Pengakuan Bandit Ekonomi

image

John Perkins adalah penulis asal Amerika Serikat (AS) yang mengungkapkan kejahatan korporatrokasi, yakni jaringan yang memetik laba dari dunia ketiga – termasuk Indonesia – melalui korupsi, kolusi dan nepotisme. Pada buku pengakuannya yang pertama, Confession Of an Economic Hit Man (2004) Perkins menyebut dirinya sebagai bandit ekonomi yang bekerja di perusahaan konsultan MAIN di Boston, AS. Buku kedua ini berbicara tentang sepak terjangnya di Indonesia.

Cara kerja mereka mirip mafia, mereka menggunakan semua cara termasuk pembunuhan, ia mengungkapkan contohnya adalah pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos dan Presiden Equador Jaime Roldos.

Tugas pertama Perkins adalah membuat laporan untuk IMF dan World Bank (Bank Dunia) agar mengucurkan utang luar negeri kepada dunia ketiga, termasuk Indonesia. Sebagai ekonom utama di MAIN, ia juga merekomendasikan jumlah utang yang harus disalurkan IMF dan World Bank, disisi lain syaratnya pemerintah yang mengutang harus memberikan proyek ‘pembangunan’ ke kontraktor-kontraktor AS dengan porsi terbesar dari utang tersebut.

Tugas kedua, Perkins membangkrutkan negara pengutang, setelah tersandera dengan utang yang menggunung barulah mereka meminta ‘balas jasa’ dengan misalnya mendukung kebijakan AS, membuka pangkalan militer AS di negara pengutang atau memaksa negara-negara pengutang menjual ladang-ladang minyak mereka kepada perusahaan MNC milik negara-negara barat dan kepentinga lain mereka.

Percaya atau tidak dengan buku ini- yang memang gaya penulisannya tidak ‘ilmiyyah, karena berupa pengakuan, namun kita bisa melihat banyak kasus menunjukkan demikian, seperti proyek pembangkit listrik Paiton I dan II yang nilainya 3,7 milyar dolar AS, sumbernya 6adalah utang dari ECA (export credit agencies), namunpembangunan ini mulai dari pembebasan lahan sampai suplay batu bara dihadiahkan tanpa tender kepada konspirasi korporatokrasi. Disamping itu harga listriknya 60 % lebih mahal dari di Filiphina dan 20 kali (2000%) lebih mahal dari di AS.  Termasuk juga kasus BCA yang setelah disehatkan pemerintah, setelah sehat justru dikuasai asing, dan lagi-lagi pemerintah dikadali.

Kita juga  bisa melihat utang luar negeri Indonesia pada masa Soekarno sekitar 2,5 milyar dolar AS, Soekarno memang tidak bisa diatur sehingga memang perlu dilengserkan,  dan pada masa akhir Soeharto, utang luar negeri  sudah 137,424 Milyar dolar AS (catatan BI, Maret 1998),  sekarang ??#*^*!’’  utang semakin menumpuk, dan kekayaan alam Indonesia sebagian besar sudah berada ditangan asing?  kapan kita akan tersadar? apa yang  kita tunggu?

Bukunya bisa di download disini

Iklan

Posted on 3 Juni 2010, in Sekilas Buku. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. stadz pa kabar…………. lama ga ketemu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s