Wahai Yang Begitu Cekatan Mencari Dunia, Kapankah Pencarianmu Akan Berakhir?

Wahai yang begitu cekatan mencari dunia, kapankah batas impianmu tercapai sehingga pencarianmu akan berakhir?

Kala mencari akhirat, engkau berlamban-lamban, kapan kau akan mengambil keuntungan?

Sungguh ajaib…

Engkau bersemangat mencari sesuatu yang fana, padahal di perjalanannya banyak perampok (menghadang)[1]

Umur adalah amanat, engkau menghabiskannya (masa muda) dalam pengkhianatan[2]

Masa tua dalam pengangguran, dan masa renta dalam tangisan: “umurku telah hilang”.

Bilakah penghianat beruntung dengan apa yang dibeli atau dijualnya?

Kau sehat kala mengejar dunia, tetapi sakit kala mengejar akhirat[3]

Betapa sering engkau berpaling dari jalan taqwa, wahai yang pincang cita-citanya[4], wahai yang tinggal didasar jurang

Wahai pemilik malam-malam kealpaan, uban telah muncul, bergabunglah dengan kaum yang bertaubat sebelum kau terputus bersama yang lain!

…  Al Hafidz Ibnul Jauzi (w. 597 H) dalam kitabnya: Bahrud Dumu’ (Lautan Air Mata), hal 34, berikut teks aslinya, mohon koreksi kalo kurang pas (yg diatas terjemahan bebasnya).

يا من رواحله في طلب الدنيا لها اسراع، متى تحل عنها نطاق الأمل، فيكون الانقطاع؟ اذا طلبت الآخرة، تمشي رويدا، فمتى يكون الانتفاع؟ عجبا كيف تشدّ الرحال في طلب الفاني وفي طريقه قطاع! العمر أمانة أتلفت شبابه في الخيانة، وكهولته في البطالة، وفي الشيخوخة تبكي ونقول: عمري قد ضاع. متى أفلح الخائن فيما اشترى أو باع؟ أنت في طلب الدنيا صحيح الجسم، وفي طلب الآخرة بك أوجاع. كم تعرج عن سبل التقوى يا أعرج الهمة، يا من يبقى في القاع. يا من على عمره ليل الغفلة طلع الفجر المشيب بين الأضلاع. رافق رفاق التائبين قبل أن تنقطع مع المنقطعين


[1] Banyak orang mengejar dunia, namun apa yang didapatkannya justru dinikmati orang lain, baik ia suka atau tidak

[2] Termasuk menghianati amanah umur adalah dengan melakukan perkara sia-sia, juga lalai mencari bekal untuk yang kehidupan yg kekal karena sibuk mengejar target duniawi

[3] Untuk dapat gaji yang tidaki seberapa kita bisa bekerja 8 jam sehari atau lebih, namun untuk mengaji yang sebentar saja dan beramal kadang kita malas, atau asal-asalan

[4] Untuk menggapai cita-cita duniawi/materi kita rela bersusah payah, sedang untuk meraih kemuliaan akhirat kadang malasnya  minta ampun

Baca Juga:

Posted on 26 Oktober 2010, in Akhlaq and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s