Meraih Kemenangan & Kesuksesan

Oleh: M. Taufik N.T

Banyak orang yang berjuang, setelah menghadapi waktu yg lama dan tantangan yang berat lambat-laun semangatnya kendor, harapannya untuk meraih kemenangan dan kesuksesan dari apa yang diimpikan akhirnya sirna, kemudian ia berhenti berjuang atau perjuangannya diarahkan ke target yang lainnya. Seorang muslim harus menyadari sepenuhnya bahwa kemenangan dan pertolongan Allah semata-mata adalah hak Allah yang akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dalam waktu yang dikehendaki-Nya, dan dalam bentuk yang dikehendaki-Nya pula.

Nabi Nuh a.s selama 950 tahun berdakwah siang dan malam[i], secara sembunyi dan terang-terangan, tidak mendapatkan dari kaumnya kecuali penolakan yang buruk, Allah kemudian menolong nabi Nuh dg menenggelamkan kaum Nuh, Allah juga membinasakan kaumnya nabi Luth dan nabi Shalih. Disisi lain Allah memberikan pertolongan kepada nabi Isa dengan menjadikan risalah yang di sebarkan Isa diterima dikalangan bani Israil justru setelah Isa tidak ada. Setelah belasan tahun Allah juga menolong nabi Muhammad SAW dengan menjadikan musuh-musuh dakwah akhirnya masuk Islam.

Dalam hal ini kita tidak boleh mengatakan “kok Allah tega ya, masa’ 950 tahun berdakwah kok tidak dibuat saja umat nabi Nuh beriman semuanya, sehingga ceritanya berakhir menyenangkan padahal Dia bisa kan membuat mereka beriman sebagaimana kaum kafir Quraisy beriman kepada nabi Muhammad, kafir Quraisy kan di dakwahi tidak sampai 20 tahun sudah beriman”

Dengan memahami ini, diharapkan seorang muslim sadar sepenuhnya bahwa masalah pertolongan Allah lah yang akan menjadikan mereka menang dan berjaya secara hakiki. Pertolongan Allah adalah masalah qodlo, sebagaimana masalah rizqi, sehingga bukan berkaitan dg sebab-akibat. Usaha yg kita lakukan hanyalah merealisir syarat-syarat sehingga kita pantas untuk meraih pertolongan Allah. Ketika syarat-syaratnya terpenuhi, maka Allah akan memberikan pertolongan-Nya dalam bentuk dan waktu yang dikehendaki-Nya.

Dari penelaahan ayat-ayat Al Qur’an, setidaknya ada 5 hal yang disebutkan Allah dimana jika 5 hal tersebut terpenuhi, maka kita telah memenuhi syarat turunnya pertolongan Allah SWT. Lima hal tersebut adalah : 1) Iman, 2) Shabar & Taqwa, 3)Menolong Agama Allah, 4) Dzikrullah & Teguh, 5) Persiapan (I’dâd).

1. Iman yg hakiki

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (Ar Rûm 47)[ii]

Berkaitan dengan ayat ini Al Alusi menyatakan “ayat ini mengandung kelebihan keutamaan bagi kaum yg beriman, yakni Allah menjadikan diri-Nya berkewajiban menolong mereka”[iii]

Oleh karena itu, kurangnya keimanan atau keyakinan adanya faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap kesuksesan daripada pertolongan Allah adalah penyakit yang berbahaya yang akan mengantarkan kepada kegagalan dan kehancuran. Allah mengingatkan akan salahnya anggapan sebagian sahabat yang bangga akan jumlah yang besar, yang disangka akan memberikan kemenangan namun jumlah yang besar tersebut tidak berguna. Ketika mereka menyadari, bahwa mereka berangkat untuk berjihad, ikhlas karena Allah SWT, mereka pun segera merapatkan kembali barisannya. Sesudah itu, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya.

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الارْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. (At Taubah 25)

Dan tidak hanya berbangga dengan jumlah yang banyak saja, namun sebagian kaum muslimin (yang baru masuk Islam, jumlahnya 2000 orang dari 12.000 pasukan) keimanannya juga belum murni kepada Allah SWT. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Waqid Al Laitsi bahwa tatkala sekelompok kaum mu’minin dari para sahabat Rasulullah SAW keluar dari Makkah menuju (perang) Hunain (di mana sebagian mereka baru masuk Islam). Ketika sampai di sebuah pohon yang disebut Dzâtu Anwâth, mereka melihat kaum musyrikin menggantungkan senjata-senjatanya pada pohon itu dalam rangka meminta berkah. Abu Waqid mengatakan: “Maka tatkala kami melewati pohon yang hijau dan besar, kami berkata:”

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ

“Wahai Rasulullah, jadikan (pohon ini) Dzâtu Anwâth untuk kami”

Dalam riwayat lain (no. 20895)

يَا نَبِيَّ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ

“Wahai Nabi Allah, jadikan pohon ini Dzâtu Anwâth untuk kami seperti halnya mereka memiliki Dzâtu Anwât”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam menjawab

قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى { اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ }

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian telah mengatakan seperti perkataan kaum Musa padanya (Musa AS): Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala), sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala), Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui[iv]" (QS Al A’râf: 138), (HR Ahmad No. 20892).

Oleh karena itu tidaklah mengherankan ketika dalam perang Hunain mereka awalnya tercerai berai, bahkan sebagian mereka berkata dengan perkataan yang menunjukkan penyakit hati yg masih ada di dadanya. Kaladah[v] bin Hanbal berkata: “hari ini sihir Muhammad telah lenyap!” Syaibah bin ‘Utsman bin Abi Thalhah berseru: “Hari ini aku menyaksikan pembalasan dendamku pada Muhammad” , “hari ini aku akan membunuh Muhammad” ia berkata begitu karena bapanya telah terbunuh dalam perang Uhud, walaupun akhirnya ia tersadar bahwa hal itu terlarang. Abu Sufyan berkata: “Mereka takkan berhenti lari sebelum sampai ke laut” [vi].

2. Shabar & Taqwa

بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلاَفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُسَوِّمِينَ

ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali ‘Imran 125)

Dalam ayat ini Allah mensyaratkan kesabaran dan ketakwaan untuk dapat meraih pertolongan-Nya. Kesabaran dilakukan dengan tidak berkeluh kesah[vii] baik dalam menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan ataupun saat ditimpa ujian/musibah, sedangkan ketaqwaan diraih dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Umar bin al-Khaththab ra pernah berkata:

«فَإِنْ لَمْ نُغَِلَّبْهُمْ بِطَاعَتِنَا غَلَّبُوْنَا بِقُوَّتِهِمْ»

Jika kita tidak mengalahkan musuh kita dengan ketaatan kita (kepada Allah), nisacaya musuh akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Dan ketika kaum muslimin mulai memperbaiki urusan-urusannya, benar dalam beristighotsah kepada Rabbnya, maka mereka mendapatkan kemenangan atas musuh-musuhnya dengan kemenangan yang mulia.”

Umar ibnu Abdil Aziz pernah berwasiat kepada sebagian pekerjanya, “Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah di tempat mana saja Engkau berada. Sesungguhnya taqwa kepada Allah adalah persiapan yang paling baik, makar yang paling sempurna, dan kekuatan yang paling dahsyat. … Dan janganlah karena permusuhan seseorang dari manusia menjadikan kalian lebih perhatian padanya daripada dosa-dosa kalian. Janganlah kalian katakan bahwa musuh-musuh kita lebih jelek keadaannya daripada kita dan mereka takkan pernah menang atas kita sekalipun kita banyak dosa. Berapa banyak kaum yang dihinakan dengan sesuatu yang lebih jelek dari musuh-musuhnya karena dosa-dosanya. Mintalah kalian pertolongan kepada Allah atas diri-diri kalian, sebagaimana kalian minta pertolongan pada-Nya atas musuh-musuh kalian…”[viii]

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

“Jika kamu bersabar dan bertaqwa niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudhorotan kepadamu.” (QS Ali Imron: 120).

3. Menolong Agama Allah

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad (47): 7)

Menolong Allah berarti: menolong agama Allah dan thariqahnya, menolong kelompok kelompok yang memperjuangkan agama Allah[ix]. Ayat ini tegas menyatakan bahwa salah satu syarat turunnya pertolongan Allah adalah dengan menolong/memperjuangkan agama Allah dan membantu kelompok-kelompok yang memperjuangkan agama Allah.

4. Dzikrullah & Keteguhan Hati

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Al Anfâl 45)

Dalam ayat ini Allah Taala memerintahkan kepada kaum Muslimin, bila mereka menjumpai segolongan dari pasukan musuh supaya meneguhkan hati dan selalu menyebut nama Allah dengan banyak berzikir agar mereka mencapai kejayaan, ketabahan hati dalam pertempuran dan tidak lari dari musuh. Hal ini merupakan suatu pokok kekuatan yang menyebabkan kemenangan dalam setiap perjuangan, baik sebagai perorangan maupun sebagai tentara.[x]

Dalam hal dakwah, yang terpenting pula adalah keteguhan hati dalam menyatakan yang haq dan siap menerima segala resiko dari kebenaran yang disampaikannya. Ibnu Murdawaih dan Ibnu Abu Hatim keduanya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ishaq dari Muhammad bin Abu Muhammad dari Ikrimah dan dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa Umayyah bin Khalaf, Abu Jahal dan beberapa orang dari kabilah Quraisy keluar untuk mendatangi Nabi saw. Setelah mereka sampai, lalu mereka berkata kepada Rasulullah saw.,

"Hai Muhammad! Kemarilah, elus-eluslah tuhan-tuhan (berhala-berhala) kami, maka kami akan masuk ke dalam agamamu."

Dan Rasulullah saw. menyukai kaumnya jika masuk Islam, sehingga hal itu membuat lunak hati Nabi saw. Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu…" (Q.S. Al-Isra 73) sampai dengan firman-Nya, "Seorang penolong pun terhadap Kami." (Q.S. Al-Isra 75). Menurut hemat saya, riwayat di atas adalah riwayat yang paling sahih berkenaan dengan asbabun nuzulnya, dan lagi sanadnya jayyid serta mempunyai syahid (bukti). [xi]

Ayat selengkapnya adalah :

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاَتَّخَذُوكَ خَلِيلاً (73) وَلَوْلاَ أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً (74) إِذًا لاَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (75)

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. Al Isra : 73 -75)

Ayat diatas menjelaskan bahwa kalau sudah tidak teguh lagi memegang Islam, atau hati condong kepada kedzaliman, entah dengan alasan strategi agar disukai orang banyak, agar dakwah diterima, agar tidak di cap garis keras, radikal atau fundamentalis… dst, maka Allah berlepas diri dari mereka, lalu siapa yang akan menolong selain Allah? apakah justru meminta pertolongan selain Allah seraya mengabaikan terealisirnya syarat-syarat turunnya pertolongan Allah? wal ‘iyâdzu billâh.

5. Persiapan (I’dâd)

Untuk meraih kemenangan, disamping syarat-syarat diatas, juga tidak boleh disepelekan syarat yang juga sangat penting yakni persiapan. Allah menyatakan:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya”… (QS. Al-Anfal:60)

Kata قُوَّةٍ (kekuatan) diatas disebutkan dengan shighat nakirah sehingga mencakup berbagai kekuatan[xii] baik yang fisik maupun yang non fisik, kekuatan jumlah (kuantitas), hujjah, tsaqofah (ilmu), logistik dll.

Berkaitan dengan kuantitas Allah menyebutkan :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh…. (QS. Al-Anfal:65)

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal:66)

Dengan dua ayat diatas, Allah memberikan ungkapan bahwa kalau dengan semangat dan sabar (dan kekuatan iman yang sempurna) maka 20 bisa mengalahkan 200 (1 banding 10) — dengan persenjataan yang seimbang untuk saat itu – kalau ada kelemahan maka 100 orang bisa mengalahkan 200 orang (1 banding 2). Pada ayat itu Allah tidak menyatakan kalau sempurna imannya, sabar dst maka 1 orang bisa mengalahkan 1000 orang. Ini artinya kekuatan fisik dan jumlah juga harus diperhitungkan bagi yang ingin meraih kemenangan. Tidak seperti Yahudi, ketika mereka berkata agar nabi Musa pergi berperang berdua saja dengan Allah, sedangkan mereka menunggu saja.[xiii]

Termasuk persiapan yang harus dilakukan adalah persiapan ilmu/tsaqofah, tanpa hal ini bukan saja kegagalan yang akan diraih, namun juga kesia-siaan dari usaha kita yang akan kita terima, disamping Allah juga tidak akan menerima ‘amal yang tidak didasari ilmu walaupun imannya kuat. Adalah sangat aneh kalau kita bercita-cita ingin hidup islamy dalam segenap aspek kehidupan, namun disisi lain kita tidak serius mengkaji bagaimana bentuk kehidupan yang islamy itu, kita mengabaikan belajar ekonomi dalam pandangan Islam padahal setiap hari kita melakukan aktivitas usaha, kita enggan belajar bagaimana Islam mengatur negara padahal kita ingin tatanan negara kita islamy, kita enggan belajar bagaimana aturan islam berkaitan dengan rumah tangga padahal kita ingin rumah tangga kita islamy.

Bagaimana logikanya kita ingin hidup islamy dalam segala hal namun sebagian ayat-ayat al Qur’an justru kita singkirkan dalam ‘jadwal’ yang harus kita kaji, dengan alasan ayat ini belum perlu… yang penting iman…iman… tauhid…tauhid… lalu sampai kapan ayat-ayat tersebut tersisihkan? Bukankah Rasul SAW saat masih di Makkah sekalipun disamping beliau menyampaikan ayat-ayat tentang keimanan beliau juga menyampaikan ayat-ayat tentang hukum sekaligus dibingkai dengan keimanan, Misalnya larangan membunuh anak perempuan (Al An’am: 151), larangan/celaan curang dalam timbangan (QS Al Muthaffifîn :1-3)?

Imam As Syafi’i dalam kitab Tahdzîbul Asma’ juz 1 hal 74 menyatakan:

من اراد الدنيا فعليه بالعلم ومن اراد الآخرة فعليه بالعلم

Barang siapa menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu dan barang siapa menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu.

Oleh karena itu, ketika kemenangan belum juga diraih, kita harus introspeksi diri, adakah diantara syarat-syarat tersebut yang belum kita cukupi? Ataukah kita justru mengandalkan salah satu syarat, sementara syarat yang lain kita abaikan? Kalau ternyata masih kurang berarti ‘ iman dan amal shalih’ kita masih kurang untuk meraih kemenangan yang dijanjikan Allah SWT berikut:

وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ …

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa… (An-Nûr:55-56).

Namun ketika syarat-syaratnya telah terealisir dan belum juga pertolongan Allah turun, maka yakinlah bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al Baqarah : 214).

Kalau syarat-syaratnya sudah terpenuhi, walaupun tanda kemenangan belum kelihatan, yakinlah bahwa Allah memang ingin membersihkan keimanan kita agar hanya bergantung kepada-Nya saja, ingin kita lebih bersabar lagi dan bertawakkal lagi, sebagaimana Musa as, yang tidak melihat tanda-tanda bisa lolos dari kejaran Fir’aun namun dia tetap yakin akan kekuasaan Allah SWT.

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (62) فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (Asy Syu’arâ: 61-62)

[M. Taufik NT]


[i]

Tafsir Ibnu Katsir Surah Nuh :5

[ii] Lihat Juga Surat Ghôfir (40) : 51

[iii] Al Alusi, Rûhul Ma’âniy, 15/384

[iv] وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu (utara dari laut Merah), maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israel berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)". Al A’râf 138

[v] Ini menurut riwayat Ibnu Hisyam, dalam riwayat Ibnu Ishaq: Jabalah bin Hanbal

[vi] الروض الأنف , 4/213 -214, Sirah Ibn Hisyam, 2/443

[vii] Al Jurjaaniy, At Ta’rîfât, 1/42: Sabar adalah tidak berkeluh kesah kepada selain Allah. Al Jauhari, As Sihhah fi Al Lughoh, 1/378: Sabar adalah menahan diri dari berkeluh kesah. As Suyuthi, Tafsir Jalalain: Sabar dituntut dalam ketaatan, meninggalkan maksiat, dan saat menghadapi musibah.

[viii] Abu Nu’aim, Al Hilyah, 5/303

[ix] Ar Raazi, Mafâtîhul Ghaib, 14/86

[x] Tafsir Depag, dalam Holy Qur’an versi 8 buatan Harf

[xi] Asbabun Nuzul surat Al Isra ayat 73 -75, dalam Holy Qur’an versi 8 buatan Harf

[xii] walaupun pada beberapa tafsir disebutkan bahwa kekuatan disini maksudnya adalah pemanah, seperti dalam tafsir jalalayn mengutip hadits riwayat Muslim, namun ‘illat dalam ayat ini adalah kekuatan yang dapat menggentarkan musuh Allah, sehingga kalau panah tidak mampu menggentarkan, maka tidak dipandang cukup.

[xiii] فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَا هُنَا قَاعِدُونَ = pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (Al Maa-idah 24)

Posted on 13 Januari 2010, in Makalah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s