Perangkap – Perangkap Syaithan

 

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا، مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلًا، سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terla`nat. Di mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (Al Ahzab : 60-62)

Termasuk sunnatullah yang tidak akan pernah berubah sampai hari akhir adalah adanya pertentangan antara yang haq dan yang bathil, yang haq tidak akan pernah ridha kepada yang bathil begitu pula sebaliknya, yang bathil tidak akan pernah mendiamkan yang haq berjalan.

Syaitan sebagai panglima kebathilan telah bersumpah bahwa mereka dengan bala tentaranya (termasuk dari golongan manusia) akan senantiasa menggoda anak cucu Adam sehingga mau mengikuti dan menghamba kepada mereka. Dalam Al Qur’an syaitan telah berkata :

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya (Al Hijr : 39)

Dan dalam usahanya menyesatkan manusia, syaitan tidak pernah putus asa menggunakan berbagai cara, dari depan maupun belakang, kiri maupun kanan, atas maupun bawah, dengan lembut maupun kasar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

ان الشيطان قعد لابن ادم باًطرُقه

Sesungguhnya syaitan selalu menggoda anak adam dengan segala cara (Hr. Ahmad, Nasa’i, Ibn Hibban)

Allah juga telah mengijinkan syaitan untuk menggoda manusia dengan bebagai cara, namun demikian Allah juga memberikan kunci kepada manusia agar terlepas dari godaan syitan.

وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَولَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak, dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (Al Isra’: 64)

Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Madarijus Saalikin menyimpulkan ada tujuh tingkat perangkap syaitan yang dipasang untuk menjerumuskan manusia, yakni :

1. Kufur dan Syirik

Ini merupakan perangkap utama. Kufur berarti ketiadaan keimanan kepada Allah baik berupa pengingkaran terhadap keberadaan Allah maupun adanya keragu-raguan, ataupun dengan menghalangi tersebarnya risalah Islam , atau meragukan kebenaran wahyu, atau dengan menolak /menganggap remeh aturan yang diturunkan Allah SWT.

Adapun syirik berarti menjadikan sekutu bagi Allah. Dari syirik yang paling kasar seperti menyembah selain Allah, maupun yang tersembunyi seperti menyembelih binatang untuk selain Allah, meyakini bahwa pemberi rizki bukan Allah, menggantungkan cinta dan harapan kepada selain-Nya, lebih mencintai aturan dari selain-Nya dan sebagainya. Bila jebakan pertama ini berhasil menjerat manusia maka manusia tersebut akan menjadi sekutu syaitan dan sekaligus hambanya, syaitan tidak akan memusuhinya. Namun jika gagal maka syaitan memasang perangkap berikutnya yakni:

2. Bid’ah

Menurut Imam Syatibi dalam Al ‘Itisham dikatakan bahwa bid’ah adalah segala sesuatu ( aqidah dan ibadah) yang diada-adakan dan tidak ada dalil syara’nya. Perangkap ini sangat berbahaya, karena banyak orang tak menyadarinya. Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata

البدعة احب الي ابليس من المعصية. المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها

“Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis dibanding melakukan kemaksiatan. (karena) para pelaku ma’siyat (masih merasa berdosa sehingga mereka akan ada keinginan) bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah (menganggap perbuatannya berpahala sehingga) tidak akan bertaubat”.

Allah SWT ber firman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالً االَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (Al Kahfi: 103-104).

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا

Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? (Faathir : 8)

Orang-orang yang melakukan bid’ah, seringkali menganggapnya bahwa itu adalah kebaikan, bahkan sebagian menganggapnya sebagai sunnah (padahal yang namanya sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari rasulullah baik perkataan, perbuatan maupun diamnya beliau terhadap suatu peristiwa yang diketahui dan dalam kekuasaan nya).

Bahkan Imam Malik berkata :

من ابتدع في الاسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم ان محمدا خان الرسالة، لان الله تعالي يقول: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكن اليوم دينا

Barang siapa mengada-adakan didalam Islam suatu bid’ah yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan, maka ia telah menuduh Muhamad SAW menghianati risalah, karena Allah telah berfirman: Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucukupkan nikmatKu kepadamu, dan telah Kuridhoi Islam menjadi agamamu”. Maka sesuatu yang bukan termasuk ajaran agama pada hari itu (saat hidup Rasul) bukan pula termasuk ajaran agama pada hari ini.

Begitulah bahaya bid’ah dan merupakan masalah yang besar, bila manusia lolos dari perangkap ini, maka syetan beralih ketingkatan ketiga.

3. Dosa-dosa Besar

Syetan sangat berharap dapat menjerumuskan manusia kedalamnya, maka dia menampakan dosa-dosa itu indah dan bagus dimata seorang hamba. Ditumbuhkannya sikap menunda-nunda, dibukakan kepadanya pintu pengharapan, sehingga dalam benaknya berkata: Dosa tidak berbahaya selagi masih memiliki tauhid, sebagaimana kebaikan tidak berguna bila masih dalam kemusyrikan”.

4. Dosa-dosa Kecil

Syetan membisikan dalam hati manusia dengan mengatakan: Tidak mengapa kamu melakukan dosa-dosa kecil asalkan kamu jauhi dosa-dosa besar. Apakah kamu tidak tahu bahwa dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan melakukan kebaikan-kebaikan?”. Akibatnya seorang hamba menganggap enteng dosa-dosa kecil sehingga senantiasa melakukannya. Pada hal dosa-dosa kecil ini bila menumpuk bisa jadi merusak pelakunya, sebagaimana sabda Nabi : Jauhkanlah dirimu dari dosa-dosa kecil, kemudian beliau membuat perumpamaan untuknya dengan suatu kaum yang singgah ditanah lapang. Lalu mereka memerlukan kayu bakar, maka seseorang dari mereka mengambil satu ranting dan yang lain masing-masing satu ranting, sedikit demi sedikit, akhirnya terkumpullah kayu bakar yang banyak. Kemudian mereka menyalakan api, hingga mereka memasak roti mereka. Maka demikian, bahwa dosa-dosa kecil itu menumpuk pada seseorang sedang dia meremehkannya, hingga dosa-dosa kecil itu membinasakannya.

5. Menyibukan manusia pada halhal yang mubah, agar lupa pada hal yang sunnah & wajib

Bila seorang hamba menyibukkan diri pada hal-hal yang mubah yang tidak ada manfaatnya, otomatis ia akan kehilanggan kesempatan untuk meraih pahala, tidak memperbanyak ketaatan dan tidak bersungguh-sungguh dalam mencari bekal akhirat, selanjutnya hal ini meningkat untuk meninggalkan hal-hal yang disunahkan agama “ itukan boleh saja”. Dan sebenarnya disinilah perangkap itu, dan begitu seterusnya.

6. Menyibukkan pada amalan-amalan sunnah namun melalaikan dengan yang wajib

Ini merupakan perangkap paling halus, hanya orang-orang yang ikhlas saja yang mampu selamat darinya. Karena memang nafsu manusia senantiasa memerintahkan kepada yang dibenci Allah. Dan Syetan akan senantiasa menghiasi sebuah kewajiban dengan sesuatu yang buruk dan berat. Semakin utama kewajiban tersebut maka semakin dibenci dan terasa berat oleh hawa nafsu manusia, dan disinilah perangkap syaitan dipasang. Dan salah satu kewajiban utama yang terlalaikan saat ini adalah berjuang dalam menegakkan kembali aturan-aturan Allah, banyak manusia yang hanya terfokus pada firman Allah seputar ibadah ritual semisal

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Namun banyak yang melupakan firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh (Al Baqarah: 178)

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat (An Nuur :2)

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. (Al Maidah:2)

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (2:275)

Juga sabda Rasulullah:

سيد الشهداء حمزة بن عبد المطلب ورجل قال إلى إمام جائر فأمره ونهاه فقتله

Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seseorang yang berdiri didepan penguasa yang dzalim kemudian menyeru (berbuat ma’ruf) dan mencegahnya (dari berbuat munkar) lalu (penguasa tersebut) membunuhnya (Al Mustadrak ‘ala Shahihain, juz 3 hal 215). Padahal dengan dibuangnya pelaksanaan ayat-ayat tersebut, kita jumpai angka kriminal meningkat tajam, pembunuhan, pemerkosaan, perselingkuhan dan kejahatan lain terjadi setiap hari, begitu pula dengan sistem ekonomi berbasis riba menjadikan ketimpangan sosial yang sangat tajam. Dan hal ini dilengkapi dengan ditepikannya upaya penyadaran umat terhadap kewajiban penegakan syariat-Nya yang menjadikan semua ini seperti cerita bersambung yang tidak pernah berakhir.

7. Menugaskan Tentara Syetan

Mereka ditugaskan untuk mengganggu seorang hamba dengan bermacam-macam gangguan. Rintangan ini tidak dapat dihindari karena semakin bersungguh-sungguh seorang hamba beristiqamah, maka musuh akan semakin intens dalam merintanginya. Kecuali bila seorang hamba senantiasa mengasah keiklasan dalam setiap amalnya.

Iklan

Posted on 6 April 2010, in Aqidah, Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s