Al-Khansa’, Islam Mengubahnya 180 Derajat

Nama beliau adalah Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid, seorang wanita penyair yang tersohor. Beberapa syair terlantun dari lisan beliau di saat kematian saudaranya Shakhr di masa jahiliyah, maka beliau meratap dengan ratapan yang menyedihkan, yang akhirnya syair tersebut menjadi syair yang paling terkenal dalam hal syair duka cita. Syair tersebut berbunyi[1]:

يؤرقني التّذكر حين أمسي … ويردعني مع الأحزان نكسي

على صخرٍ وأيُ فتىً كصخر … ليوم كريهةٍ وطعان خلس

Mengingatnya membuatku terbangun di waktu malam… dan melumuriku dg kesedihan.

Atas Shakhr dan adakah  pemuda seperti shakhr … pada suatu hari berkecamuknya peperangan dan tikaman yang menyambar

Dibagian lain ia bersya’ir:

يذكرني طلوع الشمس صخراً … وأبكيه لكل غروب الشمس

وما يبكون مثل أخي ولكن … أعزي النفس عنه بالتأسي

Terbitnya matahari mengingatkanku akan sakhr … dan menangiskannya setiap matahari tenggelam.

Dan tidaklah mereka menangis semisal saudaraku … jiwa yang mulia yangdarinya patut diteladani.

Dibagian lain ia juga bersya’ir:

الا يا صخر لا أنساك حتى … أفارق مهجتي ويشقّ رمسي

ولولا كثرة الباكين حولي … على إخوانهم لقتلت نفسي

Wahai sakhr, aku tidak akan melupakan engkau sampai … terpisah darahku dan terbelah kuburku

Seandainya bukan karena banyaknya orang-orang yang menangis disekitarku … atas (kematian) saudara-saudara mereka, niscaya aku bunuh diriku

Namun setelah beliau mendatangi Rasulullah saw bersama kaumnya dari Bani Salim, kemudian mengumumkan ke-Islamannya dan menganut akidah tauhid, amat baik keislaman beliau sehingga menjadi lambang yang cemerlang dalam keberanian, kebesaran jiwa dan merupakan perlambang kemuliaan bagi sosok wanita muslimah.

Rasulullah saw pernah meminta kepadanya untuk bersyair, maka beliau bersyair, Rasulullah saw menyahut, "Wahai Khansa’ dan hari-hariku di tangan-Nya."

Ketika Adi bin Hatim datang kepada Rasulullah saw, dia berkata kepada Nabi, "Wahai Rasulullah saw, sesungguhnya di tengah-tengah kami ada orang yang paling ahli dalam syair, ada juga orang yang paling dermawan di antara manusia dan orang yang paling ahli dalam menunggang kuda." Kemudian Nabi saw bersabda, "Siapakah nama mereka?" Adi bin Hatim berkata, "Adapun orang yang paling ahli bersyair adalah al-Qais bin Hajar, sedangkan yang paling dermawan adalah Hatim bin Sa’ad (yakni bapaknya Adi), adapun yang paling ahli dalam berkuda adalah Amru bin Ma’di Karib." Rasulullah saw bersabda, "Tidak benar apa yang kamu katakan wahai Adi, adapun orang yang paling ahli dalam syair adalah Khansa’ binti Amru, adapun orang yang paling dermawan adalah Muhammad (yakni Muhammad saw), sedangkan orang yang paling ahli berkuda adalah Ali bin Abu Thalib."

Di samping kelebihan tersebut -hingga karena keistimewaannya dikatakan, ‘Telah dikumpulkan para penyair dan ternyata tidak didapatkan seorang wanita yang lebih ahli tentang syair daripada beliau- , beliau juga memiliki kedudukan dan prestasi jihad yang mengagumkan dalam berpartisipasi bagi Islam dan membela kebenaran. Beliau turut menyertai peperangan-peperangan bersama kaum muslimin dan menyertai pasukan mereka yang memperoleh kemenangan.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra, Khansa’ berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa’ mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan pengarahan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah SWT. Maka, dengarkanlah wasiat al-Khansa’ yang mulia tersebut:

"Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada ilah selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana (binasa). Allah Azza wa Jalla befirman, "Wahai orang-orang yang berfirman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 20).

Maka, ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin. Jika kalian melihat perang telah berkecamuk, ketika api telah berkobar, maka terjunlah kalian di medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah (rampasan perang) dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal.

Sementara itu keempat putranya mendengarkan wejangan tersebut dengan penuh seksama, mereka keluar dari kamar ibu mereka dengan menerima nasihatnya dan tekad hatinya untuk melaksanakan nasihat tersebut. Maka, ketika datang waktu pagi, mereka segera bergabung bersama pasukan dan bertolak untuk menghadapi musuh, sedangkan mereka berangkat seraya melantunkan syair. Yang paling besar bersenandung:

Wahai saudaraku, sesungguhnya ibunda sang penasehat Telah berwasiat kepada kita kemarin malam Dengan penjelasan yang tenang dan gamblang Maka bersegeralah menuju medan tempur yang penuh bahaya Yang kalian hadapi hanyalah kawanan anjing yang sedang menggonggong Sedang mereka yakin bahwa dirinya akan binasa oleh kalian Adapun kalian telah dinanti oleh kehidupan yang lebih baik Ataukah syahid untuk mendapatkan ghanimah yang menguntungkan

Kemudian dia maju untuk berperang hingga terbunuh. Lalu yang kedua bersenandung: Sesungguhnya ibunda yang tegas dan lugas Yang memiliki wawasan yang luas dan pikiran yang lurus Suatu nasihat darinya sebagai tanda berbuat baik terhadap anak Maka bersegeralah terjun di medan perang dengan jantan Hingga mendapatkan kemenangan penyejuk hati Ataukah syahid sebagai kemuliaan abadi Di Jannah Firdaus dan hidup penuh bahagia

Kemudian dia maju dan berperang hingga menemui syahid. Lalu giliran putra al-Khansa’ yang ketiga bersenandung:

Demi Allah, aku tak akan mendurhakai ibuku walau satu huruf pun Beliau telah perintahkan aku untuk berperang Sebuah nasihat, perlakuan baik, tulus dan penuh kasih sayang Maka, bersegeralah terjun ke medan perang yang dahsyat Hingga kalian dapatkan keluarga Kisra (kaisar) dalam kekalahan Jika tidak, maka mereka akan membobol perlindungan kalian Kami melihat bahwa kemalasan kalian adalah suatu kelemahan Adapun yang terbunuh di antara kalian adalah kemenangan dan pendekatan diri kepada-Nya

Kemudian, dia maju dan bertempur hingga mendapatkan syahid. Lalu giliran putra al-Khansa’ yang terakhir bersenandung:

Bukanlah aku putra al-Khansa, bukan pula milik al-akhram Bukan pula Amru yang memiliki keagungan Jika aku tidak bergabung dengan pasukan yang memerangi Persia Maju dalam kancah yang menakutkan Hingga berjaya di dunia dan mendapat ghanimah Ataukah mati di jalan yang paling mulia

Kemudian, dia maju untuk bertempur hingga beliau terbunuh.

Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar, beliau tidaklah menjadi goncang ataupun meratap, bahkan beliau mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah, yakni:

"Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya".

Sungguh ungkapan yang jauh berbeda dibanding dengan ungkapan saat jahiliyyah ketika ditinggal mati saudaranya. Umar bin Khaththab r.a mengetahui betul keutamaan al-Khansa’ dan putra-putranya sehingga beliau senantiasa memberikan bantuan yang merupakan jatah keempat anaknya kepada beliau hingga beliau wafat.

Kemudian, wafatlah al-Khansa’ di Badiyah pada awal kekhalifahan Utsman bin Affan ra pada tahun 24 Hijriyah. Semoga Allah merahmati al-Khansa’ yang benar-benar beliau sebagai seorang ibu yang tidak sebagaimana layaknya ibu yang lain, dimanakah khansa’ – khansa’ abad ini? sungguh umat merindukan mereka.

Sumber: Nisaa’ Haular Rasuuli, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Mushtafa Abu Nashr asy-Syalabi dan kitab الأمالي karya أبو علي القالي


[1] Lihat kitab الأمالي karya أبو علي القالي (terjemahan sya’irnya mohon koreksi, susah menerjemahkan syair supaya terjemahannya juga jadi syair)

Posted on 8 Juni 2010, in Kisah & Motivasi. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum wr wb.
    Saya masih bertanya2 dan mencari… benarkah Al Khansa pernah hidup di jaman Rasulullah Muhammad SAW. Jika benar saya minta tolong beri hadits-hadits pendukung tentang Al Khansa ini
    Terima kasih, Salam kenal

    Suka

    • ‘alaikumussalaam wr.wb.

      alangkah repotnya kalau untuk menentukan seeorang sahabat nabi atau bukan harus mencari haditsnya dulu (jumlah sahabat saat perang tabuk saja yg ikut pasukan ada 30 ribu).

      dari tahun wafatnya al khansa (24 H) saja ia sezaman dengan nabi.

      Adapun bertemunya dengan nabi diceritakan oleh Al Hafidz Ibnul Jauzi (wafat 597 H) dalam kitab Al Muntadzam, Al Hafidz Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) dalam kitabnya Al Isti’aab fi Ma’rifatil Ashaab, Ibnu Hajar Al Asqalany dalam Al ishobah, dalam riwayat Ibnul Atsiir (wafat 606 H) dalam kitab Usudul Ghaabah menulis:
      خنساء بنت عمرو
      خنساء بنت عمرو بن الشريد بن رباح بن ثعلبة بن عصية بن خفاف بن امرئ القيس بن بهثة بن سليم السلمية الشاعرة . كذا نسبها أبو عمر
      وقال هشام بن الكلبي : صخر ومعاوية وخنساء . واسمها تماضر : بنو عمرو بن الشريد بن رباح بن يقظة بن عصية بن خفاف بن امرئ القيس بن سليم
      قال : ولها يقول دريد بن الصمة :
      حيوا تماضر واربعوا صحبي
      قدمت رسول الله صلى الله عليه وسلم مع قومها فأسلمت معهم فذكروا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يستنشدها ويعجبه شعرها فكانت تنشده ويقول : ” هيه يا خناس ” . قالوا : وكانت تقول في أول أمرها البيتين والثلاثة حتى قتل أخوها معاوية وهو شقيقها قتله هاشم وزيد المريان وقتل صخر وهو أخوها لأبيها وكان أحبهما إليها وكان حليما جوادا محبوبا في العشيرة طعنه أبو ثور الأسدي فمرض منها قريبا من سنة ثم مات . فلما مات أكثرت أخته من المراثي فأجادت من قولها في صخر أخيها :
      أعيني جودا ولا تجمدا … ألا تبكيان لصخر الندى
      ألا تبكيان الجريء الجميل … ألا تبكيان الفتى السيدا
      طويل العماد عظيم الرما … د ساد عشيرته أمردا
      ولها فيه :
      أشم أبلج يأتم الهداة به … كأنه علم في رأسه نار
      وإن صخرا لمولانا وسيدنا … وإن صخرا إذا نشتو لنحار
      وأجمع أهل العلم والشعر أنه لم تكن امرأة قبلها ولا بعدها أشعر منها
      وذكر الزبير بن بكار عن محمد بن الحسن المخزومي عن عبد الرحمن بن عبد الله عن أبيه عن أبي وجزة عن أبيه : أن الخنساء شهدت القادسية ومعها أربعة بنين لها فقالت لهم أول الليل : يا بني إنكم أسلمتم وهاجرتم مختارين والله الذي لا إله غيره إنكم لبنو رجل واحد كما أنكم بنو امرأة واحدة ما خنت أباكم ولا فضحت خالكم ولا هجنت حسبكم ولا غيرت نسبكم . وقد تعلمون ما أعد الله للمسلمين من الثواب الجزيل في حرب الكافرين . واعلموا أن الدار الباقية خير من الدار الفانية يقول الله عز وجل : ” يا أيها الذي أمنوا اصبروا وصابروا ورابطوا واتقوا الله لعلكم تفلحون ” . فإذا أصبحتم غدا إن شاء الله سالمين فاغدوا إلى قتال عدوكم مستبصرين وبالله على أعدائه مستنصرين . وإذا رأيتم الحرب قد شمرت عن ساقها واضطرمت لظى على سياقها وجللت نارا على أرواقها فتيمموا وطيسها وجالدوا رئيسها عند احتدام خميسها تظفروا بالغنم والكرامة في دار الخلد والمقامة . فخرج بنوها قابلين لنصحها وتقدموا فقاتلوا وهم يرتجزون وأبلوا بلاء حسنا واستشهدوا رحمهم الله . فلما بلغها الخبر قالت : الحمد لله الذي شرفني بقتلهم وأرجو من ربي أن يجمعني بهم في مستقر رحمته
      وكان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يعطي الخنساء أرزاق أولادها الأربعة لكل واحد مائة درهم حتى قبض رضي الله عنه
      أخرجها أبو عمر

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s