Fardlu Kifayah dan Pelaksanaannya

Adalah suatu hal yang ma’lumun minad din bidz-dzarurah bahwa fardhu itu ada dua macam. Fardhu kifayah dan fardhu ain. Ditinjau dari sisi kewajiban, sebenarnya, fardhu kifayah maupun fardhu ain sama, sama-sama fardhu, meski dari sisi pelaksanaannya berbeda. Imam Saifuddin al-Amidi dalam kitab al-Ihkam fii Ushul al-Ahkam menegaskan[1]:

المسألة الثانية لا فرق عند أصحابنا بين واجب العين، والواجب على الكفاية من جهة الوجوب، لشمول حد الواجب لهما

"Masalah yang ke dua. Tidak ada perbedaan, menurut madzhab kita, antara wajib ain dan wajib kifayah dari sisi kewajiban; dikarenakan ketercakupan batas kewajiban untuk keduanya".

Untuk batasan kesempurnaan pelaksanaan fardhu kifayah Imam Asy-Syirazi, dalam kitab al- Lumaa’ fii Ushul al-Fiqh, menjelaskan[2]:

فصل إذا ورد الخطاب بلفظ العموم دخل فيه كل من صلح له الخطاب ولا يسقط ذلك الفعل عن بعضهم بفعل البعض إلا فيما ورد الشرع به وقررة تعالى أنه فرض كفاية كالجهاد وتكفين الميت والصلاة عليه ودفنه فإنه إذا أقام به من يقع به الكفاية سقط عن الباقين 

"Pasal apabila terdapat khitab dengan lafadz umum, maka tercakup di dalam khithab itu siapa saja yang khitab tersebut layak baginya dan perbuatan tersebut tidak gugur karena perbuatan perbuatan sebagian yang lain, kecuali apabila syara’ menjelaskannya, dan adanya ketetapan Allah yang menetapkan bahwa khitab tersebut adalah fardhu kifayah; seperti jihad, mengkafani jenazah, menshalatkan dan menguburkannya. Apabila kewajiban tersebut telah selesai ditunaikan (disini Imam sy-Syirazi menggunakan kata "aqaama", bukan "qaama"; dalam bahasa arab kata "aqaama" artinya adalah "ja’alahu yaqumu"[3]) oleh siapa saja yang mampu, maka, gugurlah (kewajiban) tersebut atas yang lain …".

Artinya, menurut Imam Asy-Syirazi, apabila fardhu kifayah belum selesai ditunaikan maka kewajiban tersebut masih tetap dibebankan di atas pundak seluruh mukallaf yang menjadi obyek khitab taklif.

Syeikhul Islam Imam al-Hafidz An-Nawawi, dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan[4]:

وغسل الميت فرض كفاية باجماع المسلمين ومعني فرض الكفاية انه إذا فعله من فيه كفاية سقط الحرج عن الباقين وان تركوه كلهم اثموا كلهم واعلم ان غسل الميت وتكفينه والصلاة عليه ودفنه فروض كفاية بلا خلاف

" dan memandikan jenazah itu adalah fardhu kifayah berdasarkan ijma’ kaum Muslimin. Makna fardhu kifayah adalah apabila orang yang memiliki kifayah (kecukupan dan kemampuan) telah melaksanakannya maka akan menggugurkan beban (kewajiban) atas yang lain. Namun apabila mereka semua meninggalkan kewajiban tersebut, mereka semua berdosa. Ketahuilah bahwa memandikan mayat, mengkafaninya, menshalatinya serta menguburkannya adalah fardhu kifayah, tidak ada perbedaan pendapat (dalam hal ini)".

Disini Imam An Nawawi menegaskan, apabila fardhu tersebut telah dikerjakan oleh siapa saja yang memiliki "kifayah" maka beban kewajiban tersebut gugur atas yang lain. Tapi, jika semua meninggalkan kewajiban tersebut, semuanya berdosa.

Al-’Allamah Asy Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al Malibari menegaskan[5]:

باب الجهاد. (هو فرض كفاية كل عام) ولو مرة إذا كان الكفار ببلادهم، ويتعين إذا دخلوا بلادنا كما يأتي: وحكم فرض الكفاية أنه إذا فعله من فيهم كفاية سقط الحرج عنه وعن الباقين. ويأثم كل من لا عذر له من المسلمين إن تركوه وإن جهلوا.

"Bab Jihad. (jihad itu adalah fardhu kifayah setiap tahun) meski satu kali, apabila orang-orang kafir berada di negeri mereka, dan menjadi fardhu ‘ain apabila mereka (menyerang) masuk di negeri kita, sebagaimana yang akan dijelaskan berikutnya. Dan hukum fardhu kifayah itu adalah apabila fardhu kifayah tersebut telah dikerjakan oleh siapa saja yang memiliki "kifayah" maka akan gugurlah beban atas orang tersebut dan juga bagi yang lain. Dan berdosalah setiap orang yang tidak memiliki udzur dari kaum Muslimin apabila mereka meninggalkannya walaupun mereka tidak tahu"

Disini Shaahibu Fathil Mu’in menegaskan kembali apa yang dijelaskan oleh Imam An Nawawi. Beliau menambahkan catatan bahwa kaum Muslimin yang tidak memiliki udzur, tapi meninggalkan kewajiban tersebut maka berdosalah dia.

Masih tentang fardhu kifayah, Syeikh Imam Nawawi al-Bantani al-Jawi dalam kitab Nihayah Az-Zain menjelaskan hal yang senada dengan yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi. Namun, beliau menambahkan bahwa yang melaksanakan kewajiban tersebut bisa jadi bukan orang yang terkena kewajiban. Beliau berkata[6]:

باب الجهاد أي القتال في سبيل الله هو فرض كفاية كل عام إذا كان الكفار ببلادهم وأقله مرة في كل سنة فإذا زاد فهو أفضل ما لم تدع حاجة إلى أكثر من مرة وإلا وجب لبعض طلب الجهاد بأحد أمرين إما بدخول الإمام أو نائبه دارهم بالجيش لقتالهم وإما بتشحين الثغور أي أطراف بلادنا بمكافئين لهم لو قصدونا مع إحكام الحصون والخنادق وتقليد ذلك للأمراء المؤتمنين المشهورين بالشجاعة والنصح للمسلمين وحكم فرض الكفاية أنه إذا فعله من فيهم كفاية وإن لم يكونوا من أهل فرضه كصبيان وإناث ومجانين سقط الحرج عنه إن كان من أهله وعن الباقين رخصة وتخفيفا عليهم بفرض العين أفضل بفرض الكفاية كما قاله الرملي وفروض الكفاية كثيرة

"Kitab Jihad. Maksudnya adalah (jihad) di jalan Allah. Jihad itu adalah fardhu kifayah untuk setiap tahun, apabila orang-orang kafir berada di negeri mereka. Paling sedikit satu kali dalam satu tahun, tapi apabila lebih tentu lebih utama, selama tidak ada kebutuhan lebih dari satu kali. Jika jihad tidak dilakukan maka wajib atas sebagian (kaum Muslimin) untuk mengajak jihad, dengan salah satu dari dua cara. Dengan masuknya Imam atau wakilnya ke negeri mereka (orang-orang kafir) dengan tentara untuk memerangi mereka atau dengan memanaskan (situasi) perbatasan atau sudut-sudut (wilayah) negeri kita orang-orang yang memiliki kemampuan kepada mereka, jika seandainya mereka, orang-orang kafir tersebut, bermaksud (menyerang) kita dengan adanya benteng atau parit dan dibawah kendali para pemimpin yang tidak diragukan, yang masyhur dengan keberanian dan nasehatnya atas kaum Muslimin. Hukum jihad itu fardhu kifayah, sebab; jika siapa saja yang memiliki kafa’ah mengerjakannya meski bukan yang termasuk yang diwajibkan seperti anak kecil, para wanita atau bahkan sukarelawan maka gugurlah beban (kwajiban) tersebut dari yang diwajibkan. Sedangkan yang lain mendapat rukhshah serta keringanan. Fardhu ‘ain itu lebih utama dibanding fardhu kifayah, sebagaimana yang dinyatakan oleh (Imam) Ar-Ramli. Fardhu kifayah itu banyak …"


[1]Imam Saifuddin al-Amidi, al-Ihkam fii Ushul al-Ahkam, Juz I hal 100

[2] Imam Asy-syirazi, Al-luma’ fii Ushul Al-fiqh hal 82,

[3] Lihat Qamusul Maurid, bagian huruf "qaf"

[4] Syeikhul Islam Imam al-Hafidz an-Nawawi, Al-majmu’ Syarh Al-muhadz-dzab Juz V Hal 128,

[5] Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari, Fath al-Mu’in, Juz IV hal 206

[6] Syeikh Muhammad bin Umar bin Ali bin Nawawi al-Bantani al-Jawi, Nihayah Az-Zain, hal 359

Posted on 24 Juni 2009, in Fiqh, Ushulul Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s