Nusyuz (Pembangkangan) Dalam Pandangan Ahli Fiqh

Oleh : M. Taufik N.T

Pengertian Nusyuz

Menurut bahasa nusyuz adalah bentuk isim masdar (infinitive) dari kata, نَشَز, ينشز yang mempunyai arti tanah yang terangkat tinggi ke atas.[1] Menurut al-Qurtubi maknanya adalah مَا ارْتَفَعَ مِنَ الْأَرْضِ (sesuatu yang terangkat ke atas dari bumi)[2]. Adapun Ahmad Warson al-Munawwir dalam kamusnya memberi arti nusyuz dengan tempat yang tinggi. Dan jika konteksnya dikaitkan dengan hubugan suami-isteri maka ia mengartikan sebagai kedurhakaan, penentangan istri terhadap suami.[3]

Menurut istilah, nusyuz difahami berbeda-beda oleh para Ahli Fiqh[4] diantaranya:

Ulama Hanafiyah mendefinisikan nusyuz sebagai:

خُرُوجُ الزَّوْجَةِ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا بِغَيْرِ حَقٍّ

keluarnya istri dari rumah suami tanpa hak [5].

Ulama Malikiyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa nusyuz adalah

خُرُوجُ الزَّوْجَةِ عَنِ الطَّاعَةِ الْوَاجِبَةِ لِلزَّوْجِ

Keluarnya istri dari KETAATAN YANG WAJIB [6] kepada suami [7].

Sebagian fuqaha menjelaskan bahwa nusyuz dengan makna istilah terdapat pada istri, bukan sebaliknya (tidak ada istilah nusyuz untuk suami), fuqaha yang lain menjelaskan bahwa nusyuz bisa terjadi pada istri juga terjadi pada suami, walaupun tidak masyhur istilah nusyuz untuk disematkan pada suami [8].

Perbuatan Istri Yang termasuk Kategori Nusyuz[9]

Para Ahli Fiqh berbeda pendapat tentang apa yang terkategori nusyuz istri kepada suami dengan perincian sbb:

Ulama Hanafiyyah menyatakan bahwa suami tidak wajib memberikan nafkah kepada istri yang nusyuz (dg makna nusyuz sebagaimana diatas), karena tidak ada taslim (sikap tunduk/patuh) dari istri. Nusyuz bisa terjadi dalam masa nikah maupun masa ‘iddah. Nusyuz dalam nikah adalah dengan menghalangi dirinya dari suaminya dengan tanpa hak, dengan meninggalkan rumah tanpa izin dan menghilang atau melakukan safar (perjalanan), atau melarang suami masuk rumah. Adapun jika istri tetap di rumah, walaupun dia tidak mau “disentuh”, maka suami tetap wajib memberikan nafkah. Nusyuz dalam masa ‘iddah adalah dengan keluar dari rumah tempat ‘iddah.

Ulama Malikiyyah menyatakan bahwa nusyuz terjadi jika istri menolak “bersenanag-senang” dengan suami, termasuk juga keluar rumah tanpa izin suami ke suatu tempat yang si istri tahu suaminya tidak senang kalau istrinya pergi ke situ, sementara suami tidak mampu mencegah istrinya dari awal, kemudian mengembalikan istrinya untuk menta’atinya, jika suaminya mampu mencegah/melarangnya dari awal (namun tidak suami lakukan) atau mampu mengembalikannya dengan damai atau dengan lewat hakim, maka istri tidak terkategori melakukan nusyuz. Termasuk terkategori nusyuz adalah dengan meninggalkan hak-hak Allah seperti shalat, puasa, mandi wajib, juga menghalangi suami masuk rumah [10].

Ulama Syafi’iyyah menyatakan nusyuz adalah keluarnya istri dari rumah tanpa izin suaminya, juga termasuk nusyuz :

  • Menutup pintu rumah (agar suami tdk bisa masuk)
  • Melarang suami membuka pintu, mengunci suami didalam rumah supaya tidak bisa keluar.
  • Tidak mau bersenang-senang dengan suami pada saat tidak ada udzur, semisal haidl, nifas, atau istri merasa kesakitan
  • Ikut suami dalam safar (perjalanan) tanpa izin suami dan suami melarangnya (misal istri ikut nyusul suami dalam safar suaminya, namun suami melarangnya), baik suami bisa mengembalikannya atau tidak, namun bila ternyata dalam safarnya suami bersenang-senang dengan istrinya, walaupun asalnya suami melarang ikut, maka setelah bersenang-senang tersebut istri tidak terkategori melakukan nusyuz.

Namun keluar rumah tanpa izin tidaklah termasuk nusyuz jika untuk/karena :

  • menghadap qadli (hakim) untuk mencari kebenaran.
  • mencari nafkah jika suaminya kesulitan atau tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
  • meminta fatwa (‘ilmu) jika suaminya tidak faqih (sehingga tidak mungkin minta fatwa ke suami)
  • membeli tepung atau roti atau membeli keperluan yang memang harus dibeli.
  • menghindar karena khawatir rumahnya runtuh (jangan milih mati tertimbun didalam rumah krn pesan suami tidak boleh keluar rumah)
  • pergi kesekitar rumah menemui jiran untuk berbuat baik kepada mereka.
  • sewa rumah habis atau yang meminjamkan rumah sudah datang (sehingga harus keluar tanpa harus nunggu suami, apalagi kalau suaminya jauh)

Begitu juga istri mencaci suami atau menyakiti hati suami dengan ucapannya tidaklah termasuk dalam kategori nusyuz, walaupun istri berdosa karena hal tersebut dan suami harus mendidiknya[11].

Ulama Hanabilah memberikan tanda-tanda nusyuz, diantaranya adalah malas atau menolak diajak bersenang-senang, atau memenuhi ajakan namun merasa enggan dan menggerutu dan rusak adabnya terhadap suaminya. Termasuk nusyuz adalah dengan bermaksiyat kepada Allah dalam kewajiban yang telah Allah bebankan kepadanya, tidak mau diajak ketempat tidur suaminya atau keluar rumah suaminya tanpa izin suaminya[12].

Implikasi Nusyuz Terhadap Nafkah[13]

Para fuqaha berbeda pendapat tentang tidak wajibnya suami memberikan nafkah atas istri yang nusyuz. Mayoritas ahli fiqh kalangan Hanafiyyah, yang masyhur dari Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah, Hammad, asy Sya’bi, Al Awza’i dan Abu Tsaur berpendapat bahwa istri yang nusyuz tidak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal. Sebagian ulama Malikiyyah menyatakan nafkah tidak terputus karena nusyuz[14]. Sedangkan perincian kategori nusyuz seperti apa yang tidak mendapat nafkah bisa dibaca lebih lanjut di kitab-kitab terkait.

Khatimah

Terdapat ikhtilaf para Ahli Fiqh dalam menentukan kriteria perbuatan nusyuz, namun mereka sepakat bahwa minggat/purik/keluar rumah tanpa izin suami tanpa hak adalah termasuk nusyuz, dimana Syafi’iyyah merinci seperti disebutkan sebagiannya diatas. Begitu juga kalangan Syafi’iyyah menyatakan tidak semua perbuatan yang haram dianggap sebagai nusyuz, nusyuz adalah prilaku haram tertentu yang berkaitan dengan hubungan persuami-istrian.


[1] Ibn Manzur, Lisan al-’Arabi, (Beirut: Dar Lisan al-’Arabi, ttp), III: 637.

[2] Al-Qurtubi, Jami’ al-Ahkam al-Qur’an. Juz 5/ 130, Maktabah Syamilah

[3] Achmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, Yogyakarta: Pustaka Progresif, ed. II, 2002, hlm. 1419.

[4] Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, bab Nusyuz, Maktabah Syamilah

[5] الدر المختار ورد المحتار 2 / 646، وقواعد الفقه للبركتي.

[6] Digunakan istilah ketaatan yang wajib (ath Thâ’atul Wâjibah), karena ada perintah suami yang tidak wajib dita’ati.

[7] الشرح الكبير بهامش حاشية الدسوقي 2 / 343، والشرح الصغير 2 / 511، وحاشية القليوبي 3 / 299، والمغني 7 / 46.

[8] مواهب الجليل 4 / 15، وحاشية القليوبي 3 / 299، وحاشية الشرقاوي على شرح التحرير 2 / 280، وكشاف القناع 5 / 209.

[9] Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 40/287 dst

[10] الشرح الصغير 2 / 511، وشرح الزرقاني 4 / 60، والشرح الكبير مع حاشية الدسوقي 2 / 343.

[11] شَرْحُ الْمِنْهَاجِ وَحَاشِيَةُ الْقَلْيُوبِيِّ 3 / 305، 4 / 78، وشَرْح التَّحْرِيرِ وَحَاشِيَةُ الشَّرْقَاوَيِّ 2 / 283 – 285.

[12] المغني 7 / 46، وَكَشَّاف الْقِنَاع 5 / 209.

[13] Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, bab Nusyuz, Maktabah Syamilah

[14] الْبَدَائِع 4 / 22، وَالاِخْتِيَار 4 / 5، وَالدَّرّ الْمُخْتَار وَرَدّ الْمُحْتَارِ 2 / 647، والزرقاني 4 / 250 – 251، وَالْحَطَّاب 4 / 187 – 188، وَمُغنِّي الْمُحْتَاج 3 / 436، وَالمغني 7 / 611 – 612، وَالْقُرْطُبِيّ 5 / 174، وَالإِْجْمَاع لاِبْن الْمُنْذِر ص 97.

Baca Juga:

About these ads

Posted on 2 Maret 2011, in Fiqh, Ikhtilaf, Rumah Tangga, Syari'ah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.881 pengikut lainnya.