Beberapa Pemahaman Seputar Perubahan Yang Mesti Diubah (Bagian Pertama)

Oleh : M. Taufik N.T

Salah satu kepentingan terbesar Islam adalah bagaimana mengubah masyarakat sesuai dengan visi dan cita-citanya. Tidak hanya Islam, bahkan semua ideologi menghadapi suatu pertanyaan pokok, yakni bagaimana mengubah masyarakat dari kondisi yang ada sekarang menuju keadaan yang lebih dekat dengan tatanan idealnya.

Dalam kerangka ini, maka teori perubahan sosial apa pun pasti akan berhadapan dengan tiga pertanyaan pokok. Pertama, bagaimana teori itu memposisikan masyarakat yang ada sekarang; Kedua, bagaimana gambaran tatanan masyarakat ideal yang dicita-citakan; dan Ketiga, bagaimana cara melakukan perubahan masyarakat menuju masyarakat yang dicita-dicitakan. Tulisan ini hanya akan membahas beberapa pemahaman yang mesti diubah dahulu sebelum melakukan perubahan.

Diantara pemahaman yang kabur dan menjauhkan umat dari perubahan kearah masyarakat yang Islamy itu adalah:

1. Kita tidak perlu mendakwahkan syari’ah dan khilafah, karena tegaknya khilafah merupakan janji Allah yang pasti terwujud, kita tinggal menunggu Imam Mahdi saja yang akan menegakkannya.

2. Yang penting kita memperhatikan diri kita dan keluarga saja, tidak perlu dakwah, apalagi dakwah terorganisir dalam organisasi dakwah. Mereka mendasarkan pada firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.(QS. Al Ma’idah : 105)

3. Pemahaman yang keliru tentang hadits:

لا ينبغي للمؤمن أن يذل نفسه قالوا : يا رسول الله و كيف يذل نفسه قال يتعرض من البلاء لما لا يطيق

"Tidaklah patut seorang mukmin itu menghinakan dirinya". Para shahabat bertanya: ‘Bagaimana dia menghinakan dirinya?’ Rasulullah saw menjawab: "Dia menentang/menghadapi ujian yang ia tidak mampu menghadapinya" melibatkan diri pada permasalahan yang ia tidak mampu menghadapinya).(HR. Ibnu Majah, At Tirmidzi, Ath Thabraniy, Al Baihaqi dari Hudzaifah, at Tirmidzi menghasankannya)

Sehingga mereka menganggap tidak perlu melakukan aktivitas dakwah yang penuh dengan kesulitan dan mereka pandang berbahaya.

4. Buruknya pemahaman tentang hadits dari Hudzaifah bin Al Yaman:

قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تَعَضَّ بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك

Aku kembali berkata; "Jika saat itu tidak ada jama’atul muslimin dan juga tidak ada pemimpin (Islam)?". Beliau menjawab: "Kamu tinggalkan seluruh firqah (kelompok/golongan) sekalipun kamu harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dan kamu tetap berada dalam keadaan itu (berpegang kepada kebenaran) ". (HR Bukhoriy, no 3338)

Sehingga mereka memahami saat tidak adanya khilafah, maka tidak wajib untuk menegakkan khilafah, namun henddaklah ber ‘uzlah (mengasingkan diri).

5. Buruknya pemahaman tentang hadits

اصْبِرُوا ، فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِى عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِى بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ ، حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ

Bersabarlah kalian semuanya, karena sesungguhnya tidak berlalu suatu zaman atas kalian kecuali zaman setelahnya lebih buruk dari zaman sebelumnya hingga kalian menjumpai Rabb kalian. (HR. Bukhory)

Sehingga mereka berkesimpulan tidak ada gunanya melakukan upaya perbaikan, bahkan berputus asa, kemudian diam dari aktivitas melakukan perubahan.

6. Perubahan harus dilakukan secara bertahap.

7. Perubahan harus dimulai dari mengubah negeri-negeri muslim, kemudian semuanya bergabung membentuk Khilafah Islamiyyah.

8. Perubahan harus dimulai dari perubahan individu, keluarga, kalau sudah baik baru masyarakat.

Tulisan ini berusaha mengungkap kesamaran dan menjelaskan kekeliruan pemahaman tersebut untuk kemurnian ajaran Islam, serta keselamatan dan masa depan umat.

1. Upaya & Perubahan

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra’du [13]:11).

Dalam tafsir Jalalain dijelaskan bahwa frasa “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum,” bermakna tidak mencabut kenikmatan dari mereka; sedangkan frasa, “sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” bermakna dari keadaan baik menjadi keadaan maksiat.

Dalam tafsir Ats-Tsa‘labi: Ayat ini merupakan kabar dari Allah Swt. bahwa jika Dia telah memberikan kenikmatan kepada suatu kaum, maka dengan kelembutan dan kasih sayang-Nya Dia tidak akan mengubahnya hingga datang dari mereka pihak yang mengubah keadaan mereka yang baik tersebut.

Imam Ibnu Katsir mengutip hadis qudsi dari Ali bin Abi Thalib k.w:

قال الرب: وعزتي وجلالي، وارتفاعي فوق عرشي، ما من أهل قرية ولا أهل بيت كانوا على ما كرهتُ من معصيتي، ثم تحولوا عنها إلى ما أحببت من طاعتي، إلا تحولت لهم عما يكرهون من عذابي إلى ما يحبون من رحمتي

Allah berfirman: Demi kemuliaan-Ku, kebesaran-Ku dan ketinggian-Ku di atas ‘Arsy, tidaklah suatu negeri dan penghuninya berada dalam kemaksiatan kepada-Ku yang Aku benci, kemudian mereka berupaya mengubah keadaan tersebut menjadi ketaatan kepada-Ku yang Aku cinta, melainkan Aku akan mengubah bagi mereka siksa-Ku yang mereka benci menjadi rahmaht-Ku yang mereka sukai.” (didalam sanadnya ada yang tidak dikenal, bisa juga dilihat di Kanzul ‘Ummal Juz 16 hal 137, Al Ibanah Al Kubro, Juz 6 Hal 163, Jâmi’ul Ahâdits Juz 30 hal 323, Ibnu Abi Syaibah, dalam Al ‘Arsy, )

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa kalau ingin berubah maka hendaklah mereka sendiri yang melakukan upaya perubahan itu, dengan upaya itulah Allah akan menolong mereka untuk berubah. Di samping itu, apa yang harus diubah pun dijelaskan dalam ayat ini, yakni segala sesuatu yang terkait dengan apa yang ingin diwujudkan itulah yang harus diubah.

Mafâhim: Dasar Perubahan

Pemahaman terhadap ayat tersebut akan utuh jika dipahami secara tepat makna kata bi dalam frasa bi qawmin dan bi anfusihim, makna qawmun, dan makna .

Kata Bi merupakan kata yang menunjukan ‘pertemanan’ (mushâhabah). Dalam ayat ini seakan-akan Allah Swt. mempertemankan antara perubahan yang terjadi dalam suatu kaum dengan perubahan segala sesuatu yang terkait dengan apa yang ingin diwujudkan dalam dirinya.

Kata qawm dapat mengandung dua makna, yaitu individu (al-fard) dan kelompok masyarakat (al-jamâ‘ah/al-mujtama). Sementara itu, ‘mâ’ merupakan kata ‘âm (kata umum), yang artinya segala sesuatu, baik maupun buruk.

Oleh karena itu ayat ini menjelaskan dua hal menyangkut perubahan: (1) perubahan harus dilakukan oleh kaum itu sendiri; (2) yang harus diubah itu adalah apa-apa yang ada dalam diri kaum tersebut. Apa-apa yang ada dalam diri kaum inilah yang menentukan perubahan.

Realitas menunjukkan bahwa yang dapat mengubah keadaan masyarakat adalah pemikiran dan perbuatan. Jika yang hendak diubah adalah kedua hal tersebut maka dasar yang harus pertama kali diubah adalah pemahaman (mafâhim), karena pemahamanlah yang mengarahkan dan mempengaruhi pemikiran masyarakat, serta akan membuat prilaku masyarakat juga berubah.

Sebagai contoh, sistem yang kini kita huni saat ini adalah sistem bukan Islam, sebab, hukum-hukum qath‘î tsubût dan qath‘î dilâlah seperti hukum tentang zina, riba, shalat, zakat, shaum, dan jihad tidak diterapkan oleh negara; kalaupun diterapkan sebatas individual, bukan sistemik. Kalau kaum Muslim ingin mengubah sistem ini menjadi sistem Islam maka haruslah mereka mempelajari apa-apa yang meniscayakan terjadinya perubahan sistem dan perubahan masyarakat tersebut. Ia harus mempelajari realitas sistem sekarang, fakta masyarakat, dan unsur-unsur pembentuk masyarakat yang menentukan corak dari masyarakat tersebut, serta juga harus memahami bagaimana seharusnya sistem Islam mengatur semua ini, harus difahami juga bagaimana Islam mengatur ekonomi, sosial, pemerintahan, hukum dll, tanpa ini dilakukan berarti upaya perubahan yang dilakukan hanyalah main-main, tidak serius dan hanya berangan-angan.

Rasulullah SAW & Upaya Perubahan

Rasulullah SAW adalah contoh nyata dalam aktivitas perubahan, beliau adalah orang yang paling faham tentang apa yang dijanjikan Allah SWT berikut:

وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa… (An-Nûr:55-56).

Namun beliau tidaklah berpangku tangan, beliau tidak mencukupkan diri hanya dengan berdo’a, shalat dan aktivitas ketaatan pribadi saja, beliau juga tidak mencukupkan diri dengan hanya membina aqidah umat saja, namun beliau mempersiapkan segala hal, baik ruhiyyah maupun mâdiyah (fisik) untuk menjemput janji Allah itu. Rasulullah saw. telah menyiapkan pasukan untuk perang Badar. Beliau mengatur pasukan masing-masing di tempatnya. Beliau juga telah menyiapkan mereka dengan persiapan yang baik. Kemudian setelah itu beliau masuk ke bangsalnya seraya meminta pertolongan kepada Allah. Beliau pada saat itu banyak sekali berdoa, hingga Abû Bakar berkata, “Wahai Rasulullah!, sebagian dari doamu ini telah cukup.”

Beliau juga yaqin bahwa tidak ada manusia yang akan mampu membunuhnya karena Allah berfirman:

وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (QS. Al Ma’idah : 67)

Namun ketika Rasulullah saw. diperintahkan untuk hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau telah melakukan sebab-sebab yang mungkin dilakukan, yang bisa mengantarkan pada keselamatan. Pada saat yang sama, beliau juga berdoa kepada Allah untuk kekalahan kafir Quraisy, agar Allah memalingkan mereka dari beliau dan menyelamatkannya dari makar mereka, serta menyampaikannya ke Madinah dengan selamat.

Pada saat itu Rasulullah saw. memilih untuk menuju ke arah selatan dari pada ke arah utara menuju Madinah. Kemudian beliau bersembunyi di gua Tsur bersama Abû Bakar ra. Di gua Tsur itu beliau senantisa menerima berita dari Abdurrahman bin Abû Bakar tentang kaum Quraisy, rencana-rencana mereka, dan apa-apa yang mereka pikirkan untuk mencelakai beliau saw. Kemudian ketika Abdurrahman bin Abû Bakar kembali ke Makkah, ia diperintahkan untuk berjalan sambil menuntun kambing di belakangnya. Tujuannya agar bekas kaki kambing tersebut menghapus bekas kaki Abdurrahman bin Abû Bakar, untuk mengecoh kafir Quraisy. Rasulullah saw. tinggal di gua Tsur selama tiga hari sampai upaya pencarian beliau tidak dilakukan lagi dengan gencar. Setelah itu beliau meneruskan perjalanan ke Madinah. Rasul saw. melakukan semua itu, meskipun yakin bahwa beliau akan sampai ke Madinah dengan selamat.

Ketika Rasulullah saw. dan Abû Bakar hampir disusul oleh Surokoh dalam perjalanan hijrahnya; Surokoh ingin menangkap Rasulullah saw. karena tergiur oleh bayaran yang disediakan oleh kaum Quraisy. Beliau berkata kepada Surokoh agar pulang dan baginya (nanti akan dikasih) gelang kisra. Begitulah Rasul saw. telah sempurna beramal dengan menjalani kaidah kausalitas (sebab – akibat), bukan hanya pasrah atau berusaha namun asal-asalan.

Imam Mahdi Bukanlah Orang yang Akan Menegakkan Khilafah

Sebagian orang berpangku tangan dari aktivitas menegakkah khilafah dengan alasan bahwa Imam Mahdi-lah nanti yang akan menegakkannya, kita tinggal menunggu saja. Padahal dari hadits, justru Imam Mahdi adalah khalifah pengganti setelah khalifah sebelumnya wafat. Imam as Syaukani menyatakan bahwa terdapat lima puluh hadits yang terdiri atas hadits shahih, hasan, dan dha’if yang berbicara tentang al Mahdi, salah satunya dari Tsauban r.a :

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ فَقَالَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

…"Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka memerangi kamu dengan suatu peperangan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu. " Kemudian beliau Saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal , lalu beliau SAW bersabda: "Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi" [Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Khurujil Mahdi 2: 1467; Mustadrak Al-Hakim 4: 463-464. Dan dia berkata, "Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain." Perkataan Hakim ini juga disetujui oleh adz-Dzahabi].

2. Perbaikan Diri, Keluarga & Masyarakat Hendaklah Berjalan Bersama

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.(QS. Al Ma’idah : 105)

Sebagian orang memahami ayat ini bahwa tidak perlu ‘amar ma’ruf nahi munkar, padahal yang dimaksud ayat ini hendaklah kita memperbaiki diri kita dan melakukan kebaikan (termasuk ‘amar ma’ruf nahi – munkar) dengan segenap kekuatan kita, kalau ini kita lakukan maka orang – orang sesat tidak akan memberi mudlorot pada kita. Imam Ibnu Katsir menyatakan:

وليس في الآية مسْتَدلٌّ على ترك الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر

Didalam ayat tersebut tidak bisa diambil dalil untuk meninggalkan ‘amar ma’ruf nahi munkar.

Ayat ini juga pernah disalahpahami oleh generasi tabi’in, di mana mereka memahami bahwa amar ma’ruf nahi mungkar tidak perlu dilakukan sama sekali. Pemahaman ini telah diluruskan oleh Abu Bakar, Abu Tsa’labah al-Khusyani dan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhum.

قال أبو بكر فحمد الله وأثنى عليه . ثم قال يا أيها الناس إنكم تقرأون هذه الآية ( 5 / 105 ) يا أيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم . وإنا سمعنا رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ( إن الناس إذا رأوا المنكر لا يغيرونه أوشك أن يعمهم الله بعقابه

Telah berkata Abu Bakar, maka dia mengucapkan hamdalah dan memuji Allah, kemudian dia berkata: wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini (5: 105)

يا أيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم

Dan aku mendengar Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran, lalu mereka tidak mengubahnya, hampir – hampir Allah meratakan siksa-Nya kepada mereka semuanya.

(HR. Ibnu Majah dari Qais bin Abi Hâzim(2/1327), dengan sanad shahih, juga diriwayatkan dari jalur yang berbeda oleh at Tirmidzi (4/467), Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (3/70), Musnad Imam Ahmad, Al Baihaqi, Al Bazzar, Al Hakim)

Memang orang yang ber’amar ma’ruf nahi munkar hendaklah menjadi contoh dan teladan dari apa yang dia ucapkan, dia wajib memahami dan mengamalkan apa yang dia sampaikan, namun hal ini tidak bisa menjadi alasan bahwa untuk ber’amar ma’ruf nahi munkar haruslah kita menunggu diri kita sempurna dulu. Sa’id bin Jubair berkata: “Seandainya semua orang menunggu dirinya sempurna dulu baru ber amar ma’ruf nahi munkar, niscaya di dunia ini tidak ada orang yang ber’amar ma’ruf nahi munkar”.

Kehidupan Rasulullah saw. dan para shahabat menjadi saksi akan kewajiban ini. Rasulullah saw. tidak menunggu pamannya beriman baru beliau berdakwah ke orang lain. Mush’ab bin ‘Umair r.a senantiasa mengajak ibunya untuk beriman, namun beliau tidak menunggu ibunya beriman baru berdakwah ke Madinah, begitu juga Abu Bakar As Shiddiq r.a beliau berdakwah di masyarakat padahal bapaknya masih musyrik, Nabi Nuh a.s juga mengajak kaumnya padahal anaknya sendiri tidak beriman, begitu juga nabi Luth a.s mendakwahi kaumnya padahal istrinya termasuk penentang dakwahnya.

Oleh karena itu, perbaikan diri dan keluarga memang hal pertama yang harus dilakukan, namun bukan berarti ketika kita ‘gagal’ memperbaiki mereka berarti kita terbebas dari kewajiban ini. Allahu Ta’ala A’lam. (bersambung, insya Allah)

Baca Juga:

Download:

versi word  yang ini versi pdf

Iklan

Posted on 20 Mei 2010, in Dakwah, Makalah, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s