punya.
    sebagai referensi khutbah.

    jazakAllaah… :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.881 pengikut lainnya.