Penyapu Jalan Tewas Kelaparan

Ternyata analisa LPEM (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat) FEUI bahwa kenaikan BBM akan mengurangi jumlah orang miskin (bahkan sampai 14%, menurut Monko kesra 13%) ada benarnya juga, bisa jadi berkurang karena banyak yang mati.
Rabu 4 Juni 2008, Jam: 8:18:00

BOGOR (Pos Kota) – Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak seiring kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memunculkan beragam kisah pilu. Seorang penyapu jalan tewas di pinggir jalan Sukasari, Bogor Timur, Selasa (3/6) siang.

Diduga, Adin, 46, petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bogor, itu meninggal dunia karena kelaparan. Ia hanya makan satu kali sehari karena harus berbagi dengan ketiga anaknya.

Sebagaimana dituturkan Neglasari, 40, istri Adin, di RSUD PMI Bogor tempat jasad sang suami diotopsi, korban meninggal akibat menahan lapar sejak malam.Menurut Neglasari sejak kenaikan BBM yang dibarengi dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok, ia dan suaminya kelabakan mengatur pendapatan bulanan yang hanya Rp750 ribu.

Jumlah yang sangat minim ini harus diatur sehemat mungkin agar bisa menyisihkan dana untuk biaya sekolah dua dari tiga anaknya. “Biaya hidup dengan tiga anak sangat tidak mencukupi dengan gaji hanya Rp750 ribu sebulan,” kata Neglasari saat berada di ruang forensik rumah sakit.

CUMA MINUM AIR PUTIH

Warga Kampung Cibitung RT 02/07, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bogor, ini mengaku untuk bisa bertahan hingga gajian bulan berikutnya, terkadang mereka makan sehari sekali. Bahkan jika makanan yang tersedia tidak mencukupi untuksemua, ia dan suaminya terpaksa cuma minum air putih.

“Dengan gaji suami, kami bisa bertahan hingga dua minggu lebih. Selebihnya, sudah morat-marit. Untuk bertahan agar anak-anak tidak kelaparan, kami makan sehari sekali. Kadang diselipkan dengan rebus singkong dan daunnya yang saya minta dari warga,” paparnya.

Kepergian sang suami, diakui ibu tiga anak ini, akibat sejak malam tidak makan. Menu yang seharusnya untuk sang suami, terpaksa dibagikan ke tiga anaknya yang mengaku sedang lapar.

Bahkan sebelum berangkat kerja, korban sempat mengeluh sakit pada bagian perutnya. “Saya pikir sakit biasa. Rupanya sakit itu, pertanda lapar sejak malam,” ujar sang istri sambil menambahkan dirinya tidak sempat keluar minta singkong ke tetangga untuk makan suami karena waktu sudah malam.

(yopi/ok)

Busung Lapar

H.Bambang Eka Wijaya:

“SETELAH pekan lalu seorang ibu hamil dan balita putranya meninggal akibat kelaparan di Makassar, pekan ini disusul lima balita meninggal akibat busung lapar di Kabupaten Rote Ndao, NTT!” ujar Umar. “Lihat di running text, Pemkab-nya langsung menetapkan status peristiwa itu sebagai kejadian luar biasa busung lapar!” (Metro TV, 8-3).

Tak Mampu Berobat, Pilih Gantung Diri

Kompas, Rabu, 14 Mei 2008 | 13:04 WIB

BANJARMASIN, RABU – Seorang warga miskin bernama Rusman bin Agat (35), Rabu (14/5) pukul 06.00, ditemukan tetangganya tewas gantung diri di sebuah pohon di kebun karet Desa Pandulangan, Kecamatan Padangbatung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Kematian Rusman diduga akibat frustrasi karena tidak tahan menghadapi impitan hidup dan sakit yang tak kunjung sembuh.

 

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/16/11033463/uang.habis.ibu.bunuh.anaknya

Kekayaan Pejabat Melejit hingga Miliaran Rupiah

Rabu, 4 Juni 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Kekayaan Menteri Dalam Negeri Mardiyanto bertambah sekitar Rp 3 miliar dan 50.000 dollar Amerika Serikat dalam waktu sekitar 17 bulan. Sementara itu, Jaksa Agung Hendarman Supandji memiliki 14 rumah yang tersebar di Jakarta, Yogyakarta, Depok, Bogor, dan Subang, Jawa Barat.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/04/00273068/kekayaan.pejabat.melejit.hingga.miliaran.rupiah

Dipertanyakan, Keinginan DPR Naik Gaji di Saat Rakyat Tercekik Kenaikan Harga BBM

Kompas, Jumat, 04 Maret 2005

“Presiden itu take home pay-nya sekitar Rp 75 juta. Wakil presiden itu sekitar Rp 50 juta. Sedangkan menteri Rp 45 juta. Sementara itu, take home pay DPR Rp 16 juta. Itu pun masih dipotong untuk partai Rp 5 juta,” paparnya.

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0503/04/Politikhukum/1600246.htm

 

Posted on 9 Juni 2008, in Berita. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Keadaan bangsa kita saat ini sungguh sangat memprihatinkan.
    Kemiskinan dan kebodohan tidak hanya menggerogoti golongan lemah, golongan penguasa pun dengan bodohnya rela menjual aset-aset negara yang seharusnya menjadi amanat untuk dipergunakan demi kemakmuran rakyat.
    Baru-baru ini Garuda diprivatisasi, esok apalagi?
    Kalau ini dilakukan pemerintah terus dan terus, kita hanya akan menunggu kebankrutan.
    kita hanya akan menjadi budak hutang negara adikuasa.
    Mari kita berjuang mengubah pola pikir bangsa ini sehingga akan ada perubahan menuju kepada kebenaran hakiki. Bersama mencari jalan keluar, berpandangan jauh ke masa depan.
    Tidak terlena pada keuntungan sesaat yang berujung pada kerugian berkepanjangan.

    Perkenankan sebuah puisi ini tampil sebagai wujud cerminan sebagian anak bangsa

    Ketika Awal Berakhir

    Ketika seorang bayi terlahir ke dunia,
    Ia disambut dengan senyum dan tangis bahagia
    Tetapi…ketika ajal datang menjemputnya,
    Rundungan kesedihan melepaskan kepergiannya

    Ketika mentari terbit di ufuk timur,
    Kau manusia lebih suka menyelimuti diri dengan
    Mimpi yang tak pasti
    Sedangkan saat mentari terbenam di arah kiblat,
    Kau malah bersuka cita menyambut kedatangan gelap dengan
    Sikap yang tercaci

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s