Dâr al Islam dan Dâr al Kufr dalam Pandangan Para ‘Ulama

Dâr al-Islam adalah negeri yang diberlakukan hukum-hukum Islam; dan keamanan negeri itu dibawah keamanan kaum Muslim, sama saja, apakah penduduknya Muslim atau dzimmiy. (Syaikh ‘Abd al-Wahhab Khallaf (w. 1375 H), al-Siyâsah al-Syar’iyyah, hal. 79, Dâr Al Qalam, Maktabah Syamilah)

========================================================

Dalam berbagai kesempatan, tidak jarang ketika saya menyampaikan bagaimana pandangan hukum syara terhadap suatu problem kemasyarakatan, ada orang berkata: “memang masyarakat akan baik kalau hukum syara’ seperti yang pian jelaskan itu diterapkan, namun perlu diingat bahwa Indonesia itu bukan negara Islam”. Ungkapan ini seolah-olah ingin mengatakan bahwa kemaksiyatan itu boleh legal asalkan negaranya bukan negara Islam. Adapula orang yang takut kalau dalam suatu forum ada kata-kata/pembahasan atau bahkan hanya ucapan “Dâr al-Islam”, seolah-olah keselamatannya menjadi terancam (begitu suksesnya orba men-stigmatisasi istilah ini). Padahal kalau mau jujur membaca kitab kitab madzhab yang 4, istilah ini tidaklah asing.

Sebaliknya ada sebagian kalangan yang begitu “pede” menyatakan bahwa  Indonesia ini sudah negara Islam, sehingga ketika ada orang yang menyatakan pentingnya menegakkan khilafah, mereka akan menyatakan bahwa hal ini tidak relevan, karena negara Islam (khilafah) sudah tegak, ya Indonesia ini sudah khilafah, presidennya adalah khalifahnya.

Tulisan ini secara ringkas akan memaparkan definisi Dâr al-Islam dan kapan Dâr al-Islam berubah menjadi Dâr al-Kufr, sehingga pembaca bisa menilai mana ungkapan yang lebih benar.

==================================================

Definisi (Ta’rif) Syar’iy Dâr al-Islâm

كلمة (دار الاسلام) اصطلاح شرعي يدل على واقع معين من البلاد. كما ان كلمة (دار الكفر، أو دار الشرك، أو دار الحرب) وكلها بمعنى واحد، اصطلاح شرعي يدل على واقع معين من البلاد يغاير الواقع الاول

”Sesungguhnya frase Dâr al-Islâm adalah istilah syar’iy yang menunjukkan realitas tertentu dari sebuah negara. Frase Dâr al-Kufr juga merupakan istilah syar’iy yang menunjukkan realitas tertentu dari sebuah negara yang berlawanan dengan dâr al-Islâm. Begitu pula istilah “Dâr al-Kufr, dâr al-syirk, dan dâr al-harb”, semuanya adalah istilah syar’iy yang maknanya sama untuk menunjukkan realitas tertentu dari sebuah negara yang faktanya berbeda dengan fakta pertama (dâr al-Islâm) [1].

رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ” مَنَعَتْ دَارُ الْإِسْلَامِ مَا فِيهَا وَأَبَاحَتْ دَارُ الشِّرْكِ مَا فِيهَا ، أي دار الاسلام تعصم المستوطنين فيها، في دمائهم و أموالهم…فلا تستباح إلا بسبب شرعي يوجب استباحتها،بينما دارالشرك تجعل المستوطين فيها محل استباحة في دمائهم و أموالهم…الا بمانع شرعي يوجب العصمة..

Semua hal yang ada di dalam Dâr al-Islam terhalang (terpelihara), sedangkan semua hal yang ada di dalam Dâr al-syirk telah dihalalkan”. Maksudnya, Negara Islam akan memelihara penduduknya, baik harta maupun darah mereka…Oleh karena itu, tidak boleh dihalalkan (dirampas) kecuali dengan sebab syar’iy yang mewajibkan penghalalannya (perampasannya); berbeda dengan dâr al-syirk yang menjadikan penduduk yang ada di dalamnya sebagai tempat penghalalan pada darah dan harta mereka…kecuali ada halangan syar’iy yang mewajibkan pemeliharaan (atas harta dan darah mereka)… [2].

Berubahnya Dâr al-Kufr Menjadi Dâr Al Islâm dan Sebaliknya

Imam ’Alauddin Al-Kasâiy menyatakan:

لَا خِلَافَ بَيْنَ أَصْحَابِنَا فِي أَنَّ دَارَ الْكُفْرِ تَصِيرُ دَارَ إسْلَامٍ بِظُهُورِ أَحْكَامِ الْإِسْلَامِ فِيهَا وَاخْتَلَفُوا فِي دَارِ الْإِسْلَامِ ، إنَّهَا بِمَاذَا تَصِيرُ دَارَ الْكُفْرِ ؟ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ : إنَّهَا لَا تَصِيرُ دَارَ الْكُفْرِ إلَّا بِثَلَاثِ شَرَائِطَ ، أَحَدُهَا : ظُهُورُ أَحْكَامِ الْكُفْرِ فِيهَا وَالثَّانِي : أَنْ تَكُونَ مُتَاخِمَةً لِدَارِ الْكُفْرِ وَالثَّالِثُ : أَنْ لَا يَبْقَى فِيهَا مُسْلِمٌ وَلَا ذِمِّيٌّ آمِنًا بِالْأَمَانِ الْأَوَّلِ ، وَهُوَ أَمَانُ الْمُسْلِمِينَ . وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ – رَحِمَهُمَا اللَّهُ : إنَّهَا تَصِيرُ دَارَ الْكُفْرِ بِظُهُورِ أَحْكَامِ الْكُفْرِ فِيهَا .

Tidak ada perbedaan di kalangan fukaha kami, bahwa Dâr Kufr (negeri kufur) bisa berubah menjadi Dâr al-Islâm dengan tampaknya hukum-hukum Islam di sana. Mereka berbeda pendapat mengenai Dâr al-Islâm; kapan ia bisa berubah menjadi Dâr al-Kufr? Abu Hanifah berpendapat; Dâr al-Islâm tidak akan berubah menjadi Dâr al-Kufr kecuali jika telah memenuhi tiga syarat. Pertama, telah tampak jelas diberlakukannya hukum-hukum kufr di dalamnya. Kedua, meminta perlindungan kepada Dâr al-Kufr. Ketiga, kaum Muslim dan dzimmiy tidak lagi dijamin keamanannya, seperti halnya keamanaan yang pertama, yakni, jaminan keamanan dari kaum Muslim”. Sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat, “”Dâr al-Islâm berubah menjadi Dâr al-Kufr jika di dalamnya telah tampak jelas hukum-hukum kufur[3].

(لا تصير دار الاسلام دار حرب الخ) أي بأن يغلب أهل الحرب على دار من دورنا أو ارتد أهل مصر وغلبوا وأجروا أحكام الكفر أو نقض أهل الذمة العهد وتغلبوا على دارهم، ففي كل من هذه الصور لا تصير دار حرب، إلا بهذه الشروط الثلاثة، وقالا: بشرط واحد لا غير، وهو إظهار حكم الكفر وهو القياس.

Dâr al-Islâm tidak akan berubah menjadi Dâr al-Harb….(karena) misalnya, orang Kafir berhasil menguasai salah satu negeri kita, atau penduduk Mesir murtad (bughat) kemudian mereka berkuasa, dan menerapkan hukum-hukum kufur; atau ahlu dzimmah mencabut dzimmahnya (perjanjian untuk mendapatkan perlindungan dari Daulah Islam), lalu menguasai negeri mereka. Semua hal ini tidak menjadikan Dâr Islam berubah menjadi Dâr al-Harb, kecuali dengan tiga syarat tersebut. Sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat; cukup dengan satu syarat saja; yakni tampaknya hukum-hukum kufur di negara itu, dan ini adalah qiyas.. [4]

Syaikh ‘Abd al-Wahhab Khallaf menyatakan:

دار الاسلام هي الدار التي تجري فيها أحكام الإسلام، ويأمن من فيها بأمان المسلمين، ودار الحرب هي الدار التي تجري عليها أحكام الاسلام، ولايأمن من فيها بأمان المسلمين

Dâr al-Islam adalah negeri yang diberlakukan hukum-hukum Islam; dan keamanan negeri itu dibawah keamanan kaum Muslim, sama saja, apakah penduduknya Muslim atau dzimmiy. Sedangkan Dâr al-Harb adalah negeri yang tidak diberlakukan hukum-hukum Islam, dan keamanan negeri itu tidak dijamin oleh kaum Muslim [5]”.

Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani menyatakan:

والحق أن اعتبار الدار دار إسلام أو دار كفر لا بد أن يُنظر فيه إلى أمرين: أحدهما الحكم بالإسلام، والثاني الأمان بأمان المسلمين أي بسلطانهم. فإنْ توفَّر في الدار هذان العنصران أي أن تُحكم بالإسلام وأن يكون أمانها بأمان المسلمين أي بسلطانهم كانت دار إسلام وتحولت من دار كفر إلى دار إسلام. أمّا إذا فقدت أحدهما فلا تصير دار إسلام. وكذلك دار الإسلام إذا لم تُحكم بأحكام الإسلام فهي دار كفر، وكذلك إذا حُكمت بالإسلام ولكن لم يكن أمانها بأمان المسلمين أي بسلطانهم، بأن كان أمانها بأمان الكفار أي بسلطانهم، فإنها تكون أيضاً دار كفر.

Yang benar, penetapan suatu Negara apakah termasuk dâr Islam atau dâr kufr, harus diperhatikan di dalam Negara itu dua perkara; pertama, al-hukm bi al-Islâm (memerintah dengan Islam), dan kedua, keamanan kaum Muslim, yakni kekuasaan mereka. Jika di dalam Negara tersebut terpenuhi dua unsur tersebut, yakni diperintah dengan Islam, dan keamanan negeri tersebut di bawah keamanan kaum Muslim, atau di bawah kekuasaan kaum Muslim, maka Negara itu adalah Negara Islam; dan Negara itu telah berpindah dari Dâr Kufr menuju Dâr Islam. Adapun jika Negara telah kehilangan salah satu dari dua unsur tersebut, maka ia tidak menjadi Dâr Islam. Demikian juga, jika Dâr Islam tidak lagi memerintah dengan hukum Islam, maka ia adalah Dâr Kufr. Demikian juga jika Negara diperintah dengan Islam, namun keamanannya tidak di tangan kaum Muslim, yakni tidak di bawah kekuasaan mereka, namun berada di bawah keamanan orang-orang kafir, atau di bawah kekuasaan mereka, maka Negara itu menjadi Dâr Kufr juga[6]

Pendapat Yang Râjih

Menurut Dr. Muhammad Khair Haekal, dari pendapat-pendapat di atas, pendapat yang paling rajih adalah pendapat yang menyatakan, bahwa Dâr al-Islam adalah negeri yang sistem pemerintahannya adalah sistem pemerintahan Islam (diatur dengan hukum Islam), dan pada saat yang sama, keamanan negeri tersebut; baik keamanan dalam dan luar negeri, berada di bawah kendali kaum Muslim[7].

Dalil-Dalil

Pertama, definisi di atas didasarkan pada realitas negeri Makkah dan realitas Madinah pasca hijrah. Sebelum hijrah ke Madinah, Makkah dan seluruh dunia adalah Dâr al-Kufr. Baru setelah Nabi Muhammad saw dan para shahabatnya hijrah ke Madinah, dan menegakkan Daulah Islamiyyah di sana, maka terwujudlah Dâr al-Islam pertama kali dalam sejarah kaum Muslim. Makkah dan negeri-negeri di sekitarnya tetap berstatus Dâr al-Kufr. Dari sini kita bisa melihat realitas Makkah sebagai Dâr al-Kufr, dan Madinah sebagai Dâr al-Islâm Berdasarkan kedua realitas yang bertentangan inilah kita bisa memahami syarat dan sifat Dâr al-Islam dan Dâr al-Kufr. Di Makkah saat itu, hukum-hukum Islam tidak diterapkan dalam konteks negara dan masyarakat, meskipun di sana telah tampak sebagian syiar agama Islam, yakni sholat yang dikerjakan oleh kaum Muslim yang masih tinggal di Makkah; itupun harus seijin orang-orang kafir sebagai penguasa Makkah. Di sisi lain, kaum Muslim yang ada di Makkah tidak mampu menjamin keamanan dirinya secara mandiri, akan tetapi mereka hidup di bawah jaminan keamanan kaum kafir. Realitas ini menunjukkan kepada kita, bahwa di Makkah tidak ditampakkan hukum-hukum Islam dan jaminan keamanan atas penduduknya berada di tangan orang kafir; sehingga Makkah di sebut Dâr al-Kufr. Keadaan tersebut berbeda dengan Madinah. Di Madinah, hukum-hukum Islam diterapkan dan ditampakkan secara jelas, dan jaminan keamanan dalam dan luar negeri berada di bawah tangan kaum Muslim.

Kedua, realitas tentang Dâr al-Kufr juga ditunjukkan oleh negeri Habasyah. Habasyah, negeri di mana kaum Muslim diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk berhijrah ke sana, juga tidak tampak adanya penerapan hukum Islam oleh masyarakat dan negaranya. Jika di sana tampak ada sebagian syiar Islam yang dilakukan oleh kaum Muslim yang tinggal di sana; itu pun harus seijin penguasa kufur. Selain itu, keamanan yang ada di Habasyah berada di bawah kekuasaan kaum kafir. Saat itu tidak ada khilaf, bahwa Habasyah adalah Dâr al-Kufr.

Ketiga, bukti lain yang mendukung definisi di atas adalah, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sulaiman Ibnu Buraidah; dimana di dalamnya dituturkan bahwasanya Nabi saw bersabda:

أُدْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ فَإِنْ أَجَـابُوكَ فأَقْبِلْ مِنْهُمْ و كُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ أُدْعُهُمْ إِلَى التَّحَوّلِ مِنْ دَارِهِمْ الى دَارِالمُهَاجِرِيْنَ و أَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ إِنْ فَعَلُوا ذَلِكَ فَلَهُمْ مــا لِلْمُهَاجِرِيْنَ وَ عَلَيْهِمْ مَـا عَلَى الْمُهَـاجِريْنَ

“… Serulah mereka kepada Islam, maka apabila mereka menyambutnya, terimalah mereka dan hentikanlah peperangan atas mereka; kemudian ajaklah mereka berpindah dari negerinya (Dârul Kufur) ke Dârul Muhajirin (Dârul Islam yang berpusat di Madinah); dan beritahukanlah kepada mereka bahwa apabila mereka telah melakukan semua itu, maka mereka akan mendapatkan hak yang sama sebagaimana yang dimiliki kaum muhajirin, dan juga kewajiban yang sama seperti halnya kewajiban kaum muhajirin.”

Wajhul Istinbath

Dâr al-Muhajirin, pada riwayat di atas adalah sebutan Dâr Islam pada masa Rasulullah saw. Manthuq (tekstual) riwayat di atas menunjukkan dengan jelas, bahwa Rasulullah saw memerintahkan para shahabat untuk memerangi negeri-negeri kufur jika mereka tetap menolak bergabung di bawah naungan Dâr Muhajirin (Daulah Islamiyyah), walaupun di negeri tersebut tampak sebagian syiar agama Islam.

Syarat-Syarat Dâr al-Islam

Menerapkan syari’at Islam secara menyeluruh

Keamanan wilayah tersebut dijamin oleh penguasa Muslim (dalam arti ia memiliki kekuatan untuk menerapkan Islam dalam negeri, dan mengemban dakwah Islam ke luar negeri).

Dalil Syarat Pertama

وَ مَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَـا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمْ الْكَافِرُوْنَ

“Siapa saja yang tidak menerapkan hukum berdasarkan apa yang diturunkan Allah (yaitu Al Qur’an dan As Sunnah), maka mereka itulah tergolong orang-orang kafir.” [TQS Al-Maidah (5): 44]

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“(Dan) Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah engkau terhadap fitnah mereka yang hendak memalingkan engkau dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS Al-Maidah (5):49).

Di dalam sunnah juga dinyatakan bahwasanya menerapkan syariat Islam secara menyeluruh merupakan kewajiban dan menjadi salah satu syarat agar suatu negara absah disebut sebagai negara Islam (Dâr al-Islâm). Dalam sebuah hadits yang dituturkan oleh ‘Auf ibnu Malik dinyatakan, bahwasanya ia berkata:

قِيْلَ يَـا رَسُوْلَ الله : أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَيْف ؟ فَقَالَ لاَ مَا أقَامُوا فِيْكُمْ الصَّلاَة

“…ditanyakan oleh para sahabat: ‘Wahai Rasulullah tidakkah kita serang saja mereka itu dengan pedang?’, Beliau menjawab: ‘Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah masyarakat.” (HR. Imam Muslim).

Dalam riwayat lain juga dituturkan, bahwasanya, saat Ubadah Ibnu Shamit menceritakan peristiwa bai’at aqabah, ia mengatakan:

وَ أَنْ لاَ نُنَـازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ إلاّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحـاً عِنْدَكـــُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“Dan hendaknya kami tidak menentang kekuasaan penguasa kecuali (sabda Rasulullah:) ‘Apabila kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang dapat dibuktikan berdasarkan keterangan dari Allah SWT.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Dalil Syarat Kedua

Allah swt berfirman:

وَ لَنْ يَجْعَلَ اللهُ للْكَافِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيْلاً

“Dan Allah (selama-lamanya) tidak memberikan hak bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.[TQS An Nisâ’ (4): 141]

Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwasanya Anas bin Malik ra berkata.:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا غَزَا قَوْمًا لَمْ يَغْزُ بِنَا لَيْلًا حَتَّى يُصْبِحَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا كَفَّ عَنْهُمْ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ أَذَانًا أَغَارَ عَلَيْهِمْ

“sesungguhnya Rasulullah apabila memerangi suatu kaum, tidak memeranginya di waktu malam, hingga tiba waktu pagi. Maka, apabila beliau mendengar adzan (shubuh) berkumandang, maka beliau mengurungkan peperangan, dan apabila tidak mendengar suara adzan beliau melanjutkan rencana perangnya setelah shalat shubuh”. (HR. Imam Ahmad).

Dalam riwayat ‘Isham al Muzaniy dituturkan :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ جَيْشًا أَوْ سَرِيَّةً يَقُولُ لَهُمْ إِذَا رَأَيْتُمْ مَسْجِدًا أَوْ سَمِعْتُمْ مُؤَذِّنًا فَلَا تَقْتُلُوا أَحَدًا

“Nabi SAW apabila mengutus tentara atau pasukan perang, beliau selalu berpesan kepada mereka, “Apabila kalian melihat masjid atau mendengar adzan berkumandang, janganlah kalian membunuh seorang pun.”(HR. Imam at Tirmidziy)

Hadits-hadits ini menunjukkan, bahwa, bila suatu negeri tidak berada di dalam kekuasaan kaum Muslim, meskipun di negeri-negeri tersebut terdapat syi’ar Islam (penduduknya mayoritas Muslim), negeri-negeri tersebut boleh diperangi (didatangi pasukan Rasulullah saw), sebagaimana telah ditunjukkan oleh perilaku Rasulullah saw. Adzan dalam riwayat-riwayat di atas—menunjukkan, bahwa di wilayah-wilayah tersebut ada komunitas kaum Muslim dan juga syi’ar Islam, akan tetapi karena wilayah (negara) tersebut tidak berada di bawah kekuasaan kaum Muslim, Rasulullah saw tetap melancarkan serangan militer ke wilayah tersebut. Hanya saja, supaya tidak ada kekeliruan, yakni memerangi kaum Mukmin sendiri, beliau menunda penyerangan hingga datangnya waktu Shubuh. Ini ditujukan agar bisa dipilahkan mana orang kafir dan mana orang Mukmin. [M. Taufik. N.T]


[1] Dr. Muhammad Khair Haekal, al-Jihâd wa al-Qitâl, juz 1, hal. 660; lihat pula pada Imam al-Syafi’iy, Al-Umm, juz 4, hal. 270-271

[2] Imam al-Mawardiy, Ahkâm al-Sulthâniyyah, hal. 60.; Dr. Muhammad Khair Haekal, al-Jihâd wa al-Qitâl, juz 1, hal. 661

[3] Al-Kasâiy, Badâi’ al-Shanâi’, juz 7, hal. 130.

[4] Hâsyiyyah Ibnu ‘Âbidîn, juz 3, hal. 390

[5] Syaikh ‘Abd al-Wahhab Khallaf (w. 1375 H), al-Siyâsat al-Syar’iyyah, hal. 79, Dâr Al Qalam, Maktabah Syamilah.

[6] Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, juz 2, hal.215-216.

[7] Dr. Muhammad Khair Haekal, Al-Jihad wa al-Qitâl, juz 1, hal. 669

Baca Juga:

About these ads

Posted on 17 April 2013, in Makalah, Perang/Jihad, Politik, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.881 pengikut lainnya.