Korupsi; Apa & Bagaimana Solusinya?

(Pernah disampaikan pada Dialog Umum Pengenalan Syari’ah di Masjid Kampus Al Baythar Unlam Banjarbaru, 17 Desember 2004, teks hadits dll ditambah arabnya)

Indonesia telah memasuki tahun ketujuh era reformasi; era yang dimulai dengan cita-cita pemberantasan korupsi-kolusi-nepotisme (KKN). Namun, hari-hari ini kita justru menyaksikan bahwa penyakit KKN justru makin menyebar dan menjadi-jadi. Kita bisa menyaksikan berbagai hal yang bisa jadi saling berhubungan: kasus korupsi di BNI dengan nilai 1,7 triliun rupiah-yang ternyata kemudian juga diikuti bank plat merah lainnya yang baru go public (yaitu BRI); kasus dana siluman di DPRD Kalsel; kasus jual-beli quota haji di wilayah kewenangan Depag; dan kasus “tarif” calon legislatif untuk nomor-nomor jadi yang bernilai hingga ratusan juta rupiah.

Itu hanya segelintir kasus saja. Sebab, kita melihat bahwa korupsi telah dilakukan hampir di segala sektor dan di semua level status sosial. Jika korupsi-dengan nilai hanya beberapa puluh ribu rupiah-dilakukan oleh petugas rendahan di lapangan, mungkin sebagian orang akan masih mencoba memaklumi bahwa gaji petugas itu terlalu rendah. Namun, bagaimana dengan korupsi yang justru dilakukan oleh pejabat tinggi atau eksekutif yang sudah digaji puluhan juta rupiah perbulan?

Korupsi agaknya juga tidak lagi merupakan persoalan moral individu, namun sudah menjadi persoalan kolektif. Budaya malu yang telah hilang di satu sisi dan justru budaya hedonis yang mengemuka di sisi lain adalah contoh perubahan sikap kolektif yang ada di masyarakat. Sementara itu, sistem yang ada justru sering menjadi perangkap bagi aparat maupun bagi masyarakat untuk “mau tak mau” harus bekerjasama–dalam berkorupsi. Masyarakat butuh pelayanan yang cepat dan bermutu sementara aparat butuh uang. Akibatnya, terjadilah lingkar kemerosotan yang semakin cepat. Pejabat yang korup akan cenderung merusak sistem, yaitu membuat agar pada masa depan, sistem makin menguntungkan diri dan kelompoknya lagi (sehingga praktik menjarah uang rakyat akan semakin “legal”), atau setidaknya akan menghalangi perbaikan sistem. Kalau untuk meraih cita-citanya ini mereka perlu “melobi” DPR agar terkesan “demokratis”, membiayai LSM agar terkesan “independen”, membayar media massa agar terkesan “populer”, bahkan menyumbang masjid atau menghajikan tokoh agama agar terkesan “peduli sosial”–maka itu akan mereka lakukan. Dana yang diperlukan untuk itu tentu saja hasil korupsi juga. Tidak aneh, riset yang dilakukan berbagai lembaga menunjukkan bahwa tingkat korupsi di negeri yang penduduknya mayoritas Muslim ini termasuk yang paling tinggi di dunia.

Namun sebelum membahas lebih lanjut tentang korupsi, perlu diketahui beberapa sumber yang berpeluang menghasilkan kekayaan haram bagi pejabat, yakni:

1. Korupsi

Korupsi adalah suatu jenis penjambretan dan perampasan, karena pada mulanya si pelaku berbuat secara sembunyi-sembunyi. Korupsi tidak sama dengan pencurian, karena itu syari’at tidak menetapkan hukum potong tangan bagi pelakunya. Dari Jabir bin Abdullah sesungguhnya Rasulullah bersabda :

ليس على خَائِنٍ ، ولا مُنتَهِبٍ ، ولا مُخْتلِسٍ قَطعٌ

“Tidak ada bagi khâin(=penghianat, org yang mengambil harta secara sembunyi dan menampakkan kebaikan kepada pemilik barang[1]), muntahib (org yang mengambil barang dengan kekerasan, merampas) dan mukhtalis (=orang yg mengambil barang dengan cara tipuan, sembunyi-sembunyi[2]) hukuman potong tangan”[3]. Koruptor dimasukkan ke dalam kategori mukhtalis[4], ia dihukum sesuai dengan besar harta yang dikorupsi, berupa penjara tahunan hingga hukuman mati.

Korupsi adalah perbuatan haram yang haramnya lebih berat jika kejahatan itu dilakukan terhadap harta kekayaan milik umum. Rasulullah SAW bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ لَنَا عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِنْهُ مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ فَهُوَ غُلٌّ يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ … مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَلْيَأْتِ بِقَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ فَمَا أُوتِيَ مِنْهُ أَخَذَ وَمَا نُهِيَ عَنْهُ انْتَهَى

“Hai manusia, siapa saja diantara kalian yang melakukan pekerjaan untuk kami (menjadi pejabat/pegawai negara), kemudian ia menyembunyikan sesuatu terhadap kami walaupun sekecil jarum, berarti ia telah berbuat curang. Dan kecurangannya itu akan ia bawa pada hari kiamat nanti. … Siapa yang kami beri tugas hendaknya ia menyampaikan hasilnya, sedikit atau banyak. Apa yang kami beri padanya dari hasil itu hendaknya ia terima, dan apa yang tidak diberikan janganlah ia ambil”[5].

Termasuk korupsi adalah tindakan pegawai pos, listrik, telepon, dan sejenisnya dengan jalan menaikkan rekening tagihan dari yang semestinya. Semua itu haram dan uang hasil kejahatan tersebut harus disita dan diserahkan ke Baitul Mal[6].

2. Perantara (Makelar/Broker) dan Komisi

Samsarah atau perantara/makelar yang menjadi penghubung antara penjual dan pembeli merupakan profesi yang dihalalkan oleh Islam. Demikian juga komisi yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut. Namun, pekerjaan perantara yang dilakukan oleh penguasa, pejabat pusat, pejabat daerah, maupun pejabat negara apa saja yang menghubungkan antara negara atau departemen masing-masing dengan berbagai perusahaan asing maupun dalam negeri adalah haram. Komisi yang diterima dari perusahaan-perusahaan tersebut haram diambil dan harus disita negara dan diserahkan kepada Baitul Mal.

Imam Turmudzi meriwayatkan bahwa Muadz bin Jabal r.a. berkata :

بعثني رسول الله صلى الله عليه و سلم الى اليمن فلما سرت أرسل في أثري فرددت فقال : أتدري لم بعثت اليك ؟ لا تصيبن شيئا بغير علم فانه غلول ومن يغلل يأت بما غل يوم القيامة لهذا دعوتك فامض لعملك

Rasulullah SAW mengutusku ke Yaman (menjadi wali/gubernur). Setelah aku berangkat, beliau mengutus orang lain menyusulku. Aku pulang kembali. Rasulullah bertanya kepadaku : “Tahukah engkau, mengapa aku mengutus orang menyusulmu? Janganlah engkau mengambil sesuatu untuk kepentinganmu sendiri tanpa seizinku. (Jika hal itu kau lakukan), itu merupakan kecurangan. Dan siapa saja yang berbuat curang, pada hari kiamat kelak akan dibangkitkan dalam keadaan memikul beban kecurangan. Untuk itulah engkau kupanggil. Sekarang berangkatlah untuk melaksanakan tugasmu”[7]

Islam mengharamkan setiap muslim memperoleh harta dengan jalan tekanan kekuatan. Termasuk dalam hal ini adalah penyalahgunaan wewenang. Dari Jabir bin ‘Atiq r.a ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

من اقتطع مال امرئ بيمينه حرم الله عليه الجنة وأوجب له النار”. قيل: يا رسول الله وإن شيء يسير؟ قال: “وان كان سواكاً

“Siapa saja yang mengambil harta seseorang (tanpa izin) dengan tangan kanannya (kekuasaannya), Allah mengharamkan baginya surga dan mewajibkan baginya neraka”. Seorang sahabat bertanya: Ya, Rasulullah, bagaimana kalau sedikit? Beliau menjawab : “Walaupun sekecil kayu siwak”[8].

من أخذ شيئاً من مال امرئ مسلم بيمين فاجرة فليتبوأ بيتاً في النار — رواه الطبراني في الكبير ورجاله رجال الصحيح. ص.325

“Siapa saja yang mengambil harta seseorang (tanpa izin) dengan tangan kanannya (kekuasaannya), hendaklah ia menempati rumah di neraka”. Riwayat tabraniy dalam Al kabîr, perowinya adalah perowi shahih. Hal 325

3. Suap Menyuap

Rasulullah SAW bersabda :

لعنة الله على الراشي والمرتشي

Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap [9]

Imam Ahmad, Thabrani, Al Bazzar, dan Al Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Tsauban, bahwa ia berkata : “Rasulullah melaknat Ar Râsyi (penyuap), Al Murtasyi (penerima suap), dan Ar Râ-isy (perantara dalam penyuapan), hanya saja penambahan Ar Râ-isy (perantara dalam penyuapan) adalah lemah dari sisi riwayatnya, walaupun dari segi makna, menolong orang berbuat kemaksiatan juga haram hukumnya. Celaan yang terungkap dalam lafadz laknat dalam hadits di atas menegaskan haramnya perbuatan suap-menyuap.

Meskipun umumnya suap itu terjadi dalam kekuasaan, namun suap ini bisa terjadi di mana-mana. Di pengadilan, kantor polisi, kantor pemda dan kelurahan, maupun kantor-kantor pemerintah lainnya serta kantor-kantor perusahaan swasta, pabrik-pabrik, bahkan di pasar-pasar. Suap bisa terjadi untuk tujuan kebaikan seperti penyuapan terhadap polisi untuk segera menangkap maling atau penjahat lainnya. Bisa juga untuk tujuan buruk seperti suap terhadap seorang mandor agar para buruh tidak dibebani pekerjaan berat atau tidak diawasi secara ketat. Namun semua itu dilarang oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, semua harta yang diperoleh dari tindakan penyuapan tersebut dipandang haram oleh Islam dan disita oleh negara dan diserahkan kepada Baitul Mal (lihat Abdul Qadim Zallum, Al Amwal fid Daulah Al Khilafah, hal 118). Penerimanya, penyuapnya, maupun perantaranya wajib dijatuhi hukuman berat karena praktek suap sangat besar pengaruhnya terhadap semua alat-alat negara dan merusak kepercayaan masyarakat kepada aparat negara. Lebih-lebih jika praktek suap itu berkaitan dengan kejahatan besar seperti kegiatan mata-mata atau membocorkan rahasia negara dan rahasia militer untuk kepentingan negara asing, kejahatan keji yang bisa membahayakan keselamatan negara dan umat. Yang seperti ini patut diganjar hukuman mati atau penjara 25 tahun[10].

4. Hadiah Untuk Pejabat

Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim, Muadz menceritakan: aku bertanya kepada Thawus[11] tentang hadiah pernguasa maka ia menjawab: suht (haram)[12]. Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits abu humaid:

هدايا العمال غلول

Hadiah (untuk) pegawai (pejabat) adalah ghulul (kecurangan)[13]

Rasulullah SAW pernah mengangkat Ibnu Al Utabiyyah untuk menjadi pegawai urusan zakat. Setelah bekerja Ia menghadap Rasulullah SAW sambil berkata : “Ini kuserahkan kepada anda, sedangkan yang ini adalah hadiah yang diberikan kepadaku”. Setelah mendengar kata-kata tersebut, lalu Rasulullah s.a.w berdiri di atas mimbar. Setelah mengucapkan puji-pujian ke hadrat Allah, baginda bersabda: Adakah patut seorang petugas yang aku kirim untuk mengurus suatu tugas berani berkata: Ini untuk anda dan ini untukku karena memang dihadiahkan kepadaku? Bukankah lebih baik dia duduk di rumah bapa atau ibunya (tanpa memegang suatu jabatan) dan perhatikan apakah dia akan dihadiahi sesuatu atau tidak.[14]

Dengan demikian jelaslah bahwa hadiah dalam bentuk apapun yang diberikan kepada penguasa atau pejabat yang berwenang dalam suatu urusan, hukumnya haram. Namun demikian hadiah yang diberikan kepada pejabat oleh seorang pejabatnya yang sudah terbiasa memberi hadiah padanya sejak sebelum menjadi pejabat dibolehkan.

Korupsi Perlu Diperangi Secara Terpadu

Melihat fenomena yang begitu kompleks ini, korupsi jelas tidak mungkin lagi diatasi hanya dengan perbaikan akhlak individu.

Karena penyebab korupsi ada pada individu yang tidak amanah, lingkungan budaya yang tidak kondusif, dan sistem yang tidak cukup menggiring orang untuk menjadi baik, maka berarti perang terhadap korupsi harus dilakukan secara terpadu di tiga lini ini sekaligus.

Perbaikan Sistem dengan Syariat Islam

Syariat Islam memberi petunjuk tentang bagaimana meminimalkan tindak korupsi, antara lain: Pertama, sistem penggajian yang layak. Kita bisa membayangkan bagaimana mungkin gaji 57 ribu tenaga kerja asing di Indonesia sama dengan gaji 4 juta tenaga kerja lokal (1: 70) padahal para birokrat tetaplah manusia biasa yang mempunyai kebutuhan hidup serta kewajiban menafkahi keluarga. Agar tenang bekerja dan tak mudah tergoda, kepada mereka harus diberikan gaji, tunjangan, dan fasilitas lain yang layak. Rasul bersabda: Siapapun yang diserahi pekerjaan dalam keadaan tidak mempunyai rumah, akan disediakan rumah; jika belum beristri hendaknya menikah; jika tak memiliki pembantu hendaknya mengambil pelayan; jika tak memiliki kendaraan hendaknya diberi… Siapapun mengambil selainnya, ia telah berbuat curang atau pencuri. (HR Abu Dawud).

Dalam riwayat Al Hakim:

من استعملناه على عمل فرزقناه رزقا فما أخذ بعد ذلك فهو غلول

( هذا حديث صحيح على شرط الشيخين و لم يخرجاه)

Barang siapa yang kami pekerjakan atas suatu pekerjaan, kemudian kami beri gaji, maka apa yang diambil selain gaji itu adalah kecurangan. (hadits shahih menurut syarat syaikhain (Bukhary dan Muslim) namun mereka tidak mengeluarkannya)

Kedua, larangan menerima hadiah. Hadiah–atau sering dinyatakan sebagai “hibah”–yang diberikan kepada aparat pemerintah bisa membuat aparat pemerintah tersebut terpengaruh dalam mengambil keputusan atau memberikan pelayanan.

Suap dan hadiah akan berpengaruh buruk pada mental aparat. Mereka bekerja tidak sebagaimana mestinya. Di bidang peradilan, hukum ditegakkan secara tidak adil atau cenderung memenangkan pihak yang mampu memberikan hadiah atau suap.

Ketiga, perhitungan kekayaan. Untuk menghindari tindakan curang, perhitungan kekayaan para pejabat harus dilakukan di awal dan di akhir jabatannya. Jika ada kenaikan yang tak wajar, yang bersangkutan harus membuktikan bahwa kekayaan itu benar-benar halal. Cara inilah yang kini dikenal sebagai pembuktian terbalik yang sebenarnya efektif mencegah aparat berbuat curang. Akan tetapi, anehnya cara ini justru ditentang untuk dimasukkan ke dalam perundang-undangan.

Keempat, penyederhanaan birokrasi. Birokrasi yang berbelit dan tidak rasional akan membuat segala sesuatu kurang transparan, menurunkan akuntabilitas, dan membuka peluang korupsi. Demikian juga dengan prosedur hukum yang diskriminatif, misalnya memeriksa pejabat tinggi atau anggota DPR harus seizin kepala negara. Akibatnya, tidak jarang jika korupsi menyentuh lapisan elit itu, penyidikan biasanya terhenti. Dalam Islam, aturan yang membedakan pejabat tinggi dari rakyat biasa ini tidak dikenal.

Kelima, hukuman setimpal. Secara naluriah, orang akan takut menerima risiko yang tidak sebanding dengan apa yang diperolehnya. Risiko dalam bentuk hukuman berfungsi sebagai pencegah. Dalam Islam, koruptor dikenai hukuman ta’zîr, yaitu hakim bisa mencari bentuk hukuman yang diperkirakan paling efektif bagi kasus tersebut, misalnya berupa tasyhîr (pewartaan), penyitaan harta, pemecatan, kurungan, kerja paksa, sampai hukuman mati.

Perbaikan Budaya dengan Syariat Islam

Sistem hanya akan efektif diterapkan jika budaya masyarakat mendukung. Karena itu, syariat Islam juga memberikan panduan tentang bagaimana agar budaya yang rusak saat ini bisa diperbaiki.

Pertama, teladan pemimpin. Khalifah Umar bin al-Khaththab menyita sendiri seekor unta gemuk milik putranya, Abdullah bin Umar, karena kedapatan digembalakan di padang rumput milik Baitul Mal. Ini dinilai Umar sebagai bentuk penyalahgunaan fasilitas negara.

Demi menjaga agar tidak mencium bau secara tidak hak, Khalifah Umar bin Abdul Azis sampai menutup hidungnya saat membagi minyak wangi kepada rakyat. Dengan teladan pemimpin, pemberantasan tindak korupsi jadi mudah.

Kedua, pengawasan masyarakat. Masyarakat dapat berperan menyuburkan atau menghilangkan korupsi. Kalau masyarakat justru memuja seorang koruptor yang ‘baik hati’, rajin menyumbang pesantren, sekolah dan masjid bagaimana mungkin korupsi akan hilang dan koruptor akan malu?

Perbaikan Individu dengan Ketakwaan

Mungkin ada pertanyaan, mengapa ketika pada masa Khilafah dulu, atau ketika syariat Islam diterapkan pada masa lalu masih juga ada korupsi, seperti perilaku sejumlah Khalifah Bani Umayah, Abassiyah, atau Utsmaniyah yang korup?

Perlu diingat bahwa manusia bukanlah malaikat atau para nabi yang maksum dan terhindar dari maksiat. Hawa nafsu mereka dan setan masih akan selalu menggodanya. Hanya saja, godaan itu akan minimal ketika budaya dan sistemnya lebih kondusif bagi prestasi, bukan korupsi. Orang yang ingin korupsi akan malu pada masyarakat yang telah menolak hal itu secara kolektif. Lagipula, jika sistem yang berlaku sudah cukup rasional maka baik kebutuhan maupun peluang untuk korupsi akan bisa ditekan ke level minimal. Hal seperti ini bisa diamati di beberapa negara maju seperti di Skandinavia.

Namun tentu saja, tak hanya pada masa Khilafah, bahkan pada masa Rasul pun, masih ada orang-orang yang tetap melanggar lingkungan budaya dan sistem yang berlaku. Yang bisa mengontrol mereka hanya diri mereka sendiri. Di sinilah pentingnya peran komitmen diri atau dalam Islam disebut ketakwaan. Takwa adalah buah pendidikan islami sejak kanak-kanak dan ibadah ritual yang dikerjakan masing-masing.

Agar Tak Sebatas Jargon

Syariat Islam, jika diterapkan secara terpadu, akan mampu menghasilkan sistem dan budaya yang kondusif untuk mengatasi korupsi dan problematika lain negeri ini. Percayalah, dengan pola hidup bersih tanpa korupsi dan menegakkan syariah Islam, kehidupan pejabat maupun rakyat akan diliputi keberkahan.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya..(QS. al-A’râf [7]: 96)


[1] Tuhfatul Ahwadzi, 4/85: مَنْ يَأْخُذُ الْمَالَ خُفْيَةً وَيُظْهِرُ النُّصْحَ لِلْمَالِكِ

[2] الَّذِي يَسْلُبُ الْمَالَ عَلَى طَرِيقَةِ الْخِلْسَةِ

[3] HR. Ahmad, Ashâbus Sunan, dan Ibnu Hibban, hadits hasan shahih (tuhfatul ahwadzi no. 1368)

[4] Al Badhdady, Serial Hukum Islam, hal 75

[5] HR Abu Dawud (3583), At Thabrâniy, Mu’ jâmul Kabîr(256), Sunan Al Baihaqi (12951, 13550), sahih Ibnu Khuzaimah (2338), Musnad Imam Ahmad(18189)

[6] Al Badhdady, Serial Hukum Islam, hal 75

[7] Ath Thabrâniy, al Mu’jâmul Kabîr, (259), Mu’jamul Ausath (5235), As Suyuthi, Jâmi’ul Ahâdits (425), hadits hasan gharib

[8] Al Haitsami, Majma’uz Zawâid (4/211), An Nasa’i(3/481), Musnad Imam Ahmad (5/463), Al Hakim, Al Mustadrak (7913) ia mengatakan sanadnya shahih (menurut Bukhory dan Muslim) namun keduanya tidak mengeluarkannya.

[9] HR Ibnu Majah (2313), al Albani mengatakan ini hadits shahih (ta’liq muhammad fu’ad abd al bâqy), Al Baihaqi (5502) dalam Syu’abul Îmân. Dalam redaksi lain: لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم الراشي و المرتشي Rasulullah melaknat penyuap dan penerima suap

[10] Al Baghdady, idem, hal 56

[11] Seorang tabi’in, nama aslinya Dzakwan ibn Kaisan, gelarnya adalah thawusul ‘ulama = (burung merak para ulama), ia berguru kepada 50 sahabat Nabi SAW.

[12]At Thabary, tahdziibul Atsar 4/349. Lihat juga Ihya’ ‘Ulumuddin, 3/24, Jâmi’ul Kabiir, 1/25179

[13] ‘Umdatul Qaari’ 4/254

[14] Riwayat Bukhory (no 7174) juga diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Ad Darimi

Iklan

Posted on 26 Desember 2009, in Makalah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s