Rakyat Indonesia Hebat, Tinggal Pemimpinnya?

Para agen Neolib sering menina-bobo-kan bangsa Indonesia demi kepentingan AS. Mereka bilang bangsa Indonesia tidak mampu/belum mampu, sehingga 90% ladang migas (minyak dan gas) di Indonesia dikelola oleh perusahaan-perusahaan asing terutama dari Amerika Serikat. Hanya 10% yang dikelola oleh Pertamina.

Padahal saat ini lebih dari 1.500 ahli minyak Indonesia bekerja di Timur Tengah seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Bahkan ada pula yang bekerja di perusahaan-perusahaan migas di Eropa seperti Dr. MT Zen yang pernah bekerja di perusahaan migas di Norwegia.

Bahkan Dr. Yogi Erlangga memecahkan persamaan matematika yang dicari perusahaan minyak dunia karena bisa menemukan sumber minyak 100x lebih cepat.  Jadi stop bilang Indonesia tidak mampu di bidang Migas sehingga akhirnya migas Indonesia dikuasai asing.

Silahkan lihat juga prestasi putera-puteri Indonesia memenangkan medali emas Olimpiade Fisika, Biologi, dan Matematika. Bangsa Indonesia selain sudah membuat kapal laut dan pesawat terbang, ternyata juga sudah bisa membuat mobil sendiri: http://infoindonesia.wordpress.com/category/prestasi-indonesia

Karir di Perminyakan

December 14, 2009 by admin

Hingga saat ini besarnya penghasilan dan fasilitas kesejahteraan yang diberikan perusahaan Minyak dan Gas menjadi daya tarik utama bagi banyak orang untuk berkarir di bidang energi ini. Sebagai gambaran contoh perbandingan karir perminyakan, dengan hanya berbekal ijazah baru lulusan S1 di perusahaan Minyak Dan Gas bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 6 juta/perbulan dan di tahun ke 5, gaji mereka bisa mencapai Rp. 20 juta/bulan.

Kenyataan ini sangat jauh Jauh kalau dibandingkan dengan standar gaji manufacture/ pabrik yang rata-rata hanya memberi Rp. 1.5 juta/ perbulan untuk lulusan baru S1. Di tahun ke 5 perkiraan gaji yang didapatkan pun hanya sekitar Rp 4 juta/bulan saja. Perbandingan gaji yang cukup jauh inilah yang menjadikan karir perminyakan banyak diminati.

Seorang senior di bidang Migas, sangat mungkin untuk bisa bekerja di pusat-pusat explorasi minyak dunia seperti Aberden, Timur Tengah, Norwegia, Shakalin Rusia, Houston dll dengan penghasilan di atas $8.000. Selain itu mereka yang hanya lulusan SLTA/STM pun bisa bekerja di perusahaan Migas dengan penghasilan cukup memuaskan. Saat ini banyak diantara mereka mereka yang bermodalkan ijasah SLTA mendapatkan gaji sekitar 20 juta/bulan. Tidak jarang pula diantara mereka ada yang mendapatkan pekerjaan di Nigeria dengan gaji $12.000/bulan.

Sementara itu kini lebih dari 1500 orang tenaga ahli perminyakan Indonesia kini tengah bekerja diladang-ladang minyak negara Timur Tengah seperti Kuwait dan Arab Saudi dan keahlian mereka diakui negara tersebut. Mereka mendapat bayaran tinggi beberapa kali lipat dibanding bila mereka bekerja di dalam negeri

Kenyataan ini mengubah persepsi banyak orang di Timur Tengah bahwa Negara Indonesia tidak hanya bisa mengirimkan tenaga kerja kasar non keahlian saja, tapi juga mampu memproduksi tenaga-tenaga profesional yang butuh keterampilan khusus dalam bidang energi. Singkatnya, bahwa tenaga kerja Indonesia tidak hanya sebatas TKI saja, tapi juga tenaga-tenaga ahli diberbagai bidang dengan keahlian yang khusus dan mampu bersaing dengan tenaga kerja asing.

Di beberapa negara-negara Eropa dan Skandinavia tenaga ahli perminyakan Indonesia juga mulai dipandang, mulai banyak yang bekerja ditambang minyak lepas pantai.Saat ini Lembaga sertifikasi profesi ahli perminyakan Cepu Jateng telah diberi kewenangan untuk menerbitkan sertifikasi keahlian dalam bidang perminyakan dan gas bumi yang sudah diakui oleh dunia. http://www.indomigas.com/karir-Di-Perminyakan/

Indonesia “Paceklik” Tenaga Ahli Migas

Jakarta-Barangkali hanya sedikit yang tahu ada kampung insinyiur di Qatar. Kampung ini adalah sebuah “kampung” yang identik dengan tempat bermukimnya ahli migas asal Indonesia, di negara kaya penghasil migas itu.

Tren kebutuhan tenaga ahli migas memang kian memuncak. Hal itu tidak lepas dari melonjaknya harga minyak sehingga mendorong semua negara berlomba-lomba mencari dan memproduksi minyak. Akibatnya, tidak hanya barang modal minyak yang dicari, sumber daya manusia pun diburu.

"Barang berlomba-lomba dibeli dan orang berlomba-lomba dicari. Indonesia tidak terlepas dari masalah ini," kata Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (BP Migas) Kardaya Warnika menggambarkan kelangkaan ini di Kantor BP Migas baru-baru ini.

Layaknya hukum permintaan, semakin tinggi permintaan berarti harga alias gaji pun tambah tinggi. Tampaknya, kepercayaan terhadap tenaga ahli Indonesia ternyata sangat besar. Banyak tenaga ahli migas Indonesia yang direkrut negara penghasil migas. Contohnya saja Qatar, belum lagi yang bekerja di negara-negara Eropa seperti Repsol Spanyol, di Amerika dan negara lain.

Sesuatu yang patut dibanggakankah atau sebenarnya ironi yang dihadapi bangsa ini? Data yang disajikan BP Migas seharusnya membuat miris. Indonesia saat ini defisit tidak kurang dari 2.444 tenaga ahli minyak dan gas (migas). Jumlah itu merupakan hasil pendataan BP Migas pada seluruh kontraktor migas di Indonesia.

"Kekurangan tenaga teknik yang berkaitan dengan industri minyak, geologis, ahli perminyakan, ahli pengeboran di mana-mana," kata Kardaya.

Kenapa mereka “lari” ke luar negeri, itu patut menjadi pertanyaan. Marwan Batubara dalam buku Tragedi dan Ironi Blok Cepu Nasionalisme yang Tergadai (2006) menuliskan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)–dalam kasus Blok Cepu–menyatakan tenaga ahli Indonesia tidak menduduki posisi strategis. Padahal Indonesia memiliki tenaga ahli potensial dan diakui oleh mancanegara. Terbukti ada delapan ahli geologi saat ini yang berkarier di Malaysia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.

Tim Kajian

Mengatasi kelangkaan tenaga ahli itu, BP Migas mengusulkan agar masa pensiun ahli migas diperlambat (late retirement). Untuk itu BP Migas telah meminta adanya tim dari perusahaan minyak yang mengkajinya. "Di Indonesia umur pensiun itu 55 tahun, kan masih semangat-semangatnya. Ini kita naikkan," ujar Kardaya. Bahkan, lebih tegas lagi BP Migas membuat program untuk menahan atau menghindari ahli migas yang mau bekerja ke luar negeri. Caranya, dengan memberi ikatan kontrak kerja. Diharapkan cara ini membuat tenaga ahli lebih betah dan berpikir ulang untuk hengkang ke luar negeri.

"Kalau di tengah dia “lari” dia harus mengembalikan beberapa kali lipat," jelas Kardaya. Selain itu, BP Migas mengusulkan memperbanyak pelatihan untuk mempercepat tingkat keahlian migasnya. Kardaya mencontohkan adanya pembimbing langsung supaya keahlian lebih cepat matang. Tampaknya perlu lebih banyak jurus agar ahli minyak Indonesia betah di Tanah Airnya sendiri. (mega christina) http://www.sinarharapan.co.id/berita/0704/28/eko03.html

Ahli Perminyakan RI Dapatkan Bayaran Tinggi di Timur Tengah

Jum’at, 12 Agustus 2005 11:26

Kapanlagi.com – Sebanyak 1.600 orang tenaga ahli perminyakan Indonesia kini tengah bekerja diladang-ladang minyak negara Timur Tengah seperti Kuwait dan Arab Saudi dan keahlian mereka diakui negara tersebut.

"Tenaga ahli perminyakan Indonesia kualitasnya bahkan lebih baik dari tenaga serupa dari Filipina dan Thailand hingga secara berangsur, posisi mereka digantikan ahli dari Indonesia," kata Kasubdit Sertifikasi, Ditjen geologi dan Sumber daya mineral Departemen ESDM, Ir. Nur Wardono MM, di Bengkulu, Jumat.

Dengan masuknya ribuan tenaga ahli minyak itu, telah mengubah persepsi banyak orang di Timur Tengah bahwa Indonesia tidak hanya bisa mengirimkan tenaga kerja kasar non keahlian tapi juga tenaga profesional yang butuh keterampilan khusus.

Tenaga ahli minyak asal Indonesia itu mendapat bayaran tinggi, dan bahkan beberapa kali lipat dibanding bila mereka bekerja di dalam negeri. Selain itu tenaga kerja ahli juga bisa memanfaatkan waktu liburnya dengan beribadah umrah di Arab Saudi.

Di beberapa negara Eropa dan Skandinavia tenaga ahli perminyakan Indonesia juga ada yang bekerja ditambang minyak lepas pantai, meski jumlahnya masih sangat kecil.

Untuk dibidang geologi tenaga ahli Indonesia banyak bekerja di Australia. Bahkan karena tidak ada sertifikasi keahlian mereka di Indonesia, tenaga ahli geologi itu malah mendapatkan sertifikasi dari Australia untuk bekerja diberbagai penjuru dunia.

Untuk meningkatkan nilai jual tenaga ahli, pihaknya melalui komite akreditasi nasional telah melakukan sertifikasi terhadap lembaga yang akan memberikan sertifikasi kepada tenaga ahli perorangan.

Lembaga sertifikasi profesi ahli perminyakan Cepu Jateng telah diberi kewenangan menerbitkan sertifikasi keahlian dibidang perminyakan dan gas bumi yang sudah diakui dunia.

Dengan adanya kesepakatan perdagangan bebas dunia nantinya, maka diharapkan akan lebih banyak lagi tenaga kerja ahli bidang perminyakan Indonesia bekerja diluar negeri, sementara yang bekerja didalam negeri penghasilannya tidak terpaut jauh dengan tenaga asing berkualifikasi sama.

"Pemerintah sudah berkomitmen bahwa tenaga kerja Indonesia tidak hanya sebatas TKI tapi juga tenaga ahli diberbagai bidang dengan keahlian khusus dan mampu berkompetisi dengan tenaga kerja asing," ujarnya. (*/erl) http://berita.kapanlagi.com/pernik/ahli-perminyakan-ri-dapatkan-bayaran-tinggi-di-timur-tengah-3vqm0pd.html

Matematika Rumit dari Tasikmalaya

Yogi Erlangga memecahkan persamaan rumit matematika yang dicari perusahaan minyak dunia.

Jum’at, 13 Agustus 2010, 17:06 WIB

Renne R.A Kawilarang

Yogi Erlangga (http://gie-insanmuttaqin.blogspot.com)

VIVAnews – Usia 36 tahun. Lahir di Tasikmalaya. Yogi Erlangga meraih gelar doktor dari Universitas Teknologi Delft, Belanda pada usia yang terbilang muda, 31 tahun. Dia mencintai ilmu yang dibenci banyak orang, matematika. Di negeri kincir angin itu, dia dinobatkan sebagai doktor matematika terapan.

Dan matematika itulah yang melambungkan Yogi Erlangga ke perusahaan minyak raksasa dunia. Dia adalah efisiensi. Rumus matematika yang dikembangkannya membuat ribuan insinyur minyak bisa bekerja cepat. Akurasi tinggi. Dan akhirnya si raja minyak banyak berhemat.

Penelitian yang dilakukan Yogi dalam meraih gelar doktor berhasil memecahkan persoalan matematika atas gelombang yang bisa digunakan oleh perusahaan minyak untuk mencari cadangan emas hitam itu. Rumus yang dikembangkan Yogi ini seratus kali lebih cepat dari yang berlaku sebelumnya.

Bukan cuma perusahaan minyak yang riang, sejumlah perusahaan raksasa dunia yang mengunakan unsur gelombang juga bersukaria. Rumus matematika anak Tasikmalaya itu juga manjur untuk teknologi keping Blu-Ray. Keping itu bisa memuat data komputer dalam jumlah yang jauh lebih besar. Rumus itu juga mempermudah cara kerja radar di dunia penerbangan.

Dalam siaran pers — saat wisuda doktor Desember 2005– Universitas Delft sungguh bangga akan pencapaian Yogi. Siaran pers itu menyebutkan bahwa penelitian Yogi adalah murni Matematika.

Dia berhasil mengembangkan suatu metode kalkulasi, yang memungkinkan sistem komputer untuk menyesaikan ekuasi krusial secara lebih cepat. Padahal, persamaan krusial itu sulit diatasi oleh sistem komputer yang dipakai perusahaan-perusahaan minyak.

Penelitian Yogi itu didasarkan pada “Ekuasi Helhmholtz.” Bagi kalangan ilmuwan, metode ekuasi itu penting dalam menginterpretasi ukuran-ukuran akustik yang digunakan untuk mensurvei cadangan minyak.

Sebelumnya, pengukuran itu dilakukan secara dua dimensi. Namun, dalam penelitian doktoralnya, Yogi berhasil membuat metode kalkulasi yang digunakan untuk memecahkan ekuasi Helmholtz ratusan kali lebih cepat dari yang biasa.

Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan minyak bisa memanfaatkan kalkulasi secara tiga dimensi untuk mencari cadangan minyak. Itulah sebabnya Delft yakin bahwa metode yang dikembangkan Yogi bisa mengundang daya tarik perusahaan-perusahaan minyak.

Profesor pembimbing tesis Yogi, Dr. Kees Vuik, bangga dengan kerja keras anak didiknya itu. “Berdasarkan respon-respon yang kami terima dari industri maupun universitas-universitas asing, kami yakin bahwa karya itu telah memecahkan masalah yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun,” kata Vuik dalam siaran pers Universitas Delft.

Peneliti asal Institut Teknologi Bandung (ITB), Khairul Ummah, menyatakan kekagumannya atas pencapaian Yogi. “Riset PhD dia cukup dahsyat, memecahkan persoalan matematika gelombang yang digunakan oleh perusahaan minyak Shell untuk mencari cadangan minyak,” tulis Khairul dalam laman blog ilmiah SEPIA yang dia kelola bersama sejumlah akademisi lain.

“Hasil riset dia [Yogi] cukup menghebohkan dunia minyak, terutama dengan kemungkinan membuat profil 3 dimensi dari cadangan minyak. Metode dia berhasil memproses data-data seismik seratus kali lebih cepat dari metode yang sekarang biasa digunakan,” tulis Khairul.

Yogi meraih gelar sarjana ilmu aeronautika dari ITB pada 1998. Kemudian dia menimba ilmu di Belanda dan meraih gelar Master (Msc) di Universitas Teknologi Delft pada 2001 di bidang Matematika Terapan.

Empat tahun kemudian, di almamater dan disiplin ilmu yang sama, Yogi meraih gelar Doktor. Sempat mengikuti program post-doctoral di Jerman, Yogi selanjutnya tercatat sebagai Asisten Profesor bidang Matematika di Universitas Alfaisal, Arab Saudi. Menurut data dari Universitas Alfaisal, Yogi sibuk dalam proyek penelitian aljabar linear dan analisis matriks.

Menurut Khairul, Yogi sempat merasa sedih bahwa dirinya lebih dihargai perusahaan-perusahaan asing ketimbang di Indonesia. Saat tidak ada perusahaan tanah air yang mengetahui karyanya, Yogi malah gencar didekati sejumlah perusahaan top dunia.

“Setelah hasil dia dipublikasikan, maka dia mendapat kontak dari Schlumberger untuk menindaklanjuti hal itu. Shell tentu saja sudah memakainya.

Bahkan di Belanda dia diliput oleh media massa, juga media TV Belanda berencana mewawancarainya (tapi dia keburu pingin pulang, jadi tidak sempat). Jelas hal ini menunjukkan potensi ekonomi luar biasa dari algoritma matematik yang dia temukan,” tulis Khairul di blognya.

Di laman blog SEPIA, Mei 2006, Yogi mencurahkan uneg-unegnya atas tiadanya perhatian perusahaan-perusahaan asal Indonesia kepada karyanya. “Dari bangsa ini, sudah banyak yang memberikan kontribusinya masing-masing pada dunia keilmuan yang digelutinya. Sayangnya bangsa kita belum terbiasa untuk menghargai hasil karya keilmuan mereka,” tulis Yogi.

Dia mencontohkan, tahun 1970, Indonesia, Malaysia, Korea, China were nothing [sama-sama tidak ada apa-apanya]. Tahun 1980, Korea became something. Tahun 1990 Malaysia started to be something. “Sekarang, China is everything. Unfortunately, we are still nothing, sadly speaking,” tulis Yogi.

Namun, dia yakin bahwa masih banyak anak bangsa yang akan merasa bangga jika mereka menghasilkan segala prestasi terbaiknya di negeri sendiri dan untuk kejayaan bangsanya. Tinggal kemauan bangsa dan negara untuk menyambut keinginan mereka dengan sambutan yang “appropriate” [layak], kata Yogi.

• VIVAnews

http://sorot.vivanews.com/news/read/170954-matematika-rumit-dari-tasikmalaya

Untuk Apa Punya Minyak?

Kamis, 29 Mei 2008 | 00:44 WIB

MT Zen

Guru Besar Emeritus ITB

Dahulu, di zaman Orde Baru, saya masih ingat sekali bahwa setiap kali ada berita tentang turunnya harga minyak di pasaran dunia, Pemerintah Indonesia sudah berkeluh kesah. Pada waktu itu cadangan terbukti Indonesia tercatat 12 miliar barrel.

Kini, pada masa Reformasi ini, lebih khusus lagi selama kekuasaan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, pemerintah juga berteriak, berkeluh-kesah, dan panik apabila harga minyak meningkat di pasaran dunia. Harga minyak turun berteriak, harga minyak naik lebih berteriak lagi dan panik. Jadi, apa gunanya kita punya minyak, sedangkan Indonesia sejak awal sudah menjadi anggota OPEC? Alangkah tidak masuk akalnya keadaan ini? Sangat kontroversial. Minyak itu tak lain adalah kutukan.

Cadangan tak tersentuh

Hingga kini Indonesia secara resmi disebut masih mempunyai cadangan minyak sebesar 9 miliar barrel. Memang betul, jika dibandingkan dengan cadangan minyak negara-negara Timur Tengah, 9 miliar barrel itu tidak ada artinya. Namun, jelas-jelas Indonesia masih punya minyak. Selain cadangan lama, cadangan blok Cepu belum juga dapat dimanfaatkan. Belum lagi cadangan minyak yang luar biasa besar di lepas pantai barat Aceh. Perlu diketahui bahwa pada pertengahan tahun 1970-an Indonesia memproduksi 1,5 juta barrel per hari. Yang sangat mencolok dalam industri minyak Indonesia adalah tidak ada kemajuan dalam pengembangan teknologi perminyakan Indonesia sama sekali.

Norwegia pada awal-awal tahun 1980-an mempunyai cadangan minyak yang hampir sama dengan Indonesia. Perbedaannya adalah mereka tidak punya sejarah pengembangan industri minyak seperti Indonesia yang sudah mengembangkan industri perminyakan sejak zaman Hindia Belanda, jadi jauh sebelum Perang Dunia ke-2. Lagi pula semua ladang minyak Norwegia terdapat di lepas pantai di Laut Atlantik Utara. Lingkungannya sangat ganas; angin kencang, arus sangat deras, dan suhu sangat rendah; ombak selalu tinggi.

Teknologi lepas pantai, khusus mengenai perminyakan, mereka ambil alih dari Amerika Serikat hanya dalam waktu 10 tahun. Sesudah 10 tahun tidak ada lagi ahli-ahli Amerika yang bekerja di Norwegia.

Saya berkesempatan bekerja di anjungan lepas pantai Norwegia dan mengunjungi semua anjungan lepas pantai Norwegia itu. Tak seorang ahli Amerika pun yang saya jumpai di sana sekalipun modalnya adalah modal Amerika, terkecuali satu; seorang Indonesia keturunan Tionghoa dari Semarang yang merupakan orang pertama yang menyambut saya begitu terjun dari helikopter dan berpegang pada jala pengaman di landasan. Dia berkata sambil tiarap berpegangan tali jala, ”Saya dari Semarang, Pak.” Dia seorang insinyur di Mobil yang sengaja diterbangkan dari kantor besarnya di daratan Amerika untuk menyambut saya di dek anjungan lepas pantai bernama Stadfyord A di Atlantik Utara.

Di sanalah, dan di anjungan-anjungan lain, saya diceritakan bahwa mereka tidak membutuhkan teknologi dari Amerika lagi. Mereka sudah dapat mandiri dan dalam beberapa hal sudah dapat mengembangkan teknologi baru, terutama dalam pemasangan pipa-pipa gas dan pipa-pipa minyak di dasar lautan. Teknologi kelautan dan teknologi bawah air mereka kuasai betul dan sejak dulu orang-orang Norwegia terkenal sebagai bangsa yang sangat ulet dan pemberani. Mereka keturunan orang Viking.

Ada satu hal yang sangat menarik. Menteri perminyakan Norwegia secara pribadi pernah mengatakan kepada saya bahwa Norwegia dengan menerapkan teknologi enhanced recovery dari Amerika berhasil memperbesar cadangan minyak Norwegia dengan tiga kali lipat tanpa menyentuh kawasan-kawasan baru. Ini sesuatu yang sangat menakjubkan.

Norwegia pernah menawarkan teknologi tersebut kepada Indonesia, tetapi mereka minta konsesi minyak tersendiri dengan persyaratan umum yang sama dengan perusahaan lain. Ini terjadi pada akhir tahun 1980-an. Namun, kita masih terlalu terlena dengan ”kemudahan-kemudahan” yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan Amerika. Pejabat Pertamina tidak mau mendengarkannya. Gro Halem Brundtland, mantan perdana menteri, menceritakan hal yang sama kepada saya.

Contoh lain, lihat Petronas. Lomba Formula 1 di Sirkuit Sepang disponsori oleh Petronas. Petronas itu belajar perminyakan dari Pertamina, tetapi kini jauh lebih kaya dibanding Pertamina. Gedung kembarnya menjulang di Kuala Lumpur. Ironisnya, banyak sekali pemuda/insinyur Indonesia yang bekerja di Petronas.

Kenapa banyak sekali warga Indonesia dapat bekerja dengan baik dan berprestasi di luar negeri, tetapi begitu masuk kembali ke sistem Indonesia tidak dapat berbuat banyak?

Jika kita boleh ”mengutip” Hamlet, dia bekata, ”There is something rotten, not in the Kingdom of Denmark, but here, in the Republic of Indonesia.”

Lengah-terlena

Salah satu kelemahan Indonesia dan kesalahan bangsa kita adalah mempunyai sifat complacency (perkataan ini tidak ada dalam Bahasa Indonesia, cari saja di kamus Indonesia mana pun), sikap semacam lengah-terlena, lupa meningkatkan terus kewaspadaan dan pencapaian sehingga mudah disusul dan dilampaui orang lain.

Lihat perbulutangkisan (contoh Taufik Hidayat). Lihat persepakbolaan Indonesia dan PSSI sekarang. Ketuanya saja meringkuk di bui tetap ngotot tak mau diganti sekalipun sudah ditegur oleh FIFA. Apa artinya itu semua? Kita, orang Indonesia tidak lagi tahu etika, tidak lagi punya harga diri, dan tidak lagi tahu malu. Titik. Ketidakmampuan Pertamina mengembangkan teknologi perminyakan merupakan salah satu contoh yang sangat baik tentang bagaimana salah urus suatu industri. Minyak dan gas di Blok Cepu dan Natuna disedot perusahaan-perusahaan asing, sementara negara nyaris tak memperoleh apa pun. Dalam hal ini, Pertamina bukan satu-satunya. Perhatikan benar-benar semua perusahaan BUMN Indonesia yang lain. Komentar lain tidak ada.

MT Zen Guru Besar Emeritus ITB

KOMENTAR:

"Zein Wijaya" Thu, 29 May 2008 19:03:16 -0700 (PDT)

Good Article Afar, tapi ada kelemahan dari artikel yg dibuat Pak prof MT Zen. beliau lupa membandingkan populasi penduduk Norway dengan penduduk Indonesia.. Norway hanya berpenduduk 4.7 Juta..dan hasil produksi minyaknya 1.5 Juta BPH indonesia mungkin pada thn 1980 berpenduduk 150 Juta dan produksi minyak 1.5 Juta BPH Dari pendapatan perkapita udah enggak matching..dengan pendapatann per kapita yg tinggi, fasilitas publik (pendidikan dan kesehatan) bisa diberikan secara cuma cuma..

sehingga kualitas pendidikan masyarakat Norway bisa cepat sejajar dengan Amerika… dengan Income yg besar, mereka juga bisa melakukan riset riset yg dibiayai pemerintah Lain halnya dengan indonesia, pendapatan per kapita rendah, duit banyak dipakai untuk KKN, subsidi…dana alokasi pendidikan dan kesehatan minim…bagaimana bisa meningkatkan sumber daya manusia.. selain itu perbedaan yg menyolok:

di Norway,KKN hampir nyaris tidak ada dengan sistem ekonomi yg bergaya sosialis (sama rasa sama rata), sedang di indonesia KKN merajalela Ada satu kritik lagi, disebutkan di artikel dibawah bahwa Minyak dan gas di Blok Cepu dan Natuna disedot perusahaan-perusaha an asing, sementara negara nyaris tak memperoleh apa pun

Lah khan kita punya sistem kontrak bagi hasil antara KPS dengan Negara….koq bisa bisanya dibilang negara nyaris tidak mempeoleh apapun..

Contoh paling nyata pengelolaan CPP Blok oleh BOB Siak Pusako, apa bisa memberikan kontribusi kepada daerah / negara..Yg ada malah rebutan minyak antara Pemda dan Pemerintah Pusat….sementara produksi terus menurun…dan masyarakat Riau seitar Blok CPP tetap aja miskin Di UK,sistem yg diterapkan untuk perusahaan minyak adalah Tax Royalti…Enggak ada sistem bagi hasil…Tax Royalti maksudnya: keuntungan bersih perusahaan minyak asing dikenakan pajak tinggi oleh pemerintah UK (sekitar 40%).

Hasilnya : bisa langsung dirasakan masyarakat … fasilitas kesehatan gratis, pendidikan gratis… Bahkan Aberdeen bisa menjadi kota terkaya di UK

Jadi bisa disimpulkan, yg salah bukan sistemnya …mau diubah sistemnya bagaimanapun kalo duit minyak yg masuk dikorupsi..yach sampai dunia kiamat juga enggak akan bisa dinikmati masyarakat banyak..Jadi janganlah menyalahkan pihak luar bahwa kekayaan kita disedot habis oleh pihak asing…sementara masyarakat tidak mendapatkan apa apa…padahal yg mesti disalahkan adalah moral kita sendiri saya hanya berusaha bersikap obyektif dengan membandingkan pengalaman selama berdomisili di Riau, Norway dan UK… http://wwwtm-upn.blogspot.com/2008/05/100-thn-kebangkitan-nasional-iv.html

Sumber : Milis ekonomi-nasional, postingan A. Nizami

Baca Juga:

Posted on 19 Oktober 2010, in Berita, Ekonomi. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Siapa yang berani jamin jika sistemnya dirubah dan menusianya diganti akan hilang korupsi. karena menurut saya berkurang saja tidak. karena ternyata mereka yang setiap hari gembar gembor berantas korupsi, ternyata hanya mencari jalan untuk menjadi pengganti yang korupsi tadi. dan yang tulus mencarikan kebenaran pasti aku yakin akan cepat dipanggil Allah swt. karena Allah tidak mau walinya terkontaminasi oleh kegemerlapan dunia. mereka yang memuji dan mendekati rakyat ternyata hanya musang berbulu ayam, senyum pahit ditambah gula mengakali rakyat tanpa merasa berdosa.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s