Mendekatkan Diri kepada Allah

Mendekatan Diri Kepada Allah[1]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَىْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِى عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ »

“Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: telah bersabda Rasulullah  SAW.: “Sesungguhnya Allah telah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi waliKu maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepadaKu pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepadaKu pasti Aku akan melindunginya, tidaklah Aku ragu tentang sesuatu yang aku lakukan seperti keraguanku tentang (mencabut) nyawa seorang mu’min, dia tidak suka kematian (kesakitan dan kesulitanny), sedangkan Aku tidak suka keburukannya (menyakitinya krn saat lanjut usia ia akan berkurang kekuatannya, menjadi uzur dst, juga sakitnya ia menghadapi kematian)[2] ”.

Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhary dalam kitab shahihnya, hadits no 6021 (Mausu’ah Al Hadits Asy Syarif /Kutubut Tis’ah v. 2.00),  no. 6137 (Maktabah Syamilah v. 3.24). Hadits no. 38 dalam Arba’in an Nawawiyyah. Juga diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Ibnu Hibban & at Thabraniy dengan redaksi yg agak berbeda.

Abu Hurairah ra. adalah sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.. Nama beliau adalah Abdurrahman bin Shakhr Addausy[3], masuk Islam pada saat perang khaibar tahun ke 7 H. dan meninggal dunia pada th 57 H.

Mengapa beliau sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits?

Pertama, berkat doa nabi SAW. kepadanya, agar setiap hadits yang ia dengar langsung hafal dan tidak lupa untuk selamanya.

Kedua, ia selalu bersama nabi semenjak berjumpa dengan beliau, ia tidak punya kesibukan lain kecuali mengambil ilmu dari nabi, adapun para sahabat yang lain, mereka mempunyai kesibukan untuk mengurus keluarga dan harta mereka. Imam Az Dzahaby menyebutkan dalam kitab Siyar nya, “Seseorang bertanya kepada Thalhah bin Ubaidillah: kenapa Abu Hurairah lebih banyak mengetahui hadits dari kalian? Kami mendengar darinya apa yang tidak kami dengar dari kalian? Apakah ia mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan Rasulullah? Jawab Thalhah: adapun tentang ia mendengar sesuatu yang tidak kami dengar, saya tidak meragukannya, saya akan menerangkan hal tersebut padamu, kami memiliki keluarga, binatang ternak dan pekerjaan, kami datang menemui Rasululllah hanya pada dua penghujung hari (pagi dan sore). Sedangkan ia (Abu Hurairah) adalah orang yang miskin, sebagai tamu dipintu rumah Rasulullah SAW., tangannya selalu bersama tangan Rasulullah, maka kami tidak meragukan apa yang ia dengar sekalipun kami tidak mendengarnya dari Rasulullah, engkau tidak akan menemukan seseorang akan tetap baik bila ia mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan Rasulullah SAW..”

Abu Hurairah sendiri pun telah menjelaskan tentang hal tersebut ketika keraguan seperti ini sampai kepadanya: aku datang menemui Rasulullah pada saat perang khaibar, umurku saat itu sudah melewati 30 tahun. Aku tetap tinggal bersamanya sampai beliau meninggal dunia, aku ikut bersamanya kerumah-rumah istri beliau, aku selalu membantu beliau, aku selalu ikut perang dan haji bersama beliau, dan tetap selalu shalat di belakang beliau, maka oleh sebab itu (demi Allah) aku menjadi orang yang paling tahu dengan hadits-hadits beliau.

Kandungan Hadits

I. PERMUSUHAN YG DIHARAMKAN

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya”. Maksud dari memusuhi (lebih tepatnya saling memusuhi, karena ikut wazan فاعل ) dalam hadits ini adalah bermusuhan karena alasan agama dan iman, sebagaimana syi’ah rofidloh yg membenci Abu Bakar. Ibnu Hubairoh menyatakan:

عَادَى لِي وَلِيًّا ” أَيْ اِتَّخَذَهُ عَدُوًّا ، وَلَا أَرَى الْمَعْنَى إِلَّا أَنَّهُ عَادَاهُ مِنْ أَجْلِ وِلَايَتِهِ

عَادَى لِي وَلِيًّا maknanya adalah “mengambilnya (menjadikannya) sebagai musuh, dan aku tidak melihat makna lain kecuali dia memusuhinya (wali) karena kewaliannya.

Adapun pertikaian yang disebabkan oleh urusan duniawi selama tidak sampai pada puncak kebencian tidak mendapat ancaman yang disebutkan Allah dalam hadits ini. Karena perselisihan dan pertikaian duniawi juga terjadi dikalangan sebahagian sahabat, sebab mereka adalah manusia biasa yang juga memeliki kesalahan dan kealpaan, tapi pertikaian tersebut tidak sampai pada tingkat kebencian, bahkan secepatnya mereka saling memaafkan, sebagaimana yang pernah terjadi antara Abu bakar dan Umar atau pertikaian tersebut timbul karena ijtihad mereka masing-masing sebagaimana apa yang terjadi dalam perang Shiffin dan Jamal.

Adapun kebencian yang didasari oleh kebencian kepada agama dan keimanan adalah merupakan dosa besar dan bahkan bisa menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Imam As Sya’bi mengungkapkan bahwa kebencian Rafidhah kepada para wali Allah melebihi kebencian yahudi dan nasrani kepada para wali Allah: ”Bila engkau bertanya kepada seorang yahudi siapa generasi terbaik agama kamu? Ia akan menjawab: sahabat Musa. Begitu pula bila engkau bertanya kepada seorang nasrani: siapa generasi terbaik agamamu? Ia akan menjawab: sahabat Isa. Tapi bila engkau bertanya kepada seorang rafidhah: siapa generasi yang terburuk dalam agama ini? Ia akan menjawab: sahabat Muhammad.”

Pengertian Waliyullah

Wali secara etimologi berarti: dekat. Dalam Fathul Bâriy disebutkan:

الْمُرَاد بِوَلِيِّ اللَّهِ الْعَالِم بِاَللَّهِ الْمُوَاظِب عَلَى طَاعَته الْمُخْلِص فِي عِبَادَته

Yang dimaksud dengan waliyullah adalah orang yg ‘alim terhadap Allah, yang tekun menjalankan ketaatan kepada-Nya yang mukhlis (ikhlas) dalam ibadahnya.

Al Qur’an mensifati waliyullah dengan:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)

Ingatlah; sesungguhnya para wali-wali Allah Mereka tidak merasa takut dan tidak pula merasa sedih. Yaitu orang-orang yang beriman lagi bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”. (Yunus[10]: 62-64).

Jadi  waliyullah  adalah orang yang beriman lagi bertakwa tetapi bukan nabi. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa seluruh orang yang beriman lagi bertaqwa adalah disebut wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para nabi, yang paling utama diantara para nabi adalah para rasul, yang paling utama diantara para rasul adalah Ulul ‘azmi, yang paling utama diantara Ulul ‘azmi adalah Nabi Muhammad SAW.. Maka para wali Allah tersebut memiliki perberbedaan dalam tingkat keimanan mereka, sebagaimana mereka memiliki tingkat yang berbeda pula dalam kedekatan mereka dengan Allah.

II. MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH.

“Dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya”.

Dari frase “mendekatkan diri kepada-Ku” (yataqarrabu ilaiyya) inilah kemudian lahir istilah taqarrub ilallah. Kata “taqarrub” secara bahasa artinya adalah mencari kedekatan (thalab al-qurbi). Jadi taqarrub ilallah artinya secara bahasa adalah mencari kedekatan dengan Allah. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari).

Makna syar’i dari taqarrub ilallah adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. (Fathul Bari, 21/132; Syarah Muslim, 9/35; Al-Muntaqa Syarah Al-Muwaththa`, 1/499; Syarah Bukhari li Ibn Bathal, 20/72).

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (38/9-12) menerangkan bahwa orang yang melakukan taqarrub ilallah ada dua golongan/derajat. Pertama, orang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban (ada` al-faraidh), yang meliputi perbuatan melakukan yang wajib-wajib (fi’lul wajibat) dan meninggalkan yang haram-haram (tarkul muharramat), sebab semuanya termasuk yang diwajibkan Allah atas hamba-Nya. Contohnya, mengerjakan sholat lima waktu. Kedua, orang yang melaksanakan yang sunnah-sunnah (nawafil), misalnya sholat tahajjud dan tarawih.

Jelaslah bahwa taqarrub ilallah bukan hanya berupa ibadah mahdhah semata, melainkan mencakup semua aktivitas untuk melakukan yang wajib-wajib dan yang sunnah-sunnah. Baik itu berupa ibadah mahdhah maupun berupa aktivitas interaksi antar manusia. Termasuk juga taqarrub ilallah adalah aktivitas meninggalkan segala macam yang haram-haram, dan juga yang makruh-makruh. (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 38/12).

Maka dari itu, berdakwah untuk memperjuangkan syariah adalah taqarrub ilallah, sebagaimana sholat dan puasa. Sebab berdakwah adalah suatu kewajiban. Demikian pula menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, membayar utang, bekerja mencari nafkah juga taqarrub ilallah, sebagaimana berhaji dan berzakat. Sebab semuanya adalah kewajiban yang ditetapkan Allah SWT. Demikian pula bersedekah dan tersenyum kepada sesama muslim adalah taqarrub ilallah, sebagaimana menyembelih kurban dan puasa Senin Kamis, sebab semua itu adalah kesunnahan yang disukai dalam Islam. Meninggalkan segala bentuk riba, zina, suap, dan khamr juga merupakan taqarrub ilallah, karena meninggalkan yang haram-haram juga merupakan taqarrub ilallah. Tidak makan makanan yang berbau tajam sebelum pergi ke masjid juga taqarrub ilallah, sebagaimana tidak berbicara dalam kamar mandi. Sebab keduanya adalah perbuatan yang makruh hukumnya. Termasuk dalam taqarrub ilallah adalah melaksanakan syari’at Islam (‘adil), sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah pada hari Kiamat dan yang paling dekat majlisnya dengan-Nya, adalah Imam (Khalifah) yang adil. (HR Tirmidzi, no. 1250).

III. PENGARUH KETAATAN TERHADAP PRILAKU SEORANG MUSLIM.

“Dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarnya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan”.

Makna Allah menjadi pendengaran, penglihatan, tangan dan kaki dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al Asqalany:

وَالْمَعْنَى كُنْت سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ فِي إِيثَارِهِ أَمْرِي فَهُوَ يُحِبُّ طَاعَتِي وَيُؤْثِرُ خِدْمَتِي كَمَا يُحِبّ هَذِهِ الْجَوَارِح

1. Maknanya: Aku menjadi pendengaran dan penglihatannya dalam dia mengutamakan perintah-Ku, sehingga dia mencintai untuk taat kepada-Ku dan mengutamakan untuk berkhidmat kepada-Ku, sebagaimana ia mencintai anggota tubuhnya ini.

أَنَّ الْمَعْنَى كُلِّيَّته مَشْغُولَةٌ بِي فَلَا يُصْغِي بِسَمْعِهِ إِلَّا إِلَى مَا يُرْضِينِي ، وَلَا يَرَى بِبَصَرِهِ إِلَّا مَا أَمَرْتُهُ بِهِ .

2. Maknanya: semua anggota tubuhnya sibuk dengan-Ku, tidaklah ia cenderung telinganya kecuali kepada sesuatu yg Aku ridloi, matanya tidak melihat kecuali apa yg Aku perintahkan.

3. akan berhasil tujuannya seolah-olah ia memperoleh nya dengan pendengaran, dan penglihatannya dst.

4. Aku menolongnya sebagaimana  mata, telinga, tangan dan kakinya membantunya.

5. Mengutip Ibnu Hubairoh: maknanya Akulah yang menjaga mata, telinga …, sehingga tidak akan melakukan kecuali yang dihalalkan.

6. dia tidak mendengar kecuali mengingatku, …

[bersambung] Allahu A’lam


[1] Penjelasan hadits ini banyak saya  terjemahkan dari kitab Fathul Bâri,  karya Ibnu Hajar Al Asqalani  (wafat 852 H), selebihnya dari berbagai sumber.

[2] Terjemahan dengan mengambil maknanya, dari Fathul Bâriy, Syarh Shahih Bukhory.

[3] Adz Dzahaby dalam kitabnya, Siyar  A’lâmin Nubalâ’ menyatakan nama asli Abu Hurairah ada perbedaan pendapat, yakni : Ibnu Ghanam, Abdu Syams, Abdullah, Sikkin, ‘Âmir,  Barîr, ‘Amru, Sa’id, namun yg paling kuat adalah Abdurrahman bin Shakhr. Begitu juga nama bapaknya ada beberapa pendapat.

Iklan

Posted on 26 Januari 2010, in Makalah, Mutiara Hadits. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. artikel yang seungguh menggugah..:)) bla kita dekat dengannya niscaya kedamainan hidup pasti akn kita rasakan,, ahsantum monggo kunjung keblog saya pak dan komen di postingan 🙂

    Suka

  2. Tarbiyatul banin

    Assalamualaikum
    mencerahkan akhi, betapa indahnya kalau tidak ada permusuhan

    NEW POSTING
    STOP SMOKING, PLEASE!!! Mencoba mengurangi Self Genoside
    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com/2010/01/25/stop-smoking-please-mencoba-mengurangi-self-genoside/

    tukeran link temen

    http://tarbiyatulbanin.wordpress.com/

    Suka

  3. ‘alaikumussalaam, blog antum bagus dan informatif. Tapi ada keuntungan merokok lho:
    1. awet muda, karena belum tua sudah ‘lewat’
    2. rumah aman dari maling, karena sampai malam batuk2 terus…. 🙂 (just joke)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s