Mengatasi Depresi Sosial ; Perlu Terapi Komprehensif dan Integral

Oleh MR Kurnia

Secara umum, depresi sosial disebabkan oleh dua faktor utama, yakni: adanya tekanan yang demikian kuat dan tidak adanya daya untuk menangkis tekanan tersebut. Tekanan yang sifatnya individual hanya akan menimbulkan depresi perorangan. Tekanan yang bersifat kolektif menyebabkan munculnya depresi secara kolektif pula.

Solusi untuk menghilangkan depresi sosial haruslah berpijak pada dua pilar penyebab utamanya tersebut. Untuk itu, strateginya ada dua. Pertama, mengurangi bahkan menghilangkan tekanan. Kedua, memperkuat daya tahan. Landasan yang harus dijadikan untuk mencapai keduanya adalah Islam. Sebab, Islam yang diturunkan untuk manusia dari Pencipta manusia itu bukan membawa tekanan dan kenestapaan, tetapi justru mendatangkan rahmat bagi seluruh manusia. Allah Swt. menegaskan hal ini:

]مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ لِتَشْقَى[

Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. (QS Thaha [20]: 2).

]وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ[

Tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Menghilangkan Tekanan

Tekanan yang menimpa masyarakat dapat berasal dari 4 jalan. Pertama, diri sendiri. Individu yang memiliki pandangan hidup keliru, cenderung materialis dan sekular, jauh dari tuntunan agama, serta menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan hidupnya akan cenderung mudah mengalami depresi. Depresi terjadi biasanya ketika ia gagal mencapai apa yang diinginkannya, sementara pada saat yang sama, kesabaran dan ketawakalannya kepada Allah Swt. lemah.

Kedua, keluarga yang tidak harmonis, brokenhome, dan kurang tertata. Tempat hidup utama sehari-hari seperti itu merupakan tekanan bagi para penghuninya. Alih-alih rumah merupakan surga, justru sebaliknya, “rumahku adalah nerakaku”. Tak ada orang yang hidup tenang, tenteram, damai dan bahagia dalam ‘neraka’ keluarga.

Ketiga, masyarakat yang cenderung cuwek, individualis, dan apatis terhadap lingkungan sosial sebagai konsekuensi logis dari paham individualisme. Bahkan, dari internal masyarakat muncul berbagai kelompok atau media massa yang justru menanamkan bibit-bibit depresi. Rangsangan-rangsangan untuk menjadi kaya, kehidupan yang serba enak tanpa kerja keras, kebahagiaan yang seakan hanya di dunia ini, dan kehidupan serba instan yang terus dihidupkan di masyarakat merupakan bibit lain munculnya depresi sosial.

Keempat, negara yang tidak perduli terhadap masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan beban hidup masyarakat lainnya. Kebijakan negara yang membebani rakyat seperti biaya sekolah makin mahal, harga BBM dan listrik dinaikkan terus, dan penggusuran merupakan faktor pemicu lain depresi sosial.

Itulah empat pemicu depresi sosial di tengah-tengah masyarakat secara kolektif, baik satu saja maupun kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Semua faktor penyebab lahirnya depresi tersebut haruslah diminimalkan, bahkan diusahakan agar lenyap. Individu, keluarga, masyarakat, dan negara yang berkarakteristik seperti itu harus diubah.

Memperkuat Daya Tahan

Selain menghilangkan keempat faktor penyebabnya, solusi untuk mengatasi depresi sosial pun harus ditempuh dengan mengubah penyebab-penyebab tersebut. Jalurnya pun mutlak melalui empat pendekatan secara menyeluruh dan terpadu. Pendekatan-pendekatan tersebut adalah:

Pertama, solusi individu. Pada zaman Jahiliah, orang-orang yang ditinggal mati oleh saudaranya suka menunjukkan gejala depresi/stress. Rasulullah saw. mengarahkan umatnya untuk tidak berbuat seperti itu. Beliau bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ»

Tidaklah termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, menyobek-nyobek baju, dan menjerit-jerit seperti jeritan orang Jahiliah. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Islam mengajarkan kematian manusia adalah hal yang biasa, karena dunia bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Ada kehidupan setelah dunia ketika manusia bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang dicintainya. Kalau toh nanti bisa berkumpul kembali, mengapa harus ditangisi secara berlebihan?

Nabi saw. juga mencela sikap hidup hedonistik dan materialistik yang menyebabkan manusia hanya mengejar kehidupan dan kesenangan dunia, yang jika tidak tercapai, dapat menimbulkan depresi sosial. Ketika orang-orang berlomba-lomba mengejar gaya hidup materialistik, Allah Swt. menurunkan wahyu kepada Rasulullah saw.:

]أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ%حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ[

Bermegah-megahan telah melalaikan kalian sampai kalian masuk ke dalam kubur. (QS at Takatsur [102]: 1-8).

Nabi Muhammad saw. mengubah keyakinan dan cara berpikir materialistik menjadi cara berpikir untuk akhirat tanpa melupakan dunia. Allah Swt. berfirman:

]وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ اْلآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا[

Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kalian (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kalian melupakan bagian kalian dari (kenikmatan) duniawi, (QS al-Qashash [28]: 77).

Allah Swt. juga menyampaikan melalui utusan-Nya bahwa kebahagiaan hakiki adalah tercapainya ridha Allah Swt., yang salah satu wujudnya adalah ampunan dan surga yang telah disediakan bagi orang-orang bertakwa. Tegas sekali perintah-Nya:

]وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ[

Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS Ali Imran [3]: 133).

Walhasil, Rasulullah saw. selalu menanamkan pandangan hidup yang sahih dan lurus, yakni pandangan hidup Islam yang didasarkan pada akidah Islam; menanamkan bahwa kebahagian hidup adalah diperolehnya ridha Allah, bukan dicapainya hal-hal yang bersifat duniawi dan material, karena semua itu bersifat sementara. Penanaman pikiran dan pemahaman seperti ini dilakukan melalui pembinaan baik di rumah-rumah maupun di tempat-tempat umum. Oleh sebab itu, setiap orang harus ‘memaksa’ dirinya untuk terus mengkaji Islam secara tepat; bukan untuk kepuasaan intelektual, melainkan untuk diyakini, dihayati, dan diamalkan. Dengan pengamalan tersebut ia akan menjadi orang yang memiliki keyakinan teguh, cita-cita kuat, tawakal hebat, dan optimisme tinggi; zikirnya rajin, shalatnya khusyuk, dan ibadah lainnya melekat dalam dirinya; perjuangan dan pengorbanannya untuk Islam pun membara. Ia akan berbuat di dunia dengan keyakinan Allah Swt. akan menolongnya, kesulitan dipandang sebagai ujian hidupnya, dan pandangannya jauh tertuju ke depan, ke akhirat. Dia berbuat di dunia untuk mencapai kebahagiaan hakiki, yaitu ridha Allah al-Khaliq. Jika ini dilakukan niscaya seseoranng akan terhindar dari depresi.

Kedua, solusi keluarga. Betul, depresi tidak selalu terjadi pada keluarga yang berantakan. Ada juga orang yang berasal dari keluarga baik mengalami depresi. Namun, secara umum keluarga yang tak tertata berpeluang lebih besar melahirkan masyarakat yang depresi.

Allah Swt. Mahatahu terhadap karakteristik manusia yang diciptakannya. Dia adalah Zat Yang Mahalembut yang menurunkan konsep keluarga keluarga yang islami, harmonis, serta jauh dari hal-hal yang dapat merusak pondasi dan pilar-pilar keluarga; sehingga terbentuk keluarga yang ‘sakînah, mawaddah, wa rahmah’. Dalam konteks keluarga ini, hubungan suami-istri dalam rumahtangga bukanlah hubungan antara tuan dan pekerjanya, tetapi hubungan yang saling bersahabat dan saling menolong satu sama lain. Allah Swt. berfirman:

]هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ[

Mereka itu (istri) adalah pakaian bagi kalian (suami) dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. (QS al-Baqarah [2]: 187).

Realitas pakaian memiliki dua fungsi: keluar sebagai penutup; sementara ke dalam sebagai pelindung. Ketika hal ini diterapkan maka yang akan datang bukanlah depresi, melainkan ketenangan (sakînah) yang diliputi dengan cinta dan kasih sayang (mawaddah dan rahmah), seperti yang dinyatakan dalam surat ar-Rum (30) ayat 21. Kemunculan depresi di tengah keluarga merupakan isyarat adanya kekurangberesan dalam keluarga tersebut, khususnya suami dan istri, di samping anggota keluarga lainnya. Allah Swt. memerintahkan agar kita menjaga keluarga kita:

]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا[

Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka. (QS at-Tahrim [66]: 6).

Jelaslah, keluarga harus dijadikan sebagai wadah untuk menjaga iman dan takwa dengan

senantiasa taat pada Allah Swt. Rumah dan keluarga haruslah dijadikan sebagai ‘madrasah’ yang memberikan pelajaran bagi penghuninya (seperti sekali-kali ada pengajian, diskusi tentang Islam dan umatnya). Pada zaman Nabi, rumah Arqam dijadikan pusat pembinaan; di rumah Fatimah adiknya Umar bin Khathab ada kajian; begitu pula di rumah sahabat lainnya. Rumah juga harus difungsikan sebagai ‘masjid’ yang mentransfer ketaatan kepada Allah Swt. (seperti setiap hari dibaca al-Quran, as-Sunnah, kalau menyetel lagu yang membawa pada siatuasi ketaatan, hiasan rumah berisi ajakan dari Islam). Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk menerangi rumah dengan shalat dan bacaan al-Quran. Rumah semestinya dijadikan ‘rumah sakit’ yang mengobati penyakit lahir dan batin (seperti selalu ada komunikasi antarpenghuninya, memecahkan persoalan bersama), dan sebagai ‘kamp tentara’ Allah Swt. yang mengkader penghuninya untuk menjadi ahli ibadah sekaligus pejuang dakwah.

Ketiga, solusi masyarakat. Kehidupan masyarakat, kata Nabi, seperti sekelompok orang yang mengarungi lautan dengan kapal. Jika ada seseorang yang hendak mengambil air dengan melobangi kapal dan tidak ada orang lain yang mencegahnya, niscaya yang tenggelam adalah seluruh penumpang kapal. Hal ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh anggota masyarakat terhadap kehidupan masyarakat secara umum. Masyarakat yang para anggotanya mengembangkan bibit-bibit depresi, jika dibiarkan, akan melahirkan masyarakat yang depresi. Sebaliknya, warga masyarakat yang menumbuhsuburkan kebaikan akan mewujudkan masyarakat yang juga baik. Oleh sebab itu, agar masyarakat memiliki daya tahan dalam menghadapi depresi/stress sosial harus ada upaya untuk menumbuhkan solidaritas dan kepedulian sosial; menciptakan atmosfir keimanan; serta mengembangkan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Masyarakat Madinah pada zaman Nabi saw. merupakan contoh ideal untuk hal ini.

Para sahabat, baik Muhajirin maupun Anshar, bahu-membahu dan saling mengasihi satu sama lain. Rasulullah mempersaudarakan mereka dan menenamkan sikap saling membantu dalam kekurangan di antara sesamanya. Nuansa keimanan begiru dominan baik di pasar Madinah, kebun-kebun kurma, dan tempat berkumpul lainnya. Mereka juga saling mengajak berbuat kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Masyarakat saat itu menyatu menjadi masyarakat dakwah. Rasulullah saw. bersabda:

«لاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ»

Janganlah kalian saling membenci, saling menghasud, saling membelakangi, dan saling memutuskan tali persahabatan. Akan tetapi, jadilah kalian itu hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim tidak diperbolehkan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari (HR al-Bukhari dan Muslim).

Keempat, solusi negara/pemerintah. Pemerintah memiliki peran yang cukup besar dalam menciptakan depresi di tengah-tengah masyarakat ataukah tidak. Betapa tidak, di tangannyalah wewenang mengurusi rakyat berada. Baiknya manusia bergantung pada baiknya ulama dan penguasa. Sebaliknya, rusaknya manusia bergantung pada rusaknya ulama dan penguasa. Itulah yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:

«اِثْناَنِ مِنَ النَّاسِ إِذَا صَلُحَا صَلُحَ النَّاسُ وَإِذَا فَسَدَا فَسَدَ النَّاسُ الْعُلَمَاءُ وَاْلأُمَرَاءُ»

Ada dua golongan manusia jika mereka baik maka manusia akan menjadi baik dan jika keduanya rusak maka manusia akan rusak. Kedua golongan itu adalah ulama dan penguasa. (Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam Al-Hilyah; Az-Zubaidi dalam Ittihâf as-Sa‘dah al-Muttaqîn, I/78; At-Tibrizi dalam Misykât al-Mashâbih, hlm. 205; Al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanz al-‘Umâl, 14706 dan 29007).

Pada mulanya, pemenuhan dan kesejahteraan manusia merupakan tugas individu itu sendiri dengan cara bekerja. Jika ia tidak dapat memenuhinya maka negara wajib menyediakannya. Islam telah menetapkan aturan dari Allah Swt. yang wajib dilakukan oleh pemerintah demi terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan masyarakat dan menjauhnya gejala depresi sosial dari mereka. Pemerintah wajib menunaikan kewajibannya untuk menjamin terpenuhinya segala kebutuhan pokok setiap individu masyarakat seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, dan rasa aman. Rasulullah saw. bersabda:

«فَاْلأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

Pemimpin manusia (kepala Negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat) dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas pengurusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Selain itu, negara wajib membina masyarakat dengan akidah Islam melalui sistem pendidikan Islam; mengatur media massa hingga tidak menyebarkan budaya hedonistic dan materialistik yang bersumber dari ideologi kapitalisme atau sosialisme; menerapkan hukum-hukum Islam secara total; serta mencampakkan akidah dan sistem kehidupan yang materialis dan sekular. Hanya dengan sikap tegas dari penguasa untuk melakukan hal tersebut deprsei sosial dapat dicegah.

Penutup

Depresi/stress sosial merupakan persoalan kompleks, dengan banyak faktor yang mempengaruhinya. Oleh sebab itu, solusi untuk mengatasinya harus tepat dan komprehensif, tidak bersifat parsial dan individual. Artinya, diperlukan peran masyarakat dan negara untuk mengatasinya, bukan sekadar peran individu dan keluarga saja. Dasarnya pun bukanlah sistem hidup kapitalisme ataupun sosialisme yang justru mengandung bibit-bibit penyebab deprsei/stress, melainkan Islam. Allah Swt. berfirman:

]وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[

Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa (QS al-An‘am [6]: 153).

[]

Penulis, anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia, tinggal di Bogor.

Posted on 17 Oktober 2008, in Ekonomi, Politik, Syari'ah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s