Fitnah Jabatan

Oleh : M. Taufik NT

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Dari Abu Dzar dia berkata, saya berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikanku sebagai pegawai pejabat)?" Abu Dzar berkata, "Kemudian beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau seraya bersabda: "Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar." (HR. Muslim – no. 3404).

Siapa yang tidak kenal Abu Dzar al Ghifari, shahabat yang membela Islam disaat umat Islam masih tertindas, shahabat yang berani mengumumkan keislamannya didepan kafir Quraisy hingga mereka memukulinya sampai pingsan dan beliau tidak jera untuk mengulanginya, sahabat yang mengajak satu kampung masuk Islam, sahabat yang zuhud dan wara’, namun Rasulullah menilai Abu Dzar tidaklah punya kapabilitas sehingga mampu memegang jabatan.

Disisi lain hadits ini menunjukkan betapa beratnya amanah jabatan tersebut, dan diakhirat kelak akan menjadi penyesalan dan kehinaan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq (tanpa manipulasi suara, politik uang, menebar fitnah dan kecurangan lain) serta melaksanakan tugas dengan benar (benar sesuai aturan Islam) saat menjabat.

Oleh karena beratnya inilah banyak diantara kaum muslimin generasi dahulu yang menolak untuk memegang jabatan – padahal saat itu saat diterapkannya syari’at Islam.

Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy (seorang tabi’in, generasi setelah shahabat) telah diminta untuk menduduki jabatan Qadla (pengadilan) lebih dari sekali namun ia menolaknya dengan keras, dan lebih memilih dicambuk daripada menjadi hakim. Muhammad ibn al-Mundzir pejabat keamanan Bashroh telah mengundangnya, dan ia berkata, “Sesungguhnya penguasa Irak meminta dariku untuk memanggilmu agar menduduki jabatan Qadla.”

Ia menjawab, “Maafkan aku dari hal tersebut, semoga Allah memaafkanmu.” Ia (Muhammad ibn al-Mundzir) memintanya kembali untuk yang kedua dan ketiga kalinya, namun ia terus menolaknya. Ia berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh-sungguh kamu harus menduduki jabatan Qadla, atau aku akan mencambukmu sebanyak tiga ratus cambukan, dan sungguh-sungguh aku akan mempermalukanmu.” Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy menjawab: “Kalau engkau mau melakukannya, sesungguhnya engkau adalah orang yang bebas dan sesungguhnya diadzab di dunia lebih baik daripada diadzab di akhirat” . Ia (Muhammad ibn al-Mundzir) merasa malu (mendengar jawaban) darinya dan ia pun melepaskannya dan memperlakukannya dengan baik.

Begitu juga seorang tabi’in bernama al-Qasim bin Rabi’ah al-Haritsi dan Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzani. Ketika itu khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz memanggil gubernur Irak, ‘Adiy bin Artha‘ah, seraya berkata kepadanya, “Wahai ‘Adiy, pertemukanlah antara Iyas bin Muawiyah al-Muzanni dan al-Qasim bin Rabi’ah al-Haritsi. Berbicaralah kepada keduanya mengenai peradilan Bashrah dan pilihlah salah satu dari keduanya sebagai Qadli.” Adiy berkata, “Sam’an wa tha’atan, (mendengar dan patuh) terhadap titahmu, wahai Amirul mu’minin.”

Akhirnya, Adiy bin Artha‘ah mempertemukan antara Iyas dan al-Qasim seraya berkata, “Sesungguhnya Amirul mu’minin- mudah-mudahan Allah memanjangkan umurnya- menyuruhku supaya mengangkat salah satu dari anda berdua untuk menjadi Qadli di Bashrah, bagaimana pendapat kalian?” Maka masing-masing mereka berbicara tentang kawannya, bahwa dia lebih berhak daripada dirinya dengan jabatan ini dan menyinggung keutamaan, ilmu dan fiqihnya serta hal-hal lainnya. Adiy berkata, “Kalian berdua tidak boleh meningalkan majlisku ini kecuali bila telah kalian selesaikan urusan ini.” Lalu Iyas berkata kepadanya, “Wahai gubernur, ‘Tanyakanlah kepada dua orang ahli fiqih Irak; al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin tentang saya dan al-Qasim, karena keduanya adalah orang yang paling bisa membedakan antara kami berdua.”

Pada waktu sebelumnya, al-Qasim banyak mengunjungi kedua ahli fiqih tersebut, sedangkan Iyas tidak ada hubungan sama sekali dengan keduanya. Maka tahulah al-Qasim bahwa Iyas sebenarnya ingin melibatkan al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin agar bila sang Amir (gubernur) meminta pendapat kepada keduanya, maka keduanya akan menunjuk ke dirinya bukan orang yang bersamanya (Iyas). Maka, dia langsung menoleh ke arah gubernur seraya berkata, “Wahai Amir, jangan tanyakan lagi kepada siapa pun tentangku dan dia.! Demi Allah Yang tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, sesungguhnya Iyas adalah orang yang lebih faham tentang agama Allah dan lebih mengerti tentang peradilan daripadaku. Jika aku berdusta di dalam sumpahku ini, maka engkau tidak boleh menunjukku sebagi Qadli, karena sudah saya melakukan kebohongan. Dan jika aku berkata jujur, maka engkau juga tidak boleh menunjuk orang yang kurang keutamaannya padahal ada orang yang lebih utama darinya!.” Maka Iyas menoleh ke arah gubernur dan berkata kepadanya, “Wahai gubernur, sesungguhnya telah menghadirkan seseorang untuk engkau jadikan sebagai Qadli, namun engkau menghentikannya di pinggir neraka Jahannam, lalu dia berusaha menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsunya yang senantiasa dia mohonkan agar Allah mengampuninya dan dia dapat selamat dari apa yang dia takutkan.” Adiy berkata kepadanya, “Seungguhnya orang yang memiliki pemahaman sepertimu ini amat pantas untuk dijadikan Qadli.” Kemudian dia menunjuknya sebagai Qadli di Bashrah.

Fitnah terberat bagi seorang pejabat saat ini adalah wajibnya dia terikat dengan hukum syari’at baik secara pribadi maupun dalam mengatur apa yang ada dalam wewenang jabatannya, sementara sistem sekarang tidak memberikan jalan untuk itu. Hal terberat kedua kalau dia sebagai penguasa adalah tanggung jawab dia bukan hanya didunia saja (mengurusi kesejahteraan, keamanan rakyatnya pendidikan dan kesehatan mereka secara individu), namun juga tanggung jawab akan mereka di akhirat.

Bayangkan apa yang akan terjadi pada penguasa diakhirat kelak kalau ia membiarkan rakyatnya mabok, membiarkan rakyatnya melacur, berzina, membiarkan aqidah umat di obrak-abrik virus sepilis (sekularisme, pluralisme, liberalisme), membiarkan rakyatnya menjadi generasi yang mengabaikan shalat dan menghamba pada syahwat? lebih parah lagi kalau ia justru memfasilitasi rakyatnya untuk menyalurkan hasrat maksiatnya. Tugas pemimpin/pejabat dalam Islam bukan hanya untuk mengurusi urusan perut rakyat, namun juga membimbing dan membina keimanan dan akhlaq rakyat, dan inilah yang terberat saat ini, sanggupkah kita?

Baca Juga:

Posted on 8 Mei 2010, in Mutiara Hadits, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s