Tafsir : Kaum Kafir Adalah Musuh Nyata

Oleh MR Kurnia

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي اْلأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا

Apabila kalian bepergian di muka bumi, tidaklah mengapa kalian menqashar sembahyang kalian, jika kalian takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuhkalian yang nyata. (QS an-Nisa’ [4]: 101).

Makna Global

Dalam ayat tersebut Allah Swt. menegaskan bahwa siapa saja yang sedang dalam keadaan safar dan takut oleh musuh maka diperkenankan untuk meringkas (meng-qashar) shalatnya. Sebab, sesungguhnya orang-orang kafir tersebut merupakan musuh yang nyata bagi kaum Mukmin. Permusuhan ini demikian luar biasa. Shalat yang hukumnya wajib tersebut, sekalipun bagi mereka yang tengah sakit parah, diringankan bagi kaum Mukmin yang sedang bepergian dan takut oleh pihak musuh. Adanya keringanan (rukhshah) dalam perkara shalat yang wajib ini menunjukkan keluarbiasaan permusuhan dari kaum kafir terhadap kaum Mukmin. Kaum kafir ini terdiri dari kaum musyrik dan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Selain itu, orang-orang munafik yang mengaku beriman padahal hakikatnya kafir juga disebut Allah Swt. sebagai musuh kaum beriman. Oleh sebab itu, kaum Mukmin harus waspada terhadap mereka, yaitu kaum kafir (kaum musyrik beserta Ahlul Kitab) dan munafik.

Pendapat Ahli Tafsir

Para ahli tafsir banyak menjelaskan tentang makna kalimat terakhir dalam ayat tersebut. Firman Allah Swt. (yang artinya) Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata dimaknai dalam makna yang saling mengokohkan satu sama lain. Di antaranya adalah:

1. Shihabudin Ahmad bin Muhammad al-Ha’im al-Mishri[1] menyatakan bahwa sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata, yakni memusuhi tanpa didasarkan pada ilmu, bersikap memusuhi.

2. Jalaluddin Muhammad dan Jalaluddin Muhammad[2] menyatakan bahwa orang-orang kafir itu musuh yang nyata, yaitu bayyin al-‘adawah (permusuhan yang sungguh terang).

3. Imam al-Baydhawi[3] menyatakan bahwa qashar itu merupakan keringanan saat takut menghadapi musuh karena kaum kafir itu merupakan musuh yang nyata, sebagai syarat yang umum berlaku pada saat tersebut.

4. Imam al-Qurthubi[4] memaknai ayat ini dengan mengatakan, shalat qashar ini boleh pada waktu safar dan takut terhadap orang kafir yang memusuhi secara nyata; mereka melakukan penentangan.

5. Az-Zarkasyi Abu Abdillah, dalam Al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qurân,[5] menyatakan bahwa ayat ini maknanya adalah permusuhan untuk selama-lamanya, sama dengan pernyataan: Inna Allâha kâna Ghafûran Rahîmâ. (Allah itu adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang). Sebab, permusuhan mereka bersifat langgeng.

6. Imam Ath-Thabari[6] memaknai kalimat Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata dengan arti, “Mereka menentang keesaan Allah; mereka adalah musuh kalian yang nyata. Dia menyebut ‘musuh’ sebab mereka membuat permusuhan atas kalian dengan peperangan terhadap keimanan kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan membiarkan kalian menyembah apa yang mereka sembah berupa berhala; hal ini karena kalian menentang kesesatan mereka.”

7. Dalam Ma’âni al-Qurân[7] disebutkan ‘aduw (musuh) di sini bermakna a‘dâ’ (musuh-musuh). Dibaca ‘udwan (seperti dalam ayat ini) apabila melampaui batas-batas kezaliman.

8. Tafsîr Abi Su‘ûd[8] menyatakan, bahwa kalimat Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu merupakan ‘illat (alasan) kebolehan shalat qashar. Sesungguhnya kesempurnaan permusuhan mereka atas kaum Mukmin mengharuskannya menentang mereka dengan seburuk-buruknya. Hal yang sama disebutkan dalam Rûh al-Ma‘âni, juz 5, hlm. 134.

9. Tafsîr Baghawi[9] menyebutkan permusuhan yang nyata adalah zhâhara al-‘adawah (memunculkan/menampakkan permusuhan).

10. Dalam Fath al-Qadîr[10] disebutkan bahwa musuh yang nyata maknanya adalah penentang (muta‘arridh).

11. Tafsîr an-Nasafi[11]menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kalian yang nyata,” maka jagalah diri kalian dari mereka itu.

Musuh Allah dan Kaum Mukmin

Allah Swt. adalah al-Khâliq, Pencipta manusia. Dia Mahatahu tentang karakteristik semua makhluk ciptaan-Nya tersebut. Dia pun Mahatahu tentang siapa yang memusuhi kaum Mukmin yang taat kepada-Nya. Dalam al-Quran Allah Swt. menegaskan:

]وَاللهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ وَكَفَى بِاللهِ وَلِيًّا وَكَفَى بِاللهِ نَصِيرًا[

Allah lebih mengetahui (daripada kalian) tentang musuh-musuh kalian. Cukuplah Allah menjadi Pelindung kalian. Cukuplah Allah menjadi Penolong kalian. (QS an-Nisa’ [4]: 45).

Dengan demikian, siapa saja yang diberitakan oleh Allah Swt. sebagai pihak-pihak yang memusuhi kaum Mukmin maka hal tersebut merupakan realitas yang benar-benar terjadi. Siapakah musuh kaum Mukmin menurut Allah Swt. dalam al-Quran?

Allah Swt. mengabarkan kepada kita bahwa musuh bagi mereka yang taat kepada-Nya adalah setan. Banyak sekali nash-nash yang menegaskan hal ini. Manusia diperintahkan oleh Allah Swt. untuk makan yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi serta dilarang mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia (QS al-Baqarah [2]:168; al-An‘am [6]: 142; Yusuf [12]: 5). Setan itu menjadi musuh bagi manusia dan senantiasa berupaya membuat permusuhan. Karenanya, Allah Swt. memerintahkan manusia untuk mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar); jangan mengikuti setan, yang senantiasa menciptakan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia (QS al-Isra’ [17]: 53). Bahkan, sejak awal, Zat Yang Mahabenar menyatakan kepada Adam dan Hawa (yang artinya): Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua (QS al-A‘raf [7]: 22).

Allah Swt. tidak sekadar menyatakan setan sebagai musuh yang nyata, tetapi juga menyatakan setan sebagai musuh yang menyesatkan secara nyata, ‘adwwun mudhillun mubîn (QS al-Qashash [28]: 15). Berdasarkan hal ini, Allah Swt. melarang kita menyembah atau menghambakan diri kepada setan yang merupakan musuh nyata tersebut (QS Yasin [36]: 60).

Setelah menegaskan bahwa setan itu musuh manusia, lebih jauh Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhannya (kâffah), dan melarang kaum Mukmin itu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kaum Mukmin (QS al-Baqarah [2]: 208). Jelaslah, menurut al-Quran musuh yang nyata bagi manusia secara umum dan musuh kaum Mukmin secara khusus adalah setan.

Setan yang merupakan musuh yang nyata tersebut bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan benar-benar nyata. Allah Swt. memberitahu kepada kita bahwa setan sebagai musuh nyata tersebut terdiri dari jin dan manusia. Dalam surat al-An‘am (6) ayat 112, Zat Yang Mahaperkasa berfirman:

]وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ[

Demikianlah Kami menjadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS al- An‘am [6]: 112).

Lebih detail, Allah Swt. menjelaskan dalam al-Quran bahwa manusia yang memusuhi secara nyata kaum Mukmin adalah kaum kafir dan kaum munafik. Kaum kafir adalah mereka yang tidak mengimani Allah Swt., tidak mengimani al-Quran, dan Rasulullah saw. Sedangkan, kaum munafik terdiri dari orang-orang yang secara lahiriah mengaku Muslim namun Allah Swt. mengetahui bahwa sebenarnya mereka tidak beriman. Allah Swt. berfirman:

]مَنْ كَانَ عَدُوًّا ِللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ[

Siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. (QS al-Baqarah [2]: 98).

]وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ [

Apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Karena itu, waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS al-Munafiqun [63]: 4).

Kaum kafir dalam nash-nash al-Quran disebutkan terdiri dari kaum musyrik dan ahlul kitab (Lihat: QS al-Bayyinah [98]: 1 dan 6). Ternyata, kedua jenis kaum kafir itu dinyatakan secara tegas sebagai pihak yang memusuhi dan menentang orang dari jalan Allah Swt. Orang musyrik merupakan musuh, Allah berlepas diri darinya (Lihat: QS at-Taubah [9]: 113-114). Al-Quran juga menjelaskan bahwa ahlul kitab, baik Yahudi maupun Nasrani, tidak akan pernah ridha hingga Muhammad dan umatnya mengikuti pihak mereka, serta membeli kesesatan dan menyesatkan jalan (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 120; al-Maidah [5]: 82; an-Nisa’ [4]: 44-45).

Di samping menegaskan siapa pihak yang merupakan musuh nyata bagi kaum Mukmin, Allah Rabb al-‘Âlamîn memaparkan tindakan-tindakan mereka berkaitan dengan sikap permusuhannya tersebut. Aktivitas penting yang mereka perbuat adalah berupaya memalingkan manusia dari kebenaran dan menjadikannya kafir kembali. Hal ini dapat dipahami dalam firman-Nya:

]وَلاَ يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ[

Janganlah kalian sekali-kali dipalingkan oleh setan. Sesungguhnya setan itu musuh kalian yang nyata. (QS az-Zukhruf [43]: 62).

]إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ[

Jika mereka menangkap kalian, niscaya mereka bertindak sebagai musuh kalian, melepaskan tangan dan lidah mereka kepada kalian dengan menyakiti (kalian), dan mereka ingin supaya kalian (kembali) kafir. (QS al-Mumtahanah [60]: 2).

Mereka yang menetapkan dirinya sebagai musuh nyata bagi kaum Mukmin harus dijadikan sebagai musuh. Begitu perintah Allah Swt. Allah Yang Mahamulia menyatakan bahwa setan yang terdiri dari jin dan manusia itu adalah musuh. Karena itu, anggaplah mereka musuh, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (Lihat: QS Fathir [35]: 6). Jika tidak, tentu kita akan tertipu. Untuk itu, Allah Swt. dalam surat al-Kahfi (18) ayat 50, al-Mumtahanah (60) ayat 1 dan ayat-ayat senada lainnya melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai wali (pelindung, penolong, pemimpin, pembantu, tangan kanan). Bahkan, penampilan mereka mengagumkan, perkataan mereka pun menarik perhatian dan sering didengarkan. Namun, Allah Swt. mengingatkan kaum Muslim untuk mewaspadai kaum munafik tersebut. (Lihat: QS al-Munafiqun [63]: 4).

Ketika kaum kafir dan munafik terus berkonspirasi untuk memalingkan kaum Mukmin dari kebenaran, dan berupaya memadamkan cahaya-Nya, selama itu pula kaum Mukmin dituntut menjadi penolong agama Allah. Pertarungan antara yang haq dan yang batil pun terus berlangsung. Namun, Allah Swt. berjanji akan menolong dan mengokohkan kaum Mukmin serta memenangkan mereka. Islam pun dijadikan-Nya mengungguli yang lain; cahaya-Nya Dia sempurnakan. Allah Swt. menegaskan:

]يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ[

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. (QS ash-Shaff [61]: 14).

]فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ ءَامَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ[

Kami memberikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman atas musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (QS ash-Shaff [61]: 14).

Sementara itu, kelak mereka di akhirat mendapatkan siksaan yang pedih di neraka akibat perbuatan yang mereka pilih itu. Allah Swt. menegaskan:

]وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ[

(Ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan semuanya. (QS Fushshilat [41]: 19).

Renungan

Itulah pemberitahuan dari Pencipta Alam, Zat Yang Mahatahu tentang kaum kafir yang menjadikan diri mereka—yang bersekongkol dengan kaum munafik—sebagai musuh nyata bagi kaum Mukmin. Realitas kekinian menunjukkan apa yang diperingatkan Allah Swt. tersebut. Kaum kafir dari negara-negara besar dengan sebagian kaum Muslim yang menjadi agennya berupaya terus memadamkan cahaya Allah Swt. (Islam).

Belajar dari kajian di atas, maka sudah seharusnya kaum Mukmin waspada terhadap mereka dan melawannya dengan kebenaran Islam. Sekalipun kekuatan dan kehebatan fisik mereka mengagumkan, atau bahkan menggetarkan, tetapi yakinlah, Allah Swt. akan memenangkan Islam dan orang-orang yang menjadi penolongnya. Tidak boleh ada kekhawatiran, sebab kemenangan tersebut merupakan janji Allah, Zat yang Mahabijak, Yang tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. []


Daftar Bacaan:

[1] Shihabudin Ahmad bin Muhammad al Ha’im al-Mishri. At-Tibyân fî Tafsîr Gharîb al-Qu’rân. 1992. Dar ash-Shahabah li at-Turats, Kairo, hlm. 197.

[2] Al-‘Alamah Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli dan asy-Syaikh al-Mutabahhir Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar as-Suyuthi. Tafsîr Jalâlayn, t.t. Dar al-Hadits, Kairo, I/ 46.

[3] Imam al-Baydhawi. Tafsîr al-Baydhawi. 1416H/1996M. Dar al-Fikr, Beirut, 2/245.

[4] Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah al-Qurthubi Abu Abdillah. Tafsîr al-Qurthubi. 1372 H. Dar asy-Sya’bi, Kairo, 5/362.

[5] Muhammad bin Bihadir bin Abdillah az-Zarkasyi Abu Abdillah. Al-Burhân fi ‘Ulûm al-Qur’ân. 1391 H. Dar al-Ma‘rifah, Beirut, 4/126-127.

[6] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid ath-Thabari Abu Ja’far. Tafsîr ath-Thabari. 1405 H. Dar al-Fikr, Beirut, 5/ 243.

[7] Ma’âni Al Qur’ân. 1409 H. Jami’ah Ummul Quro, 2/179 dan 471. Ditahqiq oleh Muhammad Ali Ash Shabûni.

[8] Muhammad bin Muhammad al-‘Imadi Abu Su’ud. Irsyâd al-‘Aqli as-Salîm ilâ Mazâya al-Qur’ân al-Karîm. t.t. Dar Ihya’ Turats ‘Arabi, Beirut, 2/261.

[9] Husain bin Mas’ud al-Farra al-Baghawi Abu Muhammad. Ma‘âlim at-Tanzîl. 1407 H. Dar al-Ma’rifah, 1/471. Ed. 2.

[10] Muhammad bin Ali bin Muhammad asy-Syaukani. Fath al-Qâdir al-Jam’u bayna al-Fann ar-Riwâyah wa ad-Dirâyah min ‘Ilmi at-Tafsîr. t.t. Dar al-Fikr, 1/507.

[11] Tafsîr an-Nasafi. t.t. t.p., 1/244.

Baca Juga:

Iklan

Posted on 30 Juli 2010, in Tafsir. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s