Kerusakan & Cara Memperbaikinya

 

Oleh : M.Taufik NT

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِي ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS al-Rum [30]: 41).

Tafsir Ayat

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ = Telah nampak (fasad) kerusakan

Fasâd adalah kemarau panjang, lenyapnya berkah, minimnya hasil panen dalam pertanian, sedikitnya keuntungan dalam perdagangan, banyaknya kematian pada manusia dan hewan, banyaknya peristiwa kebakaran dan tenggelam, kegagalan para nelayan dan penyelam, sedikitnya manfaat, dan banyaknya mudharat (Tafsir Rûhul Ma’âniy, Al Alusi, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalain).

Bentuk ma’rifah ٱلْفَسَادُ menunjukkan arti umum, sehingga bermakna : segala kerusakan

فِي ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ = di daratan dan di lautan

Bentuk ma’rifah pada kata ٱلْبَرِّ dan kata ٱلْبَحْرِ juga memberikan makna umum, yang berarti semua daratan dan semua lautan.

= ِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي ٱلنَّاسِ disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia.

Ali Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafâsir menulis:

أي ظهرت البلايا والنكبات ، في بر الأرض ويحرها ، بسبب معاص الناس وذنوبهم

Yakni telah nampak bala’ dan musibah, bencana, malapetaka di daratan dan lautan disebabkan oleh ma’siat manusia dan dosa-dosa mereka.

Demikian juga penjelasan para mufassir, seperti al-Zamaksyari, Ibnu Katsir, al-Alusi, Ibnu Athiyah, al-Nasafi, Abu Hayyan al-Andalusi, al-Samarqandi, dll.

Kenyataan ini juga ditegaskan dalam ayat lain:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS al-Syura [42]: 30).

Dalam bentuk yang spesifik, Nabi saw juga menjelaskan, maraknya zina dan riba bisa menjadi penyebab kehancuran masyarakat. Rasulullah saw bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا والرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

Apabila zina dan riba telah nampak di suatu kampung, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan diri mereka dari azab Allah (HR al-Thabarani dan al-Hakim).

وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيروا مما أنزل الله إلا جعل الله بأسهم بينهم

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan malapetaka di antara mereka." (HR. Ibnu Majah dan Al Baihaqi dengan sanad hasan)

لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ = supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

Terjadinya kerusakan akibat perbuatan maksiat supaya manusia bisa merasakan akibat buruk kemaksiatan itu.

Kata بَعْضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ menunjukkan, azab yang dirasakan saat ini, walau sebagaimanapun dahsyatnya, baru lah sebagian. Azab secara keseluruhan akan ditimpakan kepada pelakunya kelak di akhirat.

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ = agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

Kata yarji’ûna berarti bertaubat dengan cara meninggalkan kemaksiatan dan perbuatan dosa untuk kembali taat kepada segala ketentuan syariah-Nya.

Solusi satu-satunya agar kerusakan di muka bumi tidak berkelanjutan adalah kembali kepada syariah-Nya.

Karena pangkal penyebab terjadinya semua kerusakan di muka bumi adalah perbuatan maksiat dan dosa, maka untuk menghentikannya pun dengan cara berhenti dari maksiat, selanjutnya berjalan sesuai dengan tuntunan syariah-Nya.

Ibnu katsir mengutip Abu ‘Aliyah yang menyatakan:

مَنْ عصى الله في الأرض فقد أفسد في الأرض؛ لأن صلاح الأرض والسماء بالطاعة

Barangsiapa yang bermaksiyat kepada Allah di bumi maka sungguh ia telah merusak bumi, karena sesungguhnya kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan.

Oleh karena itu Rasulullah bersabda:

لَحَدٌّ يقام في الأرض أحبّ إلى أهلها من أن يمطروا أربعين صباحا

Sungguh ditegakkannya satu hukum Allah dimuka bumi itu lebih disukai penduduknya daripada mereka diberikan hujan (rahmat) selama empat puluh pagi (HR. Ahmad dan an Nasa’i, hasan lighairihi).

Bagaimana Kembali Kejalan Yg Benar?

1. Unsur pengetahuan dalam taubat

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ …

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu. (QS. Muhammad: 19)

Imam Ghazali dalam kitabnya "Ihya ulumuddin": "Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai. … Yang aku maksudkan dengan ilmu ini adalah keimanan dan keyakinan. Karena iman bermakna pembenaran bahwa dosa adalah racun yang menghancurkan.

2. Unsur Hati dan Keinginan

a. Menyesal dengan sangat

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (118)

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. at-Taubah: 118) (Yaitu Ka`ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, Mararah bin Rabi`)

b. Tekad yang kuat

Ibnu Qayyim membicarakan hal ini dalam kitabnya "Madarij Salikin" dan menyebut dua pendapat:

Satu pendapat mengharuskan agar orang itu tidak mengulangi kembali dosanya sama sekali. Dan berkata: ketika ia kembali melakukan dosa, maka jelaslah taubatnya yang dahulu itu batal dan tidak sah.

Sedangkan menurut pendapat kalangan mayoritas, hal itu tidak menjadi syarat. Kesahihan taubat hanya ditentukan oleh tindakannya meninggalkan dosa itu, dan bertaubat darinya, serta bertekad dengan kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Dan jika ia mengulanginya lagi padahal ia dahulu telah bertekad untuk tidak mengulang dosanya itu, maka saat itu ia seperti orang yang melakukan kemaksiatan dari permulaan sekali, sehingga taubatnya yang lalu tidak batal.

3. Sisi Praktis dalam Taubat

a. Meninggalkan Kemaksiatan Secepatnya

b. Istighfar

c. Mengubah Lingkungan dan Teman

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29)

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya (menyesali perbuatannya ) seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul." Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (QS. Al Furqaan 27 – 29)

d. Mengiringi Perbuatan Buruk dengan Perbuatan Baik

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Huud : 114)

e. Agar Taubat Ditujukan Kepada Allah SWT semata.

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (Al Maaidah : 31)

Menyesalnya Qabil bukan penyesalan karena membunuh, namun menyesal kenapa membawa jenazah saudaranya kemana-mana (Tafsir Jalalain). Allahu Ta’ala A’lam

Baca Juga:

Iklan

Posted on 15 Mei 2010, in Makalah, Tafsir and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s