Maulid Nabi saw, Maulid Peradaban Baru [1]

Oleh : Muhammad Taufik N.T

Peringatan maulid Nabi Muhammad saw menjadi tradisi dikalangan kaum muslimin setelah abad ke-3 Hijriah[2]. Walaupun  tidak kami temukan rujukan nash yang shahih yang mengharuskan kaum muslimin memperingatinya, dan tidak ditemukan riwayat bahwa Nabi, Shahabat dan Tabi’in pernah memperingatinya, namun bukan berarti tidak boleh mengenang, mengkaji dan menganalisa kehidupan beliau saw, dengan memanfaatkan momen hari kelahirannya ini.

Tujuan mengkaji riwayat hidup Rasulullah saw bukanlah semata-mata untuk melihat kejadian-kejadian dan episode-episode bersejarah ataupun memaparkan cerita-cerita yang indah saja. Tujuan pokok dari kajian ini ialah supaya setiap muslim dapat memahami dan menggambarkan hakikat Islam yang semuanya terwujud di dalam kehidupan Rasulullah saw. Lebih lanjut dari itu adalah agar umat Islam bisa menapak-tilasi perjuangan beliau saw dalam mengupayakan perubahan kondisi masyarakat dari kejahiliyyahan menjadi masyarakat yang islami, maju dan beradab.

1. Kondisi Masyarakat ketika Nabi Muhammad saw Lahir

Masyarakat Arab Makkah pada saat itu berada pada zaman kekuasaan dua negara adi daya yakni Persia dan Romawi. Muhammad Al Mubarak seorang professor Mesir menyatakan bahwa bangsa Arab di masa silam berada di tengah-tengah dua peradaban. Di sebelah kirinya adalah peradaban barat yang tidak manusiawi. Di sebelah kanannya adalah peradaban kerohanian dan kejiwaan yang melambung ke alam khayalan seperti yang terdapat di India, China dan sebagainya.

Persia saat itu merupakan arena pertarungan agama dan falsafah yang beraneka ragam. Pembesar dan pemerintahnya menganut agama Majusi (Zuradisy) yang membolehkan lelaki mengawini ibunya, anak perempuannya atau adik dan saudara perempuannya. Juga berkembang ajaran Mazdak yang menganggap wanita dan harta benda ini kepunyaan dan hak milik bersama, tidak ubah seperti air, api dan rumput di mana semua manusia berserikat memilikinya[3].

Kekaisaran Romawi juga berkembang dengan semangat penjajahan, bergantung penuh pada kekuatan tentaranya dan cita-cita penjajahannya yang berkobar-kobar dalam rangka memodernisasikan agama Kristen untuk disesuaikan dengan kemauannya. Negara ini hidup dengan segala kemewahan ditengah kemerosotan ekonomi dan pemerasan terhadap rakyat jelata dengan pajak yang begitu tinggi.

Yunani tua juga tenggelam ke dasar lautan khurafat dan dongeng yang tidak berguna sama sekali. Mengenai India, Professor Abul Hassan Al Nadwi menyatakan bahwa ahli sejarah sepakat mengatakan bahwa India pada permulaan abad keenam Masehi berada pada lembah kemerosotan agama, akhlak dan kemasyarakatan[4].

Keadaan di Makkah saat itu juga tidak kalah merosotnya. Mereka larut dalam penyembahan berhala (paganisme). Setiap kabilah mempunyai patung sendiri sebagai sesembahan. Kerusakan akhlak juga menjadi-jadi, pelacuran menjadi legal, bahkan menjadi salah satu jenis pernikahan dalam masa itu (lihat HR. Bukhari tentang 4 jenis nikah jahiliyyah). Mabuk-mabukan menjadi budaya, pembunuhan bayi perempuan menjadi trend dan peperangan antar suku menjadi kebiasaan di tengah-tengah mereka. Allah menggambarkan kondisi masyarakat saat itu dengan firman-Nya:

وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ

Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Q.S Al Jumu’ah 2)

Dalam kondisi seperti inilah Rasulullah saw dilahirkan, yakni di Makkah pada pagi hari Senin, 9 Rabi’ al Awwal permulaan Tahun Gajah, dan tahun ke-40 dalam pemerintahan Raja Kisra Anu Syirwan bersamaan 20 atau 22 April tahun 571 Masehi (menurut Syaikh Muhammad Sulaiman al-Mansurfuri dan pentahqiq falak Mahmud Basya)[5], sedangkan menurut Ibnu Ishaq Nabi saw lahir pada tanggal 12 Rabi’ al Awwal.

2. Keprihatinan Rasulullah saw Terhadap Kondisi Masyarakat

Allah telah menjaga Rasulullah dengan inayah-Nya sehingga beliau saw tidak ikut larut dalam kemaksiatan dan kenikmatan duniawi yang menyesatkan. Saat beliau hampir ikut-ikutan, Allah dengan inayah-Nya menjaga beliau dengan menghalangi perasaan tadi. Ibn al-Atsir meriwayatkan, “Nabi saw bersabda: Aku tidak pernah berhasrat dengan apa yang dilakukan orang jahiliyyah selain dua kali saja, namun Allah s.w.t menghalangi aku meneruskannya, selain itu tidak pernah aku punya keinginan lagi sampai Allah mengaruniakan risalah-Nya kepadaku. Di suatu malam aku berkata kepada budak yang menggembala ternak bersamaku di pinggir Makkah: bisakah kamu menolongku menjaga kambing-kambingku ini agar aku bisa masuk kota Makkah dan berpesta seperti pemuda-pemuda lain?. Jawab budak itu, Ya! kau boleh pergi. Aku pun pergi sehingga saat aku sampai ke rumah pertama, aku mendengar alunan alat permainan, aku bertanya pada orang di situ: ada pertunjukan apa di situ? Jawab mereka itulah pesta perkawinan Si Fulan dengan perempuan Fulan. Aku pun duduk mendengarnya, tetapi Allah telah menutup telingaku dan aku pun tertidur hingga terik matahari telah mengejutkan aku dari tidur tadi. Saat aku menemui temanku, ia bertanya tentang pengalamanku, maka aku pun menceritakan kejadiannya (tertidur), hal yang sama aku coba pada malam yang lain, namun setelah aku sampai ke Kota Makkah, hal yang sama terjadi padaku, setelah itu aku tidak pernah mencobanya lagi.”

Keprihatinan Rasulullah saw akan rusaknya kondisi masyarakat mendorong beliau untuk menyendiri dan merenung. Di puncak Gunung Hira, – sejauh dua farsakh sebelah utara Mekah -terletak sebuah gua yang cocok sebagai tempat menyendiri dan merenung. Sepanjang bulan Ramadlan tiap tahun beliau pergi ke sana dan berdiam di tempat itu, cukup hanya dengan bekal sedikit yang dibawanya. Beliau tekun dalam renungan dan ibadat, jauh dari segala kesibukan hidup dan keributan manusia. Beliau mencari kebenaran, dan hanya kebenaran semata. Hingga akhirnya Allah SWT mengaruniakan risalah-Nya kepada beliau.

3. Aktivitas Rasulullah saw Dalam Membentuk Peradaban Baru

Tidak dapat dipungkiri bahwa Nabi Muhammad saw adalah orang paling sukses dalam mengubah prilaku dan peradaban manusia dari kondisi jahiliyyah, buta huruf, dan prilaku buruk lainnya menjadi manusia-manusia utama, berakhlaq mulia, dan menjadi pemimpin-pemimpin besar dunia. Hal ini diakui pula oleh Michael H. Hart dalam bukunya, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Hart menempatkan Nabi Muhammad saw pada urutan pertama dari orang-orang yang memegang peranan mengubah arah sejarah dunia. Oleh karena itu, setiap orang yang ingin melakukan perubahan, hendaklah mencontoh bagaimana Rasulullah saw melakukan proses perubahan ini. Firman Allah SWT:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya dalam diri Rasulullah saw itu terdapat suri teladan yang baik. (QS al-Ahzab [33]: 21).

Rasulullah saw juga teladan terbaik berkaitan dengan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mentransformasi peradaban. Allah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata” (QS. Yusuf [12]: 108)

Ayat ini menunjukkan bahwa jalan Rasulullah saw telah benar-benar tegas dan nyata. Oleh karena itu, Al Quran dan As-Sunnah, yang tercermin dalam langkah-langkah Rasulullah saw, yang merupakan sumber sekaligus tolok ukur untuk menentukan jalan mana yang akan ditempuh dalam rangka membangkitkan, menyadarkan dan men­didik umat, untuk terwujudnya peradaban Islam dengan diterapkannya sistem hukum Islam secara total dalam setiap aspek kehidupan, baik individual, bermasyarakt maupun dalam berbangsa dan bernegara.

Siapapun yang memahami perjuangan Rasulullah saw dalam menegakkan Islam hingga berhasil di Madinah akan menemukan tiga karakter dakwah Islam yang wajib diikuti, yakni pemikiran (fikriyah), politis (siyasah) dan tanpa kekerasan.

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الاُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). (Q.S Al Jumu’ah: 2)

Dari ayat tersebut dapat difahami bahwa Rasulullah saw melakukan aktivitas-aktivitas: 1) membacakan ayat-ayat–Nya. Ini mengajarkan kepada kita bahwa apa yang disampaikan ditengah umat hendaknya sesuai dengan kadar kemampuan mereka. Pada ayat tersebut dinyatakan ‘membacakan’ karena umat pada saat itu adalah buta huruf (ummi)[6]. 2) menyucikan mereka, yakni mengajak mereka untuk menapaki jalannya orang-orang bersih (adzkiya) dan orang-orang yang bertaqwa (atqiya)[7], bersih dari kotoran-kotoran aqidah dan amal perbuatan[8]. Rasulullah menjadikan aqidah Islam sebagai satu-satunya landasan perjuangan beliau, sehingga Rasullullah tidak segan-segan untuk menjelaskan kepalsuan dan pertentangan semua hal yang bertentangan dengan aqidah Islam, walaupun penentangan dari umat akan beliau hadapi. 3) Mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunah)[9], Al Qur’an dan As Sunnah tidak hanya dijadikan sebagai bacaan akan tetapi juga diajarkan untuk difahami kandungannya dan diambil pelajaran untuk diamalkan dalam kehidupan.

3.1. Dakwah Rasulullah saw Tanpa Kekerasan

Ketika Rasulullah saw dan para sahabatnya menjalankan dakwah di kota Makkah, sebelum tegaknya Daulah (Negara) lslamiyah di Madinah, Rasulullah saw bersama sahabatnya tidak menggunakan keke­rasan/fisik dalam perjuangan mewujudkan syariat Islam di tengah-tengah kehidupan, bahkan saat mereka disiksa sekalipun[10]. Begitu juga tatkala muncul keinginan para sahabat untuk menggunakan kekerasan/perang Rasulullah saw mencegahnya seraya bersabda:

إِنِّي أُمِرْتُ بِالْعَفْوِ فَلاَ تُقَاتِلُوا …

Aku diperintahkan untuk menjadi seorang pemaaf. Oleh karena itu, jangan memerangi kaum itu[11]

Baru setelah beliau dan kaum muslimin hijrah ke kota Madinah, mendirikan peradaban baru disana, dan menegakkan Daulah Islamiyah, Allah swt mengizinkan dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan berbagai aktivitas fisik (militer) untuk melawan kekuatan kufur maupun untuk membuka daerah-daerah kufur agar tunduk di bawah kekuasaan Daulah Islamiyah. Firman Allah swt:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. (QS. aI-Hajj [22]: 39)

Ayat ini diturunkan selepas beliau berhijrah ke Madinah dan menjadi kepala negara di sana, laIu beliau segera mempersiapkan diri setelah itu. Disamping itu, realitas menunjukan bahwa pemahaman, pemikiran, dan ideologi kufur yang ada dibenak sebagian besar masyarakat tidak dapat dihancurkan dengan kekuatan fisik, tetapi hanya dapat dihancurkan dengan mengubah pemikiran, perasaan dan keyakinan masyarakat dengan Islam hingga terwujudlah kehendak masyarakat/rakyat untuk mengubah sistem hidup yang tengah berlangsung menjadi sistem syariat Islam.

3.2. Rasulullah saw dan Pergolakan Pemikiran

Pemikiran Islam adalah setiap pemikiran yang digali dari sumber-sumber Islam, yang mencakup pemikiran tentang aqidah dan pemikiran tentang syariat (sistem hukum). Perubahan pemikiran dengan Islam berarti mengubah aqidah masyarakat menjadi aqidah Islam, dan aturannya menjadi aturan Islam.

Banyak sekali nash-nash Al Qur’an maupun perbuatan Nabi yang menunjukkan adanya pergolakan pemikiran (shira’ul fikriy) untuk menentang aqidah, ideologi, peraturan dan ide-ide keliru dan pemahaman yang rancu untuk menyelamatkan masyarakat dari ide-ide tersebut, serta dari pengaruh dan dampak buruknya. Diantaranya, Rasulullah saw menyampai­kan firman Allah swt:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ

Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah umpan neraka jahannam (QS. aI-Anbiya[21]:98).

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لاَ يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS. Al Hajj[22]: 73)

Terhadap orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan Rasul menyampaikan :

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (QS Al Muthaffifîn[83] : 1).

Sebagai wujud ketundukan kepada Rasulullah saw, hendaknya umat juga melakukan peru­bahan masyarakat lewat pemikiran Islam yang disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Hal ini dilakukan dengan pengajian-pengajian di masjid, ceramah umum, dialog, diskusi publik, atau kajian di tempat pertemuan lain. Begitu pula dilakukan dengan menggunakan sarana media massa, buku, booklet, dan sebagainya. Semua itu bertujuan untuk mewujudkan kesadaran umum di tengah masyarakat sekaligus menyatukan mereka dengan Islam.

3.3. Rasulullah saw dan Aktivitas Politik

Secara umum, politik (as siyâsah) adalah memelihara urusan umat. Sedangkan politik Islam berarti meme­lihara dan mengatur urusan masyarakat dengan hukum-hukum Islam. Dengan menelaah kehidupan Rasul saw dan ayat-ayat Al Quran dapat dilihat bahwa aktivitas dakwah beliau merupakan aktivitas yang bersifat politik, yakni beliau saw selalu memper­hatikan dan memelihara urusan masyarakat dengan sudut pandang apa-apa yang diturunkan Allah swt. Diantara aktivitas politik yang beliau dan sahabatnya lakukan adalah:

1. Mendidik masyarakat dengan tsaqofah Islam supaya mereka dapat menyatu dengan Islam. Beliau saw mengirim para sahabat untuk mengajarkan Al Qur’an kepada orang-orang yang baru memeluk Islam, beliau juga menetapkan rumah Al Arqam bin Abil Arqam sebagai markas dakwah, beliau dan para sahabat terus menyebarkan Islam dan membina orang yang menganut Islam.

2. Pergolakan pemikiran, yakni dengan menentang dan menjelaskan setiap pemikiran dan sistem kufur, aqidah yang rusak, dan pemahaman yang sesat serta menjelaskan pandangan Islam dalam masalah tersebut. Selain dalam perkara aqidah, Beliau juga menentang semua urusan yang tidak didasarkan Islam, misalnya dalam bidang sosial, Beliau menyampaikan:

وَلاَ تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Janganlah kalian memaksa budak-budak wanita kalian untuk melakukan pelacuran—sedangkan mereka sendiri menginginkan kesucian—dengan tujuan untuk meraih keuntungan duniawi. (QS an-Nur (24]:33).

Sementara itu, dalam kaitannya dengan masalah ekonomi, Beliau menyampaikan:

وَمَا ءَاتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ

Apa yang kalian berikan berupa riba untuk tujuan menambah harta-kekayaan manusia tidaklah menambah apa pun di sisi Allah. (QS ar-Rum [30]: 39).

3. Penentangan terhadap penguasa yang menerapkan hukum kufur dan membongkar makar mereka. Para pemimpin Quraisy satu persatu dilucuti jati diri mereka oleh Al Qur’an. Tentang Abu Lahab, Allah SWT berfirman:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

Binasalah kedua tangan Abi Lahab(QS al-Lahab [111]: 1).

Tentang penguasa Bani Makhzum, Walid bin Al Mughirah, Allah SWT berfirman:

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا وَجَعَلْتُ لَهُ مَالاً مَمْدُودًا

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak. (QS aI-Muddattsir [74]: 11-12).

Terhadap Abu Jahal, Allah SWT berfirman:

كَلاَ لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعَنْ بِالنَّاصِيَةِ نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, yaitu ubun­-ubun yang mendustakan lagi durhaka (QS al­‘AIaq [96]: 15-16).

Berdasarkan hal ini dalam konteks kekinian, aktivitas politik yang dilakukan dalam upaya penerapan syariat Islam adalah dengan membongkar rencana jahat negara-negara besar yang mendominasi ­negeri-negeri Islam untuk membebaskan umat dari belenggu penjajahan serta mencabut akar-akarnya baik di bidang pemikiran, kebudayaan, politik, maupun militer sekaligus mencabut perundang-undangan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Juga, melakukan koreksi terhadap penguasa dengan mengungkap pengkhianatan mereka terhadap umat dan persekongkolan mereka dengan negara-negara penjajah dan melancarkan kritik dan kontrol kepada mereka.

3.4. Rasulullah dan Kekuasaan

Sesungguhnya Islam tidak akan tegak dengan sempurna jika tidak diterapkan oleh negara, hal ini disebabkan banyak perintah syara’ yang memang tidak boleh diterapkan melainkan hanya oleh negara, semisal hukum-hukum tentang pidana, hubungan luar negeri, sebagian hukum ekonomi, dll. Imam Qurthubi berkata :

“Para fuqaha(ahli fiqh) telah sepakat bahwa siapapun tidak berhak menghukum para pelaku pelanggaran syara’ tanpa seijin penguasa/khalifah, dan tidak boleh suatu masyarakat saling mengadili sesamanya, tetapi yang berhak adalah sulthan/khalifah”[12]

Oleh sebab itu keberadaan negara, khilafah, yang menerapkan Islam adalah wajib. Imam an Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (12/205) menulis :

وأجمعوا على أنه يجب على المسلمين نصب خليفة ووجوبه بالشرع لا بالعقل

Dan mereka (kaum muslimin) sepakat bahwa sesungguhnya wajib bagi kaum muslimin mengangkat Kholifah, dan kewajiban (mengangkat khalifah ini) ditetapkan dengan syara’ bukan dengan akal. (lihat juga ‘Aunul Ma’bud, 6/414, Tuhfatul Ahwadzi, 6/397).

Rasulullah saw telah memberikan kepada kita seluruh langkah yang memungkinkan untuk mencapai jenjang kekuasaan/pemerintahan. Setiap orang yang menghendaki upaya penerapan sistem hukum Islam secara total wajib memahami dan mengambil langkah-langkah Rasulullah saw ini. Langkah yang beliau lakukan yakni dengan meminta dukungan/pertolongan kabilah kuat yang punya kemampuan untuk melindungi dakwah. Beliau pergi ke kota Thaif, untuk meminta pertolongan dan perlindungan mereka kepada Islam, namun mereka menolak. Beliau juga meminta pertolongan kepada sekelompok orang dari kabilah Kilab, yang juga merupakan jamaah/kelompok yang kuat. Demikian pula dengan Bani Hanifah. Beliau juga minta pertolongan pada Suwaid bin Shamit, yang merupakan tokoh terhormat dari kaumnya. Rasulullah saw juga menawarkan dirinya kepada Bani ‘Amr bin Sha’sha’ah untuk melindunginya dan berdiri di pihak beliau dalam menghadapi kafir Quraisy serta membawa beliau ke kampung halaman mereka. Firas bin Abdullah dari Bani ‘Amr menjawab:

أَرَأَيْتَ إنْ نَحْنُ بَايَعْنَاك عَلَى أَمْرِك، ثُمّ أَظْهَرَك اللّهُ عَلَى مَنْ خَالَفَك، أَيَكُونُ لَنَا الأَمْرُ مِنْ بَعْدِك ؟ قَالَ الأَمْرُ إلَى اللّهِ يَضَعُهُ حَيْثُ يَشَاءُ قَالَ فَقَالَ لَهُ أَفَتُهْدَفُ نَحُورُنَا لِلْعَرَبِ دُونَك، فَإِذَا أَظْهَرَك اللّهُ كَانَ الْأَمْرُ لِغَيْرِنَا لاَ حَاجَةَ لَنَا بِأَمْرِك

“bagaimana pendapatmu jika kami membai’at engkau atas perkara (kekuasaan) engkau, kemudian Allah memenangkan engkau atas orang yang menyelisihi engkau, apakah perkara (kekuasaan) itu menjadi milik kami sepeninggal engkau nanti? Rasul menjawab: perkara (kekuasaan) itu (urusannya) kembali kepada Allah, Dia memberikannya kepada yang dikehendaki-Nya. Maka dia menjawab: apakah engkau mau menjadikan kami berhadapan dengan bangsa Arab karena (membela) engkau, lalu jika Allah memenangkan engkau (lantas) perkara (kekuasaan) untuk selain kami, tidak ada perlunya urusan engkau bagi kami. [13]

Ini menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan Rasul saw mengarah kepada kekuasaan, namun kekuasaan dalam rangka menegakkan Islam, bukan kekuasaan dalam rangka mendapatkan kemewahan dan kelezatan dunia, buktinya, Rasul saw menolak setiap syarat yang bertentangan dengan Islam. Lebih jelas tentang hal ini adalah riwayat Asy Sya’bi, bahwa pada saat itu As’ad bin Zararah bertindak sebagai pemimpin suku Khazraj berkata kepada Rasulallah saw:

ودعوتنا ونحن جماعة في دار عز ومنعة لا يطمع فيها أحد أن يرأس علينا رجل من غيرنا قد أفرده قومه وأسلمه أعمامه وتلك رتبة صعبة فأجبناك إلى ذلك

“…Engkau telah meminta kepada kami (untuk menyerahkan kekuasaan milik kami). Sedangkan kami adalah suatu kelompok masyarakat yang hidup di negeri yang mulia dan kuat, yang tidak ada seorangpun rela dipimpin oleh orang dari luar suku kami, yang telah diasingkan kaumnya dan paman-pamannya tidak memberikan perlindungan kepadanya, (terus terang) permintaan tersebut adalah suatu hal yang sukar sekali, (namun) kami (telah bersepakat untuk) memenuhi permintaanmu itu…“[14]

Dengan demikian upaya meminta pertolongan untuk menjaga Islam yang beliau lakukan secara terus menerus telah berhasil memperoleh perlindungan dari perorangan dan penduduk Khazraj dan Aus yang berasal dari kota Madinah.

4. Kondisi Masyarakat Saat Ini

Dari sisi kemajuan materiil, ilmu pengetahuan dan teknologi, kondisi sekarang jauh lebih hebat dari masa Rasulullah saw. Berbagai macam penemuan ilmiah telah membantu memudahkan kehidupan manusia di dunia ini. Namun dari sisi kemanusiaan, spiritual, akhlaq dan keadilan, sistem kehidupan sekarang tak ubahnya seperti kehidupan jahiliyyah saat Rasul diutus dulu. Berikut segelintir kerusakan akibat dibuangnya sistem Islam kemudian diganti dengan sistem kehidupan (aturan, hukum, ideologi) sekular:

Akibat Sistem Ekonomi Kapitalis:

  • Di seluruh dunia kira-kira 50 ribu orang meninggal setiap hari akibat kurangnya kebutuhan tempat tinggal, air yang tercemar, dan sanitasi yang tidak memadai. (Shukor Rahman, Straits of Malaysia Times, 2001)
  • 826 juta manusia menderita kekurangan pangan yang sangat kronis dan serius, kendati dunia sebenarnya mampu memberi makan 12 milyar manusia (2 kali lipat dari penduduk dunia) tanpa masalah sedikit pun. (Shukor Rahman, New Straits of Malaysia Times, 2001)
  • Sementara 200 juta orang India kelaparan, pada tahun 1995 India mengekspor gandum dan tepung terigu dengan nilai $ 625 juta, beras 5 juta ton dengan nilai $ 1,3 milyar. (Institute for Food and Development Policy, Backgrounder, Spring 1998).
  • Aset 3 orang terkaya lebih besar dari gabungan GNP 48 negara terkebelakang. Jumlah milyuder meningkat 25% dua tahun terakhir menjadio 475 orang dengan nilai kekayaan lebih besar dari 50% penduduk termiskin dunia. (The United Nations Human Development Report, 1999).
  • Pada tahun 2009 utang Indonesia membengkak hingga Rp 1.667 triliun, untuk membayar bunga pada APBN-P 2009 saja Rp 109,59 trilyun (http://www.jakarta.go.id/), padahal Indonesia negeri yang kekayaannya luar biasa.

Akibat Sistem Sosial, Budaya & Hukum Sekular:

  • 26 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa (WHO, 2006), Depkes RI mengakui sekitar 2,5 juta orang di negeri ini telah menjadi pasien rumah sakit jiwa.
  • 50 ribu orang Indonesia bunuh diri dari tahun 2005 – 2007(WHO 2005-2007). Sedangkan di Jepang, laporan yang dikeluarkan Badan Kepolisian Nasional Jepang Kamis (19/6/2008) menunjukkan 33.093 mengakhiri hidup mereka sendiri pada tahun 2007. (PAB online)
  • Tiap hari 40 orang Indonesia mati akibat penyalahgunaan narkoba, perkara ini cenderung meningkat 34,4% per tahun. (http://www.polkam.go.id/polkam/berita.asp?nwid=108, 16 Maret 2007).
  • Di Indonesia, pada tahun 2005 terjadi 256.431 kasus tindak pidana =703 kasus per hari (Kompas.com, 28 Mei 2008)
  • Di Indonesia setiap tahun terdapat 2,6 juta kasus aborsi. Sebanyak 700.000 pelaku aborsi itu adalah remaja atau perempuan berusia di bawah 20 tahun.(Kompas.com, Sabtu, 4 Juli 2009)

Segala kerusakan yang terjadi saat ini seharusnya sudah mampu membuat mata siapa saja terbuka, mampu membuat akal merenung dan berkesimpulan bahwa tidak ada aturan yang mampu mengatur sebaik aturan Allah SWT. Setiap pelanggaran dari syari’at-Nya pasti akan berujung kepada bencana. Oleh sebab itu momen kelahiran Rasul ini hendaknya tidak menjadi ritual tahunan yang tak berbekas sama sekali, namun mampu mendorong siapa saja untuk melakukan transformasi peradaban sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah SAW.

Terakhir yang ingin kami sampaikan bahwa sekeras apapun usaha yang dilakukan, tanpa keikhlasan, do’a, keyakinan akan pertolongan Allah dan tawakkal kepada Allah tidaklah mungkin akan menghasilkan buah yang manis. Begitu juga keikhlasan, do’a, keyakinan akan pertolongan Allah dan tawakkal kepada Allah tanpa dibarengi dengan usaha yang optimal tidaklah bernilai dihadapan Allah SWT. Allahu Ta’ala A’lam


[1] Insya Allah akan disampaikan di Tanjung, Tabalong, 28 Pebruari 2009

[2] Sayyid Muhammad Syatho’ Ad Dimyâtiy, I’ânatu at Thâlibîn, juz 3 hal 363, (Maktabah Al Fiqh wa Ushûlihi), mengutip As Sakhôwi

[3] As Syahrastâni, Al Milal wa An Nihâl, hal 81, al Maktabah al Syâmilah v. 3.24

[4] Syaikh Shofiy ar Rahman Al Mubarokfuri, Ar Rahîq Al Makhtûm.

[5] Syaikh Shofiy ar Rahman Al Mubarokfuri, idem.

[6] Al Alusi, Rûhul Ma’âniy Fi Tafsîr Al Qurâni Al Adzîm wa as Sab’ul Matsâniy, j.20/h.495, Maktabah Syâmilah

[7] Ar Râzi, Mafâtîhul Ghaib, j.15/h.345, Maktabah Syâmilah

[8] Al Alusi, idem

[9] An Nasafi, Madâriku At Tanzil wa Haqâiqu At Ta’wil, j. 3 h. 429, , Maktabah Syâmilah

[10] Ini bukan berarti bahwa jihad dalam arti fisik/perang tidak ada dalam Islam, namun aktivitas dakwah berbeda dengan aktivitas jihad, dimana aktivitas jihad memiliki hukum-hukum tersendiri.

[11] HR. Ibnu Abi Hatim, an-Nasai (no hadits 3036), dan al-Hakim, Mausuah Al Hadits Asy Syarif /Kutubut Tis’ah

[12] Tafsir Qurthubi, jilid II hal 237, lihat juga Ali Ash Shabuni, Tafsir Ayatul Ahkam, jld II h.32

[13] lbnu Hisyam, Sirah Nabawiyyah, juz 1 hal 424 , Maktabah Syâmilah

[14] Abu Nu’aim Al Ashbahani, Dalailun Nubuwah, juz 1 hal 264, Maktabah Syâmilah

Iklan

Posted on 24 Februari 2010, in Dakwah, Makalah, Politik, Tarikh and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s