Otentisitas Dan Otoritas Al-Quran

Oleh M. Shiddiq Al-Jawi

Pendahuluan

Menurut keimanan umat Islam, al-Quran adalah kitab suci (sakral) karena ia merupakan wahyu Allah yang tidak ada mengandung keraguan (QS 2: 2) dan kebatilan (QS 41: 42). Namun, sakralitas al-Quran tersebut terus-menerus digerogoti oleh kaum orientalis dan para pengikutnya, seperti kaum liberal. Mereka berusaha keras menghancurkan sakralitas al-Quran dengan berbagai cara. Di antaranya dengan cara menggugat otentisitas dan otoritas al-Quran. Gugatas otentisitas al-Quran pada gilirannya jelas akan mengguncang otoritas (kehujjahan) al-Quran, atau mengancam kedudukan al-Quran sebagai hujjah atau dalil syariat pertama bagi segala ajaran Islam. Jika otoritas al-Quran ini sudah bisa dihancurkan, kaum orientalis tentu berharap akan dapat pula meruntuhkan seluruh sumber ajaran Islam lainnya seperti as-Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Itulah tujuan akhir mereka yang sangat keji.

Orientalisme dan al-Quran

Orientalisme merupakan studi yang dilakukan intelektual Barat untuk mempelajari situasi Timur; khususnya yang menyangkut sejarah, agama, bahasa, etika, seni, tradisi, dan adat-kebiasaannya (Bath, 2004: 19). Walau terkesan ilmiah dan canggih, orientalisme sebenarnya merupakan salah satu sarana yang dimanfaatkan Barat untuk melakukan penjajahan terhadap Dunia Islam (Baharun, 1997: 87-92).

Khusus berkaitan dengan studi al-Quran, tujuan orientalisme bukanlah untuk mengimani dan mengamalkan al-Quran, melainkan untuk membuat keraguan terhadap keabsahan al-Quran sebagai wahyu Allah (Baharun, 1997: 62; Bath, 2004: 19). Hal itu tidak mengherankan, sebab asumsi dasar orientalisme memang bukan keimanan, tetapi kekafiran sekaligus kebencian dan kedengkian yang mendalam terhadap Islam. Ini bisa dibuktikan dengan sikap mereka yang sangat kurang ajar terhadap Rasulullah saw. yang mulia. Orientalis Arthur Jeffery dalam artikelnya, "The Quest of The Historical Mohammad," yang dimuat dalam jurnal The Muslim World XVI/14, hlm. 338 (terbit 1926), tanpa segan menyebut Rasulullah saw. sebagai ‘gembong perampok’ (the robber chief) (Arif, 2005: 13). Sebelum itu, Dante, intelektual Italia, pada abad ke-18 menulis Divina Comedia (Komedi Ketuhanan), sebuah karya sastra imajinatif bernada dagelan yang menggambarkan Nabi Muhammad saw. berada di kerak neraka paling bawah (Baharun, 1997: 44). Masya Allah!

Menjawab Serangan Orientalis

Menurut Ugi Suharto (2004), orientalisme menyerang al-Quran melalui 3 (tiga) jalan: (1) melalui periwayatan al-Quran; (2) melalui penemuan manuskrip lama tentang qirâ‘ah (ragam bacaan al-Quran); (3) melalui berbagai argumentasi intelektual untuk meragukan al-Quran. Berikut penjelasan serangan-serangan itu dan jawabannya.

Jalan pertama: periwayatan.

Jalan ini ditempuh orientalis dengan mengajukan berbagai riwayat untuk menggoyahkan keabsahan Mushaf Utsmani. Sebagaimana diketahui, Mushaf Utsmani sampai kepada kita melalui jalur periwayatan dari para periwayat al-Quran secara mutawâtir; dari periwayat generasi tâbi‘ at-tâbi‘în, para tâbi‘în, para sahabat, dan dari Rasulullah saw. Sebagian tâbi‘în dan tâbi‘ at-tâbi‘în telah menghimpun riwayat-riwayat itu dalam kitab-kitab dan menerangkan sanad-nya (jalur periwayatannya) (Ibnu Khalil, 2000: 63). Nah, para orientalis menggunakan riwayat tertentu dengan tujuan agar riwayat yang sebelumnya telah tertolak itu dapat diterima kembali oleh umat Islam. Orientalis mengajukan berita adanya beberapa mushaf yang dimiliki sahabat yang tidak sama dengan Mushaf Utsmani, seperti Mushaf Ibnu Mas‘ud dan Mushaf Ubay bin Ka‘ab. Sebagai contoh: mereka mengetengahkan riwayat bahwa dalam Mushaf Ibnu Mas’ud bunyi QS Ali Imran (3) ayat 19 adalah: Inna ad-dîna ‘inda Allâhi al-hanifiyah (Abdush Shabur Syahin, Târikh al-Qur’ân, hlm. 132). Orientalis juga mengajukan kembali riwayat yang menyatakan Mushaf Ibnu Mas‘ud tidak mengandung surat al-Falaq dan surat an-Nas (Al-Qattan, 2001: 203). Di sini orientalis berharap, umat Islam mempercayai riwayat ini dan menjadi ragu-ragu apakah surat al-Falaq dan surat An-Nas termasuk al-Quran atau tidak. Jalan pertama ini, yaitu melalui periwayatan, adalah jalan buntu bagi orientalis. Mereka telah gagal. Kaum orientalis tidak akan mampu merusak keabsahan Mushaf Utsmani yang telah mantap dengan dasar Ijma Sahabat yang tak dapat diperselisihkan lagi (Syahin, 1966: 150). Orientalis tak akan mampu mengguncang posisi Mushaf Utsmani, sebab mushaf ini disandarkan pada riwayat mutawâtir, yaitu periwayatan oleh banyak orang yang menurut kebiasaan mustahil mereka akan sepakat untuk berdusta. Ke-mutawâtir-an ini dapat dibuktikan, misalnya, dengan jumlah penghapal al-Quran yang mencapai jumlah mutawâtir. Pada peristiwa Bi‘r Maunah gugur 70 syuhada yang hapal al-Quran, demikian pula dalam Perang Yamamah. (Al-Hasan,1983: 87). Para ulama dan para ulama ushul seluruhnya pun telah sepakat bahwa al-Quran adalah apa yang diriwayatkan secara mutawâtir dari Nabi saw. (Ash-Shabuni, At-Tibyân fî ‘Ulûm al-Qurân, hlm. 8). Karena itu, apa yang diriwayatkan secara ahad (bukan mutawâtir) tentang bunyi bacaan suatu ayat, bukan termasuk al-Quran. Mengomentari Mushaf Ibnu Mas‘ud yang mengandung qirâ‘ah yang menyalahi Mushaf Utsmani, Ibnu Hayyan dalam Al-Bahr al-Muhîth I/159 berkata, "Qirâ‘ah itu hanyalah riwayat ahad kalau pun itu bisa dianggap sahih. Karena itu, jangan dipertentangkan dengan apa yang telah terbukti secara mutawâtir). (Syahin, 1966: 96 & 132). Namun, meski demikian, kata Ibnu Hayyan, qirâ‘ah semacam itu dapat dianggap sebagai tafsir. (Ibn Hayyan, Al-Bahr al-Muhîth, III/240).

Jadi, bacaan inna ad-dîna ‘inda Allâhi al-hanîfiyah bukanlah bagian dari al-Quran, karena diriwayatkan secara ahad (bukan mutawâtir), meskipun kata al-hanîfiyah itu dapat dianggap sebagai salah satu tafsir kata al-Islâm (QS 3: 19). Namun demikian, ia tetap tidak bisa digunakan sebagai dalil pembenar untuk konsep teologi inklusif yang digembar-gemborkan kaum liberal. Sebab, mereka mengartikan al-hanîfiyah sebagai ‘sikap lapang dada’ yang dapat menerima kebenaran agama lain. Kalau mereka jujur, mereka mestinya mengekspos juga qirâ‘ah ahad serupa (sebagai tafsir) dari Ubay bin Ka‘ab yang justru menegaskan, bahwa al-hanîfiyah itu adalah Islam itu sendiri; bukan Yahudi, bukan Kristen, bukan Majusi. Sebab, qirâ‘ah ahad dari Ubay itu berbunyi: Inna ad-dîna ‘inda Allâhi al-hanîfiyah, lâ al-yahudiyah wa lâ an-nashrâniyah wa lâ al-majûsiyah (Al-Qurthubi, Al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân, IV/43; Syahin, 1966: 132).

Mengenai riwayat bahwa Mushaf Ibnu Mas‘ud tidak mengandung surat al-Falaq dan surat an-Naas, para ulama telah memberikan jawaban. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab berkata, "Kaum Muslim sepakat bahwa kedua surat itu (al-Falaq dan surat an-Nas) dan al-Fatihah termasuk al-Quran. Siapa saja yang mengingkarinya, walau sedikit saja, ia adalah kafir. Sementara itu, riwayat yang diterima dari Ibnu Mas‘ud adalah batil, tidak sah."

Ibn Hazm berpendapat, riwayat tersebut merupakan pendustaan dan pemalsuan atas nama Ibnu Mas’ud (Al-Qattan, 2001: 203).

Jalan Kedua: manuskrip lama.

Jalan ini antara lain ditempuh Gerd R. Puin. Orientalis ini mengajukan penemuan mushaf tua di Shan‘a (Yaman) yang konon mengandung qirâ‘ah yang lebih awal dari qirâ‘ah tujuh (al-qirâ‘ah as-sab‘u) yang terkandung dalam Mushaf Utsmani, meskipun mushaf temuan itu tidak lengkap dan sangat berbeda dengan Mushaf Utsmani. Puin ingin membuktikan, qirâ‘ah-qirâ‘ah yang berbeda dengan Mushaf Utsmani memang ada faktanya, bukan sekadar pemberitaan (riwayat). Jadi, jalan ini setingkat lebih canggih daripada jalan periwayatan di atas.

Namun, jalan ini tetap jalan yang buntu. Sebab, paradigma kaum orientalis itu adalah al-qirâ‘ah tâbi‘ah li ar-rasm (reading follows the text/ragam bacaan itu mengikuti tulisan/teks). Ini salah. Paradigma yang benar mengenai rasm (tulisan/teks) al-Quran adalah ar-rasm tâbi‘ li ar-riwâyah (tulisan/teks itu haruslah mengikuti riwayat (Ugi Suharto, 2004). Jadi, prinsip yang disepakati ialah al-Quran itu pada asalnya adalah qirâ‘ah (bacaan, recitation) yang diperdengarkan melalui periwayatan dari mulut ke mulut (dari syaikh/guru kepada muridnya), barulah kemudian rasm (tulisan/teks) mengikutinya. Proses transmisi ini dilakukan dengan sanad yang bersambung secara mutawâtir, bersumber dari Rasulullah saw., lalu diteruskan riwayatnya dari generasi ke generasi (Arif, 2005). Jadi, penemuan manuskrip Shan‘a oleh Puin tersebut tidak ada nilainya sama sekali, karena hanya bewujud teks tanpa informasi periwayatan sama sekali.

Mengapa orientalis keliru dalam masalah ini? Sebab, paradigma yang mereka pakai adalah paradigma untuk Bibel (Perjanjian Lama dan Baru), yang mereka paksakan untuk al-Quran. Dalam kasus Bibel, yang memegang peran utama memang bukti fisik berupa tulisan/teks (manuscript evidence) dalam bentuk lembaran papirus, skroll, dan sebagainya; bukan periwayatan ‘mutawâtir‘ sebagaimana al-Quran. Itulah pangkal kekeliruan orientalis seperti Puin, Jeffery, dan Wansbrough (Arif, 2005).

Jalan Ketiga: argumentasi intelektual.

Jalan ini ditempuh orientalis dengan membuat berbagai macam argumentasi yang bertujuan menciptakan keraguan terhadap al-Quran. Contohnya adalah orientalis R. Blachere yang menuduh Mushaf Utsmani sebagai proyek pribadi Utsman atau hanya didasarkan pada dominasi golongan Quraisy. Tuduhan ini, sayangnya, lalu diamini dan disepakati secara fanatik oleh aktivis kelompok Liberal, seperti Ahmad Baso.

Terhadap tuduhan jahat itu, dapat dijawab bahwa: Pertama, tuduhan itu tidak dengan sesuai fakta. Sebab, Mushaf Utsmani itu adalah hasil penggandaan dari mushaf yang sebelumnya telah dihimpun oleh Abu Bakar. Mushaf ini dihimpun Abu Bakar dari hapalan banyak sahabat dan dari lembaran-lembaran otentik yang ditulis di hadapan Nabi saw. dan pada masa beliau. Zaid bin Tsabit ra. yang bertugas mengumpulkan dan menggandakan mushaf itu tidaklah bekerja sendiri, tetapi bersama-sama dengan sejumlah besar sahabat. Lalu Mushaf Utsmani itu pun disepakati oleh semua sahabat dan seluruh kaum Muslim, tanpa melihat lagi kaum Quraisy atau bukan Quraisy. Jadi, jelas bahwa Mushaf Utsmani adalah karya bersama umat Islam, bukan proyek pribadi Utsman, apalagi hasil ‘hegemoni Quraisy’. Lalu atas dasar apa mereka menuduh secara bodoh bahwa Mushaf Utsmani adalah proyek pribadi Utsman dan lahir akibat dominasi Quraisy? (Syahin, op.cit., hlm. 117).

Kedua, andaikata benar Mushaf Utsmani hanya ambisi politik pribadi Utsman, bukan untuk kemaslahatan segenap umat Islam, tentu para sahabat akan mengecam keras dan memprotes Utsman habis-habisan. Faktanya, seluruh sahabat, tanpa kecuali, setuju terhadap penyusunan Mushaf Utsmani, termasuk perintah Utsman membakar mushaf-mushaf selain Mushaf Utsmani. Ali bin Abi Thalib ra. berkata tentang pembakaran mushaf selain Mushaf Utsmani, "Sekiranya Utsman tidak melakukannya, aku akan melakukannya!"

Suatu saat Ali bin Abi Thalib mendatangi kota Kufah, lalu seorang lelaki menemuinya dan mencela Utsman yang telah menyusun Mushaf Utsmani itu. Ali berkata, "Diam kamu! Karena Utsman melakukannya sudah sepengetahuan kami (sahabat)! Sekiranya aku berkuasa sebagaimana Utsman berkuasa, aku akan melakukan hal yang sama." (Syahin, ibid., hlm. 117).

Ketiga, tidak benar tuduhan Baso bahwa Mushaf Ibnu Mas‘ud yang menyebutkan bunyi QS Ali Imran (3) ayat 19, Inna ad-dîna ‘inda Allâhi al-hanîfiyah diabaikan oleh Utsman hanya karena Ibnu Mas’ud tidak merepresentasikan kekuasaan Quraisy. Penolakan ini karena Mushaf Ibu Mas’ud adalah riwayat ahad, bukan mutawâtir. Ini dapat mengancam persatuan umat. Lagi pula, andaikata benar Mushaf Utsmani adalah representasi kekuasaan Quraisy, tentu semua isi Mushaf Ibnu Abbas akan dimasukkan ke dalam Mushaf Utsmani. Sebab, Ibnu Abbas jelas dari golongan Quraisy karena beliau adalah anak paman Rasulullah saw. Faktanya, ada qirâ‘ah Mushaf Ibnu Abbas yang riwayatnya ahad sehingga tidak terdapat dalam Mushaf Utsmani. Misalnya qirâ‘ah Ibnu Abbas tentang QS Al-Baqarah ayat 198, yang berbunyi: Laysa ‘alaikum junâhun an tabtaghû fadhlan min Rabbikum fî mawâsim al-hajj. (Al-Husaini, 1983: 23). Kalimat fî mawâsim al-hajj ternyata tidak ada dalam al-Quran sekarang (Mushaf Utsmani). Jadi, tuduhan bahwa Mushaf Utsmani merupakan representasi kekuasaan Quraisy, tidak ada faktanya. Itu hanya sekadar imajinasi intelektual yang liar, murahan, dan tidak berdasar.

Penutup

Sesungguhnya serangan orientalis (dan pengikutnya) terhadap otentisitas al-Quran tidak akan berhasil. Sebab, al-Quran sekarang memang terbukti otentik, karena diriwayatkan dari generasi ke generasi secara mutawâtir dan meyakinkan. Jadi, al-Quran yang kita baca sekarang adalah benar-benar sama dengan yang dibaca oleh Rasulullah saw. Karena itu, dengan sendirinya, berbagai upaya untuk meragukan otoritas (kehujjahan) al-Quran juga tidak akan pernah berhasil. Mahabenar Allah Swt. yang berfirman:

]إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ[

Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS al-Hijr [15]: 9).

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []

Daftar Pustaka

Ahmadi, Ali. 2005. “Al-Qiraat dan Orisinalitas al-Quran.” Jurnal Al-Insan. Edisi 1 Tahun I Januari 2005, hlm. 51-62.

Al-Hasan, M. Ali. 1983. Al-Manâr fî ‘Ulûm al-Qur’ân. Amman: Mathba’ah Asy-Syarq wa Maktabatuha.

Al-Husaini, Muhammad bin Alawi Al-Maliki. 1983. Zubdah al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân. Jeddah: Darusy Syuruq.

Arif, Syamsudin. 2005. “Al-Quran, Orientalisme, dan Luxemberg.” Jurnal Al-Insan. Edisi 1 Tahun I Januari 2005, hlm. 9-26.

Armas, Adnin. 2003. Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal. Jakarta: Gema Insani Press.

———-. 2004. "Kritik Arthur Jeffery Terhadap Al-Quran." Islamia. No. 2 Th. I Juni–Agustus 2004, hlm. 7-19.

Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2001. Studi Ilmu-Ilmu al-Quran (Mabâhits fî ‘Ulûm al-Qur’ân). Terjemahan oleh Mudzakir AS. Cetakan VI. Jakarta-Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa.

Ash-Shabuni, M. Ali. 1985. At-Tibyân fî ‘Ulûm al-Qur’ân. Beirut: ‘Alam Al-Kutub.

Baharun, Mohammad. 1997. Isu Zionisme Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bathh, Hasanain. 2004. Anatomi Orientalisme: Menguak Tujuan dan Bahaya Orientalisme Serta Cara Umat Menghadapinya (Dirâsat fî al-Istisyrâq). Terjemahan oleh M. Faisal Muchtar. Yogyakarta: Menara Kudus Jogjakarta

Khadhar, Lathifah Ibrahim. 2005. Ketika Barat Memfitnah Islam (Al-Islâm fî al-Fikr al-Gharbi). Terjemahan oleh Abdul Hayyie Al-Kattanie. Jakarta: Gema Insani Press.

Ibnu Khalil, ‘Atha`. 2000. Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl. Beirut: Darul Ummah.

Suharto, Ugi. 2004. “Upaya Meruntuhkan Kewibawaan Mushaf Utsmani dari Dahulu Sehingga Kini”. Makalah Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam, Depok, 27-29 Pebruari 2004.

Syahin, Abdush Shabur. 1966. Târîkh al-Qur’ân. Kairo: Darul Qalam.

Posted on 12 Oktober 2009, in Aqidah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s