Islam Menyoroti Kapitalisme

Oleh : Muhammad Taufik N.T (Disampaikan dalam dialog Ramadhan, di Masjid Iqro’ Mahligai Al Qur’an Banjarmasin, 16 Nopember 2003)

Secara i’tiqady, kapitalisme – sekulerisme adalah jelas paham yang bathil. Maka haram sama sekali dipeluk, diyakini, diserukan dan diperjuangkan. Secara empirik sekularisme juga terbukti membawa masyarakat ke jurang kehancuran, seperti dialami oleh Turki. Bahkan sekularisme di sana telah membuat pihak militer buta akan kebenaran. Mungkin saja mereka muslim, tapi kebenciannya pada Islam sampai pada batas yang sulit diterima akal sehat. Bagaimana bisa diterima, bila mereka sampai hati menangkapi wanita-wanita yang memakai jilbab di jalan-jalan, sementara mereka membiarkan saja para penari perut bergoyang memanaskan tempat hiburan malam di Turki?? Tapi itulah "hasil" sekularisme. Dan itu akan terus terjadi di mana saja, termasuk di negeri ini, sampai umat Islam membuang jauh-jauh kapitalis sekuler dan kelompoknya, serta menggantikannya dengan Islam saja.

***

Mabda’ (ideologi) adalah pemikiran yang mendasar yang diatasnya dibangun pemikiran-pemikiran lain[1] yang dapat memecahkan problematika kehidupan. Pemikiran yang mendasar adalah pemikiran tentang kehidupan dunia (untuk apa ada), sebelumnya (asal-usulnya), dan sesudahnya (kemana kembalinya), serta hubungan kehidupan dunia dengan sebelum dunia dan sesudahnya.

Kapitalisme[2] merupakan sebuah ideologi yang tegak atas dasar sekulerisme, yakni paham yang memisahkan agama dari kehidupan[3], Inti ajaran sekularisme adalah menjadikan agama hanya mengatur urusan individu dengan tuhannya. Sementara, dalam mengatur masyarakat agama tidaklah mempunyai peranan nyata.

Pemikiran sekularisme, berasal dari sejarah gelap Eropa Barat di abad pertengahan. Saat itu, terjadi pertentangan antara kaisar yang menggunakan tangan para gerejawan yang mengatasnamakan agama untuk melanggengkan kekuasaannya dengan para ilmuwan dan politikus yang melihat kondisi ini sangat menghambat kemajuan, sebab temuan-temuan ilmiah yang paling rasional pun tidak jarang bertabrakan dengan ajaran gereja yang dogmatis. Galileo Galilei dan Copernicus dihukum karena menolak mengubah pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi sentra perputaran planet-planet, bukan bumi seperti yang didoktrinkan gereja selama ini. Maka diambillah jalan tengah/kompromi antara mereka untuk membiarkan agama tetap di wilayah ritual semata, sementara wilayah duniawi (politik, pemerintahan, saintek, ekonomi) harus steril dari agama.

Asas kapitalisme ini menetapkan bahwa Tuhan tidak berhubungan sama sekali dengan kehidupan manusia selain dalam ibadah ritual, oleh karena itu harus ada pihak yang berwenang untuk meletakkan aturan kehidupan, dan pihak ini tidak lain adalah manusia yang ia bebas mengatur diri dan kehidupannya sendiri.

Atas dasar inilah akhirnya muncullah 4 pemikiran kebebasan, yakni:

Pertama, kebebasan beragama, yang berarti bahwa seseorang berhak meyakini suatu agama/keyakinan yang dikehendakinya atau memeluk agama yang disenanginya tanpa tekanan atau paksaan. Dia berhak pula meninggalkan agama dan keyakinannya, lalu berpindah pada agama atau keyakinan baru; berpindah pada kepercayaan non-agama (animisme/paganisme); bahkan berpindah pada ateisme. Dia berhak melakukan semua itu sebebas-bebasnya tanpa adanya tekanan atau paksaan. Oleh karena itu, dalam demokrasi seseorang berhak mengganti agamanya untuk kemudian memeluk agama Kristen, Yahudi, Budha, atau Komunisme dengan sebebas-bebasnya tanpa larangan atas dirinya, baik dari negara ataupun pihak lain.

Kedua, kebebasan berpendapat, yang berarti bahwa setiap individu berhak untuk mengembangkan pendapat atau ide apa pun dan bagaimana pun bentuknya. Dia berhak menyatakan atau menyerukan ide dengan sebebas-bebasnya.

Ketiga, kebebasan kepemilikan, yang bermakna bahwa seseorang boleh memiliki harta (modal) sekaligus mengembangkannya dengan sarana dan cara apa pun.

Keempat, kebebasan berperilaku, yang berarti bahwa setiap orang bebas untuk melepaskan diri dari segala macam ikatan dan dari setiap nilai keruhanian, akhlak, dan kemanusiaan. Dengan kata lain, bebas berekspresi, termasuk mengekspresikan kemaksiatan.

Pada tataran praktisnya, ide kebebasan ini menimbulkan banyak benturan kepentingan antar individu, misalnya si A yang bebas untuk menyampaikan pendapatnya tentang si B akan dituntut oleh si B kalau ia merasa dilecehkan. Oleh karena itu agar ide ini bisa berjalan, kapitalisme juga menetapkan bahwa harus ada negara yang berfungsi membuat aturan untuk menjamin kebebasan tiap individu.

Dalam membuat aturan, sistem kapitalisme bertolak pada "asas manfaat". Asas ini mengajarkan bahwa yang baik adalah yang memberikan manfaat (materi dan kenikmatan jasmani), dan yang sebaliknya adalah buruk. Sehingga walaupun ada operasi menyapu minuman keras di warung-warung (karena ilegal sehingga tidak mendatangkan devisa), tapi industri minuman keras jalan terus karena alasan ikut menyumbang devisa yang cukup besar dan tenaga kerja. AIDS diperangi, pelacur ilegal di’tertib’kan tapi kompleks-kompleks pelacuran tetap dibiarkan laris karena memberikan ‘pemasukan’ yang tidak sedikit.

Aqal & Fitrah Menimbang Kapitalisme

Kapitalisme adalah ideologi yang tidak memuaskan aqal (bagi orang yang beraqal), tidak ada satupun bukti yang aqliy untuk mengatakan bahwa Tuhan tidak ada hubungannya dengan pengaturan kehidupan dunia, bahkan mereka pengasas ideologi ini sama sekali tidak membahas secara aqliy tentang asal-usul kehidupan dunia ini, untuk apa ada, dan kemana akan kembali. Kesimpulan bahwa Tuhan tidak mengatur kehidupan dunia hanya diambil dari jalan kompromi antara kaisar dan gerejawan di satu pihak dengan ilmuwan dan politikus dipihak lain[4].

Sedangkan dari sisi fitrah[5], kapitalisme tidaklah sesuai dengan naluri beragama yang menuntut pemuasan naluri ini dengan aturan dari al Khaliq, karena Dia lah yang lebih tahu pemuasan seperti apa yang diridhai-Nya.

Naluri beragama ini tercermin dengan sikap pentaqdisan (pensucian) al Khaliq, bahwa Dia Maha Melihat, Mendengar, Mengetahui, dan Dia lebih mampu mengatur alam ini dari pada yang lain. Maka mengatakan bahwa al Khaliq tidak terlibat dalam kehidupan dunia ini sangat bertentangan dengan fitrah beragama[6].

Islam Menggugat Kapitalisme

Satu hal yang harus diinsyafi, bahwa sekulerisme ini terjadi khas terhadap agama Nashrani, yang ketika itu memang ajarannya, bahkan injilnya, sudah banyak diubah oleh para pendeta demi kepentingan penguasa.

Tentu kurang cerdas—kalau tidak boleh dikatakan idiot–bila tanpa mengkaji lebih jauh isi ajarannya, Islam langsung disamakan dengan Nashrani, sehingga harus dipisahkan dari kehidupan dunia. Berikut ini pandangan Islam tentang beberapa point ide kapitalisme.

Sekulerisme

Kalau kita ingin melihat sekulerisme dari kaca mata Islam, tidak ada cara lain kecuali harus memperhatikan sumber otentik Islam, yakni al Qur’an atau as Sunnah, apakah ada nash yang menyerukan untuk memisahkan Islam dari pengaturan kehidupan dunia. Allah berfirman:

ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (An Nahl: 89)

وقل إني أنا النذير المبين كما أنزلنا على المقتسمين الذين جعلوا القرءان عضين

Dan katakanlah: "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur’an itu terbagi-bagi (ada yang diimani dan ada yang diingkari) (Al Hijr : 89 -91).

Dua ayat tersebut, jelas menyatakan bahwa Islam telah menjelaskan segala perkara (berkaitan dengan hukum dan keyakinan), serta mengancam akan menyiksa siapa saja bagi yang mengingkari sebagian ajarannya. Dari sini apa yang bisa kita katakan terhadap sekulerisme yang jelas mengingkari sebagian aturan yang berkaitan dengan kehidupan dunia?

Disamping itu Rasulullah dalam kehidupannya juga tidak pernah terlepas dari penerapan Islam, bahkan berkaitan dengan ahli kitab Allah berfirman:

وأن احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم واحذرهم أن يفتنوك عن بعض ما أنزل الله إليك فإن تولوا فاعلم أنما يريد الله أن يصيبهم ببعض ذنوبهم

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. (Al Maidah : 49)

Alasan yang mungkin digunakan untuk justifikasi sekulerisme adalah sabda Rasulullah SAW tentang teknik penyerbukan kurma : "kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian"[7] hadits ini adalah takhsis dari keumuman perintah mengikuti Allah dan Rasul-Nya, sehingga temanya juga khusus tema hadits tersebut, yakni yangberkaitan dengan sain dan teknologi. Buktinya Rasul tetap menyuruh Abu Musa Al Asy’ari untuk memutuskan perkara pemerintahan di Yaman dengan menggunakan kitabullah, sunnah dan qiyas(ijtihad).

Adapun mengenai kebebasan, maka sebenarnya Islam tidak mengungkung kretaivitas berfikir manusia, bahkan islam tidak menghalang-halangi manusia menyalurkan kebutuhan jasmani dan nalurinya, namun demikian Islam memberikan batasan-batasan (sebagaimana kapitalis juga memberikan batasan—bedanya batasan dalam Islam dibuat oleh Yang Maha Sempurna) Rasulullah bersabda:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

Perumpamaan orang yang menjaga batasan (hudud/hukum) Allah dan yang melanggarnya adalah seperti qoum yang naik kapal, sebagian diatas, sebagian dibawah, adapun orang dibawah jika ingin air, maka ia harus melewati yang diatas, maka yang dibawah berkata, seandainya aku melobangi bagianku tidaklah aku mengganggu orang yang diatas, jika mereka membiarkannya maka binasalah semuanya, jika mereka mencegahnya selamatlah semuanya (HR. Bukhari (no 2313), Tirmidzi (no 2099), Ahmad (no 17638)

Kebebasan Beragama

Islam memang melarang memaksa seseorang untuk menganut suatu agama tertentu. Allah berfirman:

لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Al Baqarah: 256)[8], namun ayat ini bukan berarti seorang muslim bebas untuk keluar dari agamanya karena Rasulullah bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Siapa saja yang mengganti agamanya (Islam), jatuhkanlah hukuman mati atasnya. (HR Bukhari (no 2794, 6411), dan Ashhâb as-Sunan). Bagi yang murtad akan diberi waktu sampai 3 hari untuk berdiskusi tentang idenya, dan jika tetap bersikeras untuk murtad, maka mereka dihukum bunuh[9].

Kebebasan Berpendapat

Islam tidak mengekang pendapat seseorang selama pendapat itu tidak bertentangan dengan Islam, adapun pendapat yang bertentangan dengan Islam maka negara harus meluruskan dan mencegah itu, tatkala Ibrahim, putra Rasulullah, wafat kebetulan terjadi gerhana, maka orang-orang mengatakan bahwa gerhana terjadi karena meninggalnya Ibrahim, maka Rasul bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَةٌ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا

Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau karena hidup (lahir)nya seseorang tetapi kedua-duanya adalah termasuk ayat-ayat (tanda-tanda) dari Allah. Oleh itu apabila kamu semua melihatnya maka dirikanlah sholat (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad & Nasa’i).

Kontrol terhadap pendapat ini dilakukan oleh para penguasa semenjak Rasulullah sampai khalifah terakhir, saat Khilafah memudar sekalipun Khalifah Abdul Hamid II masih bisa menghentikan rencana pementasan teater yang bertentangan dengan Islam—bukan di dalam negeri, melainkan diluar negeri, yakni Perancis dan Inggris–, berikut peristiwanya: …Perancis pernah merancang mengadakan pementasan drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Rasulullah SAW. Drama itu bertajuk “Muhammad atau Kefanatikan” dan disamping mencaci Rasulullah SAW, ia juga menghina Zaid dan Zainab. Begitu mengetahui berita pementasan itu, Abdul Hamid memberi perintah kepada pemerintah Perancis melalui dutanya di Paris supaya memberhentikan pementasan drama itu dan mengingatkan akan akibat politik yang bakal dihadapi oleh Perancis jika ia meneruskan pementasan itu. Perancis dengan serta merta membatalkannya. Kumpulan teater itu datang ke Inggris untuk merancang melakukan pementasan yang serupa dan sekali lagi Abdul Hamid memberi perintah kepada Inggris. Inggris menolak perintah itu dengan alasan tiket-tiket telah dijual dan pembatalan drama itu adalah bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Perwakilan Uthmaniyah di Inggris mengatakan kepada Inggris bahwa walau pun Perancis mengamalkan ‘kebebasan’ tetapi mereka telah mengharamkan pementasan drama itu. Inggris juga menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati oleh rakyatnya adalah jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Perancis. Setelah mendengar jawapan itu, Abdul Hamid sekali lagi memberi perintah: Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar).” Britain dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” (freedom of speech) dan pementasan drama itu dibatalkan[10]

Kebebasan Kepemilikan

Dalam masalah produksi, Islam telah menyerahkan masalah ini kepada manusia untuk menggali dan memproduksi kekayaan tersebut. Nabi saw pernah bersabda dalam masalah penyerbukan kurma : “Kalianlah yang lebih tahu tentang (urusan) dunia kalian.” Nabi saw juga pernah mengutus dua orang kaum muslimin berangkat ke Yaman untuk mempelajari industri persenjataan.

Berbeda halnya dengan masalah cara perolehan harta, jenis harta yang boleh dimiliki individu/negara dan pemanfaatannya, maka Islam turur campur dengan cara yang jelas.

Dari segi tata cara perolehan harta kekayaan, Islam telah mensyariatkan hukum-hukum tertentu dalam rangka memperoleh harta kekayaan, seperti hukum-hukum berburu, menghidupkan tanah mati (lahan tidur), hukum-hukum kontrak jasa, industri serta hukum-hukum waris, hibah, wasiat dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan jenis harta, maka Islam menentukan beberapa jenis harta yang tidak boleh dikuasai individu/swasta, sebagai contoh tambang yang tidak terbatas jumlahnya, yang tidak mungkin dihabiskan, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abyadh bin Hamal, bahwa ia telah meminta kepada Rasulullah saw untuk dibolehkan mengelola tambang garam. Lalu Rasulullah saw memberikannya. Setelah ia pergi, ada seorang laki-laki dari majelis tersebut bertanya :

“Wahai Rasullullah, tahukan engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu bagaikan air yang mengalir(Maul “iddu).” Rasulullah saw kemudian bersabda : “Tariklah tambang tersebut darinya”

Demikian juga dalam masalah pemanfaatan harta kekayaan, Islam ikut campur tangan secara jelas. Misalnya Islam mengharamkan pemanfaatan beberapa bentuk harta kekayaan, seperti minuman keras, bangkai, daging babi. Islam juga mengharamkan menjual harta kekayaan yang haram untuk dimakan.

Kebebasan Berprilaku

Jelas sekali bahwa prilaku seseorang tidak boleh bertentangan dengan Islam, Rasulullah melarang dan menghukum pezina—walaupun keduanya saling ‘membahagiakan’ dengan sukarela, melarang dan menghukum peminum khamr, walaupun yang diminum khamrnya sendiri dst.

Khatimah

Secara i’tiqady, kapitalisme – sekulerisme adalah jelas paham yang bathil. Maka haram sama sekali dipeluk, diyakini, diserukan dan diperjuangkan. Secara empirik sekularisme juga terbukti membawa masyarakat ke jurang kehancuran, seperti dialami oleh Turki. Bahkan sekularisme di sana telah membuat pihak militer buta akan kebenaran. Mungkin saja mereka muslim, tapi kebenciannya pada Islam sampai pada batas yang sulit diterima akal sehat. Bagaimana bisa diterima, bila mereka sampai hati menangkapi wanita-wanita yang memakai jilbab di jalan-jalan, sementara mereka membiarkan saja para penari perut bergoyang memanaskan tempat hiburan malam di Turki?? Tapi itulah "hasil" sekularisme. Dan itu akan terus terjadi di mana saja, termasuk di negeri ini, sampai umat Islam membuang jauh-jauh kapitalis sekuler dan kelompoknya, serta menggantikannya dengan Islam saja. Wallahu’alam


[1] Muhammad Muhammad Ismail, Bunga Rampai Pemikiran Islam, hal. 179

[2] kapitalisme sebenarnya adalah sistem ekonomi dari ideologi ini, namun karena sistem inilah yang paling menonjol, maka ideologi yang berasaskan sekuler ini disebut ‘ideologi kapitalisme’

[3] Taqiyyudin An-Nabhani, Nidzamul Islam, hal 24, lihat juga Muhammad Qutb dalam Ancaman Sekulerisme

[4] Ahmad ‘Athiyyat, at Thariq, hal 95

[5] yang dimaksud dengan fitrah adalah keberadaan manusia yang diciptakan apa adanya, yakni dengan diberi kebutuhan jasmani dan naluri, dan naluri yang membedakan satu manusia dengan yang lain adalah naluri beragama/spiritual (gharizah tadayyun), lihat Ahmad ‘Athiyyat, idem, hal 97

[6] Lihat Ahmad ‘Atiyyat, idem, hal 98

[7] Lihat An Nabhani, Syakhsiyyah Islamiyyah, Juz I, hal 139

[8] Lebih jelasnya lihat Imam Qurtubhi (w. 671 H) dalam tafsirnya juz 3 hal 279 dst, Tafsir At Thabari (w. 310 H) juz 3 hal 13 dst, Ibn Katsir (w. 774H) juz 1 hal 311 dst

[9] Al Qurthubi, idem, juz 3 hal 47, Abu Ishaq (w. 884 H madzhab Hanbali), Al Mabdu’, juz 9 hal 170, Ibn Taymiyyah (w. 728 H), ..Fatawa, juz 35 hal 185, As Syafi’I (w. 204 H), Al Umm, juz 6 hal 159, Abdullah bin Abdil Barr (w. 463 H, madzhab Maliki), At Tamhid, juz 5 hal 309, NN, Ad Darul Mukhtar (madzhab Hanafi), juz 4 hal 226

[10] Buletin Khilafah, Edisi 15, 23 Jun 1989, England & Ar-Raya, Jilid 3, Isu 4, April 1994

Baca Juga:

Iklan

Posted on 18 September 2010, in Kritik Pemikiran, Makalah, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s