Khutbah Jum’at – Mewujudkan Kembali Makna Hakiki Hijrah Nabi

Oleh: M. Taufik N.T                    download selengkapnya(pdf) di sini

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, kita sekarang sudah berada pada tahun 1432 H. Menurut Ar Raghib al Ashfahany, hijrah berarti keluar dari darul kufur, yakni wilayah yg tidak menerapkan hukum-hukum Islam, menuju darul iman (yakni wilayah yg menerapkan seluruh hukum Islam)[1]. Hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa penting yang mengubah wajah umat Islam saat itu. Umat yang awalnya tertindas & teraniaya di Makkah selama 13 tahun, setelah hijrah ke Madinah dan menegakkan tatanan masyarakat yang islamy dalam sebuah negara, berubah menjadi umat yang mulia, kuat dan disegani. Oleh karena itu tatkala mendiskusikan tentang penanggalan Islam, Umar bin Khaththab ra. menyatakan:

بل نؤرخ لمهاجرة رسول الله، فإن مهاجرته فرق بين الحق والباطل

Bahkan kita akan menghitung penanggalan berdasarkan hijrahnya Rasulullah, sesungguhnya Hijrah itu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. [2]

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Esensi hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah mengubah tatanan perilaku jahiliyyah menjadi perilaku Islamiy. Dalam situasi sekarang, hijrah bisa kita lakukan dengan berpindah dari suatu tempat yang kita khawatirkan menggoyahkan keimanan kita sementara kita tidak sanggup berupaya mengubahnya, menuju tempat yang dipenuhi suasana keimanan, meninggalkan pekerjaan yg banyak kemaksiatannya beralih ke pekerjaan yang halal, meninggalkan teman, lingkungan pergaulan, sekolah, dan apapun yang bisa membuat kita melanggar aturan Allah menuju teman, lingkungan pergaulan, sekolah dan apapun juga yg mempermudah kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Inilah hijrah yg dimaksud oleh hadits :

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah ” (HR. Bukhory)

إِنَّ الْهِجْرَةَ خَصْلَتَانِ إِحْدَاهُمَا أَنْ تَهْجُرَ السَّيِّئَاتِ وَالْأُخْرَى أَنْ تُهَاجِرَ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَلَا تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ مَا تُقُبِّلَتْ التَّوْبَةُ وَلَا تَزَالُ التَّوْبَةُ مَقْبُولَةً حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ الْمَغْرِبِ فَإِذَا طَلَعَتْ طُبِعَ عَلَى كُلِّ قَلْبٍ بِمَا فِيهِ وَكُفِيَ النَّاسُ الْعَمَلَ

“Hijrah itu dua macam: yang pertama adalah kamu meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Yang kedua adalah kamu berhijrah kepada Allah dan RasulNya. Kewajiban Hijrah tidak akan terputus selama taubat masih diterima, dan taubat akan senantiasa diterima sampai matahari terbit dari barat. Jika matahari sudah terbit dari barat maka setiap hati akan distempel dengan apa yang ada di dalamnya, dan manusia sudah tertutup dari amalan.” (HR. Ahmad).

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Allah mengancam orang-orang yg memilih berada dalam situasi yg bergelimang kemaksiyatan, memilih ditindas sehingga tidak dapat melaksanakan keta’atan, sementara mereka punya kesempatan untuk berhijrah. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[3], (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas dimuka bumi[4]“. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (An Nisa’ : 97)

Ma’âsyirol Muslimin Rahimakumullah

Disisi lain Allah memberikan kabar gembira bagi orang yang mau berhijrah dengan tempat yg luas dan rizqi yang banyak. Allah berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisaa’ :100)

Mudah mudahan Allah menjadikan kita orang-orang yg berhijrah dari kemaksiatan, menjadikan tahun ini lebih baik dari tahun lalu, menjadikan negeri ini berhijrah dari sistem sekuler-kapitalis menuju sistem Islam dan menancapkan keyaqinan dalam diri kita bahwa hijrah seperti ini akan memberikan kemudahan dan keberkahan bagi hidup kita.

Baca Juga:


[1] مفردات غريب القرآن- الراغب الاصفهاني

[2] Ibnu Al Atsiir, Al Kâmil Fit Târikh, I/3

[3] mereka tidak mau berhijrah padahal mampu, mereka ditindas dan dipaksa ikut memerangi umat Islam di badar

[4] Yakni Makkah

About these ads

Posted on 4 Desember 2010, in Khutbah Jum'at and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 353 pengikut lainnya.