Kemunafikan di Sekitar Kita

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah; Allah akan membalas tipuan mereka. Jika mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS an-Nisa’ [4]: 142).

Mengomentari ayat ini, Ibn Katsir di dalam tafsirnya antara lain menyatakan, bahwa orang-orang munafik biasa menipu Allah SWT. Padahal tidak diragukan lagi, bahwa Allah SWT tidak mungkin ditipu karena Dia Mahatahu atas segala hal yang tersembunyi. Bahkan dalam kalimat selanjutnya dinyatakan, bahwa Allah SWT membalas tipuan mereka. Maknanya, Allah semakin menjerumuskan mereka di dunia dalam kesombongan, kesesatan dan pelecehan mereka terhadap kebenaran (Ibn Katsir, I/156).

Sebagaimana diketahui, pada bagian awal Alquran surah al-Baqarah, Allah SWT mengelompokkan umat manusia ke dalam tiga golongan: Mukmin, kafir dan munafik. Allah SWT menjelaskan ciri-ciri orang Mukmin dengan ringkas. Ciri-ciri orang kafir bahkan cukup dijelaskan dengan satu ayat. Namun, saat menjelaskan ciri-ciri orang munafik, Allah memaparkannya secara panjang-lebar. Mengapa? Karena faktanya, golongan munafik adalah golongan yang lebih berbahaya di masyarakat, karena mereka adalah ‘musuh dalam selimut’. Karena itu, tentu sangat perlu kita mengenali ciri-ciri mereka ini.

Allah SWT telah menyebut kata an-nifâq dan kata jadiannya dalam Alquran sebanyak 37 kali dalam surah yang berbeda.

Sebagian ulama membagi sifat nifâq menjadi dua. Pertama: nifâq i’tiqâdi. Pelakunya pada dasarnya kafir, tetapi berpura-pura atau menampilkan diri sebagai Muslim. Munafik jenis ini ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Mereka inilah ‘musuh dalam selimut’. Mereka ini, di dalam hatinya pada hakikatnya mendustakan kitab-kitab Allah dan para malaikat-Nya atau mendustakan salah satu asas Islam (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 8-10).

Kedua: nifâq ‘amali. Pelakunya boleh jadi Muslim, tetapi memiliki sifat-sifat/ciri-ciri orang munafik. Dalam hal ini, Rasulullah SWA  bersabda, “Ada tiga tanda orang munafik: jika berkata, berdusta; jika berjanji, ingkar; jika dipercaya, khianat.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam salah satu kitabnya, ‘A’id Abdullah al-Qarni menyebutkan tiga puluh sifat orang-orang munafik yang disebutkan dalam Alquran, di antaranya: dusta; khianat; ingkar janji; malas beribadah; riya; sedikit berzikir; sering terburu-buru dalam shalat; mencela orang-orang taat dan shalih; memperolok-olok Alquran, as-Sunnah dan Rasulullah SAW; bersumpah palsu; enggan berinfak; tidak peduli terhadap nasib kaum Muslim; suka menyebarkan kabar bohong; mengingkari takdir; mencaci-maki kehormatan orang-orang shalih; sering meninggalkan shalat berjamaah; membuat kerusakan di muka bumi dengan dalih mengadakan perbaikan; tidak ada kesesuaian antara lahiriah dan batiniah; takut terhadap kejadian apapun; menyuruh kemungkaran dan mencegah kemakrufan; bakhil; melupakan Allah SWT; mendustakan janji Allah dan Rasul-Nya; sombong dalam berbicara; awam dalam agama; menantang Allah dengan terus berbuat dosa; senang dengan musibah yang menimpa kaum Mukmin dan dengki terhadap kebahagiaan mereka.

*****

Sahabat Hudzaifah ra pernah berkata, “Orang-orang munafik sekarang lebih jahat (berbahaya) daripada orang munafik pada masa Rasulullah SAW.” Ia lalu ditanya, “Mengapa demikian?” Hudzaifah menjawab, “Karena pada masa Rasulullah SAW mereka menyembunyikan kemunafikannya, sedangkan sekarang mereka berani menampakkannya.” (Diriwayatkan oleh al-Farayabi tentang sifat an nifaq [51-51], dengan isnad sahih).

Ingat, pernyataan sahabat Hudzaifah ra itu diucapkannya pada 14 abad yang lampau. Jika demikian, bagaimana dengan orang-orang munafik pada abad ini? Kenyataannya, saat ini mereka melakukan perilaku munafiknya secara terang-terangan dengan penuh kebanggaan; tanpa rasa malu, takut dan berdosa kepada Allah SWT. Lihatlah para penguasa/calon penguasa yang berpura-pura tampil sebagai Muslim yang shalih dan Muslimah yang shalihah. Mereka berpura-pura shalat atau mengenakan jilbab. Mereka seolah-olah dekat dengan para ulama. Mereka seperti peduli terhadap kaum Muslim. Padahal sebelumnya semua itu jarang sekali mereka lakukan. Mereka melakukan apa saja demi mempercantik citra mereka di mata rakyat yang sebetulnya ‘tidak cantik’ itu. Mereka tidak sadar, bahwa semua yang mereka lakukan itu hakikatnya hanyalah menipu Allah SWT. Bayangkan, Allah SWT saja mereka tipu. Bagaimana dengan rakyat mereka?!

Semoga kita dijauhkan dari para penguasa munafik seperti itu, juga dari sifat-sifat kemunafikan yang mungkin saja tanpa disadari melekat pada diri kita masing-masing. Wamâ tawfîqi illâ billah.[] arief b. iskandar

Posted on 5 Agustus 2009, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s