Perselingkuhan Penguasa, Ilmuwan dan Media

Selingkuh = “Selingan ‘indah’ keluarga utuh”?, faktanya:  “selingan ‘indah’ karir runtuh” atau “selingan ‘indah’ keluarga runtuh. kalau ada lagu ”tak selamanya selingkuh itu indah”  faktanya: “selamanya selingkuh itu berakhir dg gundah”, pelaku selingkuh pun saya pikir (asumsi saya saja) pasti juga tidak akan tenang hidupnya, akan merasa gelisah, takut ketahuan dan berbagai problem yang lain. Kucing saja akan sakit hati jika pasangannya selingkuh, apalagi manusia.

Lebih menyakitkan jika ‘perselingkuhan’ terjadi antara intelijen, media massa, intelektual dan penguasa. Jika ini terjadi,  yang akan runtuh bukan hanya satu keluarga, bukan hanya anak-anak yang jadi korban, namun bisa satu bangsa menjadi korban ‘perselingkuhan’ tersebut.

 

Dalam ‘perselingkuhan’ model ini, intelijen bisa memberikan data palsu untuk menjustifikasi apa yang akan dilakukan penguasa, intelektual bertugas memberikan analisis ‘ilmiah’ dan kajian ‘statistik’ yang akurat, media massa yang meng ‘upload’ informasi ini ke otak masyarakat.  

Lebih setahun silam, publik Amerika Serikat dikejutkan oleh temuan Fund for Independence in Journalism yang mengungkapkan kebohongan yang dibuat Presiden George W. Bush dan para pejabat puncak di Washington.

Bush dan para pembantunya telah mengeluarkan 935 pernyataan palsu, 532 pidato, pengarahan singkat, wawancara, menyangkut keterkaitan Saddam Husein dengan Al Qaeda dan Bom WTC.

Kesimpulan studi ini dipublikasikan di situs Center for Public Integrity.

“Pemerintahan Bush telah secara efektif membentuk pendapat umum agar menyetujui kampanye mereka untuk menyerang Iraq dengan alasan-alasan palsu,” demikian kesimpulan studi seperti dikutip oleh Yahoo!News

Efek dari keterangan palsu ini diperparah oleh beribu-ribu berita dan siaran (televisi dan radio) yang dilakukan secara masif yang dibuat oleh media selama beberapa bulan peperangan.

“Tentu saja beberapa wartawan termasuk beberapa lembaga pemberitaan— juga mengakui bahwa sejak sebelum perang telah melakukan liputan tanpa kritik. Sebagian besar liputan itu bahkan ‘independen’ hanya dengan memuat pernyataan palsu dari pemerintahan Bush tentang perang Iraq,” demikian bunyi kesimpulan studi tersebut.

Diketahui belakangan, informasi intelijen dari CIA tentang senjata pemusnah massal Iraq itu, ternyata palsu dan dibuat oleh agen CIA Valerie Palmer. Tujuannya untuk pembenaran bagi langkah Bush menyerbu Iraq dan supaya dia mendapat dukungan parlemen dan simpati publik Amerika Serikat.

Kebohongan laporan CIA tentang senjata pemusnah massal Irak terungkap, setelah Judith Miller wartawati harian The New York Times dan Matthew Cooper wartawan majalah Time menuliskannya sebagai laporan investigasi mereka berdasarkan keterangan seorang sumber.

Kasus itu kemudian menyeret dua wartawan dan dua media tersebut ke pengadilan. Bush menganggap berita itu sebagai tindakan membocorkan rahasia negara dan meminta kedua wartawan untuk membeberkan identitas dari sumber berita mereka. Miller memilih bungkam dan dipenjara tapi Cooper sebaliknya.

***

Wajah Alberto Fujimori terlihat tegang. Matanya yang sipit terus menatap para hakim yang membacakan putusan kepadanya tapi para hakim agung di Mahkamah Agung Peru bergeming. Senin kemarin, mereka sepakat menjatuhkan hukuman penjara 7,5 tahun kepada Fujimori, bekas presiden Peru itu. Dia dipersalahkan karena terbukti telah menyuap Rp. 150 miliar kepada bekas kepala intelijen, Vladimiro Montesinos.

Itu adalah vonis penjara yang ketiga kali yang harus ditanggung Fujimori sejak dia tak lagi menjabat presiden pada 2000 dan kemudian berhasil diekstradisi dua tahun lalu. April silam, para hakim di mahkamah yang sama sudah mengganjar Fujimori dengan kurungan penjara selama 25 tahun.

Dikutip Reuters, para hakim menganggap bekas orang paling ditakutidi Peru itu, terbukti memerintahkan pembantaian dua lusin warga Peru ketika pemerintahannya memerangi pemberontak kiri pada 1990-an. Dua tahun sebelumnya, setelah dipulangkan paksa dari Chili, Fujimori juga sudah divonis 6 tahun karena menyuruh ajudannya untuk mencuri dokumen kriminal dari rumah istri Montesinos..

Kepada para hakim di pengadilan, Fujimori kemarin mengaku terpaksa menyogok Montesinos karena takut orang kepercayaannya melakukan skenario kudeta terhadapnya. Sebuah alasan yang kemudian diabaikan oleh para hakim. Di luar pengadilan, opini sengit menyudutkan Fujimori : dia menyuap Montesinos agar bisa meninggalkan Peru sembilan tahun lalu. Saat itu, situasi ekonomi dan politik Peru kaca balau menyusul skandal korupsi yang melibatkan Fujimori dan orang-orang di sekitarnya. Fujimori tak berkutik. Montesinos juga sudah ditangkap di Venezuela, dan segera akan diadili di Peru.

Sumber berita:  http://public..kompasiana.com/2009/07/22/selingkuh-presiden-intelijen/   http://politikana.com/baca/2009/07/22/selingkuh-presiden-intelijen.html

Baca Juga:

Iklan

Posted on 13 Januari 2010, in Berita, Kritik Pemikiran, Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s