Hukum Keberadaan Jama’ah Da’wah

Oleh : M.Taufik N.T

Keberadaan jama’ah dakwah yang berkativitas untuk menyeru kepada Islam dan berupaya untuk menegakkan syari’at Islam dan menjaga penerapan hukum-hukum Islam adalah fardlu kifayah, Allah swt memerintahkan adanya kelompok/golongan yang melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar dengan firman-Nya:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S Ali Imran : 104)

Berkaitan dengan ayat ini, Imam At Thabari dalam Jâmi’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, 7/90, menyatakan:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ" أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ ="أُمَّةٌ"، يَقُوْلُ: جَمَاعَةٌ ="يَدْعُوْنَ" النَّاسَ="إِلَى الْخَيْرِ"، يَعْنِي إِلىَ اْلِإسْلاَمِ وَشَرَائِعِهِ الَّتيِ شَرَعَهَا اللهُ لِعِبَادِهِ ="وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ"، يَقُوْلُ: يَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِاتِّبَاعِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِيْنِهِ الَّذِيْ جَاءَ بِهِ مِنْ عِنْدِ اللهِ "وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ"،: يَعْنِي َويَنْهَوْنَ عَنِ الْكُفْرِ باِللهِ وَالتَّكْذِيْبِ بِمُحَمَّدٍ وَبِمَا جَاءَ بِهِ مِنْ عِنْدِ اللهِ، بِجِهَادِهِمْ بِاْلأَيْدِيْ وَالْجَوَارِحِ، حَتَّى يُنْقَادُوْا لَكُمْ بِالطَّاعَةِ.

[Hendaknya ada dari kalian]: wahai orang-orang yang beriman: sebuah "ummah", Abu Ja’far berkata: "jama’ah", yang menyeru manusia kepada "al-khair (kebaikan)", yaitu: kepada Islam dan syariat Islam yang telah Allah syariatkan kepada hamba-hambaNya. "Memerintahkan yang makruf", beliau berkata: "memerintahkan manusia untuk mengikuti Nabi Mohammad saw dan agama yang diturunkan kepadanya dari sisi Allah swt". "Mencegah dari kemungkaran", yaitu: "Mencegah dari kufur kepada Allah dan mendustakan kenabian Mohammad saw dan apa yang dibawanya dari sisi Allah swt", dengan cara berjihad melawan mereka dengan kedua tangan dan anggota badan, hingga mereka tunduk patuh kepada kalian".

Al Hafidz Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, juz 2 hal 91 menyatakan:

وَالْمَقْصُوْدُ مِنْ هَذِهِ اْلآيَةِ أَنْ تَكُوْنَ فِرْقَةٌ مِنَ اْلأُمَّةِ مُتَصَدِّيَةً لِهَذَا الشَّأْنِ، وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ وَاجِبًا عَلىَ كُلِّ فَرْد ٍمِنَ اْلأُمَّةِ بِحَسْبِهِ، كَمَا ثُبِتَ فيِ صَحِيْحِ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أضْعَفُ الإيمَانِ". وَفيِ رِوَايَةٍ: "وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ" .

"Maksud dari ayat ini adalah; hendaknya ada firqah (kelompok) dari umat Islam yang berjuang untuk urusan tersebut, walaupun urusan itu adalah kewajiban bagi setiap individu dari kalangan umat ini; sebagaimana ditetapkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, "Siapa saja yang melihat kemungkaran, hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, dan jika tidak mampu dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemahnya iman". Dalam riwayat lain disebutkan, "Dan di balik itu tidak ada lagi iman seberat biji sawi".

Al Hafidz As Syuyuthi dalam tafsir Jalalain menyatakan:

{ وَلْتَكُن مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الخير } اَلْإِسْلَامُ { وَيَأْمُرُونَ بالمعروف وَيَنْهَوْنَ عَنِ المنكر وأولئك } الدَّاعُوْنَ اْلآمِرُوْنَ النَّاهُوْنَ { هُمُ المفلحون } اَلْفَائِزُوْنَ ، وَ ( مِنْ ) لِلتَّبْعِيْضِ لِأَنَّ مَا ذُكِرَ فَرْضٌ كِفَايَةٌ لاَ يَلْزِمُ كُلَّ اْلأُمَّةِ وَلاَ يَلِيْقُ بِكُلِّ أَحَدٍ كَالْجَاهِلِ وَقِيْل زَائِدَة ٌأَيْ لِتَكُوْنُوْا أُمَّةً .

"{ وَلْتَكُن مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الخير } Islam { وَيَأْمُرُونَ بالمعروف وَيَنْهَوْنَ عَنِ المنكر وأولئك } para penyeru yang mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar { هُمُ المفلحون } orang-orang yang mendapatkan kemenengan (faa`izuun), dan huruf (مِنْ) adalah untuk menetapkan sebagian (littab’iidl). Sebab, apa yang disebutkan adalah fardlu kifayah dan tidak mengikat setiap orang dan tidak mengenai setiap orang, seperti orang yang bodoh. Dinyatakan pula bahwa huruf "min" adalah ziyadah (tambahan), yaitu agar kalian menjadi "ummah".

Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadiir juz 2, hal. 8 menyatakan:

وَ « مِنْ » فِي قَوْلِهِ : { مّنكُمْ } لِلتَّبْعِيْضِ ، وَقِيْلَ : لِبَيَانِ لِجِنْسِ . وَرَجَّحَ الْأَوَّلُ بِأَنَّ اْلأَمْرَ باِلْمَعْرُوْفِ ، وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ مِنْ فُرُوْضِ لِكِفَايَاتٍ يَخْتَصُّ بِأَهْلِ اْلعِلْمِ الَّذِيْنَ يَعْرِفُوْنَ كَوْنَ مَا يَأْمُرُوْنَ بِهِ مَعْرُوْفاً ، وَيَنْهَوْنَ عَنْهُ مُنْكَراً . قَال َالْقُرْطُبِيُّ : اَلْأَوَّلُ أَصَحَّ ، فَإِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ اْلأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ ، وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ فَرْضٌ عَلَى الْكِفَايَةِ

[Min] pada firmanNya" (minkum) berfungsi untuk menunjukkan sebagian (littab’iidl). Dinyatakan pula" lil bayaan lil jinsi" (untuk menjelaskan isim jenis). Pendapat pertama lebih rajih. Sebab, amar makruf nahi ‘anil mungkar termasuk fardlu kifayah yang khusus untuk orang-orang berilmu yang mengetahui apa yang mereka sampaikan adalah makruf, dan apa yang mereka cegah adalah kemungkaran. Imam Qurthubiy berpendapat, "Pendapat pertama lebih shahih". Ini menunjukkan bahwa amar makruf nahi ‘anil mungkar adalah fardlu kifayah".

Walaupun demikian jika fardlu kifayah tidak bisa terlaksana kecuali kalau semua kaum muslimin terlibat, maka fardlu kifayah bisa berubah menjadi fardlu ‘ain, sebagaimana dijelaskan Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari, Fath al-Mu’in, Juz IV hal 206

بَابُ الْجِهَادِ. (هُوَ فَرْضٌ كِفَايَةٌ كُلُّ عَامٍ) وَلَوْ مَرَّةٌ إِذَا كَانَ اْلكُفَّارُ بِبِلاَدِهِمْ، وَيَتَعَيَّنَ إِذَا دَخَلُوْا بِلاَدَنَا كَمَا يَأْتِي: وَحُكْمُ فَرْضِ اْلكِفَايَةِ أَنَّهُ إِذاَ فَعَلَهُ مَنْ فِيْهِمْ كِفَايَةٌ سَقَطَ الْحَرَجُ عَنْهُ وَعَنِ الْبَاقِيْنَ. وَيَأْثِمُ كُلُّ مَنْ لاَ عُذْرَ لَهُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِنْ تَرَكُوْهُ وَإِنْ جَهَلُوْا.

"Bab jihad. Jihad berhukum fardlu kifayah, (diselenggarakan) setiap tahun, meskipun hanya sekali, jika orang-orang kafir berada di negeri mereka. Dan jihad menjadi fardlu ‘ain jika orang-orang kafir memasuki negeri-negeri kita, sebagaimana penjelasan berikut ini. Hukum fardlu kifayah, sesungguhnya jika orang yang memiliki kemampuan telah melaksanakannya, maka gugurlah dosa bagi dirinya dan orang lain. Namun, berdosalah setiap Muslim yang tidak memiliki udzur, jika mereka meninggalkan fardlu tersebut, meskipun mereka tidak tahu".

Begitu juga dengan keberadaan jama’ah tersebut, jika jama’ah tersebut tidak bisa menuntaskan kewajibannya kecuali jika kaum muslimin bergabung dengannya, maka bergabungnya kaum muslimin kedalam jama’ah tersebut juga menjadi fardlu ‘ain sampai tercukupinya orang yang mampu menyempurnakan kewajiban tersebut. Hal ini sesuai dengan kaidah:

وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب (الأحكام لللآمدى)

”Tidak sempurna suatu kewajiban tanpa adanya sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib”. (Al Ihkam lil ‘Amidiy).  Allahu A’lam.

Posted on 17 Agustus 2010, in Dakwah, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s