Jangan Kau Bakar Diriku dengan …

Suatu hari seorang tabi’in bernama ‘Atha’ bin Yasar berangkat dari Madinah bersama saudaranya, Sulaiman bin Yasar, dan beberapa sahabat mereka. Kemudian mereka singgah di Abwa’ dan membuat kemah. Di daerah itu ada seorang wanita badui yang cantik jelita yang ingin menimbulkan fitnah pada ‘Atha’ bin Yasar. Maka masuklah wanita itu ke dalam tenda di saat ‘Atha’ tinggal sendirian. Ketika itu beliau sedang shalat, maka beliau pun mempercepatnya karena mengira wanita itu sedang dalam keperluan.

Setelah itu beliau bertanya kepada wanita itu: “Engkau ada keperluan?”
“Ya,”
kata wanita itu.
“Apa itu?”tanya ‘Atha’.
“Bangun dan gauli saya. Saya tidak bersuami,” jawab wanita itu.
“Pergilah dari sini. Jangan kau bakar aku dan dirimu dengan api neraka,” kata ‘Atha’. Lalu mulailah beliau menangis sampai tersedu-sedu.
Melihat ‘Atha’ menangis, wanita itu tersentuh, lalu ikut pula menangis mendengar nasihat yang diucapkan ‘Atha’ tadi. Akhirnya wanita itu pun duduk menangis. Dua orang laki-laki dan perempuan itu menangis hebat. Kemudian datanglah Sulaiman bin Yasar dan melihat dua orang ini sedang menangis. Dia tidak tahu apa yang tadi terjadi. Tapi jiwanya ikut terdorong untuk menangis menyaksikan keadaan mereka berdua. Tak lama datang pula sahabat mereka lalu masuk ke dalam tenda. Mereka melihat ada seorang wanita menangis bersama ‘Atha’ dan Sulaiman yang juga menangis. Mereka pun terpengaruh, lalu ikut menangis tanpa tahu ada kejadian apa sebelum ini.
Akhirnya, semua terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Setelah tenang, wanita itu bangkit dan pergi. Kemudian yang lain pun berdiri dan beranjak dari tempat itu. Semuanya pergi ke tempat tidurnya. Sementara Sulaiman merasa segan bertanya kepada saudaranya ada yang terjadi?
Hari-hari berlalu. Suatu ketika mereka safar ke Mesir.
Pada malam harinya, di sebuah kamar, ‘Atha’ terbangun sambil menangis. Mendengar isak tangis saudaranya, Sulaiman tergugah dari tidurnya. Beliau bertanya kepada ‘Atha’: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?”
Tangis ‘Atha’ semakin keras. Sulaiman kembali bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?”
“Mimpi yang baru saja kulihat malam ini,”
kata ‘Atha’.
“Mimpi apa?” tanya Sulaiman. Lalu beliau terus mendesak agar ‘Atha’ menceritakannya. Maka ‘Atha’ meminta kesepakatan dan janji saudaranya untuk tidak menceritakannya selama dia masih hidup.
Kata ‘Atha’: “Aku melihat Nabi Yusuf  a.s dalam mimpiku. Mulailah aku memandang beliau. Ketika aku melihat eloknya rupa beliau, aku menangis –dalam mimpi–. Beliau pun memandangku dan berkata: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai fulan?’
Aku berkata: ‘Demi bapak dan ibuku tebusanmu, wahai Nabi Allah. Aku teringat engkau dan istri pembesar itu serta ujian yang engkau alami dengannya. Penjara yang engkau rasakan, perpisahanmu dengan Nabi Ya’qub a.s, maka aku pun menangis karenanya’.”
Aku merasa takjub kepada beliau.
Beliau a.s pun berkata: ‘Akulah yang mestinya takjub dengan lawan wanita badui di Abwa’ itu?’ Aku tahu apa yang beliau maksud, maka aku pun menangis dan terbangun sambil terus menangis. Kemudian ‘Atha’ rahimahullahu menceritakan pula kisahnya dengan wanita badui di Abwa.
Kisah ini disimpan oleh Sulaiman bin Yasar sampai ‘Atha’ meninggal dunia. Setelah ‘Atha’ meninggal dunia, dia pun menceritakan kisah ini hingga menjadi terkenal di Madinah.

***

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ. متفق عليه

“Tidak kutinggalkan sesudah matiku suatu fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki dari pada wanita.” (Muttafaq alaih dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma).

Salah satu cara agar lulus dalam ujian ini adalah dengan menjauhi berduaan dg wanita non mahrom, menghindari interaksi yang tidak perlu, dan menjaga pandangan, dalam Raudhatul Muhibbin, Ibnul Qayyim Al Jauziyyah menyatakan:

وَكُنْتَ مَتَى أَرْسَلْتَ طَرْفَكَ رَائِدًا  

           لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ                 

رَأَيْتَ الَّذِي لاَ كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ

عَلَيْهِ وَلاَ عَن بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ                

Jika engkau lepaskan pandanganmu sebagai duta
                 Bagi hatimu, niscaya kelak pemandangan itu akan memayahkanmu

Kau lihat apa yang tidak semuanya dapat kau raih
                Tidak pula terhadap sebagiannya kau dapat bersabar

Semoga Allah menjauhkan kita dari ujian semacam ini, dan kalaupun menguji kita dg ujian macam ini semoga Allah memberi kekuatan untuk lulus dalam ujian ini.

Baca Juga:

Iklan

Posted on 20 September 2010, in Akhlaq, Kisah & Motivasi, Pergaulan. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. muhammadasrullahghaffar

    assalamu’alaikum…
    subhanalloh… cerita yang menggugah dan menjadi inspirasi bagi kaulah muda yang sekarang ini hidup dalam ketidak kontrollan dari keluarga mereka. syukron….

    Suka

  2. muhammadasrullahghaffar

    assalamu’alaikum…
    ustas mau nanya, bgaiman mislanya kalo dikampus kan kita bergaul dengan sesama laki2 dan perempuan, nah apakah kalo kita memandang teman kita yang akhwat tanpa ada hawa nafsu juga dilarang/berdosa? mohon dijawab syukron sbslumnya

    Suka

    • ‘alaikumussalaam …
      memandang aurat wanita dilarang walaupun tanpa syahwat.
      memandang bukan aurat (mis. wajah) dilarang kalau dengan syahwat yakni ada kelezatan saat memandang, kalau tanpa syahwat tidak mengapa, namun baiknya dijaga.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s