Kiprah & Tanggung Jawab Guru dalam Dunia Pendidikan

(Disampaikan dalam lokakarya pendidikan dalam rangka peringatan HUT RI ke-64 di Balairung Pemda Tala, tgl 18 Juli 2009)

Pendahuluan
Berbicara mengenai dunia pendidikan, mata kita akan segera tertuju kepada sosok siswa yang saat ini masih jauh dari gambaran pribadi-pribadi ideal, baik dilihat dari segi intelektualitas maupun dari segi spiritualitas dan tingkah lakunya. Kecurangan dalam ujian, kasus narkoba yang mengakibatkan 40 orang mati setiap hari karenanya (www.polkam.go.id, 16 Maret 2007) , serta 700.000 kasus aborsi pertahun yang dilakukan oleh remaja (dibawah 20 tahun) dari total 2,6 juta kasus per tahun (www.Kompas.com, 4 Juli 2009) merupakan sebagian bukti yang menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita sedang bermasalah.
Kalau kita mencoba merunut akar masalahnya, maka tidak akan terlepas dari masalah sistem pendidikan yang diterapkan sekarang, kurikulum yang dipakai, sinergi sistem pendidikan dengan sistem yang lain, serta kualitas dan kiprah guru sebagai ujung tombak berjalannya pendidikan.
Persoalan utama pendidikan kita adalah masih terus dijadikannya ideologi sekular sebagai dasar pijakannya. Dalam pandangan ideologi ini, agama dianggap hanya berisi ajaran yang menjelaskan tata cara ibadah ritual dan memberikan tuntunan moral. Dengan kata lain, agama hanya mengurusi persoalan privat dan tidak menyentuh urusan publik. Sebagai konsekuensinya, ideologi ini mengharuskan adanya pemisahan tegas antara agama yang bersifat privacy dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang menjadi milik publik.

Konsep dasar inilah yang digunakan dalam memformat sistem pendidikan kita. Pelajaran agama memang diberikan, tetapi pelajaran lainnya, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial diajarkan tanpa memandang apakah sesuai dengan aqidah Islam ataukah tidak. Maka tidak mengherankan jika pendidikan kita menghasilkan pribadi-pribadi yang mengalami split personality (berkepribadian pecah) bahkan saling kontradiksi satu sama lainnya. Di suatu saat mereka memahami wajibnya mewujudkan ukhuwwah Islamiyyah, persaudaraan yang didasarkan aqidah Islam, pada kesempatan lain justru meneriakan slogan-slogan nasionalisme yang menjadikan persamaan bangsa sebagai dasar persatuan. Di satu sisi ia meyakini Allah SWT Maha Mengetahui, Adil, dan Bijaksana, tetapi di sisi lain tidak benar-benar yakin akan keadilan hukum yang diturunkan-Nya untuk diterapkan di negaranya.

Dalam kurikulum, pelajaran agama juga tidak menempati prioritas utama. Dari beberapa materi yang diujikan untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, baik dari SD ke SMP, SMP ke SMU, atau SMU ke PT, pelajaran agama tidak termasuk di dalamnya. Kebijakan tersebut memberikan dampak psikologis pada para pelajar (termasuk orang tua) bahwa pelajaran agama tidaklah penting. Hal ini dapat dilihat dari kesungguhan para pelajar atau orang tua mereka, berkenaan dengan pelajaran Ujian Nasional mereka tidak mencukupkan diri belajar di sekolah, namun masih mengikuti privat atau lembaga-lembaga bimbingan belajar di luar sekolah.

Padahal jika dicermati, materi pelajaran yang diujikan tersebut kadang-kadang tidak banyak memberikan manfaat bagi pelajar dalam kehidupannya kelak. Berbeda dengan agama (Islam), pengetahuan tentang Islam jelas dibutuhkan oleh setiap manusia. Alasannya, semenjak diutusnya Muhammad saw sebagai nabi dan rasul, seluruh manusia wajib mengikatkan dirinya dengan syariat Islam dan memberlakukan hukum-hukumnya. Allah SWT berfriman:
وما أتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا
Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkannya (QS al-Hasyr 7).

Dalalah (penunjukan) ayat ini bersifat qath’iy (pasti), yakni wajibnya terikat dengan hukum-hukum syara’. Allah SWT memerintahkan kaum muslimin agar melaksanakan apa-apa yang dibawa atau diperintahkan Rasulullah, baik yang berupa perintah wajib, sunnah, maupun mubah, serta mengharuskan mereka meninggalkan segala yang dilarangnya, baik yang haram maupun yang makruh. Oleh karena ketaatan terhadap segala ketetapan Islam –baik dalam persoalan aqidah maupun syariah– merupakan kewajiban bagi setiap manusia, maka mempelajari ketetapan-ketetapan Islam itu pun wajib.

Bertolak dari kondisi seperti diatas, tulisan ini bermaksud memberikan gambaran bagaimana kiprah guru dalam memberikan solusi, walaupun tidak mendasar, atas berbagai problema dunia pendidikan tersebut.

Rasulullah Guru Teladan
Tidak dapat dipungkiri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang paling sukses dalam mengubah prilaku manusia dari kondisi jahiliyyah, buta huruf, dan prilaku buruk lainnya menjadi manusia-manusia utama, berakhlaq mulia, dan menjadi pemimpin-pemimpin besar dunia. Hal ini diakui pula oleh Michael H. Hart dalam bukunya, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, yang menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan pertama dari orang-orang yang memegang peranan mengubah arah sejarah dunia. Oleh karena itu, setiap guru hendaknya mengkaji, memahami dan kemudian mencontoh bagaimana Rasulullah SAW melakukan proses pendidikan kepada umat manusia.

Secara ringkas sebagian apa-apa yang dilakukan Rasulullah dalam mendidik umat manusia dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الاُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Q.S Al Jumu’ah: 2)

Dari ayat tersebut dapat difahami bahwa Rasulullah SAW melakukan aktivitas-aktivitas berikut:
1. Membacakan ayat-ayat–Nya. Ini mengajarkan kepada kita bahwa apa yang diajarkan guru hendaknya sesuai dengan kadar kemampuan siswa. Pada ayat tersebut dinyatakan ‘membacakan’ karena umat pada saat itu adalah buta huruf (ummi) . (Al Alusi, Rûhul Ma’aniy Fi Tafsîr Al Qurâni Al Adzîm wa as Sab’ul Matsâniy, j.20/h.495, Maktabah Syâmilah)

2. Menyucikan mereka, yakni mengajak mereka untuk menapaki jalannya orang-orang bersih (adzkiya) dan orang-orang yang bertaqwa (atqiya), bersih dari kotoran-kotoran aqidah dan amal perbuatan (Ar Râzi, Mafâtîhul Ghaib, j.15/h.345, Maktabah Syâmilah). Ini berarti bahwa asas pendidikan yang dilakukan Rasulullah adalah aqidah Islam, sehingga semua hal yang bertentangan dengan aqidah Islam maka Rasullullah tidak segan-segan untuk menjelaskan kepalsuan dan pertentangannya dengan aqidah Islam.

3. Mengajarkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunah) ,(An Nasafi, Madâriku At Tanzil wa Haqâiqu At Ta’wil, j. 3 h. 429)  sehingga Al Qur’an dan As Sunnah tidak hanya dijadikan sebagai bacaan akan tetapi juga diajarkan untuk difahami kandungannya dan diambil pelajaran untuk diamalkan dalam kehidupan.

Pijakan Rasulullah dalam Mendidik : Aqidah Islam
Rasulullah SAW hanya menjadikan wahyu (aqidah Islam) sebagai pijakan dalam mendidik umat manusia. Oleh sebab itu dalam kondisi sistem pendidikan kapitalis-sekuler seperti kondisi saat ini, seorang guru haruslah memvalidasi apa yang akan dia sampaikan, apakah sesuai dengan Islam ataukah tidak, jika tidak sesuai maka guru berkewajiban untuk menjelaskan pertentangan materi tersebut dengan Islam dan menganjurkan siswa untuk tidak mengadopsi sebagai pendapatnya. Hal ini berlaku untuk semua jenis pelajaran.

Dalam hal astronomi, Rasulullah pernah mengoreksi pemahaman manusia yang menganggap gerhana matahari yang terjadi saat putra beliau yang bernama Ibrahim wafat adalah karena ‘karomah’ nya Ibrahim, maka Rasulullah menyatakan:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَةٌ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا
Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau karena hidup (lahir)nya seseorang tetapi kedua-duanya adalah termasuk ayat-ayat (tanda-tanda) dari Allah. Oleh itu apabila kamu semua melihatnya maka dirikanlah sholat (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad & Nasa’i).
Rasulullah SAW juga menjadikan aqidah Islam sebagai standar ilmu genetik dan kontrasepsi. Abu Sa’id Al Khudri menceritakan:
خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ بَنِي الْمُصْطَلِقِ فَأَصَبْنَا سَبْيًا مِنْ سَبْيِ الْعَرَبِ فَاشْتَهَيْنَا النِّسَاءَ وَاشْتَدَّتْ عَلَيْنَا الْعُزْبَةُ وَأَحْبَبْنَا الْعَزْلَ فَأَرَدْنَا أَنْ نَعْزِلَ وَقُلْنَا نَعْزِلُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَظْهُرِنَا قَبْلَ أَنْ نَسْأَلَهُ فَسَأَلْنَاهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ مَا عَلَيْكُمْ أَنْ لاَ تَفْعَلُوا مَا مِنْ نَسَمَةٍ كَائِنَةٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلاَّ وَهِيَ كَائِنَةٌ
“Kami pernah keluar bersama-sama Rasulullah SAW dalam peperangan Bani Musthalik. Tatkala kami memperoleh tawanan dari orang-orang Arab, kami menginginkan perempuan, berat rasanya bagi kami hidup membujang, kami ingin melakukan ‘azl lalu kami berkata “kami melakukan ‘azl” pada saat Rasulullah SAW berada bersama kami sebelum kami menanyakannya, maka kami pun menanyakan hal tersebut, maka Rasulullah bersabda: “Mengapa tidak kalian lakukan? sesungguhnya tidak ada yang bernyawa sampai hari kiamat kecuali ia pasti (akan) ada. Allah telah menetapkan apa yang diciptakan-Nya hingga hari kiamat” (HR. Bukhari)
Dalam hal pengetahuan sosial, Rasulullah SAW menjelaskan tentang buruknya ikatan ashobiyyah (ikatan/fanatisme kesukuan, kebangsaan dan golongan). Beliau menyatakan: “Orang Arab tidaklah lebih baik dari orang non Arab (‘ajam). Sebaliknya, orang non Arab juga tidak lebih baik dari orang Arab. Orang berkulit merah tidak lebih baik dari orang berkulit hitam, kecuali karena ketakwaannya. Umat manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah liat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah saw juga bersabda: “Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyerukan ashabiyyah, orang yang berperang karena ashabiyyah, serta orang-orang yang mati karena membela ashabiyyah.” (HR. Abu Dawud).
Oleh sebab itu, jika ingin mengoptimalkan peran sebagai guru maka haruslah mengkaji Islam lebih komprehensif, apalagi yang berkaitan dengan apa yang akan diajarkannya. Tanpa mengkaji Islam lebih dalam maka tidak akan mungkin seorang guru mampu memvalidasi dan menyaring materi yang akan diajarkannya, akibatnya bisa kita bayangkan pemahaman seperti apa yang akan diterima oleh siswa yang akan menjadi panduan dalam kehidupannya.

Arah Pendidikan Rasulullah SAW
Seorang guru, bahkan setiap muslim hendaknya mempunyai arah/tujuan yang sama dengan Rasulullah SAW saat melakukan aktivitas apapun, termasuk pendidikan. Kalau kita kaji dari apa yang telah dilakukan Rasulullah, akan kita dapati bahwa arah pendidikan yang dilakukan Rasulullah SAW adalah:
1. Membentuk manusia yang berkepribadian Islam, yakni manusia-manusia yang mentauhidkan Allah dalam setiap aspek kehidupan mereka, menjadikan aqidah Islam sebagai landasan pemikiran mereka, menjadikan Islam sebagai penentu kecenderungan jiwa mereka, mencintai akhirat lebih besar dari dunia, dan menjadikan ridha Allah tumpuan harapan mereka, tanpa takut celaan orang-orang yang suka mencela.
Rasulullah sangat sukses membentuk manusia-manusia seperti ini, sebagai contoh adalah sebuah riwayat dari Sulaiman bin Yasar, yang mengatakan bahwa Rasulullah mengutus ‘Abdullah bin Rawâhah berangkat ke Khaibar (daerah Yahudi yang baru saja tunduk kepada kekuasaan Islam) untuk menaksir hasil buah kurma di daerah itu, karena Rasulullah saw. telah memutuskan hasil-hasil bumi Khaibar dibagi sebagian untuk kaum yahudi sendiri yang mengelolanya, dan sebagian untuk kaum muslimin. Ketika Abdullah bin Rawahah sedang menjalankan tugasnya, orang-orang Yahudi datang kepadanya membawa berbagai perhiasan yang mereka kumpulkan dari istri mereka masing-masing. Kepada Abdullah mereka berkata,: “Perhiasan ini untuk anda, ringankanlah kami dan berilah lebih (banyak) kepada kami” Abdulah menjawab,”Hai kaum Yahudi, demi Allah, kalian adalah makhluq Allah yang paling kubenci. Akan tetapi kebencianku kepada kalian tidak akan membuat aku bersikap tidak adil terhadap kalian. Adapun suap yang kalian tawarkan itu adalah barang haram, dan kami kaum Muslimin tidak memakannya!” Mendengar jawaban tersebut mereka menyahut ”Karena itulah langit dan bumi tetap tegak!”(Imam Malik, Al Muwattha’:1198, Kutubut Tis’ah). Bahkan kesuksesan ini terus berlanjut sepeninggal Rasulullah, saat para khalifah menerapkan sistem pendidikan yang menjadikan kepribadian Islam sebagai tujuan utama yang pertama. Bandingkan dengan sistem pendidikan kapitalis sekuler seperti saat ini dimana kejujuran menjadi barang langka, sebaliknya korupsi makin membudaya dan melembaga.
2. Menguasai pengetahuan (tsaqofah) Islam. Sebagaimana di jelaskan dalam pendahuluan diatas, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap aktivitas yang mereka lakukan, bila sesuai dengan perintah Allah maka akan mendapatkan pujian dari Allah, sebaliknya bila bertentangan dengan ketentuan Allah maka akan mendapat celaan dari Allah SWT. Oleh sebab itu tanpa menguasai pengetahuan (tsaqofah) Islam tidak mungkin bisa menyesuaikan aktivitas apapun dengan ketentuan Allah SWT. Sebelum melakukan suatu aktivitas, para shahabat bertanya kepada Rasulullah apakah suatu aktivitas boleh atau tidak, begitu juga Rasulullah senantiasa mendidik mereka dengan wahyu dari Allah SWT.
3. Menguasai sains, teknologi dan ilmu yang menunjang kehidupan. Ilmu seperti ini diajarkan sesuai dengan keperluan, tidak terikat dengan jenjang pendidikan. Rasulullah pernah mengutus shahabat untuk belajar membuat manjaniq (semisal rudal dari batu yang dilontarkan) dan dababah (semacam tank dari kayu). Rasulullah juga memerintahkan kaum muslimin untuk belajar berkuda, berenang dan memanah, bahkan Anas bin Malik menyatakan bahwa Rasulullah bersabda :
اطلبوا العلم ولو بالصين ، فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم
“Tuntutlah ilmu sekalipun kenegeri Cina, sebab menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (HR Al Baihaqi, redaksi (matan)nya masyhur, sanadnya dha’if).
Tentulah yang dimaksud menuntut ilmu sampai kenegeri China saat itu adalah ilmu sains, tekologi/keterampilan, karena tidak mungkin saat itu Rasulullah menyuruh belajar tsaqafah Islam ke sana.

Rasulullah Mendidik dengan Kasih Sayang
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seorang Badui berdiri lalu kencing di masjid. Maka orang-orangpun berdiri untuk menangkapnya. Nabi SAW bersabda : “Biarkan dia (sampai selesai) dan siramlah kencingnya itu dengan se ember atau se timba air, karena sesungguhnya kalian dibangkitkan untuk memberikan keringanan dan bukan untuk menyebabkan kesukaran” (HR Bukhari, Ibnu Majah, At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Abu Dawud, redaksinya menurut Bukhari)
Dalam riwayat Abu Dawud diceritakan bahwa lelaki tersebut sebelumnya masuk mesjid pada saat Rasulullah duduk, kemudian lelaki tersebut shalat dua rakaat lalu berdo’a:
اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلاَ تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا
Wahai Allah, sayangilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau menyayangi oranglain bersama kami seorangpun. Ketika lelaki tersebut selesai maka Rasul berkata : sungguh engkau telah membuat kamar yang luas (maksudnya rahmat/kasih sayang Allah itu sangat luas).
Hadist diatas menjelaskan bagaimana seharusnya sikap seorang guru saat menghadapi kebodohan siswanya, guru idealnya bisa memberikan penjelasan tanpa harus ‘membunuh’ harga diri siswa di depan teman-temannya. Seandainya Rasul membiarkan sahabat menangkap orang tersebut saat belum selesai kencing, maka bisa jadi air kencingnya akan menyebar kemana-mana karena orang tersebut tentunya akan lari sambil kencing, ia juga tidak akan tahu apa salahnya karena keburu lari dan mungkin dia tidak akan datang lagi ke masjid karena merasa dimusuhi.
Hanya saja kasih-sayang Rasul bukan berarti membiarkan penyimpangan dari syari’at bebas terjadi. Dalam kasus halal-haram dan pelaksanaan syari’at Rasulullah bersikap tegas. Tegas tidak identik dengan kasar, tegas juga tidak identik dengan benci dan jauh dari kasih sayang.
Sebagai contoh, Rasul pernah menjewer telinga anak karena tidak amanah. Diriwayatkan oleh Imam Nawawi dari Abdullah bin Basr al-Mazni ra. yang berkata, “Aku pernah diutus ibuku dengan membawa beberapa biji anggur untuk disampaikan kepada Rasul. Kemudian aku memakannya sebelum aku sampaikan kepada Beliau. Ketika aku mendatangi Rasul, Beliau menjewer telingaku sambil berseru, ‘wahai penipu’.”
Abu Hurairah juga menceritakan bahwa Al-Hasan bin Ali telah mengambil sebagian kurma sedekah (zakat), lalu memakannya. Maka Rasulullah bersabda, “Kikh- kikh (tidak boleh, tidak boleh), buang kurma itu! Apakah engkau tidak tahu bahwa keluarga kita tidak boleh memakan harta sedekah (zakat).” (HR. Bukhori & Muslim).
Ibnu Amr bin al-’Ash menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
Perintahlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Pukullah mereka jika sampai berusia sepuluh tahun mereka tetap enggan mengerjakan shalat. (HR Abu Dawud dan al-Hakim).
Kebolehan memukul bukan berarti harus/wajib memukul. Maksud pukulan/tindakan fisik di sini adalah tindakan tegas “bersyarat”, yaitu: pukulan yang dilakukan dalam rangka ta’dîb (mendidik, yakni agar tidak terbiasa melakukan pelanggaran yang disengaja); pukulan tidak dilakukan dalam keadaan marah (karena dikhawatirkan akan membahayakan); tidak sampai melukai atau (bahkan) membunuh; tidak memukul pada bagian-bagian tubuh vital semisal wajah, kepala dan dada; tidak boleh melebihi 10 kali, diutamakan maksimal hanya 3 kali; tidak menggunakan benda yang berbahaya (sepatu, bata dan benda keras lainnya).
Memukul adalah alternatif terakhir. Karena itu, tidak dibenarkan memukul kecuali jika telah dilakukan semua cara mendidik, memberi hukuman lainnya serta menempuh proses sesuai dengan umur anak. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Nafkahilah keluargamu dengan hartamu secara memadai. Janganlah engkau angkat tongkatmu di hadapan mereka (gampang memukul) untuk memperbaiki perangainya. Namun, tanamkanlah rasa takut kepada Allah.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan al-Bukhari dalam kitab Al-Adab al-Mufrad).

Mensinergikan Pendidikan di Rumah – Sekolah – Masyarakat/Negara
Point terpenting yang menjadi rahasia suksesnya pendidikan yang dilakukan Rasulullah adalah keberhasilan beliau dalam mensinergikan pendidikan di rumah (oleh orang tua), di masyarakat (yakni dengan budaya di masyarakat yang telah berubah menjadi islami, ke amanahan birokrasi, keadilan pemimpin, dan keteladanan Rasulullah dan pemimpin publik lainnya) serta Negara (Rasulullah sebagai kepala negara yang mengatur setiap aspek kehidupan dengan Islam). Inilah yang menjadi kendala saat ini dan menuntut peran kita semuanya untuk mengubahnya.
Bagaimana tidak, di sekolah siswa diajari harus jujur (walaupun ada oknum yang mengajarkan tidak jujur, semisal membolehkan curang dalam ujian, atau justru sebagian gurunya yang curang), namun di masyarakat kecurangan dibiarkan merajalela. Di Sekolah diajarkan shalat, namun di rumah orang tuanya tidak shalat dan dimasyarakat banyak orang juga meninggalkan shalat. Di sekolah di ajarkan bahwa suap adalah haram, namun fakta dimasyarakat menunjukkan bahwa hampir setiap lini kehidupan telah terjangkiti penyakit suap ini. Di sekolah diajarkan bahwa aurat wajib di tutup, namun di masyarakat pornografi dibiarkan merajalela. Di sekolah diajarkan bahwa aturan Allah adalah aturan yang paling baik dan paling Adil karena dibuat oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil, namun di masyarakat aturan-aturan ini diinjak-injak dan yang dipakai justru aturan peninggalan penjajah. Faktor inilah yang memberikan andil besar dalam rusaknya generasi, tidak hanya di Indonesia, namun juga di negara-negara yang menjadikan kaapitalisme-sekularisme sebagai pedoman dalam mengatur semua aspek kehidupan.

Khatimah
Terakhir yang ingin kami sampaikan bahwa sekeras apapun usaha untuk perbaikan pendidikan yang dilakukan oleh seorang guru, tanpa keikhlasan, do’a, keyakinan akan pertolongan Allah dan tawakkal kepada Allah tidaklah mungkin akan menghasilkan buah yang manis. Begitu juga keikhlasan, do’a, keyakinan akan pertolongan Allah dan tawakkal kepada Allah tanpa dibarengi dengan usaha yang optimal tidaklah bernilai dihadapan Allah SWT. Oleh sebab itu disamping usaha optimal wajib kita sempurnakan usaha tersebut dengan keikhlasan, do’a, keyakinan akan pertolongan Allah serta tawakkal sebenar-benar tawakkal kepada Allah SWT. Allahu Ta’ala A’lam

Posted on 29 Juli 2009, in Makalah, Pendidikan, Rumah Tangga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s