Keteguhan Dalam Mengemban Dakwah

Istilah mengemban dakwah (haml ad-da‘wah) terdiri dari dua kata, yakni: (1) mengemban (haml); (2) dakwah (ad-da‘wah). Mengemban adalah satu hal, sedangkan dakwah adalah hal lain. Dakwah dapat dimaknai sebagai sekumpulan pemikiran dan hukum-hukum syariat, yakni Islam itu sendiri secara keseluruhan, sedangkan mengemban pada dasarnya sama dengan menyampaikan (at-tablîgh). Dengan demikian, mengemban dakwah (haml ad-da‘wah) dapat diartikan dengan menyampaikan—kepada manusia—pelbagai pemikiran dan hukum-hukum syariat.

Sebagaimana diketahui, mengemban dakwah adalah aktivitas para nabi dan para rasul serta aktivitas orang-orang yang selalu mengikuti jejak langkah mereka dan senantiasa berjalan di atas manhaj mereka. Karena itu, secara mutlak, mengemban dakwah merupakan aktivitas yang paling utama dan paling mulia. Karena itu pula, mengemban dakwah secara niscaya merupakan kewajiban yang sangat agung; bahkan seluruh kewajiban syariat jelas tidak akan sempurna tanpa adanya aktivitas mengemban dakwah.

Sesungguhnya setiap Muslim secara tegas diperintahkan untuk menunaikan sekaligus menegakkan setiap kewajiban syariat yang dibebankan atas dirinya. Ia haram meninggalkan ataupun melalaikannya. Dengan kata lain, setiap Muslim secara tegas diperintahkan untuk senantiasa bersikap teguh dan kosisten dalam menjalankan setiap kewajibannya. Jika tidak, ia berdosa di hadapan Allah. Sebab, tidak diragukan lagi, bahwa bersikap teguh dan konsisten di dalam menunaikan kewajiban syariat apa pun hukumnya adalah wajib. Di antara banyak kewajiban syariat bagi seorang Muslim adalah mengemban dakwah. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa mengemban dakwah hukumnya wajib, dan bersikap teguh dan konsisten di dalam melaksanakannya juga hukumnya wajib. Dengan kata lain, pada saat kita menyatakan bahwa teguh di jalan dakwah adalah wajib bagi setiap pengembannya, itu mengandung pengertian bahwa ia harus bersikap teguh dalam “mengemban” maupun di dalam “dakwah”-nya; tidak boleh bersikap teguh hanya pada salah satunya. Singkatnya, setiap Muslim wajib bersikap teguh dan konsisten dalam menyampaikan dakwah maupun dalam seluruh pemikiran dan hukum-hukum syariat yang diembannya.

Dalam hal yang terakhir ini, seorang pengemban dakwah harus meyakini bahwa apa yang diserukannya berupa berbagai pemikiran dan hukum-hukum syariat itu adalah benar karena bersumber dari Allah, sedangkan di luar itu adalah pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum yang batil karena tidak bersumber dari Allah. Jika pelbagai pemikiran dan hukum yang tidak bersumber dari Allah itu yang justru dia sampaikan—yang boleh jadi karena kebodohan dirinya tentang mana yang berasal dari Allah dan mana yang bukan—maka jelas ia tidak dikatakan sedang berdakwah, tetapi malah sedang merusak dakwah. Fenomena semacam ini tidak jarang terjadi di kalangan para pengemban dakwah; mereka—secara sadar ataupun tidak—merasa atau mengklaim menyampaikan dakwah, padahal mereka sebetulnya merusak dakwah.

Karena itu, setiap pengemban dakwah wajib memperhatikan bahwa apa saja yang dia sampaikan betul-betul hanya merupakan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam semata, dan dia wajib pula bersikap teguh dan konsisten dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam itu dalam situasi dan kondisi apa pun. Jika tidak, dia berarti telah meninggalkan dakwah dan jatuh ke dalam murka Allah.

Sebagaimana setiap pengemban dakwah wajib bersikap teguh dan konsisten dalam dakwah (yakni dalam seluruh pemikiran dan hukum-hukum Islam yang diembannya), dia juga wajib bersikap teguh dan konsisten di dalam mengembannya. Kecelakaanlah bagi dirinya, yang dapat berujung pada siksa neraka atas dirinya, jika ia tidak bersikap teguh pada salah satunya, apalagi pada kedua-duanya.

Sebagaimana dimaklumi, musuh-musuh Islam dan musuh-musuh dakwah senantiasa mencurahkan pikiran dan tenaga mereka untuk menghancurkan keteguhan para pengemban dakwah dalam dakwah yang diembannya maupun konsistensi mereka dalam mengembannya. Untuk menghancurkan keteguhan para pengemban dakwah dalam dakwahnya (yakni dalam seluruh pemikiran dan hukum-hukum Islam yang diembannya), mereka selalu berusaha melakukan penyesatan dan peraguan. Dengan begitu, diharapkan para pengemban dakwah tidak yakin lagi terhadap apa yang diembannya. Mereka, misalnya, menyusupkan ide-ide dan hukum-hukum kufur—seperti demokrasi, kebebasan, keadilan sosial, HAM, plularisme, emansipasi, nasionalisme, masyarakat madani, dsb—ke dalam dakwah atau ke dalam ide-ide dan hukum-hukum Islam. Dengan cara seperti itu, mereka sesungguhnya sedang memakaikan baju kekufuran kepada kaum Muslim. Akibatnya, kaum Muslim tidak lagi dapat membedakan mana yang benar dan mana yang batil; mana yang bersumber dari Allah dan mana yang bukan berasal dari-Nya. Pada gilirannya, musuh-musuh dakwah tersebut mampu merusak dakwah Islam sekaligus mencegah kaum Muslim dan para pengemban dakwah Islam untuk berpegang teguh pada agama dan dakwah mereka. Itulah yang tidak pernah henti-hentinya dilakukan oleh musuh-musuh Islam dan musuh-musuh dakwah. Allah Swt. berfirman:

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Orang-orang kafir selalu berupaya untuk memerangi kalian sampai mereka berhasil mengeluarkan kalian dari agama kalian—seandainya saja mereka mampu. (QS al-Baqarah [2]: 217).

Atas dasar itu, setiap pengemban dakwah, di samping wajib bersikap teguh dan konsisten dalam dakwah (yakni dalam seluruh pemikiran dan hukum Islam), juga wajib menentang setiap upaya busuk musuh-musuh Islam di atas. Dengan begitu, di samping pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam yang ada pada dirinya senantiasa terbebas dari anasir-anasir yang merusak, ia juga akan mampu memberangus berbagai pemikiran dan hukum-hukum kufur yang bertentangan dengan Islam. Pada gilirannya, konsistensinya atas mabda’, penjagaannya atas seluruh pemikiran dan hukum-hukum Islam, serta penentangannya atas berbagai pemikiran dan hukum-hukum kufur akan mengakibatkan musuh-musuh dakwah dan musuh-musuh Islam menjadi gentar.

Sementara itu, untuk merusak keteguhan para pengemban dakwah dalam upayanya menyampaikan dakwah, musuh-musuh dakwah dan musuh-musuh Islam telah lama menyediakan berbagai penjara dan tempat-tempat inkuisisi, mempersiapkan berbagai senjata, sekaligus memerangi para pengemban dakwah dengan cara memotong mata pencaharian mereka hingga bahkan memotong leher-leher mereka. Mereka tidak bosan-bosannya memproklamirkan “perang” terhadap para pengemban dakwah di setiap tempat dalam rangka menjauhkan pengemban dakwah dari aktivitasnya mengemban dakwah serta melemahkan keteguhannya di dalamnya. Karena itu, pengemban dakwah mana pun yang tidak teguh dan malah menuruti kemauan musuh-musuh dakwah dan musuh-musuh Islam, ia berarti benar-benar telah gagal.

Dalam hal ini, sesungguhnya Allah Swt. telah memperingatkan kita dengan peringatan yang sangat keras apabila kita tidak bersikap teguh dan konsiten dalam mengemban dakwah dan dalam memeluk Islam. Allah Swt. berfirman:

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاَتَّخَذُوكَ خَلِيلاً(73)وَلَوْلاَ أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً(74)إِذًا لأََذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu (Muhammad) dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami. Kalau sudah begitu, tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Kalau Kami tidak memperkuat (hati)-mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian, Kami benar-benar akan menimpakan atasmu siksaan berlipat ganda di dunia ini dan sesudah mati, sementara kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami. (QS al-Isra’ [17]: 73-75).

Ayat di atas merupakan peringatan Allah yang sangat keras yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw.—yang notabene merupakan kekasih-Nya yang paling dikasihi-Nya, yakni bahwa Allah pasti akan menimpakan azab-Nya di dunia dan di akhirat secara berlipat ganda seandainya beliau terfitnah dan terpalingkan sedikit saja dari seluruh pemikiran risalah dan hukum-hukumnya yang dibawanya (yakni terpalingkan dari dakwah), lalu tunduk pada kemauan orang-orang kafir Makkah. Allah Swt. juga berfirman:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأَْقَاوِيلِ(44)لأََخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ(45)ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ(46)فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami benar-benar akan memegangnya pada tangan kanannya, kemudian memotong urat tali jantungnya. Sekali-kali tidak ada seorang pun di antara kalian yang dapat menghalangi Kami dari pemotongan urat nadi itu. (QS al-Haqqah [69]: 44-47).

Ayat di atas juga merupakan peringatan keras dari Allah terhadap siapa saja mempermainkan dakwah dengan mengada-adakan sesuatu atas nama Allah—padahal Allah sendiri tidak menyatakannya—serta memasukkan ke dalam dakwah berbagai pemikiran dan hukum-hukum yang tidak bersumber dari-Nya. Siapa saja yang melakukan tindakan demikian, pasti Allah akan menghinakannya dan mencabut nyawanya tanpa ada seorang pun yang dapat menolongnya.

Dua ayat di atas jelas ditujukan juga kepada para pengemban dakwah. Siapa saja di antara para pengemban dakwah yang tunduk pada kemauan musuh-musuh Islam dan musuh-musuh dakwah, ia pada dasarnya sama saja dengan menyetujui permusuhan mereka, menafikan kewajiban untuk mengecam berbagai pemikiran dan hukum-hukum kufur mereka dengan cara menjelaskan kekeliruan dan kontradiksinya dengan Islam; berdiam diri dari upaya untuk menyingkapkan berbagai makar jahat mereka atas Islam dan kaum Muslim; menampakkan kerelaan dan penerimaan atas perlakuan mereka; serta mengakui dan membenarkan kezaliman mereka. Tindakan demikian jelas layak mendapatkan imbalan berupa azab Allah yang berlipat ganda di dunia dan akhirat bagi pelakunya. Na‘ûdzu billâh.

Seorang pengemban dakwah pasti akan menghadapi ujian semacam ini. Ia akan mendengar sedikitnya dua perkara dari musuh-musuh Islam dan musuh-musuh dakwah. Pertama, peraguan dan penyesatan atas berbagai pemikiran hukum-hukum Islam secara batil dan penuh kedustaan. Kedua, pengagungan berbagai pemikiran dan hukum-hukum mereka (musuh-musuh Islam)—meskipun telah jelas kekeliruan dan kerusakannya—yang dibungkus dengan baju Islam, kebenaran, dan kebaikan. Semua itu mereka lakukan agar para pengemban dakwah berhenti mengemban dakwah dan berpaling dari Islam. Karena itu, setiap pengemban dakwah harus senantiasa waspada dan hati-hati.

Sementara itu, secara fisik, berbagai macam penyiksaan, ancaman terhadap jiwa, tekanan psikologis, dan penghinaan mereka terhadap para pengemban dakwah sesungguhnya jauh lebih ringan dibandingkan dengan siksaan Allah di dunia dan akhirat bagi siapa saja yang terpalingkan dari dakwahnya, tidak berpegang teguh pada mabda’ (ideologi) Islam yang dipeluknya, serta tidak menjaga kemurnian dan kesucian berbagai pemikiran dan hukum-hukum Islam yang ada pada dirinya; baik dengan mengurangi atau menambah-nambahnya, walaupun sedikit.

Sebagaimana orang-orang kafir Makkah senantiasa berusaha memalingkan Rasulullah saw. dari dakwah yang diembannya, mereka juga selalu berupaya mamalingkan beliau dari aktivitasnya mengemban dakwah. Mereka secara bersungguh-sungguh melakukan hal itu. Mereka menawarkan kekuasaan, harta, wanita—yang merupakan senjata musuh-musuh Allah di mana pun dan kapan pun—kepada Rasulullah saw. agar beliau meninggalkan dakwahnya dan berhenti mengecam mereka yang menyembah tuhan-tuhan mereka dan memusuhi agama/keyakinan mereka. Akan tetapi, Rasulullah saw. tidak mengubrisnya sama sekali, bahkan tetap bepegang teguh pada mabda’ dalam dakwah maupun tablîgh-nya.

Muhammad bin Ka‘ab al-Qurzhi, sebagaimana diriwayatkan Ibn Hisyam, bertutur sebagai berikut:

Suatu ketika, datang ‘Utbah menghadap kepada Rasulullah saw. Ia berkata, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau adalah bagian dari keluarga kami. Engkau telah mengetahui pengaruh dalam keluarga dan kedudukan dalam nasab. Sesungguhnya engkau telah mendatangi kaummu dengan membawa urusan yang besar; yang dengan itu engkau memecah-belah jamaah mereka, merendahkan kemurahan mereka, mengecam tuhan-tuhan dan agama-agama mereka, serta mengkafirkan nenek moyang mereka. Karena itu, dengarkanlah kata-kataku. Aku akan mengemukakan sejumlah perkara kepadamu. Mudah-mudahan, sebagiannya bisa engkau terima.”

Rasulullah saw. menjawab, “Katakanlah, wahai Abu al-Walid, aku akan mendengarkannya.”

‘Utbah berkata lagi, “Wahai anak saudaraku, jika kedatanganmu dengan membawa urusan (dakwah) ini hanya karena engkau menginginkan harta, kami pasti akan mengumpulkan harta-harta kami untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami; jika dengan dakwahmu itu engkau menghendaki kehormatan, kami pasti akan selalu memperhatikanmu hingga tidak ada satu persoalan pun yang kami pustuskan kecuali kami pasti mengikutsertakanmu di dalamnya; dan jika dengan dakwahmu itu engkau menghendaki kekuasaan, kami pasti akan mengangkatmu menjadi penguasa kami…..”

Setelah ‘Utbah berbusa-busa dengan kata-katanya itu, Rasulullah saw. kemudian bertanya kepadanya, “Sudah selesaikah engkau berkata-kata, wahai Abu al-Walid?”

‘Utbah menjawab, “Sudah.”

Rasulullah saw. lalu berkata, “Kini, dengarkanlah kata-kataku.”

“Lakukanlah,” kata ‘Utbah.

Rasulullah saw. kemudian membaca ayat berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ(2)كِتَابٌ فُصِّلَتْ ءَايَاتُهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(3)بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ(4)وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ

Dengan mana Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan. Akan tetapi, kebanyakan mereka berpaling darinya sehingga mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu serukan kepada kami, di telinga kami ada sumbatan, serta antara kami dan kamu ada dinding. Karena itu, bekerjalah kamu, sesungguhnya kami pun bekerja.” (QS Fushshilat [41]: 2-5).

Rasulullah saw. terus membacakan ayat itu di hadapannya. Ketika ‘Utbah mendengarnya, ia menyimaknya sambil menyilangkan kedua tangannya di balik punggungnya. Rasulullah saw. kemudian berhenti membaca hingga pada ayat sajdah yang terdapat pada surat Fushshilat tersebut. Beliau lalu bersujud. Setelah itu, beliau bersabda, “Abu al-Walid, aku telah mendengar kata-katamu itu, dan engkaupun telah mendengar ayat-ayat yang kubacakan itu.”

Di dalam Sîrah, juga ada riwayat terkenal yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

وَاللهِ لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فِيْ يَمِيْنِيْ وَاْلقَمَرَ فِيْ يَسَارِيْ عَلَى أَنْ اَتْرُكَ هَذَا اْلأَمْرَحَتَّى يَظْهَرَهُ اللهُ أَوْ اَهْلَكَ فِيْهِ مَاتَرَكْتُهُ

Demi Allah, seandainya mereka sanggup meletakkan matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku agar aku mau meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan dakwah ini atau aku hancur karenanya. (Al Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah dan Ibn Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah).

Sesungguhnya keteguhan dan kekonsistenan dalam dakwah, yakni dalam seluruh pemikiran dan hukum-hukum syariat yang diemban dan didakwahkan kepada msyarakat, adalah kewajiban yang sangat besar yang mesti ditegakkan dengan sekuat tenaga. Seorang Muslim, apalagi pengemban dakwah, secara mutlak haram mengemban satu pemikiran atau satu hukum pun yang berasal dari luar Islam. Mereka harus senantiasa bersikap waspada dan hati-hati terhadap setiap pemikiran dan hukum batil dan merusak yang dilontarkan oleh musuh-musuh dakwah dan musuh-musuh Islam. Sayangnya, pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum di luar Islam itu justru sering dilontarkan dan didakwahkan oleh para ulama, ahli fikih, dan orang-orang yang berada dalam pengaruh para penguasa; atau oleh mereka yang mengadopsi dan mempelajari pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam dengan menggunakan metode yang dibuat oleh orang-orang kafir dan antek-anteknya untuk menyimpangkan Islam dari pemahaman yang sahih sekaligus memalingkan kaum Muslim dari agamanya yang benar. Padahal, sesungguhnya pertolongan Allah akan datang bersamaan dengan keteguhan di atas kebenaran walaupun berat dan sulit. Lagi pula, kebenaran jelas lebih layak diikuti, terutama oleh kita yang hidup pada era informasi yang sangat mendominasi akal-akal manusia, yang tidak jarang menghadirkan berbagai pemikiran dan hukum-hukum yang batil dan rusak yang telah dibungkus dengan baju kebenaran dan kebaikan.

Rasulullah saw. dan para sahabat adalah contoh terbaik dalam hal keteguhan dan konsitensi mereka dalam dakwah. Di samping Rasulullah saw. yang tidak perlu lagi dijelaskan bagaimana penderitaan yang dialaminya akibat mengemban dakwah, kita juga mengetahui dengan baik bagaimana, misalnya, siksaan yang sangat sadis yang dialami oleh Bilal dan keluarga Yasir, tetapi mereka toh tetap sabar dan teguh. Karena itu, sebagai generasi pengganti para sahabat pada masa sekarang ini, setiap pengemban dakwah harus senantiasa menghidupkan ingatannya pada sejarah mereka dan apa yang mereka alami. Dengan begitu, setiap pengemban dakwah dapat selalu meneladani mereka dalam hal keteguhan dan konsistensi mereka di atas kebenaran sampai mereka mendapatkan pertolongan Allah Swt. [Terjemahan dari tulisan Syaikh Mahmud ‘Abdul Lathif ‘Uwaydhah]

Iklan

Posted on 20 Mei 2010, in Dakwah, Tarikh. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Assalaamu’alaykum.,ustadz/

    sya mau tanya., tp tdk sesuai topik(tdk apa2 kn?)
    tentang da’wah HT..

    ada suatu blog yg membicarakan kesesatan HT. katanya gini:

    “HT mendefinisikan Al Iman dengan ucapan mereka: “Al Iman adalah pembenaran yang pasti yang selaras dengan realita berdasarkan dalil, dan pembenaran tidak menjadi pasti kecuali bila tsabit dari dalil yang qath’iy, oleh sebab itu dalil aqidah haruslah qath’iy dan tidak boleh dhanniy.” Selesai kitab mereka Hizbut Tahrir hal 44.

    Ucapan mereka: dalil aqidah haruslah qath’iy…” dengan hal itu mereka mengeluarkan hadits-hadits ahad yang shahih lagi tsabit dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai dalil dalam aqidah, sedangkan ini menyelisihi madzhab ahlul haq, madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang telah mendefinisikan Al Iman: bahwa ia adalah keyakinan, ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang… dan mereka tidak membedakan antara hadits ahad yang shahih dengan hadits mutawatir dalam hal aqidah dan yang lainnya. Sedangkan jabaran ini adalah di tempat lain.”

    intinya, HT mengatakan: Bahwa iman itu adalah pembenaran yang pasti saja, siapa yang mendatangkan pembenaran yang pasti maka dia itu muslim mu’min dan tergolong calon ahli surga. Dan mereka dalam hal itu mengikuti madzhab orang sesat lagi terlaknat Jahm Ibnu Shafwan dalam hal iman. Jadi HT itu adalah kaum jahmiyyah dalam hal al iman.”

    selengkapnya bisa dilihat pada link ini: http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/06/tiada-khilafah-tanpa-tauhid-dan-jihad/

    _sya sgt bingung sekali dengan artikel itu dan sya tdk setuju jika mereka mengkafirkan muslim yg lain.

    sya meminta tolong agar anda dapat menjelaskan ‘argumen anda bahwa HT bukan termasuk kaum jahmiyah’., agar pemikiran sya tercerahkan&jika suatu saat ada teman2 sya menanyakan hal serupa, sya dpt menjawabnya..

    *tolong dijelaskan ya, ustadz.. sya benar2 bingung..
    Jazakallohu khairan katsira/

    Suka

    • Wa ‘alaikumussalam wr. wb.
      Tentang hubungan iman dan amal insya Allah nanti ana tulis, namun sebetulnya tidak perlu bingung, imam Abu Hanifah juga mengeluarkan ‘amal dari definisi ‘iman/aqidah sehingga ada yg menuduhnya sebagai murji’ah, namun sebenarnya apa yg dituduhkan penuduh tidak tepat, karena iman yg dibahas dalam ushuluddin adalah perkara yg bila menyelisihinya layak disebut kafir, sedang yang penuduh maksud iman yg bagi yg menyelisihinya tidak mesti disebut kafir. Oleh sebab itu di syarh aqidah thahawiyyah dikatakan bahwa perbedaan itu hanya perpedaan ungkapan pendefinisian, namun makna yg dimaksud sebenarnya tidak beda.

      bagi yg memasukkan amal sebagai bagian aqidah kan juga tidak mengkafirkan orang yang berbuat dosa, walaupun dosa besar, artinya ‘amal tidak mengeluarkan dari keimanan mereka.

      Mungkin ini bisa dibaca:
      https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/04/30/perbedaan-antara-aqidah-dan-hukum-syara/

      https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/04/30/kedudukan-khabar-ahad-dalam-masalah-aqidah/

      https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/05/03/khabar-ahad-dalam-pandangan-ulama-ushul/

      Suka

      • Syukron atas jawabannya. Insya’ Alloh saya akan baca artikel2 dari link yg ustadz sarankan(u/ dibaca)

        Satu hal lagi, Sebenarnya yg saya bingungkan juga pada halaman web ini(http://millahibrahim.wordpress.com/2010/01/06/tiada-khilafah-tanpa-tauhid-dan-jihad/)disebutkan kesesatan HT ygmana pada referensinya disebutkan kitab2 yg mengajarkan kesesatan tsb. Seperti:

        kitab Manhaj Hizbit Tahrir Fit Taghyir hal 25(pada referensi no.13), Kitab Hizbut Tahrir hal 44 tentang Iman (pada referensi no.14), Kitab Hizbut Tahrir” hal: 26 tentang Aqidah Islam adalah aqidah ‘aqliyyah, dan ia adalah aqidah siyasiyyah (politik), kitab Hizbit Tahrir hal: 53 tentang HT mengedepankan dalil aqliy terhadap dalil naqliy dalam penetapan aqaid dan tauhid(pada referensi no.37), dll.

        Saya tidak pernah mendengar nama-nama kitab ini. kalaupun kitab tsb keluaran HT, tp mereka tidak menyebutkan judul kitabnya (Mudah-mudahan referensi itu merupakan bukti nyata dan bukan fitnah yg dikembangkan oleh mereka yg memusuhi hizb),
        Anehnya lagi: pada referensi no.14(pada Kitab Hizbut Tahrir hal 44 tentang Iman), yg saya tau “Hanya satu kitab HT yg menjelaskan tentang Iman pada kitab pertama ‘nidzam al-Islam’ dan pada bab pertama tentang ‘Thoriq al-iman’ dari hal.1-18.

        yang sya tau kitab2 keluaran HT(umum) ini aja:
        Nidzam al-Isam, Mafâhîm Hizb at-Tahrîr , at-Takattul al-Hizbiy, Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, Nuqthah al-Inthilâq li Hib at-Tahrîr, ad-Dawlah al-Islâmiyah, Nizhâm al-Iqtishâdiy fî al-Islâm, Nizhâm al-Ijtimâ’iy fî al-Islâm, Mafâhîm Siyâsiyah li Hizb at-Tahrîr , asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah, ajhizatu Ad Daulatu Al Islamiyyah, dll

        *nah pertanyaannya: apakah ada kitab keluaran HT yang menjelaskan secara terperinci tentang Iman pada hal.44?

        Suka

  2. @ intan N.a: gak perlu bingung, cek aja di kitab2 yg mereka tuduh apa ada kesimpulan seperti mereka, kebanyakan orang kan menghukumi orang lain menurut persepsi mereka sendiri tanpa memperhatikan apakah yg mereka katakan/persepsikan bagi yg dtuduh memang fakta atau hanya persepsi mereka saja. Insya Allah org-orang yg cerdas tidak akan mudah terprofokasi, justru akan mengecek sendiri.

    Hidup ini terlalu singkat kalau untuk menanggapi hal-hal yang bisa melencengkan dari gerak dakwah ini, mereka yg menuduh lah nanti yg akan dimintai tanggung jawab, penjelasan ttg hal itu sudah cukup banyak kalau mereka mau membaca kitab2 yg lainnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s