Arsip Kategori: Ibadah
Hukum Perayaan Natal Bersama
Oleh: M. Taufik N. T – disampaikan di masjid Mujahidin pada 17 Desember 2011
Dari Abu Hurairah r.a , Rasulullah saw bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ»، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ
“Hari kiamat tak bakalan terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, seperti Persi dan Romawi?” Nabi menjawab: “Manusia mana lagi selain mereka itu?” (HR. Bukhory no. 7319)
Bila Punya Hajat Dunia Maupun Akhirat
Telah berkata kepadaku ‘Ali bin Isa bin Yazid al Baghdadiy…dari Abdullah bin Abi Aufa dia berkata: Telah berkata Rasulullah SAW: barangsiapa punya hajat(keperluan) kepada Allah atau kepada seorang anak Adam maka hendaklah ia berwudhu dan hendaklah ia baguskan wudhunya itu—kemudian hendaklah ia shalat dua raka’at—kemudian hendaklah ia memuji Allah dan bershalawat atas Nabi SAW—kemudian hendaklah ia berkata(berdo’a):
Penentuan Awal & Akhir Ramadhan; Ikhtilaf, Hujjah & Realitas (II), Antara Hisab dg Rukyat
Oleh: M. Taufik N.T (sambungan dari sini)
II. Perbedaan Karena Metode; Hisab[1] Atau Ru’yat
Permasalahan ini baru muncul setelah akhir abad pertama hijriyah, setelah salah seorang tabi’in mengisyaratkan hal tersebut, dan setelah itu dibahas oleh para ahli fiqh. Pembahasan ini terjadi karena ada lafadz dari hadits nabi SAW yang memang difahami berbeda oleh para pensyarah hadits. Hadits tsb adalah :
Penentuan Awal & Akhir Ramadhan; Ikhtilaf, Hujjah & Realitas
Oleh : M. Taufik N.T ..::: download versi pdf disini ::..
Walaupun sebenarnya ada perbedaan pendapat para ‘Ulama tentang bagaimana menentukan awal & akhir Ramadhan, namun tetap terasa kurang sreg ketika menyaksikan perbedaan ini semakin jauh hingga bisa terjadi 3 hari yang berbeda bagi umat Islam untuk memulai dan mengakhiri Ramadhan, padahal sehari semalam hanya 24 jam, rembulan hanya ada satu buah, buminya satu buah, serta matahari untuk bumi ini juga satu buah. Orang yang berfikir tentunya bisa melihat bahwa pasti ada yg kurang tepat dalam hal ini. Tulisan ini berupaya mengajak pembaca melihat perbedaan pendapat para ‘ulama dalam masalah ini, melihat hujjah/alasan mereka, dan melihat realitas yg mereka bahas (manâth al hukm) yakni realitas terjadinya bulan baru (hilal) dari aspek astronomi.
Puasa di Akhir Bulan Sya’ban
Oleh: M. Taufik N.T
1. Hadits yang menyuruh puasa di akhir bulan Sya’ban.
Dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya Nabi saw. bertanya kepadanya – atau Nabi bertanya kepada seseorang dan ‘Imran mendengarnya- :
Bulan Sya’ban & Sekitar Nishfu Sya’ban
Oleh: M. Taufik N.T
Pembahasan berikut berupaya memahami perbedaan yang sering muncul (dan ditanyakan ke penulis) seputar nishfu (pertengahan) Sya’ban, saya tulis dengan harapan bisa saling menjaga ukhuwwah antar sesama muslim (tambahan lagi biar kalau ada yg nanya lagi tinggal disuruh lihat blog saja J), kalau ada kritik/saran silahkan dikomentari. Saya harap bagi pembaca yg sepakat bisa menyebarkannya, agar umat tidak bertengkar gara-gara masalah ini yg mengakibatkan mereka lupa bahwa saat banyak hukum-hukum syari’ah yg diabaikan dan banyak perkara penting yg harusnya dipikul bersama.
Hukum-Hukum Qurban
Soal: Sebentar lagi Idul Adh-ha akan tiba. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum qurban adalah wajib, apakah memang demikian? Jenis hewan apa aja yang boleh dijadikan qurban, serta bagaimana teknis penyembelihannya dan, waktu dan tempat qurban?
Orientasi Hidup
Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Khasyram telah menceritakan kepada kami ‘Isa bin Yunus dari ‘Imran bin Za’idah bin Nasyith dari bapaknya dari Abu Khalid Al Walibi dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:
Beribadah Di Atas Keraguan
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.[al-Hajj:11]
Imam Ibnu Katsir menyatakan,” Menurut Mujahid, Qatadah serta ‘ulama-‘ulama tafsir lainnya, bahwa yang dimaksud ‘ala harf, adalah ‘ala syakk (di atas keraguan).” Ayat ini menyindir orang-orang yang menyembah kepada Allah di atas keraguan, bukan di atas keyakinan hatinya.
Refleksi Rasa Syukur
Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke nerakanya Allah swt. Allah swt telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya. Allah swt berfirman, artinya:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.”[al-Baqarah:152]
Bid’ah Terpuji/Tercela; Konsep, Realitas & Ikhtilaf
Oleh: M. Taufik N.T
Perdebatan tentang tema bid’ah apakah ada yang terpuji atau semua tercela, kemudian apa saja yg termasuk bid’ah yang tercela adalah tema pembahasan dan perdebatan lama yang kalau kita kaji dengan teliti, maka akan kita temukan berbagai pendapat yang tidak harus kita pertentangkan, apalagi dijadikan alat untuk memutus tali ukhuwwah sesama muslim.
Tulisan ini saya buat dengan harapan bisa mempererat tali ukhuwwah sesama muslim – apapun organisasinya — dan agar kita bisa menyikapi perbedaan ini sehingga kalaupun berbeda pendapat, maka masih dalam lingkup perbedaan yang syar’iy, bukan perbedaan yg merupakan penyimpangan dari syari’ah. Dan kalaupun masih ada perbedaan pandangan maka kita bisa bersikap sebagimana para ‘ulama dulu ketika mereka berbeda pandangan, yakni: “pendapat yang kami ambil adalah pendapat yang benar, walaupun ada juga kemungkinan keliru, sedangkan pendapat selain pendapat kami adalah keliru walaupun ada kemungkinan benar”, bukan menyatakan pendapat selain pendapatnya adalah sesat, tentunya kalau pendapat lain tersebut ada dalil ataupun syubhat dalilnya juga.
1. Hadits – Hadits Tentang Bid’ah
Membiasakan Tafakkur
Membiasakan tafakkur adalah tradisi seorang mukmin. Allah menyebut kegiatan bertafakkur sebagai kebiasaan orang-orang yang berakal, Ulil Albaab. Dia SWT berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآَيَاتٍ ِلأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS. Ali Imran 190-191).

