Keutamaan Bulan Rajab

Oleh: M. Taufik N.T

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua betas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram… (QS At-Taubah: 36).

Menurut riwayat Al Bukhari dan Muslim, bulan haram tersebut yakni tiga bulan yang berurutan (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram), dan satu bulan terpisah, yakni Rajab. Oleh karena itu, keutamaan bulan haram juga merupakan keutamaan bulan Rajab, diantaranya, diriwayatkan bahwa Qatadah r.a mengatakan:

الظُّلْمُ فِي الأْشْهُرِ الْحُرُمِ أَعْظَمُ خَطِيئَةً وَوِزْرًا مِنَ الظُّلْمِ فِيمَا سِوَاهَا، وَإِنْ كَانَ الظُّلْمُ فِي كُل حَالٍ عَظِيمًا

Kedzaliman pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada pada bulan-bulan lainnya, walaupun semua kedzaliman adalah besar kapanpun waktunya. [1] Ibnu Abbas r.a juga menyatakan bahwa kebaikan akan lebih besar ganjarannya jika dilakukan pada bulan haram.

Amaliyah di Bulan Rajab

Banyak hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan ibadah tertentu di bulan Rajab, seperti shalat raghâ’ib/ shalat rajab (12 rakaat) pada malam Jum’at minggu pertama ba’da maghrib di bulan Rajab, puasa sunnah dan lain-lain. Namun sayangnya riwayat-riwayat tersebut dho’if dan sebagian palsu.

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy (w. 852 H) dalam kitabnya, Tabyinul Ajab bi Ma Wurida Fi Fadhli Rajab menyatakan:

لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه، ولا في صيام شيء منه، – معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه – حديث صحيح يصلح للحجة

“Tidak dijumpai hadits shahih yang dapat dijadikan sebagai hujjah mengenai keutamaan bulan Rajab, tidak pada puasa Rajab, tidak pula puasa tertentu pada bulan Rajab dan qiyamul lail khusus pada malam Rajab”

Begitu juga menurut Imam as Suyuthi (w.911 H) dalam al-Hâwi lil Fatâwi, menyatakan bahwa hampir semua hadist tentang puasa Rajab tersebut berstatus dha’if (lemah). Akan tetapi hadits dha’if sebagaimana disepakati Ulama ahli hadits, dapat digunakan untuk memotivasi diri dalam fadhailul a’mal (mengerjakan amal-amal kebajikan), selagi tidak terlalu berat ke-dha’ifan-nya atau tidak ada dalam sanadnya seorang rawi yang suka berdusta atau dituduh suka berdusta.

Oleh sebab itu, berpuasa pada bulan Rajab tetaplah disunnahkan, sebagaimana pandangan ulama Malikiyah dan Syafi’iyah, apalagi kalau puasa senin-kamis atau puasa hari putih (tanggal 13, 14, dan 15) maka tetaplah sunnah dilakukan setiap bulan, semata-mata mengharap ridho Allah. Bukan semata-mata karena meyakini hadits dho’if seperti misalnya:

من صام يوما من رجب كان كصيام سنة، ومن صام سبعة أيام غلقت عنه أبواب جهنم، ومن صام ثمانية أيام فتحت له ثمانية أبواب الجنة، ومن صام عشرة أيام لم يسأل الله شيئًا إلا أعطاه،

“Barang siapa berpuasa sehari di bulan Rajab, laksana ia puasa setahun. Bila berpuasa tujuh hari, ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka Jahannam. Bila berpuasa delapan hari, dibukakan untuknya delapan pintu surga. Bila berpuasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya…” (HR. Al Baihaqi). Tentang hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Tabyinul Ajab bi Ma Wurida Fi Fadhli Rajab menyatakan “dan telah sepakat para imam akan kedhoifannya”.

Meskipun demikian, berharap dan meminta kepada Allah agar pahala puasa berlipat, agar ditutup pintu jahannam untuknya, agar kelak dibukakan pintu surga dan dikabulkan semua hajatnya, sebagaimana dalam hadits tsb adalah hal yang boleh, sebagaimana bolehnya dia berharap demikian saat berdo’a, walaupun tanpa berpuasa.

Termasuk juga berdo’a dengan do’a:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah berikanlah keberkahan buat kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan. (HR. Al Bazzar, al Baihaqi, dan At Thabarani dalam Mu’jamul Awsath). Walaupun sanadnya lemah, namun sebagai do’a tetaplah boleh dibaca, bahkan mengarang do’a sendiripun tidaklah dilarang, selama isi doanya bukan untuk kemaksiyatan atau ada unsur kemusyrikan.

Termasuk juga bertaubat dan beristighfar secara umum juga baik dilakukan pada setiap bulan, apalagi bulan Rajab, sebagai persiapan menyambut bulan Ramadhan.

Diantara Istighfar yang paling baik adalah yang diajarkan Rasulullah berikut:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

(Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu) ‘.

Beliau bersabda lagi : ‘Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.‘ (HR. Bukhory dari Syaddad bin Aus) . Allahu A’lam


[1] Imam At Thabari (w. 310 H), Jâmi’ul Bayân fî Ta’wîlil Qur’ân, 14/239

Baca Juga:

About these ads

Posted on 22 Mei 2013, in Ibadah, Ikhtilaf and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.881 pengikut lainnya.