Hermeneutika Dan Liberalisme Islam

Oleh: Amin RH

Gerakan liberalisasi pemikiran Islam yang marak akhir-akhir ini di Indonesia, sebenarnya lebih dilatar belakangi pengaruh eksternal ketimbang perkembangan alami dari dalam tradisi pemikiran Islam. Pengaruh eksternal itu dengan mudah dapat ditelusur dari trend pemikiran liberal di Barat dan dalam tradisi keagamaan Kristen. Salah satu tradisi keagamaan Kristen yang saat ini banyak digandrungi banyak kalangan – terutama penganut Islam Liberal – adalah praktek hermeneutika.

Sebenarnya sudah cukup banyak yang memberikan tanggapan terhadap praktek “tafsir” hermeneutika. Dalam sebuah seminar di UMY, 10 April 2003 yang lalu, Dr. Ugi Suharto, peneliti INSIST dan dosen ISTAC-UIA Kuala Lumpur yang saat itu menjadi salah satu panelis, secara tegas menolak aplikasi hermeneutic untuk tafsir al-Qur’an. Sementara di UNSOED Purwokerto, 15 Februari 2004 yang lalu juga digelar diskusi tentang hermeneutika, dengan menghadirkan pembicara M. Shiddiq Al Jawi, Dosen STAIN Yogyakarta. Dalam tulisan saya ini, lebih menyoroti motif liberalisme dari praktek “tafsir” hermeneutika.

Sejarah Hermeneutika

Hermeneutika yang meminjam perkataan Inggris hermeneutics dan yang juga berasal dari perkataan Greek hermeneutikos bukan merupakan suatu istilah netral yang tidak bermuatan pandangan hidup (world view; weltanschauung). Apabila istilah ini dikaitkan dengan al-Qur’an ataupun Bibicle Studies, arti hermeneutika telah berubah dari pengertian bahasa semata menjadi pengertian istilah yang memiliki makna tersendiri. Perubahan makna hermeneutika dari makna bahasa ke dalam makna istilah, disepakati oleh berbagai literature perkamusan, dimulai sejak para teolog Yahudi dan Kristen berusaha mengkritisi kembali teks-teks dalam kitab suci mereka. The New Encyclopedia Britannica menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interprestasi Bible (the study of the general principle of biblical interpretation). Salah satu prinsip dalam hermeneutika untuk memahami teks adalah menganalisis kondisi pengarang dari teks tersebut. Sedangkan tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible.

Studi tentang kritik teks Bible memang telah berkembang pesat di Barat. Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya, selama 30 tahun menekuni studi ini, dan menulis satu buku berjudul “Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testatement”.

Pertanyaannya, mengapa para teolog tersebut membutuhkan hermeneutika untuk mencari nilai kebenaran Bible? Jawabannya adalah karena mereka memiliki sejumlah masalah dengan teks-teks kitab suci mereka. Mereka mempertanyakan apakah secara harfiah Bible itu bisa dianggap kalam Tuhan atau perkataan manusia. Aliran yang meyakini bahwa lafaz Bible itu kalam tuhan mendapat kritikan keras dan dianggap ekstrim dalam memahami Bible. Encyclopedia Britannica menyatakan: “individuality of style and vocabulary found in the various biblical authors” (gaya dan kosakata masing-masing yang ditemukan pada berbagai pengarang mengenai Bible). Adanya perbedaan pengarang itulah yang menyebabkan Bible tidak bisa dikatakan kalam Tuhan secara harfiah (literal). Oleh karena itu para teolog Kristen memerlukan hermeneutika untuk memahami kalam Tuhan yang sebenarnya. Mereka hampir sepakat bahwa Bible secara harfiahnya bukan kalam Tuhan.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa yang melatarbelakangi lahirnya hermeneutika adalah sejarah pemalsuan kitab suci dan monopoli penafsiran pihak gereja. Anggapan inilah yang telah melahirkan hermeneutika sebagai jalan dan metodologi kitab suci mereka. Anggapan seperti ini sama sekali tidak terlintas dalam benak umat Islam. Baru setelah abad ke 20, anggapan ini dikembangkan oleh kaum terpelajar muslim yang belajar ke Barat sehingga seakan-akan umat Islam menghadapi persoalan dengan kitab suci mereka, seperti yang dihadapi umat lain. Muncullah Fazlur Rahman, Nashr Abu Zayd, Arkoun dan lain-lain. Di Indonesia kalangan Islam Liberal yang lebih banyak mengusung teori hermeneutika sebagai metode tafsir al-Qur’an.

Apakah Al-Qur’an Perlu Hermeneutika?

Dari realitas yang dihadapi kaum Yahudi maupun Kristiani di atas, realitas ini tidak dihadapi umat Islam. Menurut Dr. Ugi Suharto, umat Islam, berbeda dengan Yahudi dan Kristen, tidak pernah merasa bermasalah dengan lafaz-lafaz harfiah al-Qur’an. Kaum muslimin sepakat, membaca al-Qur’an secara harfiah adalah ibadah dan diberi pahala; menolak bacaan harfiahnya adalah kesalahan; membacanya dalam sholat adalah syarat, sementara terjemahan harfiah dan alihbahasanya tidak dikatakan sebagai al-Qur’an. Oleh sebab itu, dalam upaya pemahaman yang lebih mendalam – bukan sekedar secara harfiah – mengenai al-Qur’an, kaum muslimin sebenarnya hanya memerlukan tafsir, dan bukan hermeneutika karena mereka telah menerima kebenaran harfiah al-Qur’an sebagai kalam Allah. Kalau diperlukan pemahaman yang lebih mendalam lagi, contohnya untuk ayat-ayat yang mutasyabihat, yang diperlukan adalah ta’wil. Perlu ditegaskan bahwa ta’wil juga tidak sama dengan hermeneutika, karena ta’wil mestilah berdasarkan dan tidak bertentangan dengan tafsir, dan tafsir berdiri di atas lafaz harfiah al-Qur’an.

Untuk memberikan penegasan, dalam artikelnya, Drs. Hafidz Abdurrahman, MA, menambahkan di dalam Islam ada ilmu riwayat, yang tidak pernah disentuh oleh hermeneutika. Dengan ilmu ini, otentisitas al-Qur’an dan hadits nabi bisa dibuktikan. Dengan ilmu ini, riwayat ahad dan mutawatir bisa diuji. Dengannya, mana mushaf yang bisa disebut al-Qur’an dan tidak bisa dibuktikan, serta dengannya pula, historitas asbab an nuzul dan juga asbab al wurud bisa dianalisis. Begitu juga, periodesasi Makki dan Madani bisa dirumuskan dengan bantuan ilmu tersebut. Dengannya juga, bisa disimpulkan, bahwa pembukuan al-Qur’an itu karena perintah Allah, bukan karena factor social atau politik. Pengetahuan tersebut kemudian di sistematiskan oleh para ulama dalam kajian Ulum al-Qur’an.,

Hermeneutika Dan Liberalisme

Sebagaimana watak pemikiran Islam liberal, “yang mendewakan modernitas”, sehingga Islam harus disesuaikan dengan kemodernan, nampaknya metode “tafsir” hermeneutika satu-satunya pilihan. Maka dari itu, menginterprestasikan al-Qur’an guna merespons zaman atau realitas yang terus berubah dan berbeda adalah agenda terpenting mereka. Luthfi Assyaukanie (kontributor JIL) menyatakan, “Jika terjadi konflik antara ajaran Islam dan pencapaian modernitas, maka yang harus dilakukan, bukanlah menolak modernitas, tetapi menafsirkan kembali ajaran tersebut”. Terbukti, dari model “tafsir “hermeneutika ini, lahirlah “tafsir-tafsir” mereka, bahwa hukum potong tangan bagi pencuri dalam hukum Islam tidak wajib – karena bertentangan dengan realitas (KUHP) – yang penting esensi nya (adanya punishment) sehingga boleh dengan hukuman penjara atau denda. Busana jilbab bagi wanita muslimah adalah wajib, dikatakan hanya pas diterapkan atas masyarakat yang tingkat penghargaannya kepada perempuan masih sangat rendah sebagaimana masyarakat Arab dulu. Surah al Maidah ayat 59, ditafsirkan, bahwa semua agama adalah sama saja tujuannya, yang berbeda hanya cara atau jalan menuju Tuhan. Demikian juga, penerapan hukum Islam dikatakan, bentuk ketidakadilan terhadap pemeluk agama lain, karena tidak sesuai dengan realitas masyarakat yang plural (Prof. Olaf Schumann). Demikian seterusnya.

Walhasil, praktek hermeneutika, sejatinya adalah model “tafsir” – yang dipaksakan -untuk melegitimasi gagasan-gagasan liberalisme Islam (kelompok Islam liberal). Yaitu, kelompok Islam yang tidak setuju dengan pemberlakuan syariat Islam (secara formal oleh negara), kelompok yang getol memperjuangkan sekulerisasi, emansipasi wanita, “menyamakan” semua agama benar (pluralisme teologis), memperjuangkan demokrasi Barat dan sejenisnya.

Penutup

Secara epistemologis, hermeneutika bukan dari tradisi pemikiran Islam, tetapi merupakan produk pemikiran liberal Barat; pemikiran yang lahir dari aqidah dan pandangan hidup yang berbeda dan bertentangan dengan Islam. Sebagai metode “tafsir”, hermeneutika hanya bisa digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an jika di bangun berdasarkan anggapan yang salah terhadap al-Qur’an, seperti anggapan Nasr Abu Zayd – ia seorang hermeneut – dengan menempatkan nabi Muhammad sebagai penerima wahyu, pada posisi semacam “pengarang” al-Qur’an. Namun, jika anggapan terhadap al-Qur’an itu benar, model “tafsir” seperti ini jelas tidak mempunyai tempat di sisi al-Qur’an yang mulia ini.

Fenomena praktek hermeneutika ini, sekali lagi membuktikan bahwa sedang terjadi proses liberalisasi yang sangat serius di dalam tubuh umat Islam, khususnya di Indonesia. 

Sumber : hayatulislam.net –Publikasi 27/02/2004

Daftar Pustaka:

Islam Liberal, Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (Adian Husaini, Nuim Hidayat, Gema Insani Press)

Makalah “Apakah al-Qur’an Memerlukan Hermeneutika?” (Dr. Ugi Suharto, disampaikan pada seminar di UMY, tanggal 10 April 2003)

Artikel “Kebobrokan Tafsir Hermeneutika” (Hafidz Abdurrahman, www.insistnet.com)

Iklan

Posted on 8 November 2010, in Aqidah, Kritik Pemikiran, Tafsir. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. seminar di UMY th 2003??
    sayang saya masuk UMY tahun 2008
    hehehehe
    padahal bagus bgt ini…
    sangat menarik 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s