Bank Century: Perampokan Sistemik atau Dampak Sistemik?

Hiruk-pikuk kasus Bank Century cukup heboh. Rp 6,7 trilyun sudah dialirkan ke Bank Century, nyatanya banyak nasabah Bank Century (terutama nasabah kecil) yang merasa belum mendapat penggantian.

Mantan Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji menyatakan bahwa “Manajemen bank yang baru kenapa mengganti uang nasabah Rp4,31 triliun, padahal uang nasabah yang dirugikan hanya Rp 1,298 triliun,” jelasnya. Kemudian Susno yang melakukan penyidikan kasus itu mempertanyakan meski dana penggantian berlebih, kok ada nasabah kecil yang belum dapat penggantian?

Wapres JK mengatakan kasus Bank Century adalah perampokan dan menyuruh Boediono untuk menangkap pemilik Bank Century, Robert Tantular. Namun Boediono berkilah bahwa itu tidak ada dasar hukumnya.

Akhirnya JK memerintahkan Polri untuk menangkap Robert, dalam 3 jam saja Robert sudah ditahan polisi. Robert kemudian divonis 4 tahun karena merampok uang nasabahnya sendiri.

Selain Robert Tantular, Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Anwar Nasution menuding dua orang asing yang menanam saham pengendali di Bank Century, Hesham Al Warraq dan Rafat Ali Rizvi sebagai perampok uang rakyat Indonesia

Boediono mau pun Sri Mulyani bersikeras bahwa penutupan Bank Century (meski dimiliki para perampok) bisa berdampak “Sistemik” yang akan memporak-porandakan seluruh perbankan di Indonesia.

Sementara mantan Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah menyatakan bahwa Bank Century bukan Bank Sistemik karena peran dan jumlah simpanan nasabahnya sangat kecil. Kurang dari 1%. Burhanuddin menyatakan bahwa Bank Sistemik adalah 15 Bank terbesar yang menguasai 85% uang di Indonesia. Di antaranya adalah BNI, Bank Mandiri, BCA, Danamon, Bukopin, BTN, dsb. Tapi bukan Bank Century!

Anwar Nasution mantan Deputy Gubernur BI juga menyatakan bahwa Bank Century bukan Bank Sistemik karena perannya cuma secuil baik di pasar uang mau pun di pasar devisa.

Penutupan Bank non Sistemik seperti IFI atau pun Indover milik BI, terbukti tidak menimbulkan gejolak yang berarti.

Lagi pula aneh jika Bank yang ternyata didirikan oleh para perampok diselamatkan. Bukannya itu malah bikin masalah dan menimbulkan persepsi lain di masyarakat bahwa ternyata perampok boleh bikin Bank di Indonesia?

Harusnya Bank tersebut ditutup, kemudian pemerintah membuat tim kecil seperti BPPN untuk mengembalikan uang nasabah dan menagih hutang debitur Bank Century. Harta para perampok tersebut juga harus disita untuk mengganti uang rakyat sebesar Rp 6,7 trilyun yang telah lenyap.

source: http://polhukam.kompasiana.com/2009/12/24/bank-century-perampokan-sistemik-atau-dampak-sistemik/

***

Dari Adiy bin Amirah Al-Kindi Radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari kiamat”
(Adiy) berkata : Maka ada seorang lelaki hitam dari Anshar berdiri menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seolah-olah aku melihatnya, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, copotlah jabatanku yang engkau tugaskan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya : “Ada gerangan?”
Dia menjawab, “Aku mendengar engkau berkata demikian dan demikian (maksudnya perkataan diatas, pent)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Aku katakan sekarang, (bahwa) barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), maka hendaklah dia membawa (seluruh hasilnya), sedikit maupun banyak. Kemudian, apa yang diberikan kepadanya, maka dia (boleh) mengambilnya. Sedangkan apa yang dilarang, maka tidak boleh”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam kitab Al-Imarah, bab Tahrim Hadaya Al-Ummal, hadits no. 3415, Abu Dawud dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Aqdhiyah, bab Fi Hadaya Al-Ummal, hadits no. 3110,  Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 17264 dan 17270, dari jalur Ismail bin Abu Khalid, dari Qais bin Abu Hazim, dari Sahabat Adiy bin Amirah Al-Kindi Radhiyallahu ‘anhu di atas. Adapun lafadz hadits di atas dibawakan oleh Muslim.

Posted on 31 Desember 2009, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. ah, emang dasar perampok ya perampok aja gak usah dibenar-benarkan dengan istilah-istilah yg bikin susah masyarakat. betul juragan?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s