Bagi Siapa ‘Idul Fitri?

Apa hakikat raya raya Idul Fitri? Pertanyaan ini layak dimunculkan mengingat dari tahun ke tahun fenomena Ramadhan maupun pasca Ramadhan mempunyai pola yang sama. Pasca Ramadhan, berangsur-angsur suasana religius sirna dari keseharian kita. Seolah-olah tidak ada pengaruh positif dari program yang kita jalankan selama sebulan penuh itu.

Dalam menjawab pertanyaan di atas, ada sebuah syair yang layak kita renungi:

ليس العيد لمن لبس لجديد ولكن العيد لمن طاعته يزيد

“Hari raya Id itu bukan bagi orang yang berpakaian baru, tetapi hari raya Id itu untuk orang yang ketaatannya bertambah”.

Berhari raya bukanlah berarti kita bebas dari kewajiban-kewajiban yang Allah SWT berikan kepada kita selaku hamba-Nya. Sebab, kewajiban dalam Islam bukanlahnya hanya ada di bulan Ramadhan.

Berhari raya bukanlah berarti bersenang-senang mengumbar hawa nafsu yang selama bulan Ramadhan kita telah mengekang dan mengendalikannya. Karena, hakekat mengendalikan hawa nafsu berarti adalah menundukkannya sesuai dengan aturan-aturan Allah yang berlaku sepanjang kehidupan kita.

Berhari raya bukanlah berarti kita kembali mengosongkan masjid-masjid dan mushalla-mushalla, lantas meramaikan kembali tempat-tempat hiburan yang dipenuhi kemaksiatan. Karena keadaan yang kontradiktif seperti ini menunjukkan betapa bodoh dan tidak rasional kita dalam hidup ini. Setelah kita “bersih-bersih” di bulan Ramadhan, lantas dengan sengaja kita kotori kembali diri kita dengan najis dan kotoran.

Berhari raya bukanlah berarti kita kembali menutup Al Quran untuk membukanya kembali pada Ramadhan di tahun berikutnya. Sebab, Al Quran bukan sekedar bacaan di bulan Ramadhan. Bukanlah tujuan dari diturunkannya Al Quran untuk diperlombakan bacaannya, diberi hadiah bagi pemenangnya. Namun bagi yang berjuang untuk menerapkannya malah mendapatkan penjara.

Tapi, berhari raya Idul Fitri berarti kita menandai suksesnya program ketaatan di bulan Ramadhan, untuk kita bersiap-siap melaksanakan program-program ketaatan lainnya di bulan-bulan setelah Ramadhan. Dimana Allah SWT telah menetapkan bagi hamba-hambaNya, sejumlah program ketaatan yang tujuan dari semuanya adalah mewujudkan ketakwaan kepada-Nya. Ketakwaan yang akan memberikan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Ketakwaan yang menyelamatkan seorang hamba dari pedihnya siksa api neraka.

Kembali kepada makna syair di atas. Maka, tidak semua orang mendapatkan makna hari raya yang penuh dengan kemenangan. Sebab, yang sebenarnya layak dikatakan berhari raya adalah orang-orang yang mengalami peningkatan iman dan ketaatan (takwa) kepada Allah SWT. Iman dan takwa mereka seperti baru kembali, yakni memasuki hari-hari berikutnya dengan kadar dan takwa yang lebih tinggi dari hari-hari sebelum bulan Ramadhan.

Gambaran tentang siapa orang-orang yang tergolong sukses mengalami peningkatan iman dan takwanya, adalah: jika diserukan kepada mereka untuk menegakkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan –baik dalam tataran individu, masyarakat, maupun negara—maka dengan tegas, jelas dan tanpa ragu-ragu mereka menyatakan dukungan, kesiapan, dan partisipasi mereka.

Bagaimana dg kita? Selaku individu, apakah terhadap syariat Islam akan bersikap sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili di antara mereka (tentunya dengan syariat Islam, penterjemah) ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh,” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An Nur: 51).

Ataukah sifat kemunafikan masih tertancap di dalam dada kita?, kita ridho dg aturan Allah kalau menguntungkan kita, sementara kita lari kalau aturan itu menghambat keuntungan kita?

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48) وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ (49) أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku lalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang lalim. (An Nuur 48 -50)

MENGKAJI ARTI TAKWA

Takwa adalah buah yang dipetik orang yang berpuasa. Takwa adalah kesadaran akal seorang yang beriman dan pengetahuannya tentang syariat Islam yang mewajibkan dirinya untuk senantiasa menjadikan halal dan haram sebagai tolok ukur dalam seluruh perbuatan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan: “Orang yang bertakwa kepada Allah bukanlah mereka yang hanya berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari, melainkan mereka yang meninggalkan semua yang Allah haramkan dan menunaikan apa yang Allah wajibkan”

Kata takwa sendiri berasal dari kata “waqa” yang artinya melindungi. Takwa yang sesungguhnya haruslah bisa melindungi seorang muslim dari amarah Allah SWT dan hukuman-Nya. Takwa berarti sikap hati-hati seorang muslim untuk menjaga dirinya dari setiap perbuataan yang dikerjakan atau dia tinggalkan yang bisa mengakibatkan murka Allah menimpanya. Dengan sikap takwa ini seorang muslim memiliki kesadaran untuk senantiasa mengingat Allah SWT bahwa apapun yang dia lakukan harus dia pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Wujud kesadaran itu adalah ketertundukannya kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah SWT meminta kepada setiap orang yang mengaku beriman kepada-Nya, agar bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Dia SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(QS. Ali Imran: 102).

Syeikh Nawawi dalam tafsir Munir ketika menafsirkan “ittaqullah haqqa tuqatihi” pada ayat di atas, mengatakan bahwa Allah SWT mewajibkan orang-orang mukmin untuk bertakwa sebenar-benar takwa, yaitu usaha yang sungguh-sungguh dengan mengerahkan seluruh kemampuan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menjauhi apa-apa yang diharamkan Allah SWT. Beliau menghubungkan ayat itu dengan firman Allah dalam surat At Taghaabun: 16: “Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian…”

Menurut Syekh An Nawawi, ayat ini memerintahkan kita untuk berjuang semaksimal mungkin dalam bertakwa kepada Allah SWT. Jadi, setiap saat seorang muslim harus berjuang mempertahankan tolok ukur halal haram dalam seluruh aspek kehidupannya.

AKIBAT TIDAK BERTAKWA

Hendaknya kita camkan pada diri kita, bahwa masing-masing kita sebenarnya mampu untuk bertakwa kepada Allah. Sebab tidak ada satu perintah pun dari Allah, kecuali Allah tahu bahwa manusia pasti akan mampu melaksanakannya. Ia menyatakan “Allah tidaklah memberikan beban kepada seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (QS Al Baqarah: 286)

Yang berarti semua syariat ketentuan Allah, Ia berikan kepada kita dalam batasan kemampuan kita untuk melaksanakannya. Maka, membentuk pribadi yang bertakwa bukanlah perkara mustahil, membentuk masyarakat bertakwa bukanlah diluar kemampuan mereka, juga negara bertakwa dengan menerapkan syariat Islam bukanlah hal yang sulit bagi para pemimpin umat ini, jika kita semua berupaya sungguh-sungguh untuk mewujudkannya.

Jadi, bertakwa itu tidaklah terlalu sulit, berat, juga tidaklah mahal. Malah untuk berbuat maksiat dan kemungkaran pasti sulit, berat, bahkan mahal dan merugikan serta berdosa.

Untuk shalat, hanya meluangkan sekian menit dari waktu kita, serta tidak perlu ongkos mahal, cukup berwudlu beberapa gayung air dan melakukan gerakan-gerakan yang tidak sulit. Bandingkan dengan waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk melihat goyang ngebor si Inul, walaupun sekedar melihatnya di TV, berapa beban listrik yang harus kita bayar.

Mabuk, beli minuman keras juga mahal, apalagi kalau karena mabuk lantas kita mendapat kecelakaan, masuk rumah sakit, berapa harus bayar? Apalagi narkoba, sangat mahal, sekali memakai habislah ratusan ribu rupiah. Dampaknya jelas sangat merugikan, bahkan nyawa bisa melayang.

Judi, banyak kalahnya dari untungnya. Tidak ada penjudi yang kaya, yang kaya adalah bandarnya. Yang pasti modal habis, usaha bangkrut, rumah tangga berantakan

Berzina, selingkuh; mahal, berapa bayar pelacur, sewa kamar hotel? Lantas kena AIDS, tidak ada obatnya. Berzina suka sama suka juga jelas ruginya; hamil di luar nikah, anak digugurkan. Kalau juga dilahirkan, anak itu tidak punya bapak yang membiayai perawatan dan pendidikannya.

Mencuri; jelas resikonya ditangkap, dipukuli orang, hingga masuk penjara. Apalagi korupsi; bikin tidur tidak nyenyak, stress, takut terbongkar. Kalau diseret ke pangadilan, berapa ongkos untuk bayar pengacara, atau menyogok sana-sani agar dibebaskan dari tuduhan. KKN menjadi budaya, semua jadi dirugikan, karena setiap orang memeras yang lainnya. Milyaran harta rakyat habis tidak karuan.

Tidak berpakaian secara islami juga mahal, harus mengikuti mode, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ini berarti pornografi dan pornoaksi semakin marak; akibatnya pelecehan seksual hingga pemerkosaan juga meningkat.

Riba, jika terus dijalankan maka utang terus membengkak (catat: hutang Indonesia sudah Rp 1700 triliun), krisis ekonomi terus menghantui, penduduk miskin terus bertambah, pengangguran meningkat, kriminalitas melonjak.

Sebaliknya jika takwa dilaksanakan, semua menjadi tentram, barakah Allah datang dari langit dan bumi, sekian problem yang disebut tadi dapat dituntaskan: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Ia memberikan ia jalan keluar dari masalahnya, dan memberi rizki kepadanya dari arah yang ia tidak duga.” (QS At Thalaq: 2-3)

Berkaca kepada kehidupan Rasulullah, wajar kalau umat Islam dahulu mendapat kemuliaan dan kejayaan di sisi Allah SWT. Sebab Ramadhan mereka dijadikan ajang untuk mewujudkan Islam sebagai agama ideologis. Agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, menyelesaikan seluruh persoalan manusia mulai dari pribadi, keluarga, sosial, ekonomi, pemerintahan, politik luar negeri, sanksi-sanksi pelanggaran hukum, masalah pertahanan dan keamanan. Rasulullah dan para Sahabat sangat memahami arti takwa yang sesungguhnya.

Sementara sekarang, kita tidak lagi menjadi masyarakat yang bertakwa secara utuh. Padahal ketakwaan adalah kunci dimana Allah SWT akan menurunkan berkah-Nya dari langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah SWT : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)

PRIBADI-PRIBADI YANG BERTAKWA

Marilah kita mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu yang telah menunjukkan prestasi ketakwaan mereka kepada Allah SWT.

Lihatlah Muhammad Rasulullah, sosok manusia yang paling bertakwa, yang menunjukkan ketakwaan itu secara nyata tatkala suatu ketika beliau dilobi untuk meringankan hukuman atas seorang wanita yang mencuri untuk tidak memotong tangannya, dengan pertimbangan ia berasal suku yang terhormat. Sebagai pemimpin yang harus bertakwa dan bersikap adil, Rasulullah tidak mau kompromi dalam penegakkan hukum Allah, bahkan beliau menyatakan sendiri:

“Ketahuilah, bahwa yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah; manakala yang mencuri dari golongan terhormat mereka mengabaikannya, namun manakala yang mencuri adalah rakyat jelata mereka memotong tangannya. Ketahuilah, jika Fatimah anakku mencuri, pasti aku sendiri yang memotong tangannya.”

Pada saat Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, ia mengadukan seorang Yahudi ke pengadilan tentang sengketa baju besi miliknya yang berada di tangan Yahudi tersebut. Adalah Syuraih sebagai hakim dalam perkara tersebut, dengan ketakwaannya kepada Allah menolak saksi yang diajukan Khalifah Ali bin Thalib karena saksi adalah anak dan pembantu Ali sendiri yang menurut Syuraih kesaksian mereka tidak akan obyektif. Lantas ia menetapkan pemilikian baju besi ada pada Yahudi tersebut bukan pada Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Sikap takwa juga ditunjukkan seorang gadis yang menolak untuk mencampur susu dengan air agar lebih untung ketika dijual. Gadis itu menolak karena teringat khalifah Umar melarang tindakan kriminal itu. Ketika ibunya mengomelinya dan mengatakan bahwa Umar sedang tidur nyenyak –padahal sang khalifah sedang mendengar dialog mereka dari luar–, gadis itu menyatakan bahwa Allah tidak pernah tidur.

Sikap takwa bisa kita baca dalam dihentikannya persengketaan berkaitan dengan pinjam-meminjam yang mengandung riba antara dua keluarga di Makkah, dimana mereka dengan sukarela menghapuskan riba setelah turun peringatan Allah: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut jika kamu orang-orang yang beriman” (QS Al Baqarah 278)

Sikap takwa juga ditunjukkan para sahabat ketika mendengar ayat Al Quran yang mengharamkan khamer, dimana dengan tanpa memperhitungkan untung rugi mereka yang menyimpannya baik untuk konsumsi ataupun memperdagangkannya segera membuang dan menumpahkan seluruh persediaan yang mereka miliki. Demikian sosok-sosok yang bertakwa kepada Allah SWT yang mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. “Orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS Al Hujurat: 13)

Posted on 13 Januari 2010, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s