Musthafa Kamal : “Pahlawan” Penghianat Islam (I)

Mustafa Kemal Atatürk (lahir di Selânik (sekarang Thessaloniki), 12 Maret 1881 – meninggal di Istana Dolmabahçe, Istanbul, Turki, 10 November 1938 pada umur 57 tahun), hingga 1934 namanya adalah Ghazi Mustafa Kemal Pasha, adalah seorang perwira militer dan negarawan Turki yang memimpin revolusi negara itu. Ia juga merupakan pendiri dan presiden pertama Republik Turki.

Dulu, lewat pelajaran sejarah, saya mengenalnya sebagai seorang pahlawan, pembaharu dan Bapak Turki yang membawa kemajuan. Namun setelah bayak membaca berbagai sumber dan membandingkan dengan ajaran Islam, nyatalah bahwa dia adalah penghianat  yang telah merobohkan Islam, begitu bencinya dengan bahasa arab dan simbol-simbol Islam, sampai  adzan  harus diganti dengan bahasa Turki, tulisan arab juga dilarang, dan masjid aya sofya diubah menajdi museum.

Pembaruan Ala Musthafa Kamal

Mustafa Kemal menganggap fez (dalam bahasa Turki "fes" (topi Turki), yang mulanya diperkenalkan Sultan Mahmud II sebagai aturan berpakaian di Kekaisaran Ottoman pada 1826) sebagai lambang feodalisme dan karena sebab itu ia melarang pemakaiannya di muka umum. Ia mendorong lelaki Turki untuk mengenakan pakaian orang Eropa. Meskipun Islam melarang keras minuman yang mengandung alkohol, ia menggalakkan produksi dalam negeri dan mendirikan industri minuman keras milik negara. Ia menyukai minuman keras nasional, rakı, dan banyak sekali meminumnya.

Pada tahun 1937, Mustafa Kemal Atatürk mengubah status Masjid Hagia Sophia (Aya Sofya /آيا صوفيا) menjadi museum.

Mustafa Kemal memiliki visi sekuler dan nasionalistik dalam programnya membangun Turki kembali. Ia dengan keras menentang ekspresi kebudayaan Islam yang asli terdapat di kalangan rakyat Turki. Penggunaan huruf Arab dilarang dan negara dipaksa untuk beralih ke abjad yang berbasis Latin yang baru. Pakaian tradisional Islam, yang merupakan pakaian kebudayaan rakyat Turki selama ratusan tahun, dilarang hukum dan aturan berpakaian yang meniru pakaian barat diberlakukan.

***

Kisah penghianatan terbesar  dalam sejarah Islam modern ini, bermula ketika Sultan Abdul Hamid II menolak permintaan Theodore Herzl agar Khilafah Turki Utsmani menyerahkan Palestina sebagai wilayah baru untuk Yahudi. Sejak penolakan ini pula kekuatan lobi Yahudi bermain keras. Mereka mulai membangkitkan gerakan-gerakan anti Sultan Abdul Hamid II. Beberapa di antaranya yang kelak sangat vokal dan mengambil  peran besar adalah al Ittihad wa at Taraqqiy dan Fatat Turk. Keduanya adalah gerakan dan organisasi yang di asuh dan di besarkan oleh gerakan Freemasonry di Turki.

Agenda utamanya adalah menentang dan melakukan pemberontakan atas Sultan Abdul Hamid II. Partai ini untuk pertama kali terbentuk dan muncul tahun 1890. Di prakarsai oleh mahasiswa Akademi Militer dan Kedokteran Militer. Mereka banyak melakukan gerakan rahasia untuk menjatuhkan kekuasaan Sultan Hamid II dari dalam, terutama lini militer. Tahun 1897, gerakan ini terbongkar dan Sultan memerintahkan pembubaran.

Pada tanggal 4-9 Februari 1902, di Perancis di gelar sebuah konferensi besar dengan agenda meruntuhkan Utsmani. Konferensi ini di prakarsai oleh al Ittihad wa at Taraqqiy. Hasil dari konferensi ini adalah: mereka meminta agar negara-negara Eropa terlibat secara aktif untuk mengakhiri dan menyingkirkan Sultan Abdul Hamid II dari daulat Turki. Bahkan mereka mengklaim diri telah mengusai sebagian besar kekuatan militer di negeri Turki, termasuk pimpinan tertinggi militer, Mustafa Kamal Affandi.

Dengan lantang al Ittihad wa at Taraqqiy mengatakan akan memimpin Turki dengan ideologi Revolusi Perancis yang berdasarkan liberte, egalite dan fraternite. Peristiwa ini lebih di kenal dengan peristiwa 31 Maret. Sebuah aksi massa meledak dan menuntut penggulingan Sultan Abdul Hamid II.

Pemuda-pemuda Turki yang berangkat ke Eropa saat itu, sebagaimana di tuturkan oleh Sultan Abdul Hamid, mempelajari semua hal tentang Revolusi Perancis, kecuali satu hal, siapa di belakang Revolusi tersebut. Lalu mereka pulang ke Turki dan bergabung dalam segala gerakan yang bertujuan meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani.

Dan akhir dari episode ini adalah keputusan yang di tandatangani dalam perjanjian Lausanne, 20 November 1922. Dua pihak yang hadir adalah pemerintah baru Ankara yang di sebut-sebut masih mewakili Daulah Turki Utsmani dengan pihak Inggris. Selama perundingan, Inggris lewat Lord Curzon menetapkan beberapa syarat dan kondisi.
1.Penghapusan khilafah secara total.
2.Pengasingan khilafah keluar negara.
3.Penyitaan kekayaan Khalifah.
4.Pernyataan sekulerisasi negara.
Dari pihak Turki Utsmani, mereka menolak dan menentang syarat-syarat yang di ajukan, kecuali beberapa tokoh saja, termasuk Mustafa Kamal Affandi yang oleh dunia lebih di kenal sebagai Mustafa Kemal Ataturk.

Sumber: wikipedia, ini, dll (baca juga bukunya maryam jamilah yg berjudul “para penghianat” (terj))

About these ads

Posted on 3 Maret 2011, in Kritik Pemikiran, Tarikh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 353 pengikut lainnya.