Pemuda Islami Pemuda Tangguh

Muqaddimah

Sejarah umat mana pun senantiasa dimulai oleh kondisi generasi mudanya. Umat yang memiliki generasi muda lemah semangat dan tak terbiasa bekerja keras, hanya tinggal menunggu waktu kehancuran dan kerendahan derajat. Umat yang memiliki generasi muda yang penuh semangat dan cita-cita, pantang menyerah menghadapi godaan, cobaan dan ujian, sedikit demi sedikit akan bangkit dan meraih kepemimpinan dan kemuliaan hidup.

Pemuda memegang peranan penting dalam hampir setiap perjuangan meraih cita-cita. Revolusi Perancis yang menumbunangkan kekuasaan monarki digerakkan oleh para pemuda. Perjuangan pro demokrasi di RRC dan Burma juga digerakkan oleh pemuda. Lapangan Tiananmen di Cina bisa menjadi saksi bagaimana keberanian pemuda menyongsong desingan peluru. Para pengikut setia Lenin dan Stalin pada awal kemenangan komunisme di Rusia kebanyakan adalah para pemuda. Demikian juga demonstrasi kolektif menuntut reformasi menumbangkan kekuasaan Orde Baru dan Presiden Soeharto 21 Mei 1998 juga dilakukan oleh mahasiswa yang tidak lain adalah para pemuda.

Demikian pula dalam sejarah dakwah Islam, pemuda memegang peranan penting. Para Nabi dan Rasul yang diutus Allah untuk menyampaikan ajaran agama terpilih dari kalangan pemuda yang rata-rata berusia sekitar empat puluh tahun. Ibnu Abbas ra. berkata:

عن ابن عباس قال: ما بعث الله نبيًا إلا شابًا، ولا أوتي العلم عالم إلا وهو شاب، وتلا هذه الآية: { قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ }[ الأنبياء : 60 ][1]

“Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja. Begitu juga tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu melainkan (hanya) dari kalangan pemuda saja”.

Pemuda dan Remaja pada Awal Dakwah Islam

Rasulullah SAW ketika diangkat menjadi Rasul berumur 40 tahun. Pengikut beliau, yang merupakan generasi pertama, kebanyakan juga dari kalangan pemuda dan remaja bahkan ada yang masih anak-anak. Mereka dibina Rasulullah SAW setiap hari di rumah Arqam bin Abil Arqam. Di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib dan Zubai bin Awwam, yang paling muda, keduanya ketika itu berusia 8 tahun; Thalhah bin Ubaidillah (11); Arqam bin Abil Arqam (12); Abdullah bin Mas’ud (14), yang kemudian menjadi ahli tafsir terkemuka; Saat bin Abi Waqas (17), yang kelak menjadi panglima perang yang menundukkan negara adi kuasa Persia; Ja’far bin Abi Thalib (18; Zaid bin Haritsah (20); Utsman bin Affan (20), Mus’ab bin Umair (24), Umar bin Khattab (26); Abu Ubaidah Ibnul Jarah (27), Bilal bin Rabah (30), Abu Salamah (30), Abu Bakar Ash Shiddiq (37), Hamzah bin Abdul Muthalib (42), Ubaidah bin Al Harits, yang paling tua di antara semua sahabat berusia 50 tahun.

Dan masih terdapat puluhan ribu pemuda lain yang terlibat aktif dalam dakwah menegakkan panji-panji Islam pada masa hidup Rasulullah SAW. Umumnya mereka adalah pemuda, bahkan remaja yang baru berangkat dewasa. Usamah bin Zaid, yang saat itu berusia 18 tahun, diangkat oleh Nabi sebagai komandan pasukan Islam dalam penyerbuan ke Syam pada perang Tabuk melawan tentara adi kuasa Romawi. Padahal di antara pasukan Islam terdapat sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab yang lebih tua darinya.

Begitu juga Abdullah bin Umar. Jiwa perjuangan Islam telah memanasi jiwanya sejak umur 13 tahun. Suatu ketika Rasulullah SAW tengah menyiapkan pasukan untuk perang Badar. Datang kepada Rasulullah SAW dua remaja Islam, Abdullah bin Umar dan Al Barra’, meminta agar diterima sebagai anggota pasukan Islam tetapi ditolak Rasulullah SAW karena masih terlampau kecil (diperkirakan kurang dari 13 tahun). Tahun berikutnya menjelang perang Uhud, mereka datang lagi kepada Rasulullah SAW untuk maksud yang sama, yang diterima hanya Al Barra’. Pada perang Ahzab barulah Abdullah bin Umar diterima sebagai anggota pasukan Islam (shahih Bukhari)

Ada satu kisah menarik untuk direnungkan oleh para pemuda dan remaja Islam masa kini, yang diceritakan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf, “Selagi aku berdiri dalam barisan pasukan pada perang Badar, aku melihat ke kanan dan kiriku. Saat itu tampaklah olehku dua orang Anshor yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat daripadanya. Tiba-tiba salah seorang di antaranya menekanku seraya berkata: ‘Hai paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal (tokoh kafir Quraisy)?’ Aku jawab: ‘Ya, apa keperluanmu padanya, hai anak saudaraku?’ Dia menjawab: ‘ Ada seseorang yang memberitahuku bahwa Abu Jahal sering mencela Rasulullah SAW, Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, jika aku menjumpainya tentu tak akan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dulu mati, aku atau dia’. Berkata Abdurrahman bin Auf: ‘Aku merasa heran ketika mendengar ucapan pemuda itu’. Kemudian anak yang satunya lagi juga menekanku dan berkata seperti ucapan temannya tadi. Tidak lama berselang, aku melihat Abu Jahal mondar-mandir di dalam barisannya. Segera kukatakan (kepada dua anak muda itu): ‘Inilah orang yang sedang kalian cari’. Tanpa mengulur-ulur waktu, keduanya seketika menyerang Abu Jahal, menikamnya dengan pedang sampai tewas. Setelah itu mereka mendatangi Rasulullah SAW (dengan rasa bangga) menceritakan kejadian itu. Rasulullah SAW bertanya: ‘Siapa di antara kalian yang menewaskannya? Masing-masing menjawab: ‘Sayalah yang membunuhnya’. Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi: ‘Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?’ Keduanya serentak menjawab: ‘Belum’. Kemudian Rasulullah SAW melihat pedang mereka seraya bersabda: ‘Kamu berdua telah membunuhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senjata yang dipakai Abu Jahal (boleh) dimiliki Muadz bin Al Jamuh. (berkata perawi hadits ini): Bahwa kedua pemuda itu adalah Muadz bin Afra dan Muadz bin Al Jamuh (Musnad Imam Ahmad Jilid I/hal. 193 dan shahih Bukhari hadits nomor 3141 dan shahih Muslim hadits nomor 1752).

Dulu Syafi’i muda telah hafal Al Quran pada usia sekitar 9 tahun dan mulai dimintai fatwanya pada usia sekitar 13 tahun, sebelum akhirnya menjadi seorang mujtahid, imam madzhab yang terkemuka. Usamah bin Zaid telah memimpin perang pada usia 18 tahun. Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam terlah terlibat perjuangan pda usia 8 tahun. Kini apa yang dilakukan pemuda usia 8 sampai 18 tahunan? Mejeng, tawuran, foya-foya? Mengapa demikian?

Kondisi Kaum Muslimin Saat Ini

Kaum muslimin saat hidup dalam lingkungan jahiliy. Di sekitarnya berlangsung tata kehidupan yang tidak islamiy dala hampir semua aspek kehidupan, disertai proses de-islamisasi yang demikian keras melalui berbagai media. Hal ini menjadikan mereka tetap muslim di satu sisi tetapi di sisi lain pikiran, perasaan dan tingkah lakunya dalam cara berpakaian, bergaul, bermuamalah telah banyak tercemari oleh pikiran, perasaan dan tingkah laku yang tidak islami yang kebanyakan bersumber dari khazanah pemikiran Bara.

Barat memang gencar melakukan proses pembaratan (westernisasi). Melalui racun sesat pemikiran Barat mereka berusaha mempengaruhi dan membelokkan pemahaman kaum muslimin agar jauh dari nilai-nilai Islam yang murni. Di bidang ekonomi mereka mengembangkan kapitalisme yang berintikan azas manfaat (nafiyyah). Pandangan kapitalisme mengajarkan apa saja boleh dilakukan asal menguntungkan secara materi, tidak peduli kendati bertentangan dengan aturan agama. Di bidang budaya menyebarkan westernisme yang berinti amoralisme jahiliyyah. Bagi mereka tidak ada yang tabu, termasuk seks bebas, berkata tak senonoh, miras, ecstacy, atau perbuatan jahiliyah lain sepanjang tidak mengganggu kepentingan orang lain. Di bidang politik menyebarkan nasionalisme yang menyebabkan kaum muslimin terpecah-pecah tidak peduli dengan saudaranya kalau tidak senegara. Akibatnya, kaum muslimin saat ini dengan mudah terasingkan dari agamanya. Ajaran-ajaran Islam tentang pakaian, makanan, pergaulan, ekonomi, politik, dan sebagainya ditanggapi oleh kaum muslimin sendiri sebagai pikiran dan seruan yang asing lagi aneh.

Kondisi individu yang jauh dari pemahaman Islam, masyarakat yang tidak peduli, sistem pemerintahan yang sekularistik inilah yang menghambat kaum muslimin untuk bisa meningkatkan dirinya menjadi orang tangguh.

Bagaimana Membentuk Genarasi yang Tangguh

Seseorang dalam kehidupannya tidak akan terlepas dengan lingkungan di mana dia berada, demikian juga aturan yang mengatur hubungan antar individu. Sehingga dalam bersikap, seseorang akan selalu dipengaruhi oleh pemahaman, lingkungan dan aturan yang diterapkan. Allah berfirman:

قل كل يعمل على شاكلته (الإسراء: 84)

“Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya” (Al Isra: 84)

Untuk itu jika kita ingin membentuk generasi yang tangguh harus secara integral memberikan pembenahan pada tiga aspek, yaitu: Pertama, individu kaum muslimin, dengan meningkatkan keimanannya dan mempelajari hukum-hukum Islam untuk kemudian diamalkan sekuat tenaga; Kedua, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan kontrol sosial, sebab hanya dengan mengandalkan ketakwaan individu, masih sangat mungkin terjadinya penyelewengan, sehingga sangat diperlukan kepedulian kaum muslimin terhadap kaum muslimin lainnya, dan ini juga merupakan perintah Allah yang sangat agung nilainya, yang apabila ditinggalkan juga sangat besar dampaknya baik bagi individu maupun masyarakat secara umum. Dalam hal ini Allah berfirman:

يأيها الذين استجيبوا لله وللرسول إذا دعاكم لما يحييكم

“Hari orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila rasul menyeru kamu kamu kepada suatu yang memberi kehidupan (dakwah, jihad dan perkara agama lainnya) (Al Anfaal: 24)

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusu menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaNya”. (Al Anfaal: 25)

مَثـَلُ الْقـَائِمِ عَلَى حُـدُوْدِ اللهِ وَ الْوَاقِـعِ فِيْـهَا كَمَثـَلِ قَـوْمٍ إِسْـتَهَمُّـوْا عَلَى سَفِـيْنَةٍ فَأَصَابَ بَعْـضُـهُمْ أَعْلاَهَا وَ بَعْـضُـهُمْ أَسْفَلَـهَا، فَـكَانَ الَّـذِيْنَ فِى أَسْفَلِـهَا إِذَا اسْتَـقَـوْا الْمَاءَ مَرُّوْا عَلَى مَنْ فَـوْقَـهُمْ، فَقَالـوُا: إِنـَّا خَـرَقْنـَا فِى نَصِيْـبِـنَا خَرْقـًا وَ لَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقـَنَا، فَإِنْ تَرَكُـوْهُمْ وَ مَا أَرَادُوْا هَلَـكُـوْا جَمِيْـعًا، وَ إِنْ أَخَـذُوْا عَلَى أَيْـدِيْـهِمْ نَجَـوْا وَ نَجَـوْا جَمِيْـعًا ( رواه البخارى)

“Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpangi kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: “Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas maka binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan, maka akan selamatlah semuanya.” (HR Bukhari, no. 2493)

Ketiga, sistem pemerintahan. Islam tidak bisa dipisahkan dengan sistem pemerintahan. Sebab tidak adanya sistem pemerintahan Islam banyak sekali hukum-hukum (yang ada kaitannya dengan sistem, seperti: potong tangan bagi pencuri, rajam bagi penzina dll) yang tidak bisa dijalankan. Selain itu tidak adanya sistem pemerintah akidah kaum muslimin tidak terlindungi, sehingg upaya perongrongan akidah dari luar islam, pergaulan bebas, minuman keras, perjudian, dan setumpuk masalah lain merajalela begitu saja.

Tidak sedikit kebobrokan akan hilang bila penguasa melarang beredarnya kebobrokan itu dan memberangusnya. Bisa dibayangkan, bila penguasa menegakkan hukum Islam yang melarang memproduksi minuman keras, obat-obatan terlarang, film porno, riba, judi, dan lainnya, niscaya semua itu akan hilang dari peredaran, tidak lagi mempengaruhi kaum muda. Sebaliknya, aturan buatan penguasa mana pun yang longgar dapat saja memicu kemaksiatan dan menghalangi kebaikan bila keliru menetapkannya.

Oleh karena itu penegakan hukum Islam akan menciptakan masyarakat muslim kaffah, masyarakat yang peduli terhadap perkembangan warganya, memiliki kesamaan rasa, pikiran dalam kesatuan aturan yang utuh. Individu dalam masyarakat muslim kaffah ini akan cepat tanggap terhadap masalah yang timbul dalam lingkungannya, pemerintah yang mempunyai kekuasaan akan melakukan tindakan penyelesaian dengan segera, bahkan jauh sebelumnya telah dilakukan tindakan preventif.

Dalam hal ini Rasulullah mengingatkan:

لتنقضن عرى الإسلام عروة عروة وكلما انتقضت عروة تثبت الناس بالتى تليها وأولهن نقضا الحكم وأخرهن الصلاة (أحمد)

“Akan hilang ikatan Islam ini satu ikatan demi satu ikatan, setiap satu ikatan hilang akan dikuatkan malasnya manusia untuk melakukan ajaran lainnya, yang pertama hilang adalah sistem pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat” (HR. Ahmad & Al Bazzar)

Imam al-Ghazâli (wafat 505 H) menulis dalam kitabnya, Al Iqtishod fil I’tiqod:

… ولهذا قيل: الدين والسلطان توأمان، ولهذا قيل: الدين أس والسلطان حارس وما لا أس له فمهدوم وما لا حارس له فضائع

“… dan karena inilah dikatakan: agama dan shulthan adalah dua saudara kembar, dan karena ini pula dikatakan: agama adalah asas, sedangkan sulthan (imam atau khalifah) adalah penjaga; Apa saja yang (tegak) tanpa asas, pasti akan runtuh, sedangkan apa saja yang (ada) tanpa penjaga, pasti juga akan hilang.”

Penutup

اغتنم خمسا قبل خمس: حياتك قبل موتك, وصحتك قبل سقمك, و فراغك قبل شغلك, وشبابك قبل هرمك, وغناك قبل فقرك. (الحاكم و البيهقى)

Pergunakanlah lima masa sebelum datangnya lima masa yang lain: masa hidupmu sebelum matimu, masa sehatmu sebelum datangnya sakit, masa luangmu sebelumd datangnya kesibukan, masa mudamu sebelum datang tua, dan masa kayamu sebelum datang miskin pada dirimu.


[1] Ibn Katsir, Ibn Abi Hatim (tafsir), riwayat. at Thabrani

Posted on 17 Agustus 2010, in Dakwah, Makalah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s