Arsip Kategori: Kritik Pemikiran
Catatan Atas Buku Membongkar Proyek Khilafah ala Hizbut Tahrir di Indonesia
Oleh: M. Taufik N. T download versi pdf <<di sini>>
Disampaikan dalam bedah buku Membongkar Proyek Khilafah ala Hizbut Tahrir di Indonesia, Sabtu, 19 Mei 2012 di ruang PSB IAIN Antasari Banjarmasin.
Musthafa Kamal : “Pahlawan” Penghianat Islam (I)
![]()
Mustafa Kemal Atatürk (lahir di Selânik (sekarang Thessaloniki), 12 Maret 1881 – meninggal di Istana Dolmabahçe, Istanbul, Turki, 10 November 1938 pada umur 57 tahun), hingga 1934 namanya adalah Ghazi Mustafa Kemal Pasha, adalah seorang perwira militer dan negarawan Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki.
Mu’ammar Khadafi , Aborsi & Kerahiban Wanita
Ini adalah informasi lama yang dulu, meskipun sudah disampaikan, namun sepertinya tidak dipedulikan mayoritas umat Islam, sehingga dibalik jubah Islamnya banyak umat terkelabui akan sosok sebenarnya Mu’ammar Khadafi, bahkan di beberapa negara dia membangun Islamic Center, banyak yang terpukau dengan Khadafi hanya karena ia berani tegas bicara menentang Amerika dan Israel. Khadafi juga terkenal dengan "Buku Hijau"-nya (Kitabul Akhdlar/Green Book) mengijinkan berkembangnya faham atheisme di tanah Islam yang bernama Libya.
Kesalahfahaman Tentang Kemaksuman Nabi & Rasul Sebelum Diutus
Baca Sebelumnya: Kesalahfahaman Tentang Qodlo & Qodar
Dengan cara yang sama, penulis buku al-Gharrah juga menukil sebagian pendapat Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, kemudian dia bantah, lalu bantahan tersebut dia carikan pembenaran dengan pandangan ulama’:
Kesalahfahaman Tentang Qodlo & Qodar
Salah satu masalah dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan, adalah adanya perbedaan pemahaman yang seharusnya kita tangkap secara obyektif dari apa yang kita dengar atau kita baca, dengan pemahaman kita sebelumnya tentang hal tersebut, sehingga tidak jarang ada seseorang, misalkan si B menyatakan bahwa si A memiliki pemahaman “x” dari apa yang si B baca atau dengar dari si A, padahal kesimpulan “x” tersebut sebenarnya bukanlah pemahaman si A, namun kesimpulan si B atas si A dari metode penarikan kesimpulan si B sendiri.
Penjelasan Bagi yang Salah Faham tentang Hizbut Tahrir
بيان لمن أخطأ عن حزب التحرير
(Penjelasan bagi yang salah faham terhadap Hizbut Tahrir)[1]
Oleh : Musthofa A. Murtadlo — hasil scanannya disini
Pengantar
Ketika kita baca sekilas tulisan tentang Hizbut Tahrir di situs PP Nurul Huda pasti menarik. Mengapa? Karena topik yang dikaji adalah topik yang berkaitan dengan Islam dan kaum Muslimin. Kita, sebagai bagian dari kaum Muslimin, tentu harus menjadikan problem multi dimensional kaum Muslimin serta semua hal yang berkaitan dengan kaum Muslimin sebagai qadhiyyah kita. Kita tidak boleh memiliki karakter yang digambarkan oleh seorang penyair:
Mendudukan Sejarah Kekhilafahan Islam
Salah satu argumentasi yang kerap dilontarkan untuk menolak sistem Khilafah adalah alasan sejarah. Sejarah Khilafah digambarkan sebagai fragmen kehidupan yang penuh darah, kekacauan, dan konflik. Paling tidak, ada tiga argumentasi sejarah yang sering dilontarkan: (1) Khalifah yang otoriter dan diktator; (2) Pembunuhan yang terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin; (3) Perlakuan yang diskriminatif terhadap non-Muslim dan wanita.
Seputar Hadits Kembali Berdirinya Khilafah ‘Ala Minhaaj Al-Nubuwwah
Oleh : M. Taufik N. T
Di beberapa situs internet ada yang meragukan hadits Imam Ahmad tentang akan kembali berdirinya khilafah ‘ala minhaaj al-nubuwwah, dengan hanya mengandalkan dugaan semisal: “Saya (penulis blog tsb[1]) menduga kuat bhw Habib (bin Salim, perowi hadits) mencari muka di depan khalifah”. Disisi lain ia justru memakai perkataan Habib Bin salim yang dia pandang “bermasalah” untuk menyatakan: “Kalau khilafah ‘ala minhajin nubuwwah periode yg kedua baru muncul di akhir jaman maka Umar Bin Abdul Azis termasuk golongan para raja yang ngawur
”. Anehnya kalau hadits ini diragukan, namun tidak terungkap adanya keraguan saat menulis kelamnya sejarah semisal : “Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah … mereka menggali kembali kuburan Mu’awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya”
Kebobrokan Tafsir Hermeneutika
Teori hermeneutika yang lahir dari ranah budaya Yahudi dan Kristen, dipakai oleh sebagian ‘intelektual’ sekarang sebagai metode penafsiran yg baru terhadap Al Qur’an, walhasil lahirlah hal-hal nyleneh seperti mereka membolehkan riba asal tidak berlipat-lipat, membolehkan khamr bahkan sampai homoseksual. Tulisan ini mengurai kekeliruan metode tersebut dari akarnya.
Inilah Islam Fundamentalis & Radikal
Akhir-akhir ini semakin gencar propaganda dari berbagai pihak untuk menjelekkan apa yang mereka sebut “Islam Fundamentalis” dan “Islam Radikal” yang diberi label keras & intoleran kemudian dipertentangkan dengan istilah baru : “Islam Nusantara”, yang dikesankan damai, toleran. Lebih dari itu, mulai juga dikait-kaitkan dengan terorisme. Ini nampak misalnya pada 27 – 28 Juli 2010 Pemerintah mengadakan Simposium Nasional : “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme” di Hotel Le Meridien Jakarta, ditindaklanjuti dengan adanya BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teror).
Pola seperti ini sebenarnya sudah lama, misalnya pada Februari 1992, di Munich Jerman berlangsung konferensi untuk mengantisipasi gerakan fundamentalisme (The Munich Conference on Security Policy).
Siapa sebenarnya yg mereka tuduh fundamentalis? Azyumardi Azra dan Martin E. Marty, menjelaskan cirinya: (1) oposionalisme (mengambil bentuk perlawanan terhadap ancaman yang dipandang akan membahayakan eksistensi agama, baik yang berbentuk modernitas, sekularisasi maupun tata nilai Barat. (2) menolak hermeneutika. (3) menolak pluralisme dan relativisme (4) penolakan terhadap perkembangan historis dan sosiologis. … Doktrin sentral fundamentalisme adalah Islam kaffah. … Anda masuk yg mana ?
Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen
Hermeneutika yang semula lahir akibat polemik teks Bible yang dianggap banyak masalah, kini, secara latah dicoba untuk mengkritik Al-Qur’an dan meragukan mushaf Usmani.
Majalah Gatra, edisi 3 April 2004 menurunkan laporan cukup panjang tentang fenomena kajian hermeneutika di kalangan perguruan Islam di Indonesia. Disebutkan, dua perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Islam Negeri Jakarta dan IAIN Yogyakarta sudah mengajarkan mata kuliah Hermenutika untuk mahasiswanya. Laporan Gatra itu menarik untuk dicermati, di tengah-tengah hingar bingar pemilu 2004. Mengapa? Sebab, fenomena ini menunjukkan, betapa lemahnya pertahanan kaum Muslim dalam aspek yang sangat strategis, yakni cara pemahaman (epistemologis) terhadap sumber utama Islam, yakni al-Quran.
Hermeneutika Dan Liberalisme Islam
Oleh: Amin RH
Gerakan liberalisasi pemikiran Islam yang marak akhir-akhir ini di Indonesia, sebenarnya lebih dilatar belakangi pengaruh eksternal ketimbang perkembangan alami dari dalam tradisi pemikiran Islam. Pengaruh eksternal itu dengan mudah dapat ditelusur dari trend pemikiran liberal di Barat dan dalam tradisi keagamaan Kristen. Salah satu tradisi keagamaan Kristen yang saat ini banyak digandrungi banyak kalangan – terutama penganut Islam Liberal – adalah praktek hermeneutika.
Melacak Akar “Radikalisme” Islam di Nusantara
Oleh Muhammad Taufik N.T
Membicarakan umat Islam di Nusantara saat ini, akan kita temukan beberapa corak keberislaman pemeluknya. Ada yang mengaku “moderat”, mengakomodir dan toleran dengan sistem yang ada sekarang sambil berupaya menanamkan nilai-nilai Islam kedalam sistem yang ada, ada yang mengaku “sekuler – liberal” yang berupaya menjauhkan penerapan syari’at secara formal di nusantara, dan ada pula yang disematkan kepada mereka predikat “Islam – radikal” yang dikonotasikan dg Islam yang kaku, ekstrem dan intoleran.
Tulisan ini tidak akan membahas istilah-istilah tersebut, apakah istilah itu kita terima atau tidak, namun akan membahas kenapa ada perubahan penampakan sikap umat Islam di Nusantara yang awalnya penuh kedamaian kemudian saat ini sebagian berubah menjadi terkesan kaku, ekstrem dan intoleran yang kemudian disebut dengan radikal.

