Tafsir : Sabar Menghadapi Ujian

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَـْأتِكُمْ مَثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوْا حَتَّى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْن آمَنُوْا مَعَهُ مَتىَ نَصْرُ اللهِ أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيْبٌ

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS al-Baqarah [2]: 214).

Tafsir Ayat

Allah Swt. berfirman: Am hasibtum an tadkhulû al-jannah (Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga). Menurut beberapa mufassir, huruf am itu munqathi‘ah (tidak bersambung dengan kata atau kalimat sebelumnya).[1] Lebih lanjut, al-Ajili mengurai bahwa huruf am bermakna: bal dan al-hamzah. Kata bal untuk menunjukkan terjadinya perpindahan dari suatu kalimat ke kalimat lain, sementara huruf hamzah al-istifhâm memberikan makna li al-inkâr wa tawbîkh (pengingkaran dan teguran). Artinya, tidak sepatutnya kalian memiliki perkiraan atau anggapan demikian. Teguran tersebut berguna untuk melecut dan mendorong semangat mereka agar tetap bersabar.[2]

Wa lammâ ya’tikum matsal al-ladzîna khalaw min qablikum (padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian). Huruf al-wâwu dalam frasa ini berkedudukan sebagai al-hâl. Adapun yang dimaksud dengan orang-orang yang terdahulu sebelum kalian, menurut sebagian mufassir, adalah para nabi dan kaum beriman yang menjadi pengikutnya.[3] Penafsiran ini diperkuat dengan pemahaman mereka terhadap kata ar-rasûl dalam frasa berikutnya. Menurut mereka, kata ar-rasûl dalam ayat ini terkatagori sebagai ism al-jins sehingga tidak menunjuk kepada rasul tertentu.[4] Semua rasul dapat tercakup di dalamnya.

Menurut mufassir lain, yang dimaksud dengan orang-orang terdahulu sebelum kalian itu adalah Rasulullah saw. dan para sahabatnya.[5] Penafsiran ini didukung oleh sabab al-nuzûl ayat ini. Menurut Qatadah dan as-Sudi, ayat ini turun ketika terjadi Perang Khandaq.[6]

Dalam perang tersebut, umat Islam berada dalam keadaan amat kritis. Pasukan Muslim yang berjumlah 3 ribu personel harus berjaga-jaga menghadapi serbuan pasukan kafir gabungan dari berbagai kabilah yang berjumlah 10 ribu personil. Jumlah itu belum termasuk kaum Yahudi Bani Quraizhah yang telah bersekongkol dengan pasukan musyrik.

Persekongkolan dua kelompok kaum kafir itu membuat posisi umat Islam menjadi kian terjepit. Pada saat mereka berkosentrasi menjaga parit di perbatasan kota, kaum Yahudi berusaha menggebuk mereka dari belakang. Kaum terlaknat itu melakukan teror terhadap wanita dan anak-anak Muslim yang tinggal di dalam kota. Gawatnya kondisi umat Islam saat itu dikisahkan Allah Swt. dalam firman-Nya:

إِذْ جَاءُوْكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلِ مِنْكُمْ وَإِذَ زَاغَتِ اْلأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللهِ الظُّنُوْنَا .هُنَلِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَزُلْزِلُوْا زِلْزَالاً شَدِيْدًا

(Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan kalian dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan berprasangka kepada Allah dengan bermacam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang Mukmin dan diguncangkan hatinya dengan guncangan yang dahsyat. (QS al-Ahzab [33]: 10).

Realita yang menimpa kaum Muslim dalam Perang Khandaq memang amat tepat jika dikaitkan dengan kondisi yang digambarkan ayat ini (QS al-Baqarah [2]: 214). Akan tetapi, tidak ada salahnya jika ayat ini juga dapat dipahami sebagai gambaran umum yang menimpa para rasul dan pengikutnya.

Lebih lanjut Allah Swt. menerangkan berbagai jenis cobaan yang menimpa mereka: Massathum al-ba’sâ’ wa adhdharra’ wa zulzilû (mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan). Ibnu Katsir mengutip pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu al-‘Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, al-Hasan, Qatadah, adh-Dhuhak, ar-Rabi’, as-Sudi, dan Muqatil bin Hayyan bahwa al-ba’sâ’ berarti kefakiran, adh-dharrâ’ berarti sakit, dan zulzilû berarti mereka diliputi perasaan takut terhadap musuh. Secara lebih katagoris, al-Azhari dan beberapa mufassir lainnya memaknai al-ba’sâ’ sebagai musibah-musibah yang menimpa harta dan adh-dharra’ sebagai berbagai musibah-musibah yang menimpa badan dan jiwa.[7]

Kata zulzilû yang berasal dari kata al-zalzalah berarti at-tahrîk asy-syadîd (guncangan keras). Beratnya cobaan yang mereka hadapi mampu mengguncang jiwa mereka. Hati dan jiwa mereka dicekam ketakutan akibat ancaman pembunuhan, pengusiran, penjarahan harta, terbunuhnya orang-orang yang dicintai, dan segala jenis marabahaya lain yang menyebabkan ketakutan.[8]

Realita yang digambarkan dalam ayat ini menunjukkan cobaan yang menimpa Rasul saw. dan kaum Muslim itu benar-benar amat berat. Sedemikian dahsyatnya hingga dinyatakan: Hattâ yaqûl ar-Rasûl wa al-ladzîna âmanû, matâ nashr Allâh (sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datang pertolongan Allah?"). Kata hattâ menunjukkan makna ghâyah. Artinya, penderitaan, kesengsaraan, dan keguncangan jiwa yang mereka alami itu terus berlangsung sampai Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah pertolongan Allah datang?"

Keluarnya pekataan itu menunjukkan dahsyatnya bahaya, malapetaka, dan ujian yang menimpa mereka. Para rasul adalah manusia yang paling memiliki keteguhan, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan jiwa tatkala ditimpa musibah. Mereka juga manusia yang paling mengetahui urusan Allah dan yakin terhadap pertolongan-Nya. Demikian juga dengan kaum beriman yang bersamanya. Mereka adalah orang-orang paling teguh, sabar, dan yakin terhadap pertolongan Allah setelah para rasul. Jika para rasul dan para sahabatnya saja sudah tidak tersisa kesabarannya dan memohon disegerakan datangnya pertolongan Allah Swt., berarti penderitaan dan cobaan yang mereka alami benar-benar berada pada titik paling puncak.[9]

Terhadap permohonan mereka, Allah Swt. pun berkenan menjawabnya: Alâ inna nashr Allâh qarîb (Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat). Jawaban ini merupakan kabar gembira bagi Rasul dan kaum Mukmin.

Jika dikaitkan dengan Perang Khandaq, berarti pertolongan Allah Swt. yang dijanjikan itu amat dekat. Tidak lama berselang, Allah Swt. mengirimkan angin topan dan balatentara yang tak kasatmata untuk menghancurkan pasukan musuh (QS al-Ahzab [33]: 9).

Sebagian mufassir mencoba menghindarkan diri dari pemahaman yang sepintas bisa merendahkan kemuliaan Rasul. Mereka menafsirkan kalimat pertama, matâ nashr Allah, merupakan ucapan kaum Mukmin. Adapun kalimat berikutnya, alâ inna nashr Allâh qarîb adalah jawaban Rasul terhadap pertanyaan kaum Mukmin. Kata Rasul didahulukan karena kedudukan beliau yang lebih utama dan mulia. Adapun ucapan kaum Mukmin disampaikan terlebih dulu karena dari segi kronologis, perkatan mereka diucapkan terlebih dulu.[10]

Sebagai sebuah penafsiran, pemahaman itu masih dapat dibenarkan. Namun, andaipun dalam kenyataannya Rasul juga ikut mengatakan “matâ nashr Allah”, hal itu tidak merendahkan kemuliaan dan kedudukan mereka. Sebab, kedudukan sebagai rasul tidak menghalangi mereka untuk merasakan penderitaan atas makar dan tipudaya kaum kafir. Ada beberapa ayat lain yang juga menunjukkan fakta tersebut, seperti firman Allah Swt. dalam QS al-Hijr: 97, al-Syuara’: 3, dan Yusuf: 110.[11]

Di samping itu, kalimat tersebut sama sekali tidak menyiratkan keraguan, kebimbangan, atau isti’jâl Rasul akan datangnya pertolongan Allah Swt. Ucapan mereka itu merupakan doa dan harapan agar pertolongan Allah Swt. segera datang.[12] Memohon pertolongan Allah Swt. ketika ditimpa musibah dan madarat bukan hanya tidak dilarang, namun bahkan diperintahkan-Nya (QS al-Nahl [16]: 53). Oleh karenanya, upaya mereka itu justru menunjukkan keteguhan iman mereka. Beratnya cobaan yang mereka hadapi sama sekali tidak membuat mereka berpaling. Sebaliknya, keimanan mereka semakin kuat. Mereka pun tidak mengharapkan dan meminta pertolongan siapa pun kecuali kepada Allah Swt.

Menyikapi Ujian dan Cobaan

Sudah menjadi sunnatullah yang berlaku di sepanjang zaman, Allah Swt. tidak membiarkan hamba-Nya mengaku beriman tanpa diuji oleh-Nya. Dengan ujian itulah akan terlihat jelas hakikat dan kadar keimanan mereka, apakah pengakuan keimanan mereka itu benar-benar tulus dan jujur atau dusta (Lihat QS al-Ankabut [29]: 2-3). Dengan ujian itu pula akan dapat diketahui siapa di antara mereka yang mau berjihad dan bersabar, dan siapa yang tidak (QS Muhammad [47]: 31)

Ujian yang diberikan kepada manusia itu pun beraneka ragam. Ada yang berupa keburukan (asy-syarr); ada yang berupa kebaikan (al-khayr) (QS al-Anbiya’ [21]: 35); ada pula yang berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan (QS al-Baqarah [2]: 165). Harta dan anak keturunan juga bisa menjadi ujian (QS al-Anfal [8]: 28).

Agar bisa sukses menghadapi berbagai ujian tersebut, penghayatan terhadap ayat ini menjadi amat penting. Menurut ayat ini, setidaknya ada dua keuntungan besar yang dapat dipetik ketika seseorang tetap tegar, sabar, dan istiqamah dalam menghadapi berbagai ujian keimanan. Pertama; bisa masuk surga. Jika ayat ini menyatakan pengingkaran terhadap orang-orang yang mengira masuk surga sementara mereka belum terbukti dapat bersabar dan tetap istiqamah dalam keimanan tatkala menghadapi cobaan berat seperti yang dialami Rasul dan kaum beriman terdahulu, maka ayat ini bisa dipahami sebaliknya (mafhûm mukhâlafah). Artinya, jika mereka mampu bersabar dan tetap istiqamah dalam situasi apa pun, mereka boleh berharap dan merasa yakin bisa masuk surga.[13]

Dengan harapan dan keyakinan tersebut, seseorang bisa terlecut semangatnya untuk bersabar dan kuat menahan berbagai beban penderitaan yang dihadapinya, betapapun berat penderitaan itu. Sebab, sebagaimana telah dimaklumi, surga adalah sebaik-baik tempat kembali. Di sana terdapat aneka kenikmatan tak terkira. Semua perkara yang diinginkan hati dan sedap dipandang mata dapat dinikmati di sana (QS al-Zukhruf [43]: 71).

Al-Quran banyak mengisahkan kaum yang sukses melewati cobaan saat mereka memiliki keyakinan tersebut. Demikian juga para sahabat Nabi saw. Mereka mampu bersabar menghadapi berbagai upaya jahat kaum musyrik. Keluarga Yasir, misalnya, mampu bersabar meskipun menerima siksaan di luar batas kemanusiaan. Sikapnya makin kukuh ketika mendengar sabda Rasulullah saw.: Shabr[an] âla Yâsir, fainna maw’idakum al-jannah. (Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya yang dijanjikan kepada kalian adalah surga). Sumayyah—istri Yasir—pun menyahuti dengan penuh kayakinan, “Innî arâhâ zhâhirat[an], yâ Rasûlullah,” (Sesungguhnya aku telah melihatnya secara jelas, wahai Rasulullah).

Kedua: mendapatkan pertolongan Allah Swt. dalam waktu dekat. Ayat ini memberikan kabar gembira kepada Rasul dan kaum Mukmin yang mengalami penderitaan hingga mencapai puncaknya berupa dekatnya pertolongan Allah Swt. Kejadian serupa juga dapat mereka alami. Tatkala ujian penderitaan yang mereka hadapi sampai pada klimaksnya, itu menjadi pertanda pertolongan-Nya segera tiba. Allah Swt. berfirman:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ اْلأَشْهَادِ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi (Hari Kiamat). (QS Ghafir [40]: 51).

Keyakinan dan harapan akan dekatnya pertolongan Allah Swt. ini juga bisa membuat seseorang menjadi kian tegar dan tabah menghadapi berbagai ujian. Siapa yang tidak bergembira ketika penderitaannya segera berlalu dan kebenaran segera menang? Al-Quran pun menyebut pertolongan Allah Swt. dan kemenangan yang dekat sebagai perkara yang dicintai manusia (QS ash-Shaff [61]: 13).

Pertolongan hanya di tangan Allah Swt.; tidak akan datang kecuali dari-Nya (QS Ali Imran [3]: 126, al-Mulk [67]: 20, al-Kahfi [18]: 43). Ditegaskan pula, siapa yang ditolong Allah Swt., tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkannya. Sebaliknya, jika Allah Swt. membiarkannya, tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya (QS Ali Imran [3]: 160).

Dengan demikian, pertolongan Allah Swt. merupakan anugerah tak terkira. Tentu lebih membahagiakan jika anugerah itu segera tiba. Andai pertolongan yang dinantikan itu belum juga datang, mereka bisa melakukan evaluasi diri, apakah usaha yang mereka lakukan belum serius atau penderitaan yang mereka alami belum mencapai puncaknya.

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. []


[1] Shihâb al-Dîn al-Alûsi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 1 (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 498; Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth,vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 148; al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), 124; Abu Thayyib al-Qinuji, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, vol. 1 (Qathar: Idarât Ihyâ’a al-Turats al-Islâmî, 1989), 429;

[2] Sulayman al-Ajili, al-Futuhât al-Ilahiyyah, , vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, ), 276

[3] Al-Qasimi, Mahâsin al-Tawîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 96

[4] Al-Alûsi, Rûh al-Ma’ânî, vol 1, 499; Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth,vol. 2, 149

[5] Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhîth,vol. 2, 149

[6] Al-Thabari, Jâmi al-Bayân fî Tawîl al-Qurân, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992), 254; al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsur, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, ), 436

[7] Burhanuddin al-Baqa’i, Nazhm al-Durar fî Tanâsub al-Ayât wa al-Suwar, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 396; Abd al-Haq al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al’Azîz, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 287; Muhammad Mahmud Hijazi, al-Tafsîr al-Wâdhih , vol. 1 (Zaqaziq: Dar at-Tafsir, 1992), 128

[8] Abd al-Rahman a-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannân, vol. 1 (Alam al-Kitab, ), 191

[9] Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), 214; al-Qasimi, Mahâsin al-Tawîl, vol. 2, 996-97

[10] Al-Samin al-Halbi, al-Durr al-Mashûn fî Ulûm al-Kitâb al-Maknûn, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, ), 524

[11] Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr, vol. 3, 19

[12] Al-Syawkani, Fath al-Qadîr, vol. 1, 215; al-Qinuji, Fath al-Bayân, vol. 1, 429; Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr, vol. 3, 19; Sa’id Hawa, al-Asâs fî Tafsîr, vol. 1 (Kairo: Dar al-Salam, 1991), 498;

[13] Beberapa ayat lain juga yang memberitakan besarnya pahala dan surga bagi orang yang bersabar adalah QS al-Zumar: 10; al-Baqarah: 155; dll

Baca Juga:

Iklan

Posted on 1 November 2010, in Tafsir. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s