Kelembutan dan Ketegasan

Banyak kaum muslimin keliru dalam memahami kelembutan dan ketegasan, sehingga keliru dalam menempatkan kedua hal ini, tulisan ini akan sedikit mengulasnya.

*****

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (TQS. al-Mâidah [5]: 54)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka,… (TQS. al-Fath [48]: 29)

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling cinta-mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam. (Mutafaq ‘alaih).

Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Iyadh bin Himar, ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

Penghuni surga ada tiga golongan. Pertama, penguasa yang adil, suka bersedekah, dan sesuai (dengan syariat). Kedua, orang yang penyayang, halus perasaannya bagi setiap yang memiliki keluarga dan terhadap seorang muslim. Ketiga, orang yang menjaga kesucian, menahan diri terhadap hal-hal yang haram, dan meminta-minta.

Mungkin ada yang mengatakan bahwa perintah untuk menyayangi bersifat umum mencakup seluruh manusia, baik muslim, kafir, munafik; yang taat, dan yang maksiat. Hal ini didasarkan pada hadits dari Jarir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Jarir bin Abdullah berkata, Rasulullah saw. bersabda:

Allah tidak akan memberikan rahmat kepada orang yang tidak menyayangi manusia.”

Maka kami katakan, memang benar bahwa kata “an-Nâs” (manusia) adalah kata yang bersifat umum, tetapi termasuk kata umum yang memiliki arti khusus. Seperti kata “an-Nâs” dalam firman Allah:

(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia9 telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, ….”

Di antara hadits yang membuktikan kasih-sayangnya Rasulullah saw. kepada kaum Mukmin adalah hadits yang diriwayatkan al-Bukhâri Muslim dari Abdullah bin Umar, ia berkata; Sa’ad bin Ubadah pernah mengadukan penyakitnya. Kemudian Rasulullah saw. datang untuk menengoknya bersama Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin abi Waqas, dan Abdullah bin Mas’ud. Ketika Rasulullah saw. masuk menemuinya, beliau mendapatkannya sedang pingsan. Kemudian beliau berkata, “Apakah ia telah wafat?”. Para sahabat menjawab, “Belum wahai Rasulullah!.” Kemudian Rasulullah saw. menangis. Ketika para sahabat melihat beliau menangis, maka mereka pun menangis. Kemudian Rasulullah saw. bersabda:

Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan siksaan karena air mata, atau karena kesedihan hati, tapi dengan ini —sambil menunjuk lisan beliau—, atau Allah akan memberikan Rahmat-Nya”.

Hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, ia mengatakan hadits ini hasan shahih, dari ‘Aisyah ra:

Nabi saw. telah mencium Utsman bin Madz’un dalam keadaan sudah wafat. Beliau menangis atau berlinang air matanya.

Hadits riwayat al-Bukhâri dari Anas bin Malik, ia berkata:
Suatu ketika aku pernah berjalan bersama Rasulullah saw. Beliau saat itu memakai selendang Najran yang kasar tepinya. Tiba-tiba ada seorang Arab desa bertemu dengan beliau, lalu menarik selendang beliau dengan kuat, hingga aku melihat di bagian leher beliau ada bekas ujung selendang itu akibat kuatnya tarikan tersebut. Orang itu kemudian berkata, “Wahai Muhammad! Berikanlah kepadaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu.” Rasulullah saw. meliriknya, lalu tersenyum dan memerintahkanku untuk memberikan sesuatu kepadanya.

Akan tetapi kasih sayang dan lemah lembut tidak boleh ada dalam hal penerapan hukum syara’ dan dalam perkara yang akan membahayakan kaum Muslim. Karenanya, kita harus bersikap keras dan tegas pada saat menerapkan hukum Islam dan ketika ingin mencegah perkara yang akan membahayakan kaum Muslim. Berikut ini sebagian dalil atas hal tersebut:

Dalam hadits ‘Aisyah yang disepakati oleh al-Bukhâri dan Muslim, ia berkata:
Sesungguhnya kaum Quraisy merasa bingung dengan masalah seorang wanita dari kabilah Makhzumiyah yang telah mencuri. Mereka berkata, “Siapakah yang berani berbicara kepada Rasulullah saw. untuk meminta pembelaan bagi wanita itu?” Dengan serentak mereka menjawab, “Kami rasa hanya Usamah saja yang berani, kerana dia adalah kekasih Rasulullah saw.” Maka Usamah pun pergi dan berbicara kepada Rasulullah saw. untuk minta pembelaan atas wanita itu.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Jadi kamu ingin memohon syafaat

(pebelaan) terhadap salah satu dari hukum Allah?” Kemudian baginda berdiri dan berkhutbah, “Wahai manusia! Sesungguhnya yang menyebabkan binasanya umat-umat sebelum kalian ialah, apabila mereka mendapati ada orang mulia yang mencuri, mereka membiar-kannya. Tetapi apabila mereka mendapti orang lemah di antara mereka yang mencuri, mereka akan menjatuhkan hukuman kepadanya. Demi Allah!, sekiranya Fatimah binti Muhammad yang mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.”

Dalam kasus ini, Rasulullah saw. tidak bersikap lemah lembut kepada kaum Quraisy. Rasul saw. tidak mengasihi wanita Makhzumiyah itu dengan cara membatalkan pelaksanaan hukuman atasnya. Beliau pada saat itu menolak memberikan pembelaan yang diminta oleh Usamah bin Zaid.

Jika Rasulullah saw. pernah menyayangi seseorang ketika menerapkan hukum Allah, tentu beliau akan menyayangi al-Hasan (cucu beliau, penj.) ketika mengambil bagian kurma sedekah. Dalam hadits Abû Hurairah, mutafaq ‘alaih, disebutkan:

Al-Hasan bin Ali telah mengambil sebagian kurma sedekah, lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Maka Rasulullah bersabda, “Kikh-kikh (tidak boleh-tidak boleh), buang kurma itu! Apakah engkau tidak tahu bahwa keluarga kita tidak boleh memakan harta sedekah (zakat).”

Adapun bukti ketegasan para sahabat yang paling tampak adalah ketegasan Abû Bakar ketika akan memerangi orang-orang murtad dan ketika melangsungkan pengiriman Usamah bin Zaid, padahal kebijakan tersebut berbeda dengan pendapat seluruh kaum Muslim saat itu. Namun akhirnya kaum Muslim mengikuti pendapat beliau dan melaksanakan perintahnya, lalu memujinya.
Apabila kita mengecualikan masalah toleransi dalam penerapan hukum syara’ dan dalam perkara yang membahayakan, maka dapat dikatakan bahwa orang-orang yang harus dikasihi adalah orang yang ditimpa musibah, seperti kematian, sakit, kehilangan orang yang mulia. Begitu juga orang yang bodoh, ia harus dikasihi, disikapi dengan rendah hati, dan harus diajari dengan sabar. Ketika menerapkan perkara yang dibolehkan, maka harus dipilih yang paling ringan, harus diutamakan bersikap lemah lembut daripada bersikap keras, dan tegas. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. kepada pasukan kaum Muslim ketika mengepung Thaif; seperti yang telah dijelaskan oleh hadits riwayat Ibnu Umar riwayat Imam al-Bukhâri sebelumnya.

Adapun beberapa bentuk sikap keras dan tegas, dan menampakan keperkasaan kaum Muslim kepada kaum Kafir adalah:

1. Ketika Perang

Al-Bukhâri meriwayatkan hadits dari Wahsyi, ia berkata; Ketika kaum Muslim keluar pada tahun Ainain —Ainain adalah salah satu gunung dari arah Uhud, yang di antara bukit itu terdapat suatu lembah— maka aku keluar bersama kaum Muslim untuk berperang. Ketika mereka telah berbaris rapih untuk berperang, keluarlah Siba (dari pasukan musuh). Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Apakah ada yang mau menampakkan diri?” Wahsyi berkata, Maka keluarlah Hamzah bin Abdul Muthalib untuk menghadapinya, kemudian ia berkata, “Wahai Siba!, Ibnu Umi Anmar si tukang sunat wanita, apakah engkau akan menentang Allah dan Rasul-Nya? Selanjutnya Wahsyi berkata, “Kemudian Hamzah menyerang Siba dan membunuhnya…”
Ketegasan para sahabat terhadap kaum Kafir seperti ketegasan Hamzah, Ali, al-Bara, Khalid bin Walid, Amr bin Ma’di Yakrab, Amir, Dzahir bin Rafi dan yang lainnya, bisa dilihat pada buku-buku Sîrah dan Maghâzî. Siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka hendaknya merujuk buku-buku tersebut. Karena karya ini bukan buku sirah dan cerita, maka untuk tujuan tersebut cukup dengan petunjuk saja.

2. Ketika Berunding dengan Musuh (al-Mufawadhah)

Hadits Muswar dan Marwan riwayat al-Bukhâri, menyebutkan:

Mughirah bin Syu’bah berdiri di hadapan Rasulullah saw. Beliau membawa pedang dan memakai baju besi. Ketika Urwah berusaha menyentuh jenggot Nabi dengan tangannya, maka Mughirah bin Syu’bah memukul tangannya dengan sarung pedang, dan berkata kepadanya, “Jauhkan tanganmu dari janggut Rasulullah saw.”

Perbuatan dan ucapan Mughirah, serta ucapan Abû Bakar dilihat dan didengarkan oleh Rasulullah saw., sementara beliau berdiam diri, maka diam beliau tersebut merupakan pengakuan (pembenaran).

Muhammad bin Hasan asy-Syibani menceritakan dalam kitab as-Siar al-Kabir, ia berkata; Usaid bin Hudair dan Uyainah menghadap Nabi saw. dengan menjulurkan kakinya. Kemudian Usaid bin Hudhair berkata, “Wahai Uyainah al-Hajrasi!, lipatlah kakimu. Apakah engkau akan menjulurkan kakimu di hadapan Rasulullah saw.? Demi Allah, andaikata bukan karena Rasulullah saw., pasti aku akan menusuk matamu dengan tombak, setiap kali engkau menginginkan hal ini dari kami.”

3. Katika Menyikapi Orang-orang yang Melanggar Perjanjian.

Dalilnya adalah firman Allah Swt.:
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya). Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran. (TQS. al-Anfâl [8]: 55-57)

Hadits riwayat Muslim dari Abû Hurairah tentang futuh Makkah, setelah kaum Quraisy melanggar perjanjian. Dalam hadits itu Rasulullah saw. bersabda:

Wahai kaum Anshar, apakah kalian melihat macam-macam orang Quraisy? Mereka berkata, “Ya.” Rasulullah saw bersabda, “Tunggulah, jika kalian bertemu dengan mereka besok, maka habisi mereka.” Rasulullah saw. menyembunyikan tangannya dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Beliau saw. bersabda, “Waktu yang dijanjikan pada kalian adalah di Shafa.” Ia (Abû Hurairah) berkata, “Tidak seorang pun (dari kaum Quraisy) yang mendekati kaum Anshar pada hari itu kecuali mereka membunuhnya.”

Posted on 9 Juni 2008, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s