Cara Menasehati Penguasa

Oleh  : M. Taufik .N.T

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي شُرَيْحُ بْنُ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ جَلَدَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ صَاحِبَ دَارِيَا حِينَ فُتِحَتْ فَأَغْلَظَ لَهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ الْقَوْلَ حَتَّى غَضِبَ عِيَاضٌ ثُمَّ مَكَثَ لَيَالِيَ فَأَتَاهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ فَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ هِشَامٌ لِعِيَاضٍ أَلَمْ تَسْمَعْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا أَشَدَّهُمْ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا لِلنَّاسِ فَقَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ يَا هِشَامُ بْنَ حَكِيمٍ قَدْ سَمِعْنَا مَا سَمِعْتَ وَرَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ أَوَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughiroh telah menceritakan kepada kami Shafwan telah menceritakan kepadaku Syuraih bin ‘Ubaid Al Hadlromi dan yang lainnya berkata; ‘Iyadl bin Ghonm mencambuk orang Dariya ketika ditaklukkan[1]. Hisyam bin Hakim meninggikan suaranya kepadanya untuk menegur sehingga ‘Iyadl marah. (‘Iyadl Radliyallahu’anhu) tinggal (menetap) beberapa hari, lalu Hisyam bin Hakim mendatanginya, memberikan alasan. Hisyam berkata kepada ‘Iyadl: Tidakkah kau mendengar Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: " Orang yang paling keras siksaannya adalah orang-orang yang paling keras menyiksa manusia di dunia?." ‘Iyadl bin ghanim berkata; Wahai Hisyam bin Hakim, kami pernah mendengar apa yang kau dengar dan kami juga melihat apa yang kau lihat, namun tidakkah kau mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: "Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara, maka jangan dilakukan dengan terang-terangan, tapi gandenglah tangannya dan menyepilah berdua. Jika diterima memang begitu, jika tidak maka dia telah melaksakan kewajibannya”… (Diriwayatkan Imam Ahmad, hadits no. 14792)

Perowi Hadits:

image

1. Abdul Quddus bin Al Hajjaj

Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kalangan biasa

Kuniyah : Abu Al Mughirah

Negeri semasa hidup : Syam

Wafat : 212 H

Penilaian: Abu Hatim — Shaduuq, Al ‘Ajli — Tsiqah, Ad Daruquthni — Tsiqah, An Nasa’i — laisa bihi ba`s, Ibnu Hibban — disebutkan dalam ‘ats tsiqaat, Ibnu Hajar al ‘Asqalani — Tsiqah, Adz Dzahabi — Tsiqah. (Abu Hatim — Shaduuq: maksudnya Abu Hatim menilai perowi ini Shaduuq/untuk menghemat penulisan)

2. Shafwan bin ‘Amru bin Harim

Kalangan : Tabi’in kalangan biasa

Kuniyah : Abu ‘Amru

Negeri semasa hidup : Syam

Wafat : 155 H

Penilaian : Amru bin Ali –tsabat, An Nasa’i –Tsiqah, Abu Hatim – Tsiqah, Al ‘Ajli – Tsiqah, Ahmad bin Hambal — laisa bihi ba`s, Ibnu Hibban– disebutkan dalam ‘ats tsiqaat, Ibnu Sa’d –tsiqah ma`mun, Ibnu Hajar Al Atsqalani – Tsiqah, Adz Dzahabi — mereka mentsiqahkannya.

3. Hisyam bin Hakim bin Hizam : Kalangan Tabi’in

4. Syuraih bin ‘Ubaid bin Syuraih

Nama Lengkap : Syuraih bin ‘Ubaid bin Syuraih

Kalangan : Tabi’in kalangan pertengahan

Kuniyah : Abu Ash Shalti

Negeri semasa hidup : Syam

Penilaian: Al ‘Ajli –Tsiqah, An Nasa’i – Tsiqah, Ibnu Hibban — disebutkan dalam ‘ats tsiqaat, Ibnu Hajar Al Atsqalani — "tsiqah, memursalkan hadits", Adz Dzahabi — Shaduuq.

5. Iyadl bin Ghanam ( Shahabat)

Untuk melihat tingkat penggolongan taraf kepercayaan perowi, bisa di perhatikan bagan berikut:

image

Derajat Hadits:

Sebagian ahli hadits mendlo’ifkan hadits ini karena Syuraih bin ‘Ubaid bin Syuraih al Hadlromiy tidak mendengar hadits tersebut dari Hisyam bin Hakim bin Hizam, Syuraih juga tidak mendengarnya dari Iyadl bin Ghanam (jadi sanadnya terputus)**), namun menurut ta’liq Syu’aib al Arna’uth[2] hadits ini shahih lighairihi selain ucapan مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ dst ("Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa …) lafadz ini adalah hasan lighairihi[3] (karena diperkuat oleh riwayat Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 2/522 , Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shahabah 2/121).

Kandungan Hadits : Cara Menasehati Penguasa

Hadits ini jika difahami dan diamalkan dengan benar akan memberikan kebaikan yang luar biasa pada umat dan negara dan menjadikan negara stabilitasnya terjamin karena kepercayaan kepada pemimpin tidak akan ternoda. Disisi lain hadits ini juga bisa dijadikan senjata oleh bangsa penjajah dan kaki tangannya untuk membodohi umat agar penjajahan mereka ‘stabil’ dan kekuasaan mereka berjalan dengan aman, lancar dan terkendali untuk senantiasa melakukan berbagai kemaksiatan dan pengingkaran terhadap hukum-hukum Allah SWT.

Hadits ini menjelaskan salah satu adab dan uslub/cara menasehati penguasa, yakni hendaklah tidak mengungkap aibnya ditengah masyarakat (ada yang menyatakan inilah hukum asal menasehati penguasa, yakni diam-diam[4]), hal ini juga berlaku untuk menasehati individu, termasuk orang tua dalam mendidik anak-anaknya dan guru terhadap murid-muridnya.

وقال الشافعي: من وعظ أخاه سرا فقد نصحه وزانه ، ومن وعظه علانية فقد فضحه وخانه

Asy Syafi’i berkata : barang siapa menasehati saudaranya secara rahasia maka sungguh ia telah menasehati dan menghiasi saudaranya, dan barang siapa menasehatinya secara terang terangan (didepan publik) maka sesungguhnya ia telah membuka kejelekannya dan menghianatinya. [Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 9/140]

Akan tetapi hal ini bukan berarti haram hukumnya untuk menasehati secara terang-terangan didepan publik, apalagi bagi seorang ‘ulama yang memang diminta ceramah untuk memberikan nasehat di istana negara misalnya, maka dalam kondisi seperti ini ia tetap harus menyampaikan yang haq itu haq dan yg bathil itu bathil, walaupun tentunya harus disampaikan dengan bijak dan mengedepankan hujjah, bukan emosi.

Imam Bukhariy meriwayatkan hadits: telah berkata kepadaku Abu Nu’aim, berkata kepadaku ‘Âsim bin Muhammad bin Zaid bin Abdillah bin ‘Umar dari bapaknya dia berkata:

قَالَ أُنَاسٌ لِابْنِ عُمَرَ إِنَّا نَدْخُلُ عَلَى سُلْطَانِنَا فَنَقُولُ لَهُمْ خِلَافَ مَا نَتَكَلَّمُ إِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِمْ قَالَ كُنَّا نَعُدُّهَا نِفَاقًا

Manusia berkata kepada Ibnu ‘Umar, Kami memasuki (rumah) penguasa kami, kemudian kami mengatakan kepada mereka berbeda dengan apa yang kami katakan tatkala kami keluar dari (rumah) mereka ( penguasa). Ibu ‘Umar berkata: adalah kami menghitungnya sebagai (sikap) nifaq (munafiq). [Shahih Bukhari, 23/421, Maktabah Syâmilah]

Hadits ini menunjukkan bahwa mereka datang tidak sendirian, dan pengingkaran Ibnu ‘Umar r.a akan sikap mereka : “kemudian kami mengatakan kepada mereka berbeda dengan apa yang kami katakan tatkala kami keluar” menunjukkan bahwa dalam kondisi tidak sendirianpun tetap dituntut berkata haq didepan penguasa, artinya ketika penguasanya berbuat melanggar syara’ maka harus juga dinyatakan sebagai melanggar syara’ tentunya dengan bijak dan hendaknya mengerti tentang yang disampaikan, jangan sampai masalah khilafiyyah –yang kebetulan pendapat penguasa berbeda – -kemudian di katakan pelanggaran terhadap hukum syara’.

Hanya saja dalam menyampaikan nasehat secara terang-terangan tetaplah tidak boleh mengungkap ‘aib dan kemaksiatan pribadi penguasa yang ia lakukan secara diam-diam, rahasia dan dia berusaha merahasiakannya. Kecuali, jika kemaksiatan tersebut membahayakan umat, maka diungkapkan untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya orang yang melakukan kemaksiatan tersebut. Maka, pengungkapan seperti ini boleh.

Imam An-Nawawi pernah dipanggil oleh sulthan Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Beliau membaca fatwa tersebut dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Sulthan marah dan berkata: ”Kenapa !?”. Beliau menjawab: ”Karena berisi kedhaliman yang nyata”. Sulthan semakin marah dan berkata: ”Pecat ia dari semua jabatannya”. Para pembantu sulthan berkata: ”Ia tidak punya jabatan sama sekali”.

Apa yang disampaikan Imam Nawawi diatas bukanlah berdua saja dengan sulthan, namun sulthan sedang bersama para pembantunya, kalau seandainya Imam Nawawi memahami hukum menasehati penguasa didepan orang lain haram maka tentunya beliau akan mengajak sulthan untuk bicara 4 mata dan baru mengatakan “wahai sulthan, ini berisi kedzaliman karena bertentangan dengan ayat ini atau hadits ini…”.

Begitu juga apa yang dilakukan oleh Thaawus ibn Kaisan[5] bersama Wahb ibn Munabbih mereka datang menemui Muhammad ibn Yusuf ats Tsaqafi (adiknya Hajjaj bin Yusuf ats tsaqafi). Setelah keduanya mengambil tempat duduk di sisinya. Mulailah Thaawus menasehatinya, memberikan Targhiib (motivasi) dan Tarhiib (ancaman). Sedangkan sejumlah orang duduk di hadapannya. Sang penguasa ini berkata kepada salah seorang penjaganya, “Wahai Ghulam (panggilan untuk budak/anak kecil), hadirkan Thailasan [6] dan lemparkan ke pundak Abu Abdirrahman (Thaawus).” Penjaga tersebut kemudian mengambil sebuah Thailasan mahal lalu melemparkannya ke pundak Thaawus. Mulut Thaawus terus saja berucap memberikan wejangan. Ia mulai menggerak-gerakkan pundaknya dengan pelan hingga Thailasan itu terjatuh. Ia lalu bangkit berdiri dan beranjak pergi. Apa yang dilakukan Thaawus ini juga didepan sejumlah orang.

Ini pula yang pernah dilakukan oleh Al-Hasan Al-Bashri[7]. Ketika al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menjabat gubernur di Irak, ia adalah gubernur yang kejam. Ketika al-Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya, dan ketika bangunan tersebut rampung, al-Hajjaj mengajak orang-orang agar keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendo’akan keberkahan untuknya. Al-Hasan tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Maka dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari gelimang harta dunia dan menganjurkan mereka supaya mencari keridlaan Allah Azza wa Jalla. Ketika al-Hasan telah sampai di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, terbuat dari bahan-bahan yang mahal, dikelilingi halaman yang luas dan sepanjang bangun dihiasi dengan pernik-pernik. Al-Hasan berdiri di depan mereka dan berceramah banyak, di antara yang beliau ucapkan adalah, "Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini tidak ubahnya seperti apa yang kita temukan pada masa Fir’aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir’aun dan menghancurkan apa yang dia bangun dan dia kokohkan itu. Mudah-mudahan al-Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk bumi telah menipunya." Al-Hasan terus berbicara dengan gaya seperti ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al-Hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya, "Cukup wahai Abu Sa’id! cukup.!" Lalu Al-Hasan berkata kepadanya, "Allah telah berjanji kepada Ahli ilmu, bahwa Dia akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."

Sebagai seorang penguasa daerah, Umar bin Hubairah pernah mengundang dua orang, yaitu al-Hasan al-Bashri dan Amir bin Syurahbil yang dikenal dengan sebutan "asy-Sya’bi." Dia berkata kepada keduanya, "Sesungguhnya Amirul mu’minin, Yazid bin Abdul Malik telah ditunjuk Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya, dan mewajibkan manusia mentaatinya. Dia telah menunjukku untuk mengurusi wilayah Irak sebagaimana yang anda lihat, kemudian dia menambahi kekuasaanku hingga kawasan Persia. Sedangkan dia terkadang mengirimkan surat kepadaku berisi perintah supaya aku melaksanakan sesuatu yang membuatku ragu terhadap keadilannya. Karena itu, apakah anda berdua dapat memberikan jalan keluar di dalam agama seputar batas ketaatanku kepadanya di dalam melaksanakan perintahnya?" Maka asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak terhadap Khalifah dan memberikan toleransi kepada gubernur. Sedangkan al-Hasan hanya terdiam. Lalu Umar bin Hubairah menoleh ke arahnya dan berkata, "Apa pendapatmu, wahai Abu Sa’id?" Maka Al-Hasan menjawab, "Wahai Ibn Hubairah, takutlah kepada Allah dalam masalah Yazid dan janganlah kamu takut Yazid dalam masalah Allah. Dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla dapat melindungimu dari Yazid, sedangkan Yazid tidak dapat melindungimu dari Allah.

Mendengar ucapan al-Hasan tersebut, menangislah Umar bin Hubairah hingga air matanya membasahi jenggotnya. Dia berpaling dari pendapat asy-Sya’bi kepada pendapat al-Hasan dan dia sangat mengagungkan serta menghormatinya. Ketika keduanya telah keluar darinya, keduanya sama-sama menuju ke masjid. Lalu orang-orang mengerumuninya dan menanyakan tentang apa yang dibicarakan keduanya dengan gubernur Irak. Maka asy-Sya’bi menoleh kepada mereka seraya berujar, "Wahai manusia! Barangsiapa di antara kamu semua ingin mementingkan Allah Azza wa Jalla di atas kepentingan makhluk-Nya dari segala tempat, maka hendaklah dia melakukan hal itu. Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang dikatakan al-Hasan kepada Umar bin Hubairah adalah perkataan yang keluar lantaran kejahilanku. Aku menginginkan dari apa yang aku katakan untuk mencari wajah Ibnu Hubairah, sementara al-Hasan menginginkan dari apa yang dia katakan semata untuk mendapatkan wajah Allah. Maka Allah menjauhkan aku dari Ibn Hubairah dan mendekatkan al-Hasan kepadanya dan membuatnya cinta terhadapnya."

Ini juga yang dilakukan Abu Muslim Al Khaulany (seorang tabi’in) yang memprotes Mu’awiyah saat sedang berpidato karena Mu’awiyah menyetop bantuan dari baitul mal, juga dilakukan oleh orang yang menasehati ‘Umar bin Khattab saat beliau diangkat menjadi Khalifah.

Dari perilaku para ‘ulama dan tabi’in terkemuka tersebut, sebagian atau seluruhnya dapatlah kita fahami bahwa menasehati penguasa secara terang –terangan tidaklah haram, seorang muslim tinggal memilih cara terbaik.

Ini dari satu sisi, dari sisi lain hadits ini berkaitan dengan penguasa muslim yang menegakkan hukum – hukum Islam, sedangkan untuk penguasa yang  mengingkari hukum – hukum Islam tidaklah termasuk dalam hadits ini.

Hadits dari ‘Ubadah bin Shamit tentang baiat Aqabah I yang berkata:

وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

…Dan agar kami tidak menentang kekuasaan penguasa kecuali (sabda Rasulullah): “jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang dapat dibuktikan berdasarkan keterangan dari Allah” [Shahih Bukhari hadits no. 6532, Shahih Muslim hadits no. 3427, musnad Imam Ahmad no.21623]

Juga hadist:

… وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قُلْنَا أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ …

…Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-arang yang kalian benci dan merekapun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian." Kami bertanya; Bolehkah kami menentang mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Tidak, selama mereka menegakkan shalat. [ Ad Darimi hadits no. 2677, Shahih Muslim hadits no. 3447]

Yang dimaksud dengan menegakkan shalat dalam hadits ini adalah menerapkan sistem hukum Islam [bisa dilihat pembahasannya di الكتاب : مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح   المؤلف : الملا على القاري].

Berkaitan dengan penguasa seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan al Walid bin Al Mughiroh, Islam justru membongkar makar mereka dihadapan umat manusia, yang sampai sekarangpun masih bisa kita lihat dalam al Qur’an, misalnya dalam surat Al Lahab dan surat Al Muddatstsir.

Akan tetapi walaupun demikian, haruslah dalam dakwah yang dikoreksi dan dibongkar keburukannya adalah  sistem hukumnya, bukan pribadi penguasa, bukan pula melakukan aktivitas fisik sebagaimana yang dilakukan kaum khawarij.

Inilah berkaitan dengan hukum memberi nasehat, berbeda hukumnya dengan inkaarul munkar (mengingkari kemungkaran) maka hukum asalnya haruslah terang-terangan[8], sebagaimana hadits dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Siapa saja yang menyaksikan kemunkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah dengan hatinya (mengingkari dg hati, menunjukkan sikap tidak suka) dan itu adalah selemah – lemah iman.” (H.R. Muslim, 1/219, Maktabah Syâmilah)

Khusus tema ini tidak dibahas disini, insya Allah dilain waktu kalau ada kesempatan. Allahu Ta’ala A’lam

***

Untuk cerita para ‘ulama sumbernya masih banyak ngambil di kompilasi chm pakdenono, tentang tokoh Islam (ma’af seharusnya disertakan ceritanya dalam bahasa arabnya) . Mohon bantuan pembaca untuk men-cek dan mengkopy paste arabnya di kolom komentar, bisa dicari dikitab – kitab semisal Hilyatu Al-Auliya, oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahani,  Ath-Thabaqat Al-Kubra, oleh Ibnu Sa’d, Tahdzib al-Asma’, karya Abu Yahya Muhyiddin bin Hazzam dll. insya Allah nanti dilengkapi.

Baca Juga :


[1] Ada juga riwayat Ahmad, no 14793 dalam tema yang berbeda: .. ‘Iyadl bin Ghanm melihat rakyat jelata yang dijemur karena masalah jizyah. Lalu ia berkata; saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: " Allah SWT menyiksa orang yang menyiksa manusia di dunia."

[2] تعليق شعيب الأرنؤوط : صحيح لغيره دون قوله : من أراد أن ينصح لسلطان بأمر … فحسن لغيره وهذا إسناد ضعيف لانقطاعه شريح بن عبيد الحضرمي لم يذكروا له سماعا من عياض ولا من هشام

[3] مسند الإمام أحمد بن حنبل, الناشر : مؤسسة قرطبة – القاهرة , الأحاديث مذيلة بأحكام شعيب الأرنؤوط عليها (maktabah syamilah)

[4] Lihat قسم الحديث شرح متن الأربعين النووية للشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ

[5] nama aslinya Dzakwan, gelarnya Thaawusul ‘Ulama/burung merak para ‘Ulama dan pemimpin para ‘ulama pada masanya, seorang tabi’in yang mengambil ‘ilmu dari 50 orang shahabat

[6] Thailasan adalah jubah yang berwarna hijau, mahal harganya dan di pakai oleh orang-orang tertentu

[7] Seorang tabi’in, dibesarkan Hindun binti Suhail /Ummu Salamah r.a, istri nabi – Al Hasan Al Bashri wafat 110 H

[8] Lihat قسم الحديث شرح متن الأربعين النووية للشيخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ

**) Berikut alasan yang mendhoifkan karena sanadnya terputus:

  • Hadits riwayat Imam Ahmad dari jalur Abu Mughirah, Shofwan, Syuraih bin ‘Ubaid telah terbukti kelemahannya, karena Syuraih tidak pernah bertemu dengan Hisyam bin Hakim (lebih-lebih lagi Iyadl bin Ghanm). Dengan demikian, hadits ini dihukumi sebagai hadits munqathi’, sehingga gugur sebagai hujjah.

Adapun tentang Jubair bin Nufair yang dikatakan sebagai "wasithah antara Syuraih bin ‘Ubaid dengan Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim, sehingga tampak seolah-olah telah menyambungkan "keterputusan antara Syuraih bin ‘Ubaid dengan Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim, ternyata Jubair bin Nufair pun menuturkan hadits tersebut dengan ta’liq (menggugurkan perawi atasnya). Jubair bin Nufair adalah seorang tabi’un yang terkemuka. Imam Adz Dzahabiy dalam Tadzkiratu al-Huffaadz berkata, ". Beliau (Jubair bin Nufair) adalah seorang ulama terkemuka, haditsnya ada dalam kitab-kitab hadits seluruhnya, kecuali Shahih Bukhari, dan demikian itu karena kelemahannya (layyin al-hadits). Namun, kadang-kadang ia melakukan tadlis dari shahabat-shahabat besar". Atas dasar itu, hadits dari Jubair bin Nufair pun munqathi’, dan tidak bisa menyelamatkan keterputusan antara Syuraih bin ‘Ubaid dengan ‘Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim. Sebab, Jubair bin Nufair sendiri tidak menyaksikan langsung kejadiannya atau mendengarnya langsung dari orang yang meriwayatkan dari ‘Iyad bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim. Atas dasar itu, hadits ini tetap tidak bisa selamat dari keterputusan (inqitha’). Dengan demikian, hadits itu harus dihukumi sebagai hadits munqathi’ dan tidak layak dijadikan sandaran hujjah.

  • Hadits dari jalur Mohammad bin ‘Ayyasy, maka Mohammad bin ‘Ayyasy adalah dla’ifu al-hadits (dla’if haditsnya). Di dalam Kitab Al-Jarh wa al-Ta’diil, Abu Hatim berkata, "Dia tidak mendengar apapun dari bapaknya". Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Taqriib berkata, "Mereka mencela dirinya karena ia menuturkan dari bapaknya tanpa pernah mendengarnya". Dalam hadits ini tidak boleh dinyatakan bahwa ia dengan sharih menuturkan dari bapaknya (dengan lafadz haddatsanaa); sebab dia adalah dla’if, tidak tsiqqah".
  • Jalur dari Amru bin Ishaq bin Zibriiq haddatsana abii (H) haddatsana ‘Imarah bin Wutsaimah Al Mishri dan Abdurrahman bin Mu’awiyah Al ‘Utabi keduanya berkata: Haddatsana Ishaq bin Zibriiq, haddatsana ‘Amru bin Al Harits dari Abdullah bin Salim dari Az Zubaidi haddatsna Al Fadl bin fadlalah mengembalikannya kepada ‘Aidz mengembalikannya kepada Jubair bin Nufair bahwa ‘Iyadl bin Ghanam..dst.

Ibnu Zibriiq adalah waah. Imam Adz Dzahabiy berkata, "Ibnu Zibriiq adalah waah (lemah)". Ishaq adalah ayah dari Amru, dan tentang dia, Al Hafidz berkata, "Shaduq yahammu katsiira (shaduq tapi banyak lemahnya), dan Mohammad bin ‘Aud menyebutkan bahwa dia itu berdusta". Abu Hatim juga berkata tentang dia, "Syaikh la ba’sa bihi, hanya saja mereka mencelanya. Saya mendengar Yahya bin Ma’in memujinya dengan baik". Dalam Tarikh Ibnu ‘Asaakir dan juga Tahdzibnya Ibnu Badran, disebutkan bahwa An Nasaaiy berkata, "Ishaq tidak tsiqqah jika meriwayatkan dari ‘Amru bin Harits". Sedangkan hadits di atas Ishaq meriwayatkan dari ‘Amru bin Harits!!! Sedangkan Amru bin Harits, Ibnu Hibban dalam Tsiqahnya berkata, "Ia adalah mustaqim al-hadits". Namun, Imam Adz Dzahabiy membantahnya dalam Al-Mizan, "Tafarrada bi ar-riwayah ‘anhu Ishaq bin Ibrahim bin Zibriiq dan maulanya, yang namanya ‘Ulwah, dan dia tidak tidak diketahui keadilannya". Dengan demikian, yang meriwayatkan hadits dari dari Amru bin Harits hanyalah Ishaq dan maulanya Amru bin Harits yang majhul. Sedangkan Ishaq adalah waah (lemah). Sedangkan Amru bin Ishaq bin Zibriiq al-Himshiy termasuk syaikhnya Imam Thabaraniy. Sayangnya tidak ada biografi atas dirinya, alias majhul.

Dengan demikian hadits dari jalur ini jelas-jelas lemah dan banyak ‘illatnya, yakni; (1) majhulnya Amru bin Ishaq bin Zibriiq al-Himshiy, syaikhnya Imam Thabaraniy, (2) dla’ifnya Ishaq bin Ibrahim bin Zibriiq yang sangat parah, (3) lemahnya (layyin) ‘Amru bin Harits, (3) lemahnya (layyin) al-Fadlil bin Fudlalah, (4) keterputusan (inqitha’) antara al-Fadlil dengan Ibnu ‘Aidz, (5) terputusnya Ibnu ‘Aidz dengan Jubair bin Nufair, (6) terputusnya Jubair bin Nufair dengan semua orang yang meriwayatkan dari ‘Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim radliyallahu ‘anhumaa. Dengan demikian, jalur inipun gugur secara menyakinkan.

Adapun komentar Imam Al-Haitsamiy dalam Majma’ az Zawaid, "Rijaaluhu tsiqat wa isnaduhu muttashil", maka harus dinyatakan bahwa komentar beliau ini tidak tepat dikarenakan alasan-alasan di atas.

  • Permasalahan yang sebenarnya hendak dibuktikan adalah sanad dari Syuraih bin ‘Ubaid atau Jubair bin Nufair ra. Dan telah dijelaskan bahwa Syuraih bin ‘Ubaid atau Jubair bin Nufair meriwayatkan dengan ta’liq (menggugurkan perawi atasnya). Tidak ada satupun lafadz yang menunjukkan kehadiran keduanya dalam kisah itu, atau mendengar diskusi antara Hisyam bin Hakim dan ‘Iyadl bin Ghanm; atau mendengar langsung dari orang yang menyaksikan atau mendengar dari Hisyam bin Hakim dan ‘Iyadl bin Ghanm. Oleh karena itu, riwayat tersebut dihukumi munqathi’ (terputus).

Semua riwayat dari Jubair bin Nufair dan Syuraih bin ‘Ubaid diketahui mursal dari qudama` ash-shahahat (shahabat-shahabat terkemuka), bahkan Syuraih meriwayatkan hadits secara mursal dari seluruh shahabat. Atas dasar itu, semua riwayat yang berasal darinya dihukumi inqitha’ (terputus).

Adapun riwayat mu’an’anah dari ‘Iyadl bin Ghanm, maka sudah dimaklumi bahwa ‘Iyadl bin Ghanm meninggal tahun 20 H pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab ra, dan Jubair bin Nufair tidak pernah mendengar dari ‘Iyadl bin Ghanm, sebagaimana disebutkan dalam biografinya di Kitab Tahdziib al-Kamaal karya Al-Maziy, dan at-Tadzkirah karya Husainiy. Selain itu, Jubair bin Nufair juga dikenal meriwayatkan secara mursal dari shahabat-shahabat besar. Dengan demikian, riwayat ini juga terputus (inqitha’).

Selain itu, ada cacat lain dari hadits tersebut dari sisi matan. Hadits-hadits lain justru menyakinkan kepada kita bahwa Hisyam bin Hakim tetap mengoreksi ‘Iyadl bin Ghanm dengan terang-terangan ketika berada di Himsh. Imam Thabaraniy meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasanya Hisyam bin Hakim mendapati ‘Iyadl bin Ghanm , pada saat itu ia berada di Himsh, menjemur manusia dari al-Nabth di bawah terik matahari, dalam masalah  jizyah. Hisyam bin Hakim berkata, "Apa ini wahai ‘Iyadl bin Ghanm! Saya mendengar Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia". Hadits ini adalah hasan lidzatihi dikarenakan dikarenakan banyaknya hadits-hadits mutabi’ahnya. Selain itu, riwayat-riwayat lain juga menunjukkan bahwa Hisyam bin Hakim juga mengoreksi dengan terang-terangan, sebagaimana ia mengingkari penguasa Himsh yang tidak disebutkan namanya, atau terhadap ;Umair bin Sa’ad pada saat ia berada di Palestina atau di Himsh. Peristiwa ini terjadi setelah terjadinya diskusi antara dirinya dengan ‘Iyadl bin Ghanm pada saat penaklukkan Dariya., Ini bisa diketahui dari kronologi sejarah penaklukkan jazirah Syam. Seandainya peristiwa diskusi antara Hisyam bin Hakim dengan Iyadl bin Ghanm tentang "koreksi sembunyi-sembunyi" merupakan hukum asal mengapa shahabat jalil Hisyam bin Hakim tetap mengoreksi penguasa dengan terang-terangan!?

Walhasil, hadits-hadits itu seluruhnya gugur baik karena perawinya yang lemah (Mohammad bin ‘Iyasy), maupun terputusnya Jubair bin Nufair dengan ‘Iyadl bin Ghanm dan Hisyam bin Hakim.

Iklan

Posted on 6 Mei 2010, in Dakwah, Fiqh, Mutiara Hadits, Politik, Syari'ah. Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. Ane masih agak bingung memahami dari alinea di bawah yang paling akhir mengenai berlakunya hadits,apa memang salah tulis , atau krn ane susah memahaminya.

    Dari perilaku para ‘ulama dan tabi’in terkemuka tersebut, sebagian atau seluruhnya dapatlah kita fahami bahwa menasehati penguasa secara terang –terangan tidaklah haram, seorang muslim tinggal memilih cara terbaik.

    Ini dari satu sisi, dari sisi lain hadits ini berkaitan dengan penguasa muslim yang menegakkan hukum – hukum Islam, sedangkan untuk penguasa yang tidak mengingkari hukum – hukum Islam tidaklah termasuk dalam hadits ini.

    Suka

    • 1) intinya menasehati penguasa bisa dipilih caranya terang-terangan atau empat mata saja.

      2) Adapun penguasa yang tidak menerapkan syari’at Islam tidak perlu ragu untuk mengungkap keburukan sistem yang dipakai secara terang-terangan, namun tetap tidak mengungkap keburukan individu.

      ana salah ketik: sedangkan untuk penguasa yang tidak mengingkari hukum – hukum Islam

      seharusnya : sedangkan untuk penguasa yang mengingkari hukum – hukum Islam …
      afwan

      Suka

  2. ga nyambung…
    hadits dan qoul ulama digiring untuk hatinya.

    Betapa banyak hadits dan fatwa ulama yang dia kutip namun ditentang, dengan perkataannya “hal ini demikian dan demikian”. Kebohongan apalagi ini?

    Contoh:
    Rosulullah bersabda “…. semua bid’ah itu sesat…”
    Dikomentari: hal itu tidak menunjukan seluruh bid’ah itu dholalah, tapi ada bid’ah hasanah.

    Rosul bersabda: “….jangan dilakukan dengan terang-terangan…”
    Dikomentari: ini bukan berarti tidak boleh terang-terangan….

    Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit. Kukatakan : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tapi kalian menentangnya dengan ucapan Abu Bakar dan Umar”.
    (Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlih)

    Al Imam Asy Syafiy berkata,” Manusia telah bersepakat bahwa barangsiapa telah jelas baginya sunnah dari Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam, maka tidak ada alasan baginya untuk meninggalkannya karena ucapan seorang manusia.” Sah pula darinya, bahwa ia mengatakan,” Tidak ada pendapat bagi seseorang dengan adanya sunnah dari Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam.” (I’lam al-Muwaqqi’in)

    Suka

    • “Al Imam Asy Syafiy berkata,” Manusia telah bersepakat bahwa barangsiapa telah jelas baginya sunnah dari Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam, maka tidak ada alasan baginya untuk meninggalkannya karena ucapan seorang manusia.” –> ana sepakat kalau Rasul SUDAH JELAS mengharamkan sesuatu, kemudian manusia menghalalkannya, kalau kita ikut manusia dan meninggalkan ketentuan Rasul itu merupakan kemusyrikan kalau disertai keyakinan bahwa yg diikuti lebih baik dari ketentuan Rasulullah.

      Adapun dalam masalah ini sebenarnya ada dua hal :
      1) status hadits ini dipertentangkan ke shahihhannya sehingga, ungkapan antum diatas tidak tepat untuk kasus ini.

      2) kalaupun diterima sebagai hadits hasan, maka yg jadi masalah adalah bagaimana memahami hadits tersebut.

      lihatlah saat Rasulullah memerintahkan sahabat pergi ke bani Quraidhoh, beliau mengatakan:
      لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

      “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu tibalah waktu shalat ketika mereka masih di jalan, sebagian dari mereka berkata, ‘Kami tidak akan shalat kecuali telah sampai tujuan’, dan sebagian lain berkata, ‘Bahkan kami akan melaksanakan shalat, sebab beliau tidaklah bermaksud demikian’. Maka kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi saw, dan beliau tidak mencela seorang pun dari mereka.” (HR. Bukhory dari Ibnu ‘Umar r.a)

      Tidak kita jumpai sahabat saling mencela dengan mengatakan : sudah jelas rasul menyatakan …. tapi kalian melawan ya…

      tentang bid’ah bisa antum baca disini:
      https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/08/26/bidah-terpujitercela-konsep-realitas-ikhtilaf/

      Antum mungkin lebih pandai dari Al-Imam Asy-Syafi’i (wafat 204 H), Shulthonul ‘Ulama Al-’Izz ibn Abdis Salam (wafat 660 H), Imam An-Nawawi (676 H), Al Hafidz As Suyuthi ( w. 1505 M), Abu Syaamah (wafat 665 H). Al-Qarafi (wafat 684 H) dan Az-Zarqani (wafat 1122 H), Al Hafidz Ibnu Al-Jauzi (wafat 597 H), Ibnu Hazm (wafat 456 H). Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalany walaupun beliau tidak sependapat,beliau tidak menyatakan seperti pernyataan antum.

      Suka

    • Rosulullah bersabda “…. semua bid’ah itu sesat…”
      Dikomentari: hal itu tidak menunjukan seluruh bid’ah itu dholalah, tapi ada bid’ah hasanah.

      mungkin ada juga dhalalah hassanah ..

      Wallohu ta’alaa a’lam

      Suka

      • Sudahkah ini dibaca, memang banyak yang aneh, membaca tdk mau, namun merasa lebih hebat dari Imam Syafi’i atau Al Izzu bin Abdissalam. https://mtaufiknt.wordpress.com/2010/08/26/bidah-terpujitercela-konsep-realitas-ikhtilaf/

        Suka

        • Assalamu’alaykum ..

          ~Alhamdulillah~ sependek pengetahuan saya tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa

          At-Thurthusy, Asy-Syathibi (wafat 790 H), Imam Asy-Syumunni (wafat 821 H) dan Al-Aini dari kalangan Al-Hanafiyah. Juga Al Hafidz Al-Baihaqi (wafat 458 H), Al Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqallany (wafat 852 H), serta Ibnu Hajar Al-Haitami (wafat 974) dari kalangan Asy-Syafi’iyah. Dan kalangan Al-Hanabilah diwakili oleh Ibnu Rajab (wafat 795 H) dan Ibnu Taymiyyah (w. 1328 M)

          lebih pandai dari Imam Syafi’i atau Al Izzu bin Abdissalam.

          begitu pula sebaliknya,
          kecuali sebagian orang yang terjangkit penyakit fanatik terhadap salah seorang ulama 🙂

          Barakallahu fiik

          ###

          Taufik: Ya itulah, mereka para ‘Ulama yang berbeda pendapat saja saling memahami kok, namun kadang yang baru menuntut ilmu lagaknya lebih besar dari ‘ulama-‘ulama tersebut, sehingga ungkapan ‘ulama lain yang berbeda dengannya dipandang sebelah mata. Allahu A’lam.

          Suka

  3. antum (bahasa Arab) artinya anda sekalian atau kalian, kalau untuk satu orang yang diajak bicara laki-laki dipanggilnya anta, kalau perempuan anti

    Suka

    • Betul, hanya saja di Indonesia sebagai penghormatan (lit ta’dzim) satu orang dipanggil “antum” mungkin maksudnya = “panjenengan”, “sampiyan”,…, walaupun orang Arab tdk menggunakan “antum” untuk lebih dari 1 orang.

      Berbeda halnya ucapan salam, walaupun ke satu orang boleh mengucapkan “assalamu’alaikum”, padahal “kum” disini untuk kata ganti/dlomir bagi orang banyak, boleh juga diucapkan “assalamu’alaika” (untuk 1 org lelaki), atau “assalamu’alaiki” (untuk 1 org perempuan), dan hal seperti ini tidaklah hal prinsip yg hrs dipertentangkan. Allahu’a’lam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s