Perang Pemikiran Dalam Isu Terorisme

Oleh Kevin Akilnov dan Farid Wadjdi

(Pengamat Politik Internasional dan Dunia Islam )

Ada pertanyaan mendasar dalam War on Terrorism (WOT) yang dilakoni oleh AS dan sekutunya sekarang. Apa yang sebenarnya paling dikhawatirkan oleh AS: serangan bom dan aksi kekerasaan oleh kelompok yang oleh AS sering disebut terorisme atau Ideologi Islam?

Memang benar, serangan kekerasan dengan target kepentingan AS selama ini bisa dikatakan cukup mengganggu ‘kenyamanan’ AS. Akan tetapi, serangan-serangan seperti itu tidak akan meruntuhkan eksistensi negara adidaya itu. Serangan tersebut justru dengan ‘licik’ digunakan oleh AS untuk kepentingan isu terorismenya. AS memanfaatkannya sebagai senjata untuk melegalkan perang melawan terorismenya selama ini.

Sebaliknya, Ideologi Islamlah sebetulnya yang lebih dikhawatirkan oleh AS. Sebab, ideologi ini, jika diadopsi dan diterapkan oleh kaum Muslim, akan secara nyata merontokkan ideologi Kapitalisme. Ideologi Islam akan menyatukan kaum Muslim di bawah naungan Daulah Khilafah Islam—sebuah negara ideologis yang bersifat global. Kaum Muslim juga akan menerapkan syariat Islam dalam pengaturan kehidupan mereka sehari-hari.

Dengan diadopsi dan diterapkannya Ideologi Islam, Kapitalisme akan ditinggalkan sebagai barang busuk. Jelas ini akan mengancam eksistensi penjajahan AS. Sebab, kunci keberhasilan penjajahan AS adalah jika umat Islam masih menganggap ideologi Kapitalisme ini layak bagi mereka dan masih diadopsinya ideologi ini oleh negeri-negeri Muslim.

Karena itu, perang ideologi yang tentu saja berawal dari perang pemikiran adalah hal yang paling dikhawatirkan oleh AS. Untuk itu, AS akan senantiasa melakukan perang pemikiran dengan target utama mempertahankan anggapan bahwa ideologi Kapitalisme masih layak, sekaligus melemahkan ideologi Islam dan membentuk citra buruk terhadap Ideologi Islam.

Pada tahun 2002, Sekertaris Menteri Pertahanan AS Paul Wolfowitz mengatakan, “Saat ini, kita sedang bertempur dalam perang melawan teror—perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar yang kita hadapi adalah perang pemikiran—jelas suatu tantangan, tetapi sesuatu yang juga harus kita menangkan."

Pada tahun 2004, Penasihat Keamanan Nasional AS Condoleezza Rice juga mengatakan, “Kemenangan sebenarnya tidak akan muncul hanya karena teroris dikalahkan dengan kekerasan, tetapi karena ideologi kematian dan kebencian dikalahkan."

AS meyakini akan dapat mengalahkan perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh sebagian Islamis. Ini karena kekuatan militer AS jauh lebih besar dibandingkan dengan kekuatan para Islamis. Sebaliknya, AS menyadari bahwa kekuatan Ideologi Islam yang diemban para Islamis tidak akan mudah ditaklukkan; Ideologi Islam secara alami lebih mudah menarik hati dan pikiran masyarakat Muslim.

Strategi AS

AS telah membuat strategi untuk memenangkan perang pemikiran ini. Strategi ini dinamai dengan, “Muslim World Outreach”. Beberapa butir utama yang dapat dipahami dari strategi ini adalah:

1. Sekularisme dan demokrasi merupakan standar kriteria untuk mengelompokkan kaum Muslim. MWO mempunyai sasaran untuk memperkuat kelompok moderat. Standar utamanya adalah kesesuaian pemahaman mereka dengan sudut pandang sekularisme dan konsep demokrasi.

2. Kelompok moderat didorong dan dibantu melakukan kampanye untuk mendiskreditkan kelompok radikal. Paul Wolfowitz mengatakan, “Perang ini harus dijalankan utamanya di negeri-negeri Muslim itu sendiri dan oleh Muslim." Kelompok moderat lalu didorong untuk memperbanyak hasil kajian yang menunjukkan kesesuaian Islam dengan sekularisme, demokrasi, dan ide-ide turunannya. Contohnya adalah konsep, “Teologi Negara Sekular,” yang diusulkan Denny JA dalam kelompok diskusi (milis) Islam Liberal. Kemudian, Zeyno Baran, analis dari The Nixon Center yang juga penasihat strategi MWO ini, menyarankan, "Anda menyediakan dana dan membantu membuat ruang politik bagi Muslim moderat untuk mengorganisasi, mencetak, menyebarkan, dan menterjemahkan hasil kerja mereka." Aktor-aktor AS dalam perang pemikiran ini umumnya berasal dari U.S. Agency for International Development (USAID). USAID telah menyalurkan dana untuk mensponsori beberapa program yang terkait dengan MWO ini, di antaranya program pengembangan mata pelajaran kewarganegaraan yang dilaksanakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; program penelaahan fikih Islam yang bertujuan untuk menunjukkan kesesuaiannya dengan demokrasi dan hak asasi manusia, yang dilaksanakan oleh Universitas Paramadina; program pertukaran pelajar dan cendekiawan Muslim yang dilaksanakan oleh International Center for Islam and Pluralism; program radio “Islam dan Toleransi” yang disiarkan oleh 40 stasiun radio di 40 kota, dan berdasarkan program ini, ditulis setengah-halaman artikel di lebih dari 100 surat kabar perminggu di seluruh Indonesia, yang dilaksanakan oleh Jaringan Islam Liberal; pendirian pusat konseling untuk masalah kekerasan domestik dan pusat advokasi bagi wanita yang dilaksanakan oleh Fatayat, korps wanita Nahdlatul Ulama; dsb.

3. Indonesia merupakan target pertama dari strategi MWO. Pada bulan Februari, Global Information and Influence Team yang dibentuk oleh The CIA’s Office of Transnational Issues menyelenggarakan konferensi diplomasi publik yang memfokuskan diri pada pembahasan strategi untuk mempengaruhi enam negara, termasuk di antaranya Indonesia. Seorang pejabat AS mengatakan bahwa perubahan Islam akan dimulai dari luar Dunia Arab. Indonesia adalah target pertama dari strategi MWO. Ini dapat dipahami karena selain paling moderat (sekular) dan paling banyak jumlahnya, Muslim Indonesia sangat lemah dalam mengakses khazanah Islam (hambatan bahasa) sehingga interpretasi Islam sangat bergantung pada ulama dan media.

4. Media massa merupakan alat yang penting dalam strategi MWO. Dengan target para pemirsa Arab, AS telah membangun pada tahun 2002 Radio Sawa, stasiun radio yang menyiarkan musik pop dan berita, dan pada tahun 2004, al-Hurra, TV satelit yang menyiarkan berita. Di samping itu, banyak program yang tidak secara eksplisit terkait dengan tema Islam, seperti program hiburan, program anak-anak, dan sebagainya digunakan untuk menyisipkan pesan-pesan, seperti pluralisme, demokrasi, dsb.

Memenangkan Pertarungan

Menarik uraian Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Ad-Dawlah al Islâmiyyah saat menjelaskan hambatan-hambatan apa yang dihadapi kaum Muslim saat ingin mendirikan kembali Negara Islam. Dalam bukunya tersebut Syaikh an-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir ini, menyebut salah satu hambatan tersebut adalah terdapatnya pemikiran-pemikiran yang tidak islami. Hal ini disebabkan Dunia Islam memang sedang mengalami kemunduran dan kedangkalan berpikir. Jadilah pemikiran-pemikiran yang tidak islami ini tumbuh subur. Muncullah intelektual-intelektual yang sekadar membebek ke ide-ide yang tidak islami tersebut.

Kenyataan inilah yang sekarang sedang terjadi di Dunia Islam. Kehadiran intelektual atau pemikir liberal di Dunia Islam, termasuk di Indonesia, mencerminkan kemunduran berpikir ini. Para intelektual dan pemikir liberal ini dengan bangganya menyerukan ‘liberalisme’ Islam dari segala aspek, termasuk pemikiran Islam. Di sisi lain, para pemikir ini demikian ‘alergi’ dengan pemikiran Islam seperti syariat dan Khilafah. Kemunduran berpikir inilah yang melahirkan sikap inferior (rendah diri) saat menghadapi pemikiran Barat.

Syaikh an-Nabhani kemudian memberikan solusi—yang harus menjadi agenda utama kaum Muslim—dalam menghadapi kondisi terpuruk di atas.

Pertama: membina umat, terutama para intelektualnya, dengan pemikiran Islam yang ideologis. Dalam hal ini, harus dijelaskan kepada umat secara gamblang bahwa Islam memang mampu meyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan mereka secara aktual. Di sinilah pentingnya melakukan pengkajian yang lebih detail tentang sistem ekonomi Islam, sistem politik Islam, sistem pendidikan Islam, dan yang lainnya. Pemikiran Islam harus disampaikan secara utuh; tidak sebatas membahas akidah saja, fikih ibadah saja, atau akhlak saja.

Pembahasan Islam juga harus dikaitkan dengan fakta-fakta/persoalan-persoalan aktual sekarang, lalu dijelaskan bagaimana Islam menyelesaikan persoalan tersebut. Sebagai contoh, saat terjadi krisis BBM, pemikiran Islam harus merespon persoalan ini. Dikaji bagaimana fakta krisis BBM ini dan diberikan solusi Islamnya atas persoalan ini.

Target dari semua ini adalah munculnya keyakinan pada umat, terutama para pemikirnya, bahwa Islam memang bisa menyelesaikan setiap persoalan kehidupan mereka; tanpa harus membebek pada ideologi Kapitalisme maupun Sosialisme. Dengan begitu, sikap inferior yang melanda pemikir Islam akan hilang.

Ketika umat dengan gamblang melihat bahwa ternyata syariat Islam mampu menjawab persoalan kemanusiaan, upaya-upaya untuk menjauhkan umat dari syariat Islam dengan alasan liberalisasi dengan sendirinya akan tertolak. Umat akan melihat bahwa para pengkritik syariat Islam justru menjadi intelektual mandul yang hanya bisa mengkritik, tetapi tidak bisa memberikan solusi.

Kedua: menjelaskan kepada umat kepalsuan dan kebobrokan ide-ide selain Islam yang bersumber dari ideologi Kapitalisme dan Sosialisme. Dijelaskan pula kepada umat bahaya dari ide-ide tersebut dan bagaimana pertentangannya dengan Islam. Di sinilah letak penting menjelaskan kepalsuan dan kedustaaan ide sekularisme, demokrasi, liberalisme, pluralisme, dan turunan-turunan pemikiran kapitalis lainnya. Perlu dijelaskan secara gamblang bahwa sekularisme telah membawa penderitaan kepada umat manusia. Ide demokrasi yang mengklaim dirinya sebagai representasi suara rakyat, kenyataannya tidaklah seperti itu. Kebijakan-kebijakan yang diambil di parlemen tidaklah mencerminkan kehendak rakyat sebenarnya, tetapi mencerminkan kehendak para elit politik yang berkoalisi dengan pengusaha kapitalis. Contohnya, kebijakan BBM yang jelas merugikan rakyat dan tidak dikehendaki oleh rakyat tetap didukung oleh parlemen. Lantas apa benar parlemen mencerminkan suara rakyat?

Demokrasi perlu dijelaskan juga pertentangannya dengan Islam. Sebab, demokrasi telah menyerahkan kedaulatan membuat hukum kepada manusia. Sebaliknya, dalam Islam, kedaulatan hukum hanyalah milik Allah Swt. semata. Demikian juga ide liberalisme, dijelaskan pertentangannya dengan Islam, bahwa dalam Islam, manusia tidak dibiarkan melakukan apa saja sesuai dengan seleranya, namun setiap Muslim wajib terikat pada syariat Islam dalam segala perilakunya.

Perlu juga dijelaskan bahaya ide-ide sekular lain di tengah-tengah umat. Kebijakan ekonomi liberal seperti kenaikan BBM, privatisasi pendidikan dan rumah sakit, misalnya, nyata-nyata telah menyengsarakan umat. Ekonomi liberal ini juga hanya memihak para kapitalis (pemilik modal) dengan mengeksploitasi kekayaan alam di Dunia Islam, sementara rakyatnya hidup merana. Secara gamblang harus dijelaskan kepada umat kebijakan-kebijakan kapitalis ini hanya menguntungkan penjajahan. Karena itu, hubungan-hubungan para propagandis ini dengan penjajah baik dalam pemikiran, modal, maupun konspirasi harus diungkap secara gamblang di tengah-tengah umat.

Berbagai kasus yang meresahkan seperti shalat berbahasa Indonesia, wanita menjadi imam dan khatib Jumat, ibadah haji tidak harus pada bulan Dzulhijjah, termasuk Draft Counter Legal Kompilasi Hukum Islam, dukungan kelompok liberal terhadap pornografi, homoseksual, perkawinan muslimah dengan pria kafir, sampai dukungan terhadap kelompok sesat dan menyimpang dari Islam, merupakan implikasi dari paradigma berpikir liberal yang berbahaya.

Jika kesadaran akan keburukan ide Kapitalisme ini sudah terwujud di tengah-tengah umat maka berbagai propaganda ide-ide liberal tidak akan laku. Umat justru akan melihat bahwa yang menyerukan ide-ide liberal ini tidak lain adalah kaki tangan penjajah yang ingin melestarikan penjajahan dan kesengsaraan umat.

Ketiga: melakukan dakwah yang bersifat politik dengan mengajak umat untuk menerapkan syariat Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Penting dipahamkan kepada umat, bahwa persoalan mereka bukanlah sebatas adanya para pemikir liberal sebagai agen penjajah Barat yang menghadang penerapan syariat dan Khilafah Islam. Akan tetapi, lebih dari itu, semua ini berpangkal dari tidak adanya institusi yang menerapkan syariat Islam secara kâffah sehingga kehidupan Islam bisa diterapkan secara menyeluruh, yakni tidak adanya Khilafah Islam. Karena itu, dakwah Islam haruslah mengarah pada penerapan syariat Islam secara menyeluruh di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah.

Penerapan syariat Islam secara kâffah dan menyeluruh ini sekaligus nanti akan menjadi jawaban yang paling menyakinkan bagi para propagandis liberal yang menolak syariat Islam. Tuduhan-tuduhan palsu mereka tentang syariat Islam akan tampak jelas kebohongannya. Penerapan Islam secara kâffah dan menyeluruh ini akan secara gamblang memberikan gambaran bahwa syariat Islam dan Khilafah Islam itu bukan utopis, tetapi real. Tertolak juga tuduhan bahwa syariat Islam itu menyebabkan kemunduran, menyengsarakan kelompok minoritas dan wanita. Semuanya akan terbantah secara gamblang jika Khilafah Islam segera ditegakkkan. []

Daftar Pustaka

1. "Bridging the Dangerous Gap between the West and the Muslim World", Remarks Prepared for Delivery by Deputy Secretary Paul Wolfowitz at the World Affairs Council, Monterey, CA, Friday, May 3, 2002. Http://www.defense.gov/speeches/2002/s20020503-depsecdef.html

2. “Rice: U.S. using Cold War techniques in war on terror Waging a war of ideas with radical Islam”, Thursday, August 19, 2004 Posted: 4:13 PM EDT (2013 GMT). Http://www.cnn.com/2004/ALLPOLITICS/08/19/rice-muslims/

3. “Hearts, Minds, and Dollars. In an Unseen Front in the War on Terrorism, America is Spending Millions…To Change the Very Face of Islam”, By David E. Kaplan. Http://www.usnews.com/usnews/news/articles/050425/25roots.htm

4. “Muslim World Outreach and Engaging Muslim Civil Society”, USAID 2004 Summer Seminars. Http://www.usaid.gov/policy/cdie/notes10.html.

5. “Teologi Negara Sekular: Substansi dan Metodologi”. Http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=165.

Iklan

Posted on 28 Oktober 2007, in Kritik Pemikiran, Politik. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. hatur nuhun ya saya ngopi, jazakumullah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s