Nestapa Dunia Islam, Bagaimana Mengakhirinya?

Oleh: M. Taufik N.T

Pertarungan yang sengit antara iman dan kufur telah berlangsung sejak fajar kebangkitan Islam, bahkan sebelum itu. Dan hal ini merupakan sunnatullah yang tidak akan berubah, sebagaimana firman Allah :

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ

Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah (QS Al An’am : 34)

Adapun pergantian masa kejayaan dan kemunduran suatu kaum juga merupakan sunnatullah yang tidak akan berubah, sehingga suatu ketika kebathilan akan lebih bersinar sehingga yang haq kelihatan suram, dan suatu ketika yang haq mengalahkan yang bathil, walaupun pada akhirnya kebenaranlah yang akan menang.

Dan merupakan sunnatullah juga bahwa berjaya maupun jatuhnya suatu umat tidaklah terjadi secara otomatis, namun Allah telah menjadikan sebab-sebab kemenangan, begitu juga telah menjadikan sebab-sebab kemunduran. Dengan sebab-sebab itulah umat akan mengubah keadaannya dari kalah menjadi menang, dan karena adanya sebab-sebab jugalah umat yang berjaya akan menjadi jatuh.

Ketika Rasulullah diutus Allah swt, dan sebelum berdirinya Negara Islam di Madinah, terjadi pertarungan intelektual (pemikiran) antara Islam dan kufur, tidak disertai dengan pertarungan fisik. Namun karena pemikiran kufur tidak berdaya menghadapi pemikiran Islam, maka kaum kafir melakukan penindasan kepada umat Islam. Di Makkah, kafir Quraisy melakukan propaganda keji untuk mencitraburukkan Islam, mereka juga melakukan penganiayaan dan pembunuhan kepada para shahabat, mereka juga pernah memboikot Rasulullah dan para shahabat. Ketika Rasulullah pergi ke Tha’if dengan maksud mencari dukungan yang akan melindungi dakwah, beliau justru menerima perlakuan yang amat kasar, beliau diusir dan dilempari sampai kaki beliau berdarah.

Saat mendirikan Negara Islam di Madinah pada tahun 622M, Negara ini menjadi penjaga kehormatan kaum muslimin, pelindung Islam, serta sebagai penyebar pedoman hidup bagi seluruh umat manusia di dunia melalui dakwah dan jihad. Ketika itulah pasukan bersenjata dan kekuasaan ditegakkan. Sejak itulah Rasulullah memadukan pertarungan pemikiran dengan pertempuran fisik, tercatat bahwa dalam kurun waktu 10 tahun sejak Negara Islam berdiri, terjadi 61 kali pengiriman angkatan bersenjata, terdiri dari 26 kali ghozwah (diikuti Nabi saw) 35 kali sariyyah (Nabi saw tidak ikut)[1], Sebelum Nabi saw wafat, seluruh jazirah Arab (saat ini terbagi dalam 7 negara) telah berhasil tunduk dan taat dalam Islam, bahkan mereka merasakan bahwa Islam yang diterapkan oleh negara benar-benar telah menjadikan mereka hidup mulia dan sejahtera.

Setelah Rasulullah wafat, Negara Islam dipimpin oleh para Khalifah. Mereka melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw, mereka menjadikan negara tersebut sebagai pelaksana hukum Islam, serta sebagai penyebar risalah Islam keseluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Secara umum Umat Islam tidak pernah sekalipun rnengalami kekalahan dalam peperangan selama kurun waktu enam abad. Negara Islam menjadi negara pertama (super power) selama masa tersebut. Hal ini tidak pernah dialami bangsa-bangsa lain sepanjang sejarah.

Sementara itu, kaum kafir khususnya negara-negara Eropa, tidak pernah lupa terhadap Islam, sehingga mereka selalu berusaha menyerang dan berkonspirasi melawan kaum muslimin pada setiap kesempatan.

Selama kurun waktu antara abad ke-6 Hijriyah (abad ke-11 Masehi) sampai dengan awal abad ke-7 Hijriyah (abad ke-12 Masehi), negara-negara Eropa mulai mendeteksi adanya perpecahan dalam tubuh pemerintahan Negara Islam. Beberapa wilayah (provinsi) memisahkan diri dari Negara Islam, serta sejumlah wali (gubernur) berinisiatif melakukan otonomi dalam beberapa kebi­jakan iinternal, seperti dalam masalah angkatan bersenjata, keuangan, kekuasaan, dan sebagainya. Dalam kenyataannya, Negara Islam berubah bentuk seperti layaknya negara federasi, bukan negara kesatuan sebagaimana mestinya.

Negara-negara Eropa mencium perpecahan ini, kemudian mengirimkan pasukan salib melawan kaum muslimin. Terjadilah perang salib yang pertama, yang diakhiri dengan kekala­han kaum muslimin. Kaum kafir menguasai seluruh wilayah Syam (Palestina, Libanon, dan Suriah) selama beberapa dekade[2].

Sekalipun kaum muslimin pada akhirnya memenangkan pertempuran dengan keberhasilannya mengusir pasukan salib dari negeri Islam (Syam), namun rasa malu dan kehinaan yang dialami kaum muslimin sungguh-sungguh tak terbayangkan. Dengan demikian, masa-masa perang salib dianggap sebagai masa-masa kekalahan kaum muslimin.

Tidak lama setelah perang salib berakhir, datang pasukan Mongol (Tartar) sehingga terjadilah pembantaian Baghdad yang memilukan. Selanjutnya diiku­ti dengan jatuhnya Damaskus ke tangan bangsa Mongol pada tahun yang sama (656 H/1258 M). Kemudian terjadilah pertempuran Ain Jalut pada tanggal 3 September 1260 M, yang berakhir dengan kekala­han pasukan Mongol. Seiring dengan jatuhnya pasukan Mongol, semangat jihad kembali bangkit dalam jiwa kaum muslimin. Mereka menyadari lagi perlunya melanjutkan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian kaum muslimin kembali memulai penaklukannya terhadap kaum kafir, yang diawali dengan jihad pada pertempuran merebut Byzantium (Romawi/Turki). Sejumlah pertempuran terjadi kemudian, dan berbagai kemenangan datang menyusul. Keadaan ini terjadi pada sekitar abad ke-7 Hijriyah (abad ke-13 Masehi) ketika kaum muslimin melanjutkan penaklukannya.

Peperangan berlanjut dengan sejumlah pertempuran yang hampir selalu dimenangkan oleh kaum muslimin. Negara Islam menjadi negara pertama (super power) dan terus menguasai wilayah tersebut selama empat abad, sampai pertengahan abad ke-12 Hijriyah (abad ke-18 Masehi).

Saat terjadi Revolusi Industri di Eropa, yang berlangsung secara luar biasa, yang memberikan dampak sangat besar terhadap kekuatan negara-negara Eropa. Kaum muslimin terhenyak dan mengalami kebingungan menyikapi revolusi tersebut. Dengan demikian, perimbangan keku­atan di dunia segera mengalami perubahan, dan Negara Islam mulai mengalami kemunduran secara perlahan namun pasti, sampai akhirnya ia menjadi objek keserakahan negara-negara kafir.

Sejak saat itu, negara-negara Eropa mulai berpikir untuk mengha­puskan Negara Islam dan menghancurkan Islam dari kancah kehidupan dan pergaulan antar bangsa. Mereka mulai memikirkan perang salib baru, yang tidak sekedar berupa invasi militer untuk mengalahkan tentara muslim dan menaklukkan Negara Islam. Perang salib baru ini lebih menakutkan dan menimbulkan aki­bat yang lebih dahsyat. Peperangan tersebut dirancang sedemikian rupa untuk mencabut akar-akar Negara Islam, sehingga tidak akan ada lagi jejak-jejak yang tertinggal yang dapat menumbuhkannya kembali. Peperangan tersebut juga dirancang untuk mencabut akar­-akar Islam dari dalam jiwa kaum muslimin, sehingga tidak akan ada lagi yang tertinggal kecuali sekumpulan upacara keagamaan dan ritus-ritus spiritual.

Pada saat meletus Perang Dunia I (1914-1918), negara-negara Barat mendapatkan peluang emas untuk menghancurkan Khilafah. Pada perang ini, Khilafah Utsmaniyah bergabung dengan Jerman melawan tentara Sekutu (Inggris, Perancis, dan Italia). Akhirnya Sekutu berhasil keluar sebagai pemenang dan kemudian membagi-bagikan ghanimahnya di antara mereka, yakni membagi-bagikan negeri-negeri Islam yang berhasil mereka kuasai. Mereka akhirnya menguasai Mesir, Suriah, Palestina, Yordania Timur, dan Irak. Pemerintah Utsmaniyah tidak lagi menguasai wilayah mana pun, selain secuil wilayah yang kemudian disebut dengan Turki. Itupun sudah dimasuki oleh Sekutu. Inggris misalnya menduduki selat Dardanel dan selat Bosporus, Perancis menduduki sebagian kota Istambul, dan Italia menduduki jalur kereta api di Turki[3].

Wilayah yang tinggal secuil inipun akhirnya tidak dibiarkan begitu saja, lewat konspirasi yang keji, seorang agen Inggris yang bernama Musthafa Kamal akhirnya menghancurkan khilafah Islam pada tanggal 3 Maret 1924, saat pidato ia berkata: “Dengan harga berapa kita wajib menjaga republik yang terancam dan berdiri di atas dasar-dasar ilmiah yang kokoh? Khalifah dan keturunan Bani Utsman harus diusir. Pengadilan-pengadilan agama yang kuno dan segenap undang-undangnya wajib digantikan dengan pengadilan dan undang-undang modern. Madrasah-madrasah para agamawan (rijaluddin) harus digantikan dengan madrasah-madrasah negeri yang tidak mempelajari agama” [4]

Faktor Internal Penyebab Runtuhnya Khilafah

Bila kita tengok lembaran sejarah ke belakang, kehancuran Khilafah itu adalah sesuatu yang wajar, dalam arti negara itu memang sudah sangat lemah, hingga orang menyebutnya sebagai Ar Rajul Al Mariidh atau “The Sick Man”. Bahkan kelemahannya ini sudah muncul jauh sebelumnya.

Kelemahan ini nampak dalam dua hal, yaitu : Pertama, kelemahan umat dalam pemahaman (al fahm) terhadap Islam, dan kedua, kelemahan dalam penerapan (at tathbîq) Islam[5].

Kelemahan pemahaman ini antara lain berkenaan dengan nash-nash ajaran Islam, bahasa Arab, dan ketidaksesuaian praktek ajaran Islam dalam realitas kehidupan.

Berkaitan dengan nash-nash Islam, telah terjadi upaya pembuatan hadits-hadits palsu oleh kaum zindiq, meskipun kemudian ini dapat ditanggulangi berkat bangkitnya para ulama hadits dengan memberikan kriteria mengenai keotentikan dan derajat hadits.

Kelemahan dalam bahasa Arab terjadi saat berkuasanya para Mamalik yang mengabaikan bahasa Arab. Akibatnya terjadilah kelemahan dalam ijtihad hukum syara’ dan penerapannya dalam kenyataan, bahkan pada abad ke-4 H, sempat muncul ide tertutupnya pintu ijtihad.

Kelemahan dalam praktek ajaran Islam, muncul karena adanya upaya mengkompromikan ajaran filsafat India dengan ajaran Islam, sehingga zuhud akhirnya ditafsirkan sebagai penyiksaan diri (asketisme). Akibatnya, banyak kaum muslimin yang lari dari kenyataan hidup, padahal tenaga dan pikiran mereka seharusnya dapat didedikasikan untuk kemajuan negara dan dakwah Islam.

Kelemahan pemahaman dalam tiga aspek ini diperparah dengan Al Ghazwuts Tsaqafi (Perang Budaya) yang dilancarkan Barat ke negeri-negeri Islam dengan peluru-peluru yang berisikan peradaban Barat yang bertentangan dengan peradaban Islam. Barat menyebarkan waham (ilusi) bahwa peradaban Barat sesuai dengan Islam, hingga akhirnya pemahaman umat terhadap Islam semakin lemah. Mereka akhirnya mengambil sebagian hukum Barat di masa Daulah Utsmaniyah, memberhentikan penegakan hudud dan mengambil gantinya dari undang-undang Barat.

Adapun kelemahan dalam penerapan Islam, nampak dari penerapan yang buruk (isa`atut tathbiq) terhadap hukum Islam dalam kehidupan. Di antaranya ialah adanya partai-partai politik yang menggunakan kekuatan militer (thariqul quwwah) untuk meraih kekuasaan, bukan menggunakan dukungan umat (thariqul ummah). Seperti golongan Abbasiyah yang menduduki Persia dan Irak serta menjadikan wilayah ini sebagai sentral kekuasaannnya. Lalu dari sini mereka menggulingkan kekuasaan dan menjadikan Bani Hasyim sebagai para penguasanya.

Di samping itu, kelemahan lainnya juga nampak dari pemberian otoritas yang besar dan luas kepada para Wali (Gubernur) di berbagai wilayah. Misalnya diamnya penguasa Abbasiyah terhadap Abdurrahman Ad Dakhil yang berkuasa di Andalusia dan membiarkannya berkuasa secara independen. Meskipun Andalusia saat itu masih menjadi bagian integral dari Khilafah, tetapi wilayah itu sudah terpisah dari segi pengelolaan pemerintahannya. Demikian pula halnya para penguasa Saljuqiyyin dan Hamdaniyyin, yang sebenarnya adalah para wali[6].

Derita Umat Pasca Runtuhnya Khilafah

Hancurnya Khilafah telah memungkinkan Eropa untuk memecahbelah negeri-negeri Islam (menjadi lebih dari 50 negara), memutuskan hubungannya satu sama lain dengan menebarkan ide nasionalisme yang kufur, dan mendudukinya secara langsung. Perancis telah menduduki Suriah dan Lebanon, sementara Inggris berhasil menduduki Irak, Yordania, dan Palestina.

Meskipun mulai dekade 40-an hingga 60-an wilayah-wilayah itu satu per satu “merdeka”, yakni terbebas dari penjajahan secara fisik (militer), tapi sesungguhnya pengaruh penjajahan tetap saja bercokol di wilayah-wilayah itu dalam berbagai bentuk penjajahan gaya baru –di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, biologis, dan lainnya– melalui para penguasa muslim yang menjadi boneka kaum imperialis.

Palestina dan Masjidil Aqsha

Sejak menduduki Palestina dan mendirikan negara pada tahun 1948, Israel bersama militernya secara sistematis dan kontinu telah lama melakukan serangkaian tindakan penggusuran, pengusiran, intimidasi, dan pembantaian terhadap kaum Muslim Palestina. Pada tahun 1974, Israel berada di balik pembantaian sekitar 15 ribu warga Palestina di Kamp Pengungsi Tel Zataar. Para pengungsi malang tersebut dibantai oleh milisi Kristen garis keras yang dipersenjatai dan dibina Pemerintah Buruh Israel.

Sembilan tahun kemudian, Sabra dan Shatilla menjadi ladang pembantaian ratusan pengungsi Muslim Palestina yang diotaki Menteri Pertahanan Israel saat itu, Ariel Sharon. Pembantaian massal terakhir yang dilakukan Israel terjadi pada tanggal 25 Februari 1994.

Meski demikian, seliar apapun agresi yang dilancarkan militer dan warga sipil Israel terhadap kaum Muslim Palestina tidak pernah dikategorikan sebagai aksi terorisme. Yang menggelikan, pemerintah Israel selalu berkilah bahwa hal itu dilakukan sebagai upaya pembelaan diri dari serangan ‘terorisme’. Ariel Sharon, yang bertangung jawab atas tragedi Sabra dan Shatilla, misalnya, sampai kini tidak pernah diseret ke pengadilan. Bahkan, ia kini menjadi orang nomor satu di Israel dan bisa duduk satu meja dengan para pemimpin Arab.

Padahal, pada tahun 1982 saja, hanya dalam waktu dua bulan, 18 ribu orang tewas dan 30 ribu lainnya cedera menjadi korban kebiadaban Ariel Sharon. Bagi pemerintah Israel dan segenap warganya, teror itu adalah segala bentuk intimidasi dan kekerasan terhadap orang Yahudi, bukan untuk orang Arab. “Satu juta orang Arab tidak lebih baik daripada satu ujung kuku orang Yahudi” kata Rabbi Yacoov Perrin ketika berpidato di atas makam Baruch Goldstein 8 tahun silam[7]

Ironinya, AS—yang saat ini tengah gencar mempropagandakan perang melawan terorisme, menunjukkan dukungannya terhadap teror Israel ini. Lebih ironis lagi adalah sikap para penguasa negara Arab-Muslim, khususnya yang tergabung dalam OKI, yang seperti biasa, hanya ‘membalas’ setiap teror dan agresi Yahudi Israel terhadap kaum Muslim, baik di masa lalu maupun saat ini, dengan kecaman demi kecaman tanpa makna; bukan aksi real berupa pengiriman pasukan militer untuk bertempur mati-matian melawan Israel.

Yang lebih aneh lagi, mereka justru mendukung treatmen terakhir yang disodorkan AS kepada Israel maupun Palestina yakni usulan yang disebut dengan ‘peta jalan damai’, (padahal inti masalahnya adalah dirampasnya tanah Palestina oleh Israel atas dukungan Inggris, AS dan PBB, jadi pangkal masalahnya adalah keberadaan Israel itu sendiri yang patut dipertanyakan). Prinsip dasar dari berbagai usulan yang disodorkan sebenarnya sama saja, yaitu mendukung eksistensi institusi Yahudi di tanah Palestina dan membangung negara sekular Palestina.

Selama ini sejarah telah mencatat bahwa berbagai kesepakatan maupun perjanjian selalu dilanggar maupun dikhianati oleh Israel. Dan nampaknya, inilah kenyataan yang akan terjadi. Apalagi dunia juga mengetahui bahwa sponsor utama dari “perdamaian” ini adalah AS, negara dengan prestasi nomor wahid dalam pelanggaran dan kejahatan terhadap kemanusiaan terutama kepada kepada kaum Muslim. Sebagaimana diketahui, setelah AS berhasil menggulingkan Saddam Hussein, ia memaksa para penguasa di kawasan Teluk dan Timur Tengah untuk ‘terang-terangan’ menjadi agen (kaki-tangan)-nya.

Turki, 432 Tahun Berjaya dengan Islam

Turki (Konstantinopel) di buka oleh Al Fatih pada tahun 1492M[8], Turki adalah saksi sejarah keruntuhan khilafah Islamiyyah, sekaligus bukti kuat bahwa Barat secara kontinu melakukan konspirasi jahat terhadap umat Islam.

Pasca runtuhnya Khilafah, pada bulan Maret 1924 itu juga syari’at Islam dihapuskan dan sekolah-sekolah agama di tutup. Pada 25 Nopember 1925, para muslimah sudah biasa dengan memakai busana ala Barat. Selanjutnya tahun 1933 Azan dan Al Qur’an ditekan untuk menggunakan bahasa Turki, dan tahun 1935 masjid Shofia diubah oleh Musthafa Kamal menjadi museum dan Musthafa melakukan pemberangusan terhadap gerakan-gerakan keagamaan[9]. Majukah Turki dengan reformasi seperti ini? Ternyata Turki tidak berhasil memajukan peradabannya dengan sistem sekuler, pelacuran, kriminalitas dan kemiskinan juga menjadi cerita harian disana.

Oleh karena itu, sejak kemenangan Partai Republik tahun 1950, pemerintah sedikit longgar terhadap kegiatan agama Islam. 7 Juli 1950 ayat Al Qur’an kembali boleh diperdengarkan lewat radio, dan berbagai kegiatan keagamaan mulai diijinkan. Meskipun demikian kelompok sekuler tidak tinggal diam, pada pemilu 1991, partai Refah (sekuler, tapi agak Islami) harus rela didongkel paksa oleh militer, dan pemimpinnya harus sempat menginap di penjara, karena dinilai kurang sekuler oleh militer. Bahkan sampai saat ini pun kehidupan kaum muslimin masih tertekan.

Spanyol, 800 Tahun Dalam Naungan Islam

Penyebaran Islam ke Eropa Barat, khususnya ke Andalusia (kini meliputi Spanyol dan Portugal), telah dilakukan 78 tahun setelah Rasulullah wafat

Penaklukan Andalusia mulai dilakukan tatkala Gubernur Musa lbnu Nushair pada kali pertama mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif bin Malik. Tharif sukses. Kesuksesan itu mendorong Musa mengirimkan kembali pasukan ekspedisi selanjutnya yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad. Pasukan Thariq bin Ziyad mendarat di sebuah bukit yang kemudian diberi nama Jabal Thariq (Gibraltar) tahun 711 M. Selanjutnya, serangan demi serangan mampu menaklukan hampir seluruh Semenanjung Iberia (Andalusia).

Pada masa Abdurrahman III (912-1031). Andalusia dan ibukotanya Cordoba mengalami kemajuan yang sanga pesat dalam berbagai bidang, sampai pada puncak kejayaannya. Ia berhasil menggali sumberdaya manusia dan ekonomi tanah Spanyol sehingga menghasilkan kekayaan yang berlimpah ruah, pada saat Eropa masil mengalami kegelapan. Ia juga berhasi menciptakan kondisi yang tenteram dan damai.

Di lain pihak, kaum Nasrani berusaha bersatu untuk menghancurkan kekuasaan Islam. Pengkhianatan-­pengkhianatan yang selanjutnya dilanjutkan dengan serangan-serangan mulai dilancarkan. Memang pada awalnya, apa yang dilakukan oleh mereka tidaklah begitu berarti. Namun, setelah bersatunya musuh-musuh Islam yang diperparah dengan semakin memudarnya Kekhilafahan, akhirnya Cordoba dapat dikuasai kaum Kristen pada tahun 1236. Pernikahan Ratu lzabela dari Castilia dan Raja Ferdinand dari Aragon memunculkan kekuatan baru bagi musuh Islam untuk melakukan penyerangan pada tahun 1469. Hanya Granada yang bertahan di bawah kekuasaan Bani Ahmar (1232-1492). Akhirnya, benteng terakhir Islam yang di pegang oleh Bani Ahmar tidak dapat bertahan lagi. Dengan demikian, secara politik kekuatan Islam berakhir pada penghujung abad ke 15, dan Andalusia terpecah-pecah menjadi sekitar 30 negara kota.

Setelah kaum Kristen menguasai Andalusia, mulailah dilakukan gerakan kristenisasi di Andalusia. Para penduduk dipaksa kembali untuk menganut agama Kristen, semua literatur Arab dihanguskan. Pada tahun 1556, Raja Philip II membuat undang-undang agar kaum Muslim yang tinggal di Andalusia membuang kepercayaan, bahasa, adat-istiadat, dan cara hidupnya. Pada tahun 1609, Raja Philip III mengusir secara paksa semua penganut Islam keluar dan Andalusia, atau masuk Kristen.

Memasuki Abad 16 Andalusia bersih sama sekali dan keberadaan Muslim. Dampak dan kehancuran Kekhalifahan Islam di Andalusia masih terus berjejak hingga kini. Dendam kaum Nasrani dan penduduk Spanyol terhadap kaum Muslim seakan tidak terpuaskan. Meski telah berabad­-abad berlalu, dendam itu belum sirna, bahkan sangat mudah menjadi pemicu permasalahan.

Saat ini, Islam bisa berkembang kembali di sana sedikit demi sedikit. Walau dengan berbagai macam rintangan dan tekanan, Islam mulai menapaki kembali kehidupan di Andalusia. Saat ini suara azan sudah mulai terdengar lagi. Aktivitas-aktivitas keislaman mulai marak, walau hanya sebatas aktivitas ritual semata. Ini memang disengaja oleh penguasa yang ada. Mereka memahami dan merasakan sendiri, bagaimana Islam— tatkala menyatukan ibadah dan politiknya— mampu menjadi superpower. OIeh karena itu, aktivitas-aktivitas yang bernuansa ‘politik Islam’ sedini mungkin dicegah oleh pemerintah yang ada. Walaupun demikian, karena sifatnya sebagai sebuah ideologi. tekanan seberat apapun tetap saja menjadikan Islam berkembang di sana.

Di samping itu, kaum Muslim juga dipaksa untuk menghirup ‘nafas-nafas busuk’ demokrasi. Kaum Muslim dipaksa melihat dan melaksanakan berbagai kebebasan yang ada—kebebasan berperilaku, berpendapat, hingga kebebasan beragama. Namun, mereka tidak bisa mengkaji dan mendakwahkan Islam sebagai sebuah ideologi secara bebas. Di sinilah ironi yang ada; demokrasi membolehkan melakukan segala hal, terkecuali untuk yang bernuansa Islam.

Kondisi tertekan semakin berat dirasakan oleh kaum Muslim di Spanyol tatkala tragedi Bom WTC mengguncang AS. Aksi-aksi intimidasi, pelecehan terhadap agama, hingga kebijakan pemerintah yang menyudutkan mereka mulai nyata dirasakan; terutama bagi kelompok-kelompok dakwah yang secara konsisten memperjuangkan dan menyebarkan Islam sebagai sebuah ideologi. Mereka dicap sebagai pemikir ideologi Islam garis keras yang perlu diwaspadai dan ditumpas.

Bahkan secara resmi, pemerintah Spanyol melalui Perdana Menteri Jose Maria Aznar, sangat mendukung upaya-upaya dan langkah-langkah apapun yang dilakukan oleh AS. Tablig dan dakwah keislaman yang ada di masjid-masjid mulai dicurigai sebagai sebuah upaya sistematis memunculkan kader-kader ‘teroris’; demikian halnya apa yang terjadi di madrasah­madrasah. Mereka dicap sebagai institusi produsen ‘teroris’.

Kondisi Umum

Runtuhnya Khilafah telah menjadikan umat Islam berpaling dari acuan wahyu dalam mengatur sendi-sendi kehidupan mereka, sebagai gantinya mereka menjadikan sekulerisme sebagai asas kehidupannya.

Dalam bidang politik dan ideologi, kaum muslimin bercerai-berai dalam kerangkeng puluhan negara bangsa (nation-state) dan dibelenggu oleh batas teritorial yang berbasis pada paham nasionalisme yang sempit. Secara umum tapal batas wilayah negara telah menjadikan umat Islam tidak peduli dengan apa yang menimpa sesama muslim. Mereka hanya menjadi penonton pembantaian muslim Palestina oleh tentara Yahudi, kebiadaban tentara Rusia terhadap muslim Chechnya, kebiadaban Hindu India terhadap muslim Gujarat juga kebiadaban Amerika terhadap muslim Afghanistan dan Irak, dengan alasan yang terbukti tidak benar.

Yang lebih parah lagi umat tidak mempunyai negara yang melindungi, membela dan menjaga kehormatan mereka. Tidak kita dapati seorangpun dari penguasa kaum muslimin saat ini yang secara riil membela mereka. Bahkan penguasa-penguasa mereka –sadar atau tidak–justru menjadi pembela musuh dengan alasan ‘perdamaian’, ‘mencari solusi terbaik’ dan berbagai alasan lainnya. Padahal Rasulullah sebagai kepala Negara Islam pernah mengusir Yahudi Bani Qainuqa hanya karena dilecehkannya kehormatan seorang muslimah tatkala ia datang ke toko emas seorang Yahudi dengan membawa perhiasannya kemudian duduk, dengan diam-diam tukang emas tersebut datang dari belakangnya sambil memasang pengait ke pakaian wanita tersebut, tatkala wanita tadi berdiri maka terbukalah auratnya dan ditertawakan kaum Yahudi disertai teriakan-teriakan cabul, seorang muslim yang datang marah atas kejadian tersebut dan berkelahi dengan tukang emas hingga tukang emas yahudi tersebut terbunuh, kaum yahudi kemudian mengeroyok dan membunuh muslim tersebut, keluarga terbunuh minta bantuan kepada kaum muslimin yang kemudian menolongnya dan terjadilah pertarungan sekelompok muslim dengan Yahudi. Sebelum kerusuhan meluas, Rasulullah meminta agar Yahudi menghentikan gangguannya, namun mereka justru marah hingga Rasulullah mengirimkan pasukan untuk mengepung dan mengusir mereka.

Saat ini, pemimpin dan negara mana yang peduli dengan kondisi umat yang penuh problema berat ini?

Dalam bidang ekonomi, kapitalisme telah menjadikan kemiskinan melanda negeri-negeri kaum muslimin tidak terkecuali Arab Saudi[10], hanya segelintir orang saja yang dapat menikmati kekaayaan alamnya. Di Indonesia, lebih dari 100 juta rakyat hidup dalam kemiskinan, 40 juta rakyat menganggur, padahal Indonesia adalah negeri yang kaya raya, namun emas di Indonesia habis diangkut ke Amerika dan Kanada melalui Freeport, tambang emas di Minahasa diberikan kepada New Mount, minyak dan gas di Riau diserahkan kepada Caltex, di Arun, Aceh di berikan kepada Exxon Mobil, belum lagi batu bara dan hutan -lebih dari 12 juta hektar hutan/lebih luas dari pulau Jawa hanya dikuasai oleh 12 orang konglomerat, negara hanya kebagian 17 persennya dari sektor pajak[11]. Sementara minyak di negara-negara Teluk tandas disedot melalui politik perdagangan yang culas dan curang. Disisi lain negeri-negeri Islam juga dililit utang, utang Indonesia sudah mencapai angka Rp 1400 trilyun dengan bunga Rp 85 trilyun setahun[12]. Yang lebih parah dari itu adalah utang ini dijadikan IMF sebagai alat untuk mendominasi negeri ini.

Menurut Rektor Universitas Gajah Mada, Prof Dr Sofyan Effendi, bangsa Indonesia telah dijajah sejumlah negara asing yang melakukan konspirasi melalui IMF dan World Bank. Mereka mencegah masuknya teknologi, bioteknologi dan peningkatan ekonomi negara-negara dunia ketiga (Islam), termasuk Indonesia. Kata Sofyan, mereka memanfaatkan teknologi dan kekuatan ekonomi untuk menguasai kehidupan masyarakat kita. Contoh riil adalah Singapura (kaki tangan AS) yang menguasai penuh PT Indosat, yang menjadikan bangsa ini jelas tidak lagi berdaulat. Dengan penguasaan ini mereka bisa menyadap program-program rahasia dan pertahanan RI. Contoh lain adalah PT Dirgantara Indonesia (DI) yang dibonsai oleh IMF, agar Indonesia tidak punya teknologi dirgantara, kalau bukan karena alasan ini mengapa hanya karena PT DI utang Rp 1,7 trilyun IMF meminta agar perusahaan itu ditutup, sedangkan para bankir hitam yang utangnya ratusan trilyun saja justru mendapatkan pengampunan? Ini jelas langkah sistemis menjajah indonesia[13]

Dalam bidang sosial budaya, permisivisme telam menjadikan kehidupan umat Islam saat ini lebih parah dari zaman jahiliyyah dulu. Kalau masyarakat jahiliyah menganggap mempunyai anak perempuan sebagai aib, sehingga bayi perempuan mereka kubur hidup-hidup. Di era reformasi sekarang tanpa pandang apakah laki-laki atau perempuan, bayi sudah dibunuh sebelum lahir. PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) melaporkan bahwa setiap tahun ada 800.000 – 1.000.000 aborsi[14]. Tidak aneh jika sebuah penelitian menyatakan bahwa 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah. Yang lebih memprihatinkan adalah semua yang melakukannya mengaku tidak ada paksaan, dan sebagian dari mereka mengaku melakukannya dengan lebih dari satu pasangan dan tidak komersil[15]. dr.Boyke mengungkapkan bahwa 35% dari mahasiswa kedokteran di sebuah PTS setuju dengan seks pra nikah, sementara PKBI melaporkan 75% remaja yang disurvei di Lampung pernah melakukan seks pra nikah.

Pada masa jahiliyah seorang pelacur ditandai dengan tanda merah di dahinya. Saat ini pelacuran justru dikelola dengan istilah keren ‘lokalisasi’, lalu digagas pemungutan pajak dosa (sin tax). Widi Yarmanto mengungkapkan jumlah pelacur meningkat drastis dari tahun ke tahun, pada th. 1917 sebanyak 3000-4000, th. 90/91 sebanyak 49.619, th. 94/95 sebanyak 71.281 dan th. 99 sebanyak 70.975 orang. Bahkan ada yang menaksir ada sekitar setengah juta pelacur. Belum ditambah dengan para pelacur yang free lance di berbagai pusat perbelanjaan dan jalan-jalan di ber-bagai kota[16], hal ini mengakibatkan 7 – 10 juta suami di Indonesia menjadi pelanggan bisnis mesum ini[17]. Jumlah itu bisa jadi jauh lebih besar dari data yang terungkap. Pada masa jahiliyah seorang wanita bisa diwarisi, pada masa sekarang justru banyak yang menggagahi keluarganya sendiri.

Dari segi kepemilikan, masyarakat jahiliyah tidak memperhatikan aturan-aturan, tidak memperhatikan halal dan haram. Saat inipun banyak orang tidak peduli dari mana dan bagaimana ia mendapatkan harta. Segala cara dilakukan, yang penting memiliki banyak harta, jadilah seorang machiavellis. Sehingga wajar di tahun 2002, menurut Survei PERC (Political & Economic Risk Consultancy) yang bermarkas di Hongkong, Indonesia menempati ranking I negara terkorup di Asia dikuntit oleh India dan Vietnam (teten Masduki, Korupsi dan reformasi “Good Governance”[18]. Masyarakat jahiliyah malakukan riba yang mencekik leher (riba adl’afan mudla’afatan), dan sekarang riba malah dianggap sebagai tulang punggung perekonomian. Ekonomi dianggap tidak akan berjalan tanpa riba.

Semua realitas diatas sungguh berbeda 180o dengan kondisi umat yang sedemikian jaya saat Daulah Khilafah Islamiyah tegak selama lebih dari 1000 tahun.

Hancurnya Khilafah juga telah memusnahkan sebagian besar hukum-hukum Allah di muka bumi. Yang tersisa hanyalah secuil hukum-hukum seputar akhlaq, ibadah, dan sebagian kecil muamalah seperti al ahwalusy syakhshiyyah (hukum tentang pengaturan keluarga). Dapat dikatakan, Islam nyaris musnah dari realitas kehidupan, karena Khilafah yang menopangnya telah tiada. Padahal, sebagaimana kata Imam Al Ghazali:”… agama (Islam) adalah pondasi dan kekuasaan itu adalah penjaga(nya). Segala sesuatu yang tak berpondasi akan rubuh, dan segala sesuatu yang tak berpenjaga akan hilang lenyap.”[19]

Lantas Bagaimana?

Ditinggalkannya aturan Islam dalam pengaturan kehidupan baik di bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi maupun politik terbukti telah memundurkan umat dan menjadikan umat hidup dalam kehinaan di mana-mana. Sekarang umat Islam di seluruh dunia merasakan nasib yang malang dan menangisi kekalahan yang sangat mengerikan, yang belum pernah dialami oleh umat Islam di masa lalu.

Kalau kita renungkan secara mendalam, nasib buruk ini ternyata lebih karena keteledoran umat Islam sendiri; bukan karena musuh Islam. Umat Islam harus menyadari bahwa rumah mereka sendirilah dalam keadaan lemah, tak terpelihara kesehatannya, sehingga tatkala penyakit datang mudah sekali ia berkembang dan membikin lumpuh tubuh yang seharusnya kuat itu. Oleh karenanya, tidak ada alasan untuk terus menerus menggerutu, atau hanya mencaci maki orang lain. Hukum alam tidak pernah berubah. Siapa yang unggul dialah yang memimpin. Dan yang membuatnya unggul adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain.

"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah apa yang ada diri mereka sendiri"(Ar Ra’du:11)

Jadi jelaslah hanya ada satu cara untuk keluar dari kemelut ini: umat Islam harus bangkit! kebangkitan hakiki adalah kenaikan taraf berfikir umat yang dimulai dengan perubahan pemikiran secara mendasar dan menyeluruh menyangkut pemikiran tentang kehidupan, alam semesta dan manusia, serta hubungan antara kehidupan dunia dengan sebelum dan sesudahnya[20]. Pemikiran yang membentuk pemahaman akan berpengaruh pada tingkah laku. Tingkah laku Islamy akan terujud bila pada diri seorang muslim tertanam pemahaman Islam. Dengan demikian kebangkitan umat Islam adalah kembalinya pemahaman seluruh ajaran Islam ke dalam diri umat dan terselenggaranya pengaturan kehidupan masyarakat dengan cara Islam. Untuk itu diperlukan dakwah. Dan dakwah di tengah kemunduran umat seperti sekarang ini akibat tidak adanya kehidupan Islam, haruslah berupa "dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam"

Jika revolusi tahap pertama merupakan pembebasan umat dari belenggu penjajahan fisik, maka revolusi tahap kedua bertujuan membangun kesadaran Islam di tengah peperangan pemikiran tadi. Yakni kembalinya identitas, khazanah dan pemikiran Islam ke dalam diri kaum muslimin, setelah terbukti imitasi terhadap ideologi Barat bukan saja gagal dari segi konsepsi, juga tidak memberikan hasil positif dari segi praktis lahir maupun batin bagi kehidupan umat Islam. Revolusi tahap kedua digerakkan menuju terwujudnya kehidupan Islam.

Dakwah melanjutkan kehidupan Islam bertujuan untuk mengembalikan kaum muslimin kepada pengamalan seluruh hukum Islam di bidang ‘aqidah, ibadah, akhlaq, makanan, minuman, pakaian, muamalah (politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya).

Dari segi individu, dakwah atau pembinaan kepada umat bertujuan untuk membentuk seorang muslim yang berkepribadian Islam. Yakni seseorang yang berpikir dan bertindak secara Islamy.

Dari segi komunitas, pembinaan kepada umat bertujuan agar dari muslim yang berkepribadian Islam terbentuk kekuatan dan dorongan untuk melakukan perubahan masyarakat ke arah Islam dan menegakkan masyarakat Islam. Hanya dalam masyarakat Islam saja seluruh hukum Islam dapat ditegakkan, saatmana kerahmatan yang tertuju bukan hanya bagi umat Islam tapi juga mereka yang beragama selain Islam, karena memang Islam membawa rahmat bagi sekalian alam akan terasakan.

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukarkan (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (An Nuur: 55)

Dalam ayat ini Allah berjanji kepada siapa saja yang beriman dan beramal saleh, berjuang mewujudkan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, akan memberikan kekuasaan dan kepemimpinan atas manusia di dunia dan meneguhkan agama Islam. Artinya, agama Islam akan tegak, syariat Islam akan terealisasi, yang semua ini akan menjamin keadaan masyarakat menjadi tenteram, damai dan sejahtera menggantikan situasi yang penuh penderitaan dan ketakutan seperti sekarang ini. Pada saat seperti itulah, predikat umat Islam sebagai khairu ummat akan terujud. Insya Allâh. [Tulisan lama yang masih tersisa]


[1] At Thabari, Târikhul Umam wal Mulûk, Juz 2, hal 206 – 208

[2] Abdul Qadim Zallum, Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islam, hal 2

[3] An Nabhani, Ad Daulah Al Islamiyyah (terj), hal 298

[4] Abdul Qadim Zallum, idem, hal 183

[5] An Nabhani, idem, hal 240

[6] An Nabhani, idem, hal 247

[7] Djoko Pitono H.P, Palestina Antara Perdamaian dan Pembantaian di Hebron

[8] Soekama Karya dkk, Ensiklopedi Mini Sejarah Kebudayaan Islam, hal 334

[9] Al Wa’ie, No 19 tahun II, Maret 2002

[10] Al Wa’ie, no 42 tahun IV

[11] al-wa’ie no 17/II

[12] Metro TV, 8 Januari 2003

[13] Banjarmasin Post, Sabtu, 31 Januari 2004

[14] Republika, 25/4/1999

[15] Hasil penelitian Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) diungkap pada tanggal 1 Agustus 2002

[16] Gatra, no 32 th V, 29 Juni 1999

[17] Selamat datang pagi RCTI, 2 Desember 2003

[18] kompas, 15/4/02

[19] Al Ghazali, Al Iqtishad fil I’tiqad , hal 199.

[20] An Nabhani, Nidzâmul Islam, hal 1

Iklan

Posted on 22 Maret 2010, in Makalah. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Memang butuh perjuangan yg panjang ya utk mewujudkan Islam yang mendunia..
    Btw, mungkin kita perlu lebih konsen melihat dan membangun “ke dalam”, daripada terus melihat dan menyalahkan “ke luar”. Islam bukan lemah karena “diserang” oleh “Barat”, tetapi karena penyakit “di dalam” tubuh umat Islam itu sendiri. Menyalahkan “Barat” hanya menimbulkan kesan umat Islam adalah umat yg lemah..
    Terus berjuang, kawan..

    Suka

    • dua-duanya memang terjadi. disatu sisi umat memang dalam kondisi lemah (pemahaman keislamannya & tiadanya kekuasaan pelindung), ditambah dengan serangan luar, jadinya lengkap. Oleh krn itu keduanya juga perlu di perhatikan: membangun ‘kedalam’ dan menjelaskan akan bahayanya serangan ‘luar’. bukankah rasul disamping menjelaskan aqidah islam juga mencela berhala-berhala, mengungkap makar abu lahab, al walid b. mughiroh dll?

      Suka

  2. M. Rizki Taufani

    Kelas : IXE
    1.c
    2.d
    3.a
    4.a
    5.b
    6.a
    7.b
    8.a
    9.b
    10.d

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s