Menasehati Penguasa

Berkata kepada ku (al Bukhori) Abu Nu’aim, berkata kepadaku ‘Âsim bin Muhammad bin Zaid bin Abdillah bin ‘Umar dari bapaknya dia berkata:

قَالَ أُنَاسٌ لِابْنِ عُمَرَ إِنَّا نَدْخُلُ عَلَى سُلْطَانِنَا فَنَقُولُ لَهُمْ خِلَافَ مَا نَتَكَلَّمُ إِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِهِمْ قَالَ كُنَّا نَعُدُّهَا نِفَاقًا

Manusia berkata kepada Ibnu ‘Umar, Kami memasuki (rumah) penguasa kami, kemudian kami mengatakan kepada mereka berbeda dengan apa yang kami katakan tatkala kami keluar dari ( rumah) mereka ( penguasa). Ibu ‘Umar berkata: adalah kami menghitungnya sepagai (sikap) nifaq (munafiq). [Shahih Bukhari, 23/421, Maktabah Syâmilah]

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Siapa saja yang menyaksikan kemunkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah dengan hatinya (mengingkari dg hati, menunjukkan sikap tidak suka) dan itu adalah selemah – lemah iman.” (H.R. Muslim, 1/219, Maktabah Syâmilah)

Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَا مِنْ نَبيٍّ بَعَثَهُ اللهُ في أمَّة قَبْلِي إلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأصْحَابٌ يَأخُذُونَ بِسنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لا يُؤْمَرونَ ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلبِهِ فَهُوَ مُؤمِنٌ ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلسَانِهِ فَهُوَ مُؤمِنٌ ، وَلَيسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الإيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَل

“Tiada seorang nabi pun yang diutus oleh Allah sebelumku -Muhammad s.a.w., melainkan ia mempunyai beberapa orang hawari – (penolong atau pengikut setia) – dari kalangan ummatnya, juga beberapa sahabat, yang mengambil teladan dengan sunnahnya serta mentaati perintahnya. Selanjutnya sesudah mereka ini akan menggantilah beberapa orang pengganti yang suka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan melakukan apa yang mereka tidak diperintahkan. Maka barangsiapa yang berjuang melawan mereka itu – (yakni para penyeleweng dari ajaran-ajaran nabi yang sebenarnya ini )-dengan tangan – (atau kekuasaannya), maka ia adalah seorang mu’min, barangsiapa yang berjuang melawan mereka dengan lisannya, ia pun seorang mu’min dan barangsiapa yang berjuang melawan mereka dengan hatinya, juga seorang mu’min, tetapi jikalau semua itu tidak -( dengan tangan, Iisan dan hati), maka tiada keimanan sama sekali sekalipun hanya sebiji sawi.” (H.R. Muslim, dalam Riyadhus Shalihin, 1/146, Maktabah Syâmilah)

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ المُطَلِّبِ وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

“Penghulu syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Muthallib, dan orang yang berkata di hadapan seorang penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkannya (pada kemakrufan) dan melarangnya (terhadap kemunkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya.” (H.R. al-Hakim, al mustadrak, 3/215, At Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabîr, 3/151, Al Haitsami dalam Majma’uz Zawâid, 7/205, Maktabah Syâmilah, Al Hakim menyatakan sanadnya shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda:

أفضل الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر ” أو ” أمير جائر ” 

Jihad yang paling utama adalah kata-kata yang adil (haq) didepan penguasa yang dzalim atau amir yang dzalim. [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan An Nasa’i dg redaksi berbeda dg sanad shahih]

Imam Al Ghazali (Ihya ‘Ulumiddin, juz 7, hal. 92) menyatakan : “Dulu tradisi para ulama mengoreksi dan menjaga penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat dan pernyataannya membekas di hati. Namun sekarang, terdapat penguasa yang tamak namun ulama hanya diam. Andaikan mereka berbicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama. Adapun kerusakan ulama akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapa saja yang digenggam oleh cinta dunia niscaya tidak mampu melakukan hisbah (mengoreksi) masyarakat kalangan bawahnya, bagaimana dia dapat melakukan hisbah terhadap penguasa dan para pembesar.”

Dinyatakannya bahwa Imam Sufyan Ats Tsauri berkata : “Di neraka jahanam nanti ada suatu lembah yang tak dihuni oleh orang kecuali para pembaca Al Quran yang suka berkunjung kepada penguasa”. Senada dengan hal itu, Imam Auza’i mengatakan, “Termasuk yang dibenci oleh Allah adalah ulama yang suka berkunjung kepada penguasa”. Bahkan, Imam Baihaqi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang berdoa untuk orang zhalim agar tetap berkuasa, maka dia telah menyukai orang itu bermaksiat kepada Allah di bumi-Nya.” Allahu Ta’ala A’lam [M.Taufik N.T]

.

Posted on 8 April 2010, in Mutiara Hadits, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s