Khutbah Idul Adha 1424H : Siap Berkorban Demi Ketaatan Hakiki

اللهُ أكْبَرُ × 9

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ


الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ لَكَ الْحَمْدُ، وَالنِّعْمَةُ، وَلَكَ الْمُلْكُ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اَلْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ: } قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ سَنَّ بِقَوْلِهِ: « أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَلاًَ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُـوعٌ »، وَعَلىَ آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَمَنْ وَالاَهُ. أَشْهَدُ ألاَّ إِلَهَ إِلاًّ أنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

أما بعد، } أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَ يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ {،

Allah[u] Akbar 3X

Para Hadirin yang dimuliakan Allah,

Segala puji milik Allah Rabbul Izzati, Dia yang Tidak Berawal dan Tidak Berakhir, Dialah Wajibul Wujud, tempat bergantung segala sesuatu. Maha Suci Allah yang patut disembah dan disucikan, tiada Ilah melainkan Allah Azza wa Jalla. Maha Besar Allah yang telah menjadikan, bulan ini, hari ini adalah mulia dan hari bahagia bagi orang-orang beriman. Jutaan manusia berkumpul di tanah al Haram untuk memenuhi panggilan Allah, menyaksikan kebesaran dan keagungan-Nya, merendahkan diri, bersujud, bertahmid, bertasbih dan bertakbir, sadar hanya kepada-Nya lah tujuan hidup ini. Hari ini, para jamaah haji melempar jumrah dan berkorban, setelah sebelumnya mereka wuquf di padang Arafah, melaksanakan thawaf dan sai, menjalani seluruh manasik haji demi mendapatkan ridlo Allah Rabbul Izzati. Seraya merasakan, betapa nikmatnya menjadi orang beriman, berislam: Menyembah Tuhan Yang Satu, menghadap kiblat yang satu, bertahkim kepada undang-undang Allah yang satu, dan sadar mereka adalah umat yang satu pula.

Dan hari ini di seluruh dunia, kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah hajji, serentak melaksanakan sholat Ied dan berkurban. Satu paduan sikap dan tindakan sebagai hamba Allah Yang Satu.

Shalawat dan salam semoga selalu dan tetap tercurahkan kepada Nabi dan Rasul kita Muhammad saw, berserta keluarga beliau, dan semua pengikutnya yang beriman pada kurun awal maupun kurun akhir dari dunia ini. Karena Beliaulah kita mendapatkan dan mengerti kesejatian hidup ini, agar menjadi hamba yang hanya beribadah kepada Allah al Maalikul Haqqul Mubin!

Allah[u] Akbar 3X

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,

Saat ini, kita tengah merayakan hari raya Idul Adhha, atau hari raya kurban. Gema takbir, tahlil, tahmid, dan tasbih terus membahana. Mengiringi tekad kita untuk tetap membesarkan asma Allah, meninggikan kalimat tauhid, dan mengokohkan agama-Nya agar berdaulat di muka bumi, serta memuliakan para hamba-Nya yang muslim, mukmin, dan shalilihin.

Hanya saja, di tengah kebahagian ini, kita masih menyaksikan potret buram; betapa umat ini mengalami pembusukan secara sistemik, hasil makar orang-orang kafir yang dibantu oleh oreang-orang munafik. Umat tercerabut dari aqidah dan hukum-hukumnya, terlempar dalam kehinaan dan penghambaan kepada penguasa thagut. Islam yang mulia selalu dihadapkan kepada manipulasi, pengebirian dan penyimpangan oleh tangan-tangan jahil penguasa kaum muslimin yang avonturir, di samping orang-orang kafir dan agennya dari kalangan intelektual, politisi, dan bahkan “tokoh-tokoh umat” ini. Darah umat Islam masih mengalir di berbagai belahan dunia; Irak, Palestina, Uzbekistan, Afganistan, Gujarat-Hindia, Kashmir, Chechnya, dan sebagian dalam tahanan dan penyiksaan rezim-rezim thagut di Timur Tengah dan Asia Tengah, hanya karena sekedar membela hak-hak mereka dan menunaikan kewajibanya menegakkan Islam yang mulia. Tanggung jawab penguasa kaum muslim lenyap, umat terlantar laksana anak ayam kehilangan induknya. Bahkan baru-baru ini kita dikejutkan dengan sikap pemerintah Perancis, yang akan mengundangkan pelarangan penggunaan jilbab di sekolah-sekolah dan kantor layanan umum, dengan dalih bahwa jilbab itu simbol keagamaan, dan itu bertentangan dengan sekularisme. Padahal, bagi wanita muslimah, jilbab bukanlah simbol, tapi kewajiban sebagaimana layaknya sholat dan shaum Ramadhan. Sehingga, larangan itu sebenarnya adalah serangan atas Islam dan kaum muslimin. Karena itu semua, kebahagiaan kita pagi ini pun terasa hambar. Sebab, kita adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan umat ini di berbagai negeri di seluruh dunia. Baginda Rasulullah saw. mengingatkan kita dalam sabdanya:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذاَ اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, berkasih sayang , dan saling berempati diantara sesama mereka adalah laksana satu tubuh, jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh akan ikut merintih, merasakan panas dan tidak bisa tidur” [ HR. Muslim dan Ahmad]

Sementara itu, kondisi kaum muslimin di dalam negeri cukup menyedihkan juga. Fenomena kumungkaran semakin menjadi-jadi, baik menyangkut keyakinan-keyakinan ataupun hukum syariah. Berbagai bentuk khurafat merajalela dan mistik dipropagandakan, pergaulan bebas semakin marak, pornografi dan pornoaksi menjadi suguhan sehari-hari. Bisnis pelacuran, perjudian, dan miras merebak bak bisnis yang dilegalkan. Bahkan undian berhadiah model SDSB jilid ketiga mulai hendak diluncurkan. KKN yang menjadi jargon reformasi, alih-alih diberantas, malah semakin meluas. Perbankan ribawi yang nyata-nyata bikin bangkrut negeri ini, terus dijadikan basis perampokan triliunan uang rakyat. Utang IMF yang tidak rasional dan justru menjadi pangkal bencana ekonomi nasional dengan racun LoI-nya terus dipertahankan. Penjualan aset negara, yang sejatinya aset rakyat, berjalan terus seperti penjualan aset pribadi. Maka negeri dan negara ini telah tergadai oleh para pemegang kebijakan negara yang lalai. Negara yang pernah meminpin gerakan negara non blok ini, kini tak berkutik terhadap negara sekecil Singapura. Kemelaratan dan banyaknya utang negara telah membuatnya hina dina. Anehnya, di atas berbagai kemelaratan negara dna penderitaan rakyat, para pejabat dan konglomerat masih hidup bermewah-mewah tanpa rasa risih dan malu. Skandal mobil mewah anggota KPU sekedar contoh. Padahal masih banyak yang serupa, bahkan untuk pejabat di daerah tingkat dua, tidak sedikit yang memiliki mobil mewah, rumah mewah, dan tanah yang luas, serta keakayaan lainnya. Dan politik uang yang merajalela tidak menggambarkan bahwa negara ini sedang bangkrut dan melarat. Dalam kebangkrutan dan kemelaratan negara ini, pesta demokrasi digelar besar-besaran dengan menelan uang triliunan rupiah, belum lagi yang harus dikorbankan oleh para caleg, pengurus partai, aktivis partai, dan para simpatisannya. Pemborosan yang yang sangat tidak rasional dan tentu : sangat memprihatinkan!!!

Segala keprihatinan ini, tentu harus menghasilkan sikap dan tekad untuk mengubah keadaan. Dan ini suatu kewajiban luhur, demi kebaikan Islam dan kaum muslimin. Rasul saw bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ وَلَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ

‘Barang siapa bangun di pagi harinya kemudian tidak ikut memperhatikan urusan kaum muslimin maka tidak termasuk golongan mereka’[HR. al Hakim dari Ibnu Mas’ud dalam al Jaami’ as shagir-as Suyuti ]

Perjuangan untuk mengubah keadaan yang sangat memprihatinkan ini menuju keadaan Islami yang diridloi Allah tak bisa ditawar-tawar lagi. Lebih-lebih Rasulullah saw. memberikan warning kepada kita semua, sebagaimana sabda beliau saw.:

إِنَّ اللهَ لاَيُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى تَكُوْنَ الْعَامَّةُ تَسْتَطِيْعُ أَنْ تُغَيِّرَ عَلَى الْخَاصَّةِ، فَإِذَا لَمْ تُغَيِّرِ الْعَامَّةُ عَلىَ الْخَاصَّةِ، عَذَّبَ اللهُ الْعَامَّةَ وَالْخَاصَّةَ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab semua orang karena amal [kejahatan] seseorang hingga karena mereka mampu untuk merubahnya atas amal [kejahatan] seseorang tersebut. Maka jika mayoritas orang tidak merubah atas amal [kejahatan]seseorang, Allah mengadzab baik orang umum dan kushus [seseorang] pelaku kejahatan itu’[HR. Ahmad, at Tabrani dalam al Kabir]

Lebih-lebih negara yang asyik dengan penjualan aset rakyat dan kegiatan meminimkan peran negara dalam ekonomi ini, semakin kentara bahayanya bagi umat ini tatkala negara semakin tidak berdaulat terhadap kekuatan asing, khususnya negara adidaya. Negera dan negeri ini seakan menjadi sorga bagi negara, perusahaan, dan warga negara asing yang punya dominasi ekonomi dan politik di negeri ini. Sebaliknya seakan menjadi penjara raksasa, bahkan mungkin neraka, bagi warga negaranya yang mayoritas muslim ini. Fenomena dominasi asing di kawasan segitiga emas Jakarta dan kawasan bisnis dan perkantoran di kota-kota besar di seluruh negeri sangat kental. Banyaknya investasi dan perusahaan asing yang beroperasi di negeri ini mengingatkan kita betapa bahayanya VOC. Satu perusahaan Belanda telah menjadikan negeri ini terjajah selama 300 tahun, bagaimana pula akibatnya dengan adanya ratusan mungkin ribuan perusahaan asing yang mencengkeram negeri ini hari ini? Kasus CEMEX yang disidangkan di pengadilan New Orleans di AS mengindikasikan bahwa pemerintah negeri ini sudah tidak begitu jelas lagi kedaulatannya. Oleh karena itu, UU Antiterorisme (juga RUU Intelejen) yang katanya diundangkan untuk menjaga kedaulatan negara semakin tampak bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk menjaga siapa dan mencelakai siapa? Sebab, pelanggaran kedaulatan negara seperti yang dilakukan oleh pilot AS tahun lalu di atas kepulauan Bawean dengan siap menembakkan rudal ke pesawat TNI-AU ternyata tidak bisa disikapi secara jelas dan tegas oleh Menteri Pertahanan. Juga datangnya pasukan AS dan Autralia atas nama PBB dengan kedok Peacekeeping Force di Timtim tahun 1999 ternyata tak disikapi pemerintah sebagai pelanggaran kedaulatan, bahkan negeri itu diserahkan dan dilepaskan secara konstitusi melalui TAP MPR. Aceh yang merupakan masalah dalam negeri diinternasionalisasi juga tidak disikapi sebagai negeri yang berdaulat. Juga Irian yang malah diberi nama Papua dan Maluku yang sempat bersimbah darah.

Bukankah tugas negara adalah melindungi kaum muslimin seperti sabda Rasul saw:

إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

‘Seorang Imam (Khalifah) itu bagaikan perisai, dimana kaum muslim berperang dan berlindung di belakang perisai tersebut’ [HR. Muslim]

Allah[u] Akbar 3x

Kaum Muslimin rahimakumullâh,

Untuk menyelamatkan negeri muslim ini, juga negeri-negeri muslim lainnya, memerlukan usaha besar dan tentu saja pengorbanan yang kemungkinan tidak kecil. Berkurban atau pengorbanan [At Tadhhiyah] adalah perkara yang lazim dalam kehidupan manusia. Fakta menunjukkan, baik orang jahat atau orang shalih, orang kafir atupun orang mukmin tidak dapat keluar dari ‘berkurban” atau “pengorbanan’ dalam hidup.

Allah [u] Akbar 3x

Kaum muslimin rahimakumullah,

Nabiyullah Ibrahim as adalah sosok pejuang tangguh dan gigih, melimpah kesabaran dalam dirinya ketika membimbing kaumnya ke jalan Allah swt. Demikian pula, beliau a.s. bersabar menanti lahirnya kader baru dari rahim istrinya yang mulia Hajar dalam kurun waktu cukup lama. Doa beliaupun diabadikan dalam al Quran sebagaimana firman-Nya:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

‘Ya Rabb, anugrahkanlah kepadaku [seorang anak] yang termasuk sholeh’ (QS. As Shafat: 100)

Allah pun melimpahkan karunia seorang anak; Ismail.Sebagaimana firman-Nya:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

“Maka Kami beri kabar dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar’ (QS. Ash Shafat:101)

Namun, buah hati yang didambakan dan di nantikan kelahirannya hingga usia 100 tahun itu, tumbuh menjadi harapan, kecintaan, dan buah hati Ibrahim.Tanpa di duga wahyu Allah turun memerintahkan untuk menyembelih Ismail. Betapa goncang jiwa Ibrahim, hatinya berduka, terasa galau, namun perintah tersebut adalah wahyu datang dari Allah Rabb yang disembahnya. Dia harus menyampaikannya. Dan anaknya yang terdidik dengan didikan tauhid, dengan ikhlas dan sabar mempersilakan ayahandanya melaksanakan perintah-Nya, sekalipun harus mengorbankan nyawanya sendiri. Allah SWT mengabadikan dialog bapak dan anak teladan itu dalam firman-Nya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: hai anakku, sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.Maka pikirkanlah apa pendapatmu’(QS. Ash Shafat:102)

Syaithan sempat membuat makar agar Ibrahim tidak melaksanakan perintah Allah SWT. Ketika Ibrahim bermimpi menyembelih putranya, syaithan berkata;”Sungguh jika aku tidak menfitnah keluarga Ibrahim kali ini maka aku tidak akan bisa menfitnah mereka sekalipun”, kemudian syaithan menyerupai seorang lelaki mendatangi Hajar dan berkata: ‘Apakah anda tahu kemana Ibrahim pergi bersama putramu?’ Jawab Hajar (bunda Ismail): ‘Tidak!’ Syaithan: ‘Dia pergi hendak menyembelih putramu’. Hajar berkata: ‘Kenapa tidak! Dia lebih tahu akan hal tersebut’. Syaithan: ‘Dia menyangka Tuhan-nya memerintahkan hal tersebut’. Hajar menjawab: ‘Jika Tuhan-nya memerintahkan demikian maka yang paling baik bagi Ibrahim adalah mentaatinya’. Kemudian syaithan mendatangi Ismail:’Apakah anda tahu kemana akan pergi bersama bapakmu?’ Ismail: ‘Tidak!’. Syaithan: ‘Dia pergi bersamamu untuk menyembelih dirimu’. Ismail: ‘Kenapa tidak?’ Syaithan: ‘Dia menyangka Tuhan-nya memerintahkan demikian’. Ismail: ‘Dia akan mengerjakan apa yang di perintahkan Allah, akan mendengar dan taat kerena perintah Allah swt’. Kemudian syaithan mendatangi Ibrahim: ‘Kemana hendak pergi? Demi Allah aku menyangka bahwa syaithan datang dalam mimpimu kemudian memerintah untuk menyembelih putramu. Namun Ibrahim tahu bahwa lelaki tersebut adalah syaithan kemudian beliau mengusirnya’ (HR. Ibnu Katsir disandarkan kepada Abu Hurairah).

Allah [u] Akbar 3x

Syaithan gagal. Ibrahim a.s. memberi teladan: ketika perintah dan hukum Allah datang, kapanpun, dimanapun, dan apapun harus di korbankan sekalipun nyawa. Mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah segala-galanya, karena hanya dengan ketaatan yang hakiki itulah kita bakal mendapatkan ridla dan Jannah [surga]-Nya.

Allah [u]Akbar 3x

Hadirin yang mulia,

Kaum muslimin harus siap berjuang dan berkorban. Kalau kaum muslimin tidak bersiap untuk berjuang dan berkorban, kemungkinan justru malah dikorbankan. Inilah yang selama ini kerap terjadi. Berbagai kasus di Maluku, Bosnia, Irak, Palestina, dan negeri-negeri lain, menunjukkan kaum muslimin lalai dan abai kepada agamanya, tidak mengenali siapa kawan siapa lawan yang hakiki, tiada memahami maslahat dan madharat yang hakiki. Kaum muslimin selama ini dibuai dengan kehidupan duniawi dan dininabobokan dengan dakwah-dakwah yang membius, yang membuatnya terlena. Pikiran mereka menyimpang jauh dari Islam yang sesungguhnya. Mereka merasa sudah Islam dengan melaksanakan sebagian ritual Islam, sementara dalam kehidupan sosial politik, mereka justru meninggalkan Islam, bahkan merasa aneh kalau Islam dimunculkan. Mereka justru mengusung sekularisme, meninggalkan Islam, melupakan Islam, melupakan peringatan-peringatan Allah dan rasul-Nya. Akibatnya, umat ini diombang-ambilngkan zaman, hidup penuh susah dan derita, tanpa keridloan Allah SWT. Sudah sepatutnya umat ini kembali kepada pangkuan Islam yang akan menyelamatkan kehidupannya.

Untuk itu, kesiapan berkurban harus dilakukan dalam rangka mentaati perintah Allah swt. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw., beliau senantiasa siap mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dana, bahkan jiwa sekalipun. Seperti yang di contohkan Ibrahim as. Pengorbanan karena kecintaan kepada Allah SWT.

Dia SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: Jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kwatir kerugiaannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebij kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunggullah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik’ (QS. At Taubah:24)

Ayat di atas meletakkan keluarga, karib kerabat, harta pemilikan, tempat tinggal di satu sisi, serta cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah di sisi lain. Jika harus dihadapkan pada pilihan di antara dua pilihan, tentu seorang mukmin sejati akan menempatkan cinta kepada Allah dan Rasul-nya serta jihad fi sabilillah pada puncak prioritas dan menjadi pilihan hidupnya. Dia akan rela menggerakkan seluruh pengorbanan yang sanggup dia berikan sekalipun nyawa yang dimilikinya demi ketaatan kepada Sang Pencipta.

Allah [u] Akbar 3x
Kaum muslimin rahimakumullah
Maka hari ini, siapa yang ingin mengembalikan Islam tegak, kehormatan dan kemuliaan umatnya kembali maka harus mempersembahkan pengorbanannya.

Untuk itu harus ditumbuhkan jiwa berkorban. Ada beberapa perkara yang perlu ditanamkan dalam jiwa kaum muslim: Pertama, membangun keyakinan yang kokoh, meyakini secara pasti aqidah Islamiyah dan menghunjamkan kuat dalam qalbu kita, diikrarkan dengan lisan kita kemudian disertai pembenaran amal perbuatan kita. Meyakini Allah-lah Sang Maha menghidupkan dan Mematikan, Pemberi Rezki, Dialah Penolong kita, tempat kita bergantung dan kembali. Ini semua akan melahirkan sikap berani dan membuang sifat pengecut. Tidak akan gentar menghadapi segala tantangan, ancaman dan cobaan dalam rangka berjuang mewujudkan ketaatan kepada Allah swt. Firman Allah swt:

مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Siapa saja yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal soleh, maka tidak kekwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (QS.Al Maidah:69)

Kedua, Memahami Islam secara utuh (kaffah) lalu memproyeksikan hidupnya berdasarkan tuntunan yang datang dalam Islam. Standar penilaian hidupnya adalah halal haram. Makna kebahagian hidup baginya adalah manakala telah melakukan perbuatan yang diridloi Allah. Sehingga dia akan mampu dan rela berkorban demi keridloan Allah SWT yang didambakan itu. Cita-citanya adalah menjadi seorang yang nanti dipanggil Allah SWT:

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (QS. AL Fajr 28).

Ketiga, Mencintai kehidupan yang hakiki yaitu akhirat. Tidak berarti seorang muslim harus uzlah di puncak gunung atau mengurung diri tidak pernah berinteraksi dalam masyarakat. ’Ibarat petani yang merindukan hasil semaian padinya’, maka bagi seorang muslim dunia ini adalah sawah dan ladang, harus diolah sebaik-baiknya jika ingin menuai kenikmatan di akhirat kelak. Dunia ini adalah tempat kita menempuh perjalanan, bukan tujuan dari perjalanan kita.Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah di anugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia dan berbuatlah baik, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.Sesungguhnya Allah tidak menyuakai otrang-orang yang berbuat kerusakan (QS.Al Qashas:77)

Keempat, Menjauhi wabah penyakit Wahn. Rasul menjelaskan wahn adalah hubbud dunya [cinta dunia] dan karahiyatul maut [takut mati]. Kecintaan pada akhiratlah yang menjadikan seorang muslim akan selamat dari penyakit ini. Dia akan rela mengorbankan dan mengamputasi penyakit ini dari dirinya. Ibarat penyakit kanker pada diri seorang, jika ingin selamat harus diamputasi hingga akar-akarnya. Seperti yang disinyalir oleh Rasulullah saw, dunia ini memang menggoda namun juga seperti penjara bagi orang mukmin:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكاَرِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Surga di kelilingi perkara-perkara yang menyusahkan [dibenci nafsu] dan neraka di kelilingi perkara-perkara yang dicintai oleh hawa nafsu’ (al Hadist)

Hidup ini di dunia, dan kita butuh pada dunia, dan Allah juga membolehkan kita memegang dan memiliki dunia, namun jangan sampai kita sekali-kali menaruh dalam hati kita. Ketika dituntut untuk berkorban, maka seorang muslim akan mudah mempersembahkannya, karena tidak pernah menaruh dunia dalam hatinya, sehingga tidak ada rasa sakit dan kehilangan dengan lepasnya dunia dari genggamannya.

Allah[u] Akbar 3x

Kaum muslimin rahimakumullah

Kini saatnya umat Islam di seluruh dunia bangkit, dan bersatu di bawah naungan Islam, serta melepaskan diri dari seluruh ikatan yang dikendalikan oleh kaum Kafir imperialis; apapun bentuk, nama dan kepentingannya. Setelah itu, mereka harus menyatukan diri di bawah naungan Khilafah Islam yang harus mereka tegakkan, serta dengannya mereka mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia. Ketika itu terjadi, umat benar-benar akan bertakbir dalam kemenangan, bukan dalam kekalahan, sebagaimana yang dikumandangkan oleh Rasulullah saw:

اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

Allah Maha Besar, Tiada Dzat yang berhak disembah kecuali Allah, Dia benar-benar telah menepati janji-Nya (untuk memenangkan Islam dan ummatnya), menolong hamba-Nya serta memuliakan tentara-Nya, dan mengalahkan tentara-tentara pasukan sekutu (kafirin) dengan sendiri-Nya.

Allah [u] Akbar 3x

Kaum muslimin rahimakumullah

Akhirnya, kita berharap para jama’ah haji menjadi mabrur ibadahnya, di tempat-tempat mustajab mereka berdoa untuk dirinya, keluarganya dan seluruh kaum muslimin agar di tolong oleh Allah SWT, dimenangkan atas umat dan bangsa lain. Semoga para pemimpin tersadar, apakah mereka yang memimpin keluarga, masyarakat, negara, pemimpin gerakan-gerakan Islam, ormas, partai-partai Islam, dan semua pemuka umat ini, pengorbanannya harus lebih baik dari umatnya. Bukan umatnya yang selalu menjadi korban untuk dan demi dirinya. Semoga kita dijadikan bagian dari barisan orang-orang yang rela memberi pengorbanan demi ketaatan kepada Allah swt, menegakkan Islam dalam kehidupan nyata; dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara sehingga akan meluberkan keberkahan dari langit kepada umat semua.

Dari-Nya semua berawal dan berakhir, hasbunallah wa nikmal wakil nikmal maula wa nikman nashiir, laa haula wala quuwata illa billah. Aquulu qauli hadza wa astaghfirullahal azhiim lii walakum!

الخطبة الثانية:

اللهُ أكْبَرُ × 7

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، أَشْهَدُ ألاَّ إِلَهَ إِلاًّ الله وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَه وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُوْلُه لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِّدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ اللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اللَّهُمَّ أصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَلْ فِي قُلُوْبٍهٍمُ الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَأَوْزِعْهُمْ أنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدتَّهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلَهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu, memohon ampunan-Mu; sungguh kami tidak berani mengkufuri-Mu; kami benar-benar mengimani-Mu dan melepaskan diri dari siapapun yang durhaka kepada-Mu; Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, untuk-Mu kami shalat dan sujud, kepada-Mu kami melangkah dan berlari; kami mengharapkan kasih sayang-Mu, dan kami takut terhadap adzab-Mu; Sungguh, adzab-Mu yang benar-benar dahsyat terhadap kaum Kafir itu pasti juga akan ditimpakan pada yang lain; Ya Allah, adzablah orang-orang Kafir yang menghalang-halangi jalan-Mu, mendustakan rasul-rasul-Mu; Ya Allah, ampunilah orang-orang Mukmin (laki-laki dan perempuan) juga orang-orang Muslim (laki-laki dan perempuan). Perbaikilah urusan mereka, satukan hati-hati mereka, serta jadikanlah iman dan hikmah dalam hati mereka. Terbarkanlah kepada mereka pemenuhan janji yang telah Engkau janjikan kepada mereka; menangkanlah mereka atas musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka. Duhai tuhan segala kebenaran, jadikanlah kami di antara mereka.

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، أنْجِزْ لَنَا ياَ رَبّ مَا وَعَدْتَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَتَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفْتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَتُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَيْتَ لَهُمْ وَلَتُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا.

Duhai Tuhan Yang mempunyai seluruh kerajaan, Engkaulah yang memberikan kerajaan kepada siapa saja yang Engkau kehendaki; Engkau cabut kerajaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki; Engkau muliakan siapa saja yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa saja yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan itu berada. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka tunaikanlah ya Rabb, apa yang telah Engkau janjikan kepada orang-orang yang telah beriman dan beramal shaleh bahwa Engkau sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Engkau telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Engkau akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Engkau ridhai untuk mereka, dan Engkau benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Amin ya Mujîb[a] as-Sâ’ilîn

Posted on 10 November 2010, in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. ustadz,
    Minta versi pdfnya donk..🙂

    komputer saya ga kompetibel sama tulisan arab.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s